
Wajah Dimas terlihat murung usai melaku kan panggilan video call dengan Dinda
"Rania... Dinda dirawat di rumah sakit.. ". Ucap Dimas dengan raut wajah cemas.
"Masya Allah.. jadi kak Dinda sakit nya parah bang... sampai harus dirawat..". Balas nya.
"Iya dik, besok kita baru bisa balik ke Indonesia, abang jadi merasa bersalah ke Dinda dik..". Ucapan Dimas sontak membuat Rania berkecil hati.
(Suami ku... Apa kah kamu menyesal pergi bersama ku ke Cairo..?) Rania berfikir negatif akan ucapan Dimas.
Malam itu mereka hanya diam satu sama lain.
Hingga ke esokan harinya mereka berkemas dan menuju ke bandara.
Perjalanan 19 jam sudah berlalu, mereka masih transit dikota B.
Malam ini mereka beristirahat disana, situasi masih sama, karna lelah dan juga cemas membuat kedua nya hanyut dalam perasaan masing-masing.
Sungguh berat membagi waktu untuk adil, apa lagi membagi kasih dan cinta yang ada dihati, mereka adalah sesuatu yang tak kasat mata. Hanya bisa dirasa dan ditunjuk kan dengan tindakan.
Namun jika salah dalam bertindak, maka akan menyakiti salah satu diantara nya, bahkan kedua nya.
Oh Dimas... betapa berat tanggung jawab yang harus kau pikul.
Mampu kah engkau bertanggung jawab akan kedua nya dihari pertanggung jawaban nanti.
Jika perlakuan mu condong sebelah ke salah satu diantara nya, maka engkau akan menghadap Nya dalam bentuk tubuh yang condong sebelah pula.
Sungguh poligami adalah ibadah yang berat untuk di amal kan.
Ke esokan harinya mereka pun berangkat dari kota B kembali ke kota L.
Dimas dan Rania pun bergegas ke rumah sakit.
Ketika Dimas membuka pintu kamar rawat inap Adinda...
"Assalamualaikum...". Dimas membuka pintu dan menatap wajah yang ia rindukan sedang terbaring lemah.
"Waalaikumsalam... ". Jawab Arini dan Adinda.
Seketika Dimas mendekat ke tubuh istri yang sudah beberapa hari tak bertemu, Dimas memeluk Dinda untuk melepas rindu.
Pemandangan itu terjadi di depan Rania dan Arini.
"Kamu kenapa sayang...? Bisa drop seperti ini kondisi kamu...hmm? ". Ucap Dimas lembut ditelinga istri pertama nya.
"Aku kecapean aja bi..". Jelas Dinda.
Mereka pun saling melepas kan pelukan, dan Rania mulai mendekat untuk menyapa Dinda.
"Kak... ". Rania pun berdiri disisi seberang ranjang diantar Dinda.
"Kamu pucat sekali dik..?". Tanya Dinda ke Rania.
"Aku kelelahan saja kak...". Jawab Rania.
__ADS_1
"Sebaik nya kamu beristirahat...". Ucap Dinda.
"Iya kak.. nantik aku pulang istirahat dirumah". Jawab nya singkat.
Setelah duduk beberapa jam dirumah sakit, Rania pun pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Kamu mau pulang sama siapa dik..?".Tanya Dimas.
"Bisa naek travel aja bang...". Jawabnya singkat.
"Sebaik nya kamu disini saja dulu, nanti abah sama umi mau kesini, kamu bisa sekalian pulang bersama mereka". Titah Dimas.
"hem.., iya bang kalau gitu tunggu abah aja". Rania nurut.
Arini mengajak Rania keluar untuk mencari makanan, mereka pun pergi bersama.
"Kak Rania...". Panggil Arini disebelah nya.
"Iya Rin.. ?". Rania menoleh.
"Kakak tahu nggak?, kalau kak Dinda kondisinya drop karena mikirin tentang suami nya dan kak Rania". Arini membuat Dinda terkejut dengan pernyataan nya.
"Maksud kamu Rin?". Tanya nya lagi.
"Kakak apa gak merasa kalau kak Dinda itu menahan rasa cemburu untuk suaminya...Coba kakak fikir, apa mungkin ada istri yang bisa biasa-biasa saja melihat suaminya pergi honeymoon berdua dengan istri mudanya?". Celah Arini lagi.
"Tapi kak Dinda sendiri yang membuat ku pergi bersama bang Dimas." Balas nya.
"Seharusnya kakak bisa saja menolak nya kan.. kalau kakak punya perasaan pasti kakak gak akan tega untuk menyakiti perasaan kak Dinda." Jelas Arini lagi. "Aku lihat kak Dinda begitu kurus, mungkin tak bisa menelan nasi karena bathin nya tersiksa, ia pun banyak menangis dalam kesendirian nya". Jelas Arini lagi.
"Kalau kamu punya hati, bisa saja kan kamu menolak nya". Cercah Arini lagi.
"Cukup Rin... kamu gak tahu seperti apa yang sebenarnya". Rania pun hendak pergi meninggalkan Arini disana.
"Aku minta kamu tinggal kan kehidupan mereka, biar kan mereka bahagia seperti dulu". Arini membuat Rania tertekan, Rania pun pergi meninggal kan Arini disana.
Rania segera kembali ke kamar inap Dinda.
"Cepet banget balik nya Ran..?". Dinda bertanya padanya nya.
"Aku gak jadi makan kak.. tiba-tiba aja gak selera mau makan..". Kilah nya.
"Kok bisa dik?". Sambung Dinda lagi.
"Gak tahu kak.. mungkin efek kecapean juga kak". Rania pun duduk disopa ruangan itu, Dimas duduk disamping Dinda diatas ranjang nya.
Rania menahan rasa sakit di dadanya yang disebab kan oleh kata-kata Arini.
Ia berusaha mengontrol emosinya.
Beberapa waktu kemudian Abah dan Umi Dimas sampai, dan ternyata bersamaan dengan Abah dan umi nya Adinda.
"Bisa barengan sampai nya Abah sama abah mertua..". Ucap Dimas.
"Kebetulan sekali... Abah gak ada janjian sama abah besan". Jawab Abah Dimas dengan tertawa renyah.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu nak..? ". Tanya uminya Adinda.
"Dinda udah agak mendingan kok mi..". Jawan Dinda.
"Apa yang buat kamu bisa drop begini Din..? Apa yang kamu pikirin..?". Dinda merasa pertanyaan Uminya mulai ke arah yang negatif lagi.
"Gak ada kok mi... Gak ada yang di pikirin, cuma kecapean saja, jangan yang aneh-aneh mi..". Jelas Dinda lagi.
Rania yang berada disana hanya diam dan duduk memperhati kan dua keluarga itu. Sungguh dirinya merasa asing dengan ke adaan ini, seperti tak kasat mata diantara mereka, di anggap tak ada kehadiran diri nya.
Mereka saling bertukar cerita, sesekali membuat Dinda terhibur dengan candaan mereka yang hangat. Mungkin mereka lupa akan kehadiran Rania di sana.
Tibalah waktu nya bagi mereka untuk berpamitan.
"Abah.. ajak Rania pulang ke pondok ya bi, sekalian Arini kamu pulang juga, tolong jagain Fatimah dirumah." Pinta Dimas ke abah nya.
"Oh.. iya kalau begitu ayuk kita pulang..". Ajak Abah ke Rania dan Arini.
Mereka pulang bersama karna memang arah rumah abah Dimas melewati pondok pesantren, sedang kan rumah orang tua Dinda berada di pinggiran kota L.
Tak ada percakapan yang penting selama diperjalanan. Mungkin kedua mertua Rania merasa tidak senang atas kepergian Rania dan Dimas ke Cairo.
Karena hal itu menyebab kan menantu kesayangan mereka kondisi fisik nya menjadi drop.
Bukan Rania tak menyadari hal ini, semua menunjuk kan sikap tidak suka setelah mereka kembali dari Cairo.
"(Tak ada yang perduliakan diri ku, sikap semua orang berubah, terutama kamu Dimas... sikap mu berubah setelah Dinda sakit. Semua yang aku lakukan atas permintaan Dinda, tetapi sesuatu terjadi padanya dan aku yang kena imbas nya)".Dalam hati dan pemikiran nya Rania hanya berdiam diri dikamar nya.
Tiba-tiba Rania merindukan ibunya, Ingin sekali ia pulang ke kampung halamannya, dan kembali hidup dimasa-masa indah saat masih sekolah.
Meski pun kala itu sulit ekonomi, setidak nya beban hidup yang ia tanggung tak seberat seperti saat ini.
Hidung nya mulai masam, air mata pun tak dapat ia tahan.
"(Ayah... maaf kan anak mu...)" ia nangis sesenggukan, mengingat semua yang telah ia lalui, Rania menagis sampai ia tertidur.
**
Dua hari kemudian Dinda sudah diperboleh kan pulang, karena kondisi nya yang sudah semakin membaik, Mereka pulang bersama kedua orang tua Dinda dari rumah sakit.
Sesampainya dirumah mereka kembali disambut oleh para ustadz dan ustadzah juga para santri.
Rania bersama Fatimah, meski sebenarnya mereka tidak terlalu dekat tetapi Fatimah lebih suka bersama Rania dibanding Arini.
Dimas pun datang mengambil Fatimah dari gendongan Rania.
"Aduh... anak sholeha abi, abi kangen sayang..". Iya memeluk anak nya dan membawanya ke Adinda.
Sementara itu Rania hanya mendapat kan tatapan sekilas dari Dimas.
Rasanya....(...)...
Maaf kan author ya gaess..
telat up nya..
__ADS_1
🙏💪❤️