Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
30.Waktu yang berharga.


__ADS_3

Deg.... Timbul rasa cemas dihati Rania.


"Kak Dinda udah dikasih tahu bang..?".


"Barusan dia nelpon, langsung abang kasih tahu aja, kan kabar bahagia". Jawab Dimas.


"Beneran gak papa bang..?". Tanya nya masih ragu.


"Iya sayang... gak papa, jangan cemas ya". Dimas membawa Rania kepelukan nya dan mengecup kening nya.


Rasa nyaman dan aman yang Rania rasakan saat ini.


Malam pun berlalu... Pagi sekali Dimas bersiap menuju pesantren.


Pasal nya pagi ini ia akan bertemu kontraktor untuk membahas pembangunan yayasan sekolah islam terpadu tingkat sekolah dasar dan taman kanak-kanak.


Tepat nya, Dimas ingin mengembang kan yayasan untuk mencakup semua tingkat pendidik kan.


Langkah nya perlahan tetapi pasti, ini adalah cita-citanya membangun sarana pendidikan islam untuk generasi masa depan yang lebih agamis, dimulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas.


Lahan baru disebelah Ponpes sudah Dimas siap kan untuk lokasi pembangunan sekolah dasar yang berdampingan dengan taman kanak-kanak dan ponpesnya.


"Sayang... baik-baik dirumah ya, nantik abang telpon, kan rumah nya udah dekat, abang bisa pulang kapan aja kok, jadi... kamu jangan cemas ya.. ". Dimas pamit.


"Iya bang... aku gak papa kok dirumah sendiri an". Mencium tangan Dimas.


Dimas pun pergi meninggalkan Rania dirumah sendirian.


Sebelum menuju ruang kantor Dimas pulang kerumah terlebih dahulu, untuk melihat Dinda dan Fatimah dirumah.


***


"Bi... selamat ya..". Dinda memeluk Dimas dari samping nya.


"Makasih ami... ". Dimas membalas sekedar nya saja, ia faham betul Dinda masih dalam proses menata hati.


Fatimah sudah diajak bermain oleh baby sitter nya, saat ini Dimas bersiap untuk ke kantor bertemu para kontraktor.


Mereka pun rapat untuk beberapa jam.


Sementara itu, Rania duduk ditepi kolam renang mini dirumah nya.


Rania mengirim pesan WhatsApp ke Dimas.


"Assalamualaikum... sayang...".


Tak berapa lama...


"Walaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh sayang abang... gak bosen kan dirumah sendiri..?".


"Sedikitt... bang... pengin berenang bang...".


"Mau berenang... tinggal masuk ke kolam sayang...".


Rania pun mengirim foto diri nya yang memakai bikini, ia ingin menggoda suami nya, sepertinya aura seksi nan menggoda muncul dari dirinya.


Dimas yang melihat foto itu membola kan matanya.


"Masya Allah sayang.... seksi banget..".


"Kan mau berenang... seksi dong..". Balas Rania.


Saat ini menunjuk kan pukul 11.00 siang, menjelang jam istirahat siang, Dimas bisa pulang melihat Rania dirumah baru mereka.


"Abang pulang ya...".


"Hemm..???".Rania heran.

__ADS_1


Dalam hitungan menit Dimas sudah mengetuk pintu rumah Rania.


"Cepet bener sampai nya bang.". Rania merasa heran akan tingkah suaminya, padahal baru tadi pagi mereka berpisah.


"Habis kamu godain aku sih...". Dimas pun mengganti baju nya untuk ikut berenang bersama Rania.


Sungguh romantis nya pasangan kekasih halal itu, berenang bersama dan bercanda dengan mesra nya.


Puas berenang dan bercanda ria bersama Dimas pun sadar akan waktunya.


"Udah yuk... udah dingin sayang...". Ajak Dimas.


Rania pun nurut,


"abang mau persiapan buat sholat zhuhur, kamu jangan lupa makan ya". Dimas pun selesai berganti pakaian dan mengering kan rambut dengan hair dryer, segera ia pun kembali ke pondok.


Sesampai nya di masjid, Dinda melihat Dimas datang dengan sepeda motor nya.


"Bi.. dari mana aja sih, ngilang aja.... dicariin loh sama ustad Rido."


"Iya mi, nantik abi temui ustad Rido."


Dimas pun bersiap untuk menjadi imam sholat zuhur.


Usai sholat zuhur Dinda dan Dimas pun makan siang bersama dirumah.


Dimas pun terlihat makan dengan lahap.


"Tumben banyak makan nya bi...". Tanya Dinda.


"Iya mi.. mungkin kecapean.. jadi butuh asupan energi berlebih..". Jawab Dimas santai.


Pasalnya Dimas paham betul energi nya habis untuk apa semalaman.


Dan siang tadi habis berenang membuatnya lapar.


Malam itu Dimas ingin memberitahu Dinda tentang Rania yang sudah pindah kerumah baru nya.


Tetapi ada tamu yang datang kerumah, ternyata beberapa ustad yang datang untuk membahas pembangunan sekolah islam terpadu yayasan mereka.


Ponsel Dimas ada diatas nakas kamar mereka ternyata ada notifikasi pesan WhatsApp dari Rania.


Dinda pun membuka pesan itu, karena takut ada hal penting, sedang kan Dimas sedang rapat bersama para staff.


Dinda membuka pesan itu..


"Assalamualaikum sayang.. agak serem malam-malam sendiri an dirumah baru.."


Abang lagi sibuk ya.." (Isi pesan WhatsApp dari Rania).


Dinda pun terpaku membaca pesan itu.


Entah apa yang Dinda pikir kan Sekarang.


Aku tak mengira suami ku membeli rumah baru untuk madu ku, tampa memberitahu aku terlebih dulu.


Entah apa tujuan nya merahasiakan semua ini dari aku, tentu saja aku tak keberatan jika dia berterus terang.


Sakittt.... air mata pun menetes.


Dinda pun kembali melihat pesan-pesan antara Dimas Rania sebelum nya,ternyata belum dihapus oleh Dimas.


"Astaghfirullahal'azim...". Dinda kaget melihat Rania mengirim foto seksi dirinya tadi siang.


Air mata pun kembali menetes membasahi pipi nya, melihat wanita lain alias madu nya saling bertukar pesan dengan mesra nya pada suaminya.


Yang lebih menyakit kan lagi, Dimas mengatakan ia akan pulang saat itu juga.

__ADS_1


"Ini maksud nya apa? berarti tadi siang abi pulang dari rumah Rania..?"


(Ya Allah..... )


Dinda pun terbaring diranjang mereka dengan berlinang air mata, dan ia pun


menanti kan Dimas selesai dengan urusan nya.


Ketika Dimas masuk kamar...


"Bi... ini ada pesan dari Rania, maaf, sudah aku buka duluan bi.. dan udah aku baca juga semua isi pesan nya."


Dinda pun duduk diranjang sembari memberikan ponsel itu pada Dimas.


Dimas pun menerima ponsel nya dan mengecek isi pesan dari Rania.


Dimas pun menghela nafas berat, niat nya ingin memberitahu Dinda malah Dinda sudah tahu duluan.


Dimas pun keluar dari kamar, ia menelpon Rania.


"Assalamualaikum Rania sayang..."


"Waalaikumsalam bang..."


"Maaf abang baru selesai, tadi ada rapat dirumah..


"Gak papa sayang...". Rania


"jadi malam ini berani sendirian dirumah..?".Tanya Dimas cemas.


"Diberani berani in bang...". Jawab nya.


"Kalau gak malam ini abang jemput aja ya, tidur dipondok aja...".


"Gak papa kok bang, disini aja.... kan besok juga bakal netap disini, harus dibiasa in."


"Yaudah... langsung tidur ya, doa dulu.. besok abang kesana..".


"Ya bang... Assalamualaikum..".


"Waalaikumsalam sayang...". Dimas pun menutup panggilan telpon nya.


Dimas pun segera menemui Dinda dikamar.


"Mi... yok duduk dulu.. kita ngobrol diluar dulu, biar Fatimah gak ke ganggu bobo nya." Dimas pun menggandeng Dinda keluar dari kamar.


Dinda diam tetapi ia ikut akan ajakan Dimas.


Dimas mengajak Dinda duduk dimeja makan, dan Dimas pun kedapur membawa dua gelas air putih untuk mereka.


"Ini, diminum dulu... biar adem..". Dimas menyodorkan segelas air ke dinda.


Dinda pun menerima segelas air itu dan meminum nya beberapa teguk.


Begitu pun Dimas, duduk disebelah Dinda dan meminum air nya.


"Udah bisa kita ngobrol mi..?". Tanya Dimas.


Dinda hanya diam dan kepalanya mengangguk pelan.


"Jadi sebenarnya.....


Gaes... maaf kan penulis gaes..


lagi kena flu nih..


Tetap semangat baca nya ya😍

__ADS_1


__ADS_2