Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
14.Hinaan dan restu


__ADS_3

"Assalamualaikum...". Doni mengucap kan salam untuk mereka yang sedang berkumpul diruang tamu.


Seketika semua yang berkumpul diruangan itu menjawab salam dari Doni. "Waalaikumsalam...".


"Doni.... kamu udah pulang sayang". Mama Gina memeluk Doni dan sontak melihat ke arah Rania.


"Doni, kenapa ada gadis kampung itu..?".Mama Gina melanjutkan rasa penasaran nya.


"Ma, Pa dan semuanya perkenalkan ini Rania, Isteri ku.". Dengan berani Doni memperkenal kan Rania dan mengakui nya sebagai istrinya.


Semua mata tertuju ke Rania, terlebih lagi Doni mengakui Rania sebagai istrinya.


"Apa?!! Maksud kamu apa Don..?". Papa Doni terlihat sangat marah.


"Jelaskan Don, apa yang terjadi..?". Mama Gina melanjutkan.


"Maaf semuanya, ma pa ayo kita ke ruang kerja papa, aku akan jelaskan semuanya." Doni ingin membahas masalah ini cukup dengan keluarganya. Karena saat ini sedang ada tamu dirumah keluarga nya.


Doni mengajak Rania ke ruang kerja papa nya, mereka berkumpul disana.


Mama papa duduk disopa diruangan itu, sementara Doni dan Rania masih berdiri didepan mereka.


"Jelaskan Don, mengapa kamu menikah tampa memberitahu kami orang tua mu". Papa Doni memulai pembicaraan.


"Pa, ma, Dua tahun yang lalu aku sudah mencintai Rania, aku mengingin kan nya menjadi pendamping hidup ku, dan kebetulan kemarin kami bertemu untuk pertama kalinya setelah dua tahun berpisah. Tiba-tiba Rania dapat telepon dari ibunya, ayah nya sakit keras. Kami pun pergi bersama ke desa tempat tinggalnya. Ayah nya ingin melihat Rania menikah sebelum meninggal, jadi Doni melamar Rania didepan kedua orang tua nya, hari itu juga kami menikah. Setelah ijab kabul ayah nya meninggal."


"Maaf kan Doni Pa, Ma tidak meminta ijin terlebih dulu, Kami mohon restui lah pernikahan Doni dan Rania". Doni memohon restu pada mama papanya.


"Keterlaluan.!! Apa kamu tidak memikir kan bagai mana pendapat orang lain tentang keluarga kita?".Papa merasa marah dan enggan merestui mereka.


"Kamu perempuan kampung, sudah saya peringatkan jangan dekati anak saya, kamu masih... juga!!!". Mama Gina menggertak kan gigi nya.


"Ma,pa... kami ini menikah karena saling mencintai ma, tolong mama papa terima keputusan Doni, bagaimana pun kami sudah menikah Sah secara agama dan negara." Doni merasa kecewa dengan tanggapan kedua orang tua nya.


" Kamu tau gak Don, tamu papa di depan itu, anak gadis mereka akan papa jodoh kan sama kamu, tapi kamu merusak semua nya." Papa menjelaskan dengan nada tinggi.


"Sekarang kamu tinggal kan Rania, kamu cerai kan dia, dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita Doni....". Mama Gina melebar kan matanya ke arah Rania.


Rania yang sedari tadi diam mengamati pertengkaran keluarga itu menahan suara tangisan nya. Air mata membasahi pipinya, ia tidak menyangka akan mendapat hinaan dan cacian dari keluarga suaminya.


Tiba-tiba muncul lah seorang wanita cantik dari balik pintu.


"Mama dan papa tidak pernah berubah, masih memandang semua dari segi harta dan tahta". Dena datang dari arah pintu masuk, ya, ia adalah Dena anak sulung dikeluarga itu.

__ADS_1


Selama ini Dena memang sibuk dengan bisnis kafe yang sudah menjamur dikota L.


Dena gadis yang mandiri, sudah lama ia tidak pulang, sejak cinta nya tidak direstui, Dena memilih hidup sendiri dan membesar kan bisnis kafe nya.


"Dena, kamu pulang.. Sayang," mama datang menyambut Dena.


"Ma, pa aku mohon, jangan biarkan Doni mengalami apa yang Dena alami, terlebih Doni sudah menikah, mohon restui mereka, apa mama papa ingin kehilangan kedua anak kalian??". Dena mencoba membuka mata hati kedua orang tua nya.


Mama Gina pun akhirnya membujuk papa nya untuk mengalah, meski sebenarnya ada rencana lain yang akan mereka siap kan untuk memisah kan Rania dan Doni.


"Baik lah kami akan terima, tapi kita tidak akan membuat acara resepsi pernikahan".Papa pergi meninggalkan ruangan itu. Disusul mama Gina.


"Hei, anak bandel... sejak kapan kamu berani mengambil keputusan besar yang menentang tuan takur?". Dena menepuk pundak adik satu-satunya itu.


" Kakak... apa an sih, makasih kak... udah bantu aku". Doni memeluk Dena.


"Sayang, ini kak Dena, kakak ku". Doni mengenalkan keduanya.


"Kak Dena, aku Rania..". Rania bersalaman dengan Dena, tetapi Dena memeluk Rania.


"Kamu kok bisa sih... naklukin hati bocah nakal itu..?". Ucap Dena membuat Doni jengkel dibilang bocah nakal.


Mereka pun tertawa bersama.


"Percayalah Ga, bersabar lah sebentar kita pasti bisa menjadi besan sekaligus menjadi rekan bisnis yang mengusai pertambangan di Indonesia." Ia meyakin kan rekan bisnis sekaligus teman masa kecil nya itu.


***


Hari sudah mulai sore, Doni pun ingin mengajak Rania pulang ke rumah mereka.


"Ma kami pulang dulu ya.." Doni berpamitan ke mama Gina.


Gina hanya berdehem, ia masih belum rela akan kenyataan ini.


"Permisi buk... pamit pulang dulu". Rania pun berpamitan.


Tapi tak sedikit pun mama Gina merespon.


Doni pun berlalu membawa Rania pulang kerumah mereka.


Sesampainya dirumah, mereka duduk dibalkon kamar mereka.


"Bang, aku masih belum yakin mama papa kamu benar-benar menerima kehadiran ku". Rania menyatakan isi hati nya yang sedari tadi ia pendam.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus sabar ya, yakin lah mama papa pasti akan luluh juga nantinya, apa lagi kalau kita kasih mereka cucu". Doni memeluk Rania.


"Hmmm.... kamu bang, kamu udah pingin punya anak?". Rania menatap Doni yang memeluknya dari samping.


"Ia dong sayang, bukan pingin punya anaknya lagi, pingin bikin nya juga." Seketika Doni langsung menggendong Rania masuk ke kamar.


"His... modusss kamu bang". Rania merasa malu dibuatnya.


Mereka menghabis kan waktu sebelum mandi untuk bercinta, pengantin baru itu sedang menikmati indahnya pacaran setelah halal.


Mereka bahagia,tetapi mereka tidak menyadari akan ada hal besar yang akan memisahkan mereka.


Tidak terasa sudah dua minggu Rania menjadi nyonya dirumah Doni.


Malam itu Rania tidak bisa melayani Doni, karena ia sedang datang bulan.


Sangat disayang kan, padahal Doni ingin meminta jatah rapel untuk satu minggu kedepan, karena Doni akan ke kota K untuk menghandel perusahaan ayahnya disana.


Pagi itu Doni pergi meninggalkan Rania dirumah bersama bik jum.


"Sayang, kamu baik-baik ya dirumah, aku cuma satu minggu aja kok". Doni memeluk Rania dan mencium kening nya.


"Iya sayang, aku sabar nunggu kok, kamu jangan macam-macam ya disana, awas kalau macam-macam..". Rania membalas Doni.


"Awas gimana sayang...?". Doni mencubit hidung mungil isterinya.


"Awas aku gigit... sampai habis!!! Mau??". Rania menyeringai.


"Hii...atut... hehehe". Mereka pun tertawa bersama.


Hingga akhirnya Rania hanya bisa melihat Doni pergi dengan mobilnya.


Terasa berat ditinggal suami, entah mengapa perasaan nya sungguh tidak enak.


Siang itu Rania dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang ia kenal....


Rania...


Semangat ya gaes,


buat yang baca dan yang nulis😍


Terimakasih udah mampir.

__ADS_1


__ADS_2