
"Aaaa......".Rania tertabrak mobil.
"Astaghfirullahal'azim...". Dimas terpaku karena menabrak seorang wanita menyeberang jalan.
"Abi.... kita nabrak orang bi..".Ucap Adinda panik.
Mereka pun keluar dari mobil, situasi saat itu hujan deras, dan jalanan tidak ramai.
Dimas pun keluar, dan melihat seorang wanita yang pingsan.
"Syukurlah... Dia masih hidup." Dimas pun membawa Rania masuk ke mobilnya, dan segera menuju ke rumah sakit.
Ya... ternyata mobil yang menabrak Rania adalah mobil yang dikendarai Dimas.
Saat itu Dinda merasakan sakit yang luar biasa dirahim nya, karena itu Dimas dengan tergesa-gesa membawa Dinda ke rumah sakit.
"Syukur nya tadi abi sempet ngerem mi..". Ucap Dimas yang masih gemetar akan kejadian itu.
Sesampainya dirumah sakit, Adinda dan Rania masuk ke ruang UGD.
Mereka mendapat perawatan dari tim medis.
Beberapa saat kemudian...
"Bagaimana keadaan isteri saya dok..?". Tanya Dimas.
"Isteri bapak yang mana pak? yang kecelakaan atau yang...". Tanya Dokter kembali.
"Adinda dok, yang sakit dibagian Rahim nya..". Jawab Dimas.
"Ibu Adinda... Begini pak, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan rahim ibu Adinda, karena pendarahan yang banyak, akan semakin membahayakan kondisi ibu Adinda". Jelas dokter.
"MasyaAllah.... ". Dimas merasa bingung, apakah ini keputusan yang benar, karena dengan operasi pengangkatan rahim maka Adinda tidak dapat memiliki anak lagi.
"Apakah tidak ada jalan lain lagi dok?".
Tanya Dimas kembali.
"Itu satu-satunya jalan pak". Jawab dokter.
"Baik lah dok, lakukan yang terbaik untuk selamat kan isteri saya". Keputusan Dimas.
"Dok, bagai mana dengan keadaan wanita yang saya tabrak dok?". Dimas menanyakan kondisi Rania.
"Oh, ibu yang satu nya, ibu itu tidak apa-apa pak,ia hanya terbentur dikakinya, dan pingsan karena shok". Jelas dokter lagi.
"Alhamdulillah... syukur lah dok". Jawab Dimas.
"Apakah ada kartu identitas untuk korban kecelakaan pak? atau keluarga yang bisa dihubungi?". Tanya seorang perawat yang baru masuk keruangan dokter.
"Tadi saya lihat wanita itu membawa tas, masih di mobil sus, saya coba lihat dulu." Dimas pun pergi ke mobil dan mengambil tas Rania.
Dimas mencari kartu identitas disana, sayang nya hanya ada foto copy KTP dan sebuah kertas ijazah kelulusan saja.
__ADS_1
"Gak ada dompet atau pun telepon." Dimas pun pergi ke ruang administrasi dan menyerahkan foto copy KTP itu keperawat.
"Tidak ada telepon didalam tas sus, cuma ini saja". Dimas menyerahkan foto copy KTP itu.
"Baik pak, kami masuk kan data pasien dulu." Ucap Perawat itu.
"Namanya Rania, alamatnya didesa tempat kelahiran ku, sudah lah... nanti saja ku tanya kalau dia sudah sadar kan diri". Dimas tau kalau Rania adalah warga kampung nya.
Beberapa jam kemudian Rania sadarkan diri.
"Dimana aku...". Dengan kondisi lemah ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
Suster yang berjaga melihat Rania duduk di tempat tidurnya.
"Ibu Rania sudah sadar?". Suster tersenyum melihat ke arah Rania.
"Saya dimana sus?". Tanya Rania.
"Ibu sedang dirawat dirumah sakit Adi sucipto bu". Jelas perawat.
"Dirawat?". Rania mencoba mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. "Ah, iya... aku ditabrak mobil, Syukurlah aku masih selamat."
Suster pun memberi tahu ke Dimas Rania sudah sadar.
Dimas pun menuju ruangan Rania dirawat dan....
"Assalamualaikum.....". Ucap Dimas yang baru membuka pintu.
"Walaikumsalam...". Rania menoleh dan..... deg deg deg....
"Kamu baik-baik saja..?". Dimas berjarak beberapa hasta dari Rania.
Rania hanya diam terpaku, masih belum menyadari pertanyaan Dimas.
Ingatan nya masih membelah kisah surat cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, dik.... kamu baik-baik saja?". Dimas kembali bertanya.
Rania tertegun dari lamunannya.
"Oh, iya... bang, saya baik-baik saja, hanya sedikit sakit di kaki". Jawab Rania.
"Maaf kan saya dik, tadi saya sedikit terbu-buru karena kondisi istri saya yang sedang kesakitan, saya tidak menyadari ada orang yang akan menyeberang." Dimas menjelaskan.
"Saya yang salah bang, saya tidak berhati-hati ketika menyeberang, saya hanyut dalam fikiran saya, dan akhirnya saya tertabrak". Jelas Rania.
"Apakah ada keluarga yang bisa dihubungi dik..?".Tanya Dimas lagi.
"Saya tidak membawa ponsel bang". Balas Rania.
"Kalau begitu besok saya antar kan adik ke rumah nya". Dimas berinisiatif mengantarkan Rania pulang kerumahnya, sebagai rasa tanggung jawab nya.
"Tidak perlu bang, untuk saat ini saya tidak ada tempat untuk pulang". Jelas Rania, karena ia tak mungkin pulang ke rumah Doni, apa lagi kerumah ibunya, betapa sedih ibu nya jika tau nasib Rania yang malang.
__ADS_1
"Kenapa begitu dik..? Jadi saya harus antar kemana..?". Dimas tak habis bertanya.
"Saya mungkin akan cari kostsan bang,
jadi, abang tak perlu repot, Hem... bagaimana keadaan istri abang sendiri..?". Tanya Rania yang ingin tau kondisi Adinda.
"Isteri saya masih dirawat, mungkin besok pagi akan dioperasi." Jawab Dimas dengan muka sedih.
"Maaf, kalau boleh tau istri abang sakit apa..?". Rania tanya lagi.
"Isteri saya pendarahan di rahim nya, jadi besok operasi pengangkatan Rahim". Jelas Dimas lagi.
"Maaf bang.... semoga lekas diberi kesembuhan untuk istri nya, boleh kah saya menjenguk istri abang..?". Rania ingin melihat Adinda yang dulu pernah ia temui dihari pernikahan Dimas dan Adinda.
"Apa kah kamu bisa berjalan dengan kaki sakit..?". Jawab Dimas Ragu.
"Biar saya coba bang". Rania pun turun dari tempat tidur, dan mencoba berjalan, masih terasa sakit, tetapi Rania masih bisa menahannya.
"Saya bisa bang..". Rania pun berjalan dibelakang Dimas dengan jarak satu setengah meter.
Setelah melewati beberapa kamar di rumah sakit, mereka pun sampai diruangan rawat Adinda.
"Assalamualaikum....". Salam Dimas membuka pintu.Dan disusul Salam dari Rania.
"Walaikumsalam..". Jawab Adinda dengan lemah.
"Mi, ini Rania, yang kita tabrak tadi.." Ujar Dimas ke Adinda. Ia pun duduk disebelah tempat tidur Adinda.
"Kak, gimana keadaan kamu?". Tanya Rania.
"Beginilah dik, masih terasa sakit di bagian perut". Sambil memegang lembut perut nya.
"Kamu yang kuat ya kak, percayalah.. Allah akan memberi kesembuhan untuk mu". Rania memberi semangat untuk Adinda.
"Aamiin... ya Allah... semoga Allah kabulkan doa kita dik, kamu sendiri bagaimana keadaannya?". Balas Adinda.
"Alhamdulillah, hanya sedikit rasa sakit dikaki, dan luka-luka kecil saja kak". Rania tersenyum, meski sebenarnya hati nya menyimpan luka yang teramat dalam.
"Apakah sudah ada keluarga yang bisa kamu hubungi dik?". Tanya Adinda dengan sedikit lemah.
"Jangan fikir kan itu kak, aku masih bisa pulang sendiri besok, aku hanya tidak ingin membuat keluarga ku yang jauh khawatir kan diriku disini." Jelas Rania.
"begitu dik...".Adinda merasa mengantuk mungkin karena efek obat yang ia minum, ia pun tertidur.
Rania melihat pasangan suami istri itu, membuat ia teringat akan suami yang sudah menceraikan nya.
Dengan mudah nya ja diceraikan, tampa mau mendengar penjelasan dari nya.
Rania pun kembali ke kamar rawatnya.
Dengan hati yang sedih, air mata kembali membasahi pipinya.
Sungguh kisah yang begitu singkat....
__ADS_1
Hai Gaes..
Jangan lupa dukungannya ya❤️