Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
31.Sejuk dipandang.


__ADS_3

"Jadi sebenarnya abi mau kasih tahu ami tadi, tapi keburu tamu nya datang.. Eh... malah ami buka pesan Rania untuk abi.. ". Dimas memulai menjelas kan.


"Masalah rumah....? kenapa gak kasih tahu ami bi..?". Dinda pun mulai membuka suara.


"Abi memang beli tanah dan buat rumah untuk Rania, memang satu pun dari istri-istri abi gak ada yang abi kasih tahu mi... tahu kenapa gak abi kasih tahu mi..?


Maksud abi biar selesai dulu baru diberitahu, Rania juga baru tahu kemaren mi... Entah kenapa waktu nya pas banget dengan berita kehamilan Rania". Dimas menjelas kan dengan tenang, agar situasi tidak memanas.


"Masalah chat tadi siang bi...". Dinda pun bertanya akan foto itu.


"Hemm.... Ami cemburu ya...?". Goda Dimas mencubit lembut hidung mancung Dinda.


Dinda diam dan membuang muka, ia merasa canggung untuk jujur soal cemburu.


"Ami... Rania itu kan istri abi... jadi foto itu kan dituju kan hanya untuk abi yang juga suami nya Rania... sebab itu, besok ami gak buka-buka pesan di ponsel abi, karna pasti akan menyakiti hati ami sendiri." Jelas Dimas.


"Ami cuma kaget sama foto Rania yang seksi bi... ". Wajah nya murung.


"Ami juga bisa kok seksi-seksi untuk abi....". Goda nya lagi.


"Ish... apaan sih abi...". Wajah nya memerah membayang kan diri nya memakai bikini.


"Okey sayang... besok jangan ada cemburu lagi ya buat Rania, kan kamu sendiri yang buat keputusan ini.. Selama ini Rania juga udah banyak mengalah masalah waktu yang tidak adil menurut abi mi..". Dimas pun berhenti sejenak menatap mata Dinda untuk meyakin kan nya.


"Karena sekarang Rania sedang hamil... ami mau kan bantu abi merawat Rania dan janin dirahim nya..?". Tanya Dimas untuk memastikan keraguan dihati Dinda.


"Kamu benar bi... seharusnya ami bertanggung jawab akan keputusan yang ami buat, kasihan Rania selama ini mengalami perlakuan yang tidak adil baik dari kita maupun keluarga kita bi..". Dinda menyadari kesalahan nya.


"Besok mau gak abi ajak ami jenguk Rania, udah lama juga kan ami gak ketemu Rania". Pinta Dinda kesuami nya.


"Boleh dong sayang nya abi.... InsyaAllah abi ajak berkunjung kesana, gak jauh kok dari sini..". Dimas tersenyum.


"Baik lah bi... maafin ami ya bi...". Dinda mencium tangan suaminya.


"Maafin abi juga mi... ". Dimas pun mencium kening istrinya.


Mereka pun berlalu pergi ke kamar...


*


*


Tok tok tok...


"Assalamualaikum... Rania..".


Panggil Dimas dari pintu depan.


Saat itu pukul 10.00 pagi...


Rania yang tertidur dikamar pun terjaga oleh ketukan pintu rumah nya.

__ADS_1


Rania segera menjawab salam nya, dan memakai hijab nya, kemudian membuka pintu..


"Kak Dinda....". Rania pun tersenyum..


Mereka saling berpelukan.


"Hay... Fatimah sayang...salam ibu nak..". Fatimah pun menyalami nya.


"Abang...". Rania tersenyum pada Dimas dan mencium tangan nya.


"Ayo masuk dulu kedalem...". Rania pun berlalu kedapur untuk buat air minum.


Dinda pun menyusul Rania kedapur, sedang kan Dimas mengajak Fatimah ke kolam renang di teras belakang.


"Rumah nya dari depan kelihatan minimalis, tapi dalem nya luas juga ya Ran..". Tanya Dinda sambil melihat-lihat isi rumah itu.


"Aku juga awal nya kaget kak, ternyata di dalam nya lumayan luas... Ini minum jus dulu kak..". Rania menuju ruang makan diteras belakang.


"Kamu pinter juga milih perabotan rumah tangga ya dik..". Sambung Dinda lagi.


"Kakak.... semua tidak ada campur tangan aku kak, ini semua bang Dimas yang milih, aku tinggal nempatin aja." Jawab Rania polos.


Deg....(Ternyata suami ku....) pikiran Dinda pun bercabang.


Kekurangan Dinda ya ini.... suka plin plan dan mudah di provokasi keadaan.


"Ran... kakak kesini sebenarnya mau minta maaf ke kamu". Dinda tak melupakan niat nya bertemu Rania.


"Maaf karena banyak membuat mu tersakiti oleh sikap kakak dan keluarga sebelumnya." Dinda pun mengatakan nya.


Rania yang mendengar itu pun diam dan menunduk sejenak lalu mengangkat kepalanya lagi dan menatap Dinda dan tersenyum tipis..


"Sudah lah kak... yang lalu biar lah berlalu, saat itu kakak sedang sakit parah, keadaan yang memojok kan aku, tapi aku sudah berdamai dengan hidup ku kak... apa pun cobaan nya.. aku harus terima dengan sabar... jadi kakak jangan merasa bersalah seperti itu". Rania pun tersenyum ikhlas."


Dinda yang mendengar jawaban Rania tersentuh hati nya dan menitik kan cairan bening dipipi nya, ia pun memeluk Rania.


"Makasih dik.... sudah memafkan..". Bisik nya.


"Sudah kak.. yang penting kak Dinda harus selalu semangat dan sehat selalu..". Rania pun melepas pelukan itu.


Dimas pun datang menghampiri mereka..


"Seperti itu kan.... adem lihat nya, harus selalu akur dan saling menyemangati." Dimas pun duduk di tengah-tengah kedua istrinya.


Dimas meraih kedua kepala istri-istri nya dan membawa ke bahunya.


"Ingat untuk selalu mencari ridho nya Allah... Saling mengingat kan dan mendoakan ya".Dimas berkata pada mereka.


Kedua nya mengangguk kan kepalanya di bahu suaminya.


Setelah makan Siang, Rania pun diajak berkunjung ke pondok untuk mengisi waktu kosong nya.

__ADS_1


Sungguh kebersamaan itu tumbuh kembali, membuat mata yang memandang merasa takjub akan kebersamaan mereka.


Sore itu Dimas mengantar Rania pulang..


"Sayang... apa kamu mau Abang cariin teman buat nemanin kamu tidur dirumah, pas abang gak tidur dirumah aja." Tawar Dimas.


"Hem ... apa boleh bang?". Jawab nya.


"Boleh dong sayang... biar abang tenang kalau kamu ada yang nemenin tidur malam dirumah." Kata Dimas.


"Mau bang... biar gak takut malam dirumah." Rania pun sedikit lega mendapat tawaran itu.


"Besok abang cari dulu ya orang nya." Jawab Dimas.


"Bang....." (Ucap nya dengan manja dan menggoda), Rania pun merapat kan tubuh nya dengan tubuh Dimas.


Tangan nya mulai meraba dari dada naik ke wajah tampan suaminya, lalu nengecup bibir suaminya.


Dimas mendapat godaan dari Rania pun membalas ciuman itu dan membawanya keadegan yang lebih panas lagi.


Gejolak gairah Rania memuncak sejak kehamilan itu, dirinya juga lebih terlihat seksi dan menggoda membuat Dimas mabuk kepayang akan keindahan Rania.


Pasalnya Rania lebih paham akan kebutuhan biologis suaminya, pandai menyenang kan suami diranjang dan membuat situasi romantis nan membangkit kan gairah pasangan nya.


Mereka berdua pun bergulat, berbagi peluh bersama dan saling memuaskan diranjang.


Lelah dan rehat sejenak, suara pengajian santri dari masjid dipondok pun terngiang ditelinga membuat Dimas segera bersiap untuk mandi dan kembali kepondok.


Usai bersih kan diri dari junub, Dimas pun pamit untuk kembali kepondok.


"Jatah malam nya besok ya sayang... sabar nunggu abang dirumah ya". Ucap nya dan pergi meninggal kan Rania dirumah.


Sampai dirumah Dinda...


Dinda melihat baju Dimas sudah berganti.


"Lah.... baju nya udah ganti aja". Gumam Dinda ke diri nya sendiri.


Dinda hanya berusaha legowo akan kenyataan hidup yang tak pernah luput dari cobaan dan ujian dari Allah.


"Assalamualaikum.. sayang...


yuk bersiap ke masjid...". Ajak Dimas.


"Waalaikumsalam... hemm... udah wangi aja bi...". Goda Dinda.


"Kan.......


Semangat up buat pembaca ku❤️


Jangan lupa like nya ya.. Tq😍

__ADS_1


__ADS_2