
"Ya.....?? ". Rania menoleh ke arah Dimas.
"Abang mau ajak kamu dan ibuk pindah kerumah baru kita sayang...". Dimas mengatakan nya.
"Rumah baru..? maksud abang..?". Balas nya.
"Selama dua bulan abang persiap kan rumah itu untuk kamu sayang, biar abang gak jauh-jauh banget buat pulang ke rumah istri tercintahh". Guyon nya mengukir tawa kecil dibibir nya Rania.
"Tapi bang....". Ucapan nya terhenti.
"Tapi apa sayang..? Adinda?". Tebak Dimas ke Rania.
Rania mengangguk kan kepalanya..
"Abang memang belum memberi tahu hal ini ke Dinda, tapi abang memberi rumah itu untuk kamu, memang itu adalah hak nya kamu sayang... dan tampa mengurangi hak nya Adinda". Jelas Dimas.
Rania hanya diam masih mencerna semua ucapan suami nya.
"Dek Rania yang di sayangi oleh abang... kamu nurut ya..?". Dimas memegang kedua bahu Rania dan menatap nya.
Akhirnya Rania pun nurut...
"Iya deh abang Dimas yang dicintai oleh Rania dan kak Dinda... Rania mau nurutin mau nya abang...". Balas Rania membuat Dimas kikuk.
"Sayang... jangan bawa-bawa yang lain dong kalau kita lagi bahas tentang kita... nanti malah bikin kamu gak enak hati".Jawab Dimas.
"Biasa aja kok abang....". Lanjut Rania dengan wajah mengejek Dimas.
"Hem... awas ya kamu sayang...". Dimas memeluk Rania erat.
"Aduh, aduh.. sesak dedek bayi nya bang...". Keluh Rania membuat Dimas melepas kan pelukan nya.
"Weekkk... kena tipu...".Rania pun keluar dari kamar dengan terburu-buru.
"Ndok.... kamu hati-hati ndok.. ingat..!! ada bayi di rahim mu sekarang, jangan lari....". Teriak ibu.
Langkah Rania pun terhenti...
"hehehe Rania lupa buk".
Ibu geleng kepala melihat kelakuan anak nya.
Dimas pun keluar dari kamar...
"Buk.. Dimas mau ajak ibuk dan Rania pindah kerumah baru dekat pondok pesantren nya Dimas buk.. ibuk mau ya..?". Pinta Dimas.
"Kamu buat rumah baru Dim...?". Tanya ibu.
"Iya buk... rumah itu baru selesai dibangun, itu Dimas buat untuk Rania buk..". Jelas Dimas.
"Syukurlah... kalau kamu masih ingat dengan anak ibuk...
Tapi... bukan ibuk tidak mau ikut pindah, hanya saja ibu masih ingin tetap tinggal disini Dim..". Jelas ibu.
"Dimas mengerti buk... kalau begitu Dimas ajak Rania boleh buk...". Tanya nya lagi.
"Boleh dong Dimas.... Rania itu istri kamu, itu hak kamu membawa nya tinggal bersama mu,..
Satu pesan ibuk untuk kamu, tolong jaga Rania Dim...". Permintaan ibu.
"InsyaAllah buk... Dimas akan melindungi dan menjaga Rania bersama Dimas". Dimas menjawab tanpa ragu.
__ADS_1
"Semoga Allah melimpah kan rahmat dan kasih sayang untuk kalian...". Doa ibu untuk putri nya.
"Aamiin...." Semua menjawab dengan serentak.
Setelah berkemas Rania dan Dimas pun pamit untuk pulang kerumah baru mereka.
Satu jam kemudian mereka pun sampai ke alamat yang dituju.
Rumah minimalis ini adalah milik Rania, hadiah dari Dimas untuk Rania.
Setidak nya Dimas masih memiliki niat untuk adil kepada istri-istrinya.
Adil sesuai kebutuhan masing-masing dari mereka, kali ini Dimas akan berusaha untuk adil membagi waktu pulang nya. Meski pun itu akan berdampak pada kesehatan Adinda, maka Dimas akan membuat Dinda belajar untuk membiasakan diri dengan kenyataan hidupnya.
Toh Dimas menikah lagi juga karena perminta an Dinda sendiri.
"Ayo masuk sayang...".Dimas membuka pintu rumah dan membawa koper milik Rania.
"Assalamualaikum... Ini rumah kita bang..?". Tanya nya dengan senyum an yang indah.
Dimas menatap wajah istrinya..
"Duh... manis nya...".
"i..ih... Pinter banget sih... Gombal nya". Rania pun mencubit gemas pipi suami nya.
"Aduh...Uda pinter ya godain abang". Balas Dimas seraya menggendong Rania dan membawanya ke kamar baru mereka.
Berawal dari candaan hingga saling menyentuh dan terjadi lah kali pertama nya bercinta dirumah baru mereka.
Suasana hangat menyelimuti pasangan yang jarang bertemu itu, sehingga tak ada bosan nya untuk mengulang rasa candu diantara mereka.
"Mungkin belum sayang... abang mau ajak kamu ke dokter kandungan dan kita belanja dulu di supermarket buat stok makanan kamu dirumah." Jelas Dimas.
Rania tersenyum mendengar jawaban dari Dimas,"( Perhatian dan pengertian banget sih..)".Pikirnya.
Rumah baru Rania memang tidak besar, hanya rumah minimalis dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang dapur terbuka, ada teras belakang yang asri menyatu dengan ruang makan mereka.
Rumah itu sudah dipagar keliling, eeh... ternyata ada kolam renang mini malis diteras belakang.
Dimas mengajak Rania berkeliling rumah mereka, baru sempet karna tadi uji coba dulu di kamar baru mereka... hehehe.
"Bang... dari depan mini malis banget rumah nya, tapi didalem nya...
MasyaAllah... Ada kolam renang nya juga bang.. ". Mata Rania berbinar melihat ada kolam renang mini dirumah nya.
"Alhamdulillah sayang... mudah-mudahan kamu nyaman ya tinggal disini". Ucap Dimas.
"Makasih sayang..". Rania pun memberi Dimas kecupan dipipi.
"Hemm... Udah pinter Godain abang lagi ya..". Goda Dimas..
"Dicium dikit aja bilang godain, kita jadi pergi gak bang..? Atau mau dikamar aja..?". Tanya Rania mengalih kan.
"Jadi dong... yuk mandi bareng... biar cepet..". Ajak Dimas.
"(Kapan lagi bisa mandi bareng, mumpung udah gak ada yang ganggu.
Lagian kan malu kalau mandi bareng dirumah ibuk, apa lagi dirumah kak Dinda, gak lucu kan...?)". Pikir Rania.
__ADS_1
"Ah...Siapppp suami ku..". Rania menarik tangan suami nya menuju kamar mandi dikamar mereka.
Sungguh Romantis pacaran setelah halal, apa lagi kalau udah tinggal berdua, mau ngapain aja mah BEBAS...
Tampa Was-was... oke..!!
Dimas pun membawa Rania ke klinik dokter untuk chek kandungn. Hasil USG membuktikan bahwa kandungan Rania sudah berusia 8 minggu dan janin nya sehat.
"Alhamdulillah... semuanya sehat". Ucap Dimas bersyukur akan kesehatan Rania dan janin mereka.
Rania mengusap perut nya yang masih rata, senyum indah terus merekah dibibir nya.
Mereka pun menuju supermarket untuk berbelanja. Daerah pondok pesantren mereka tidak jauh dari kota kabupaten B.
Dimas meminta Rania memilih bahan makanan dan cemilan yang Rania suka.
Puas memilih dan merasa cukup dengan barang yang mereka butuh kan, Dimas dan Rania pulang kerumah.
Sesampai nya dirumah, dert dert dert notifikasi ponsel Dimas.
Ada panggilan telepon dari Adinda.
Dimas pun mengangkat panggilan telepon nya.
"Assalamualaikum... mi..?". Salam Dimas.
"Waalaikumsalam.. bi.. ". Jawab Dinda.
"Ya mi..". jawab nya singkat.
"Hem... abi gak pulang malam ini..?". Tanya Dinda.
"Maaf, Abi belum bisa pulang mi, ada berita bahagia mi, Rania hamil..". Dimas memberi tahu Dinda, karena kehamilan Rania adalah kabar baik yang harus dibagi ke anggota keluarga.
"A, a... hamil...
Alhamdulillah.. selamat bi...". Ucap Dinda.
"Selamat untuk kita semua sayang..". Jawab Dimas.
"Salam untuk Rania ya bi, selamat atas kehamilan nya, Ami tutup dulu telpon nya bi.. Assalamualaikum..". Dinda menutup telponnya.
"Walaikumsalam..". Jawab Dimas.
"( Bagai disambar petir, ketika aku mendengar berita kehamilan madu ku dari mulut suamiku... ya.. memang ini tujuan aku dimadu, yaitu untuk mendapatkan keturunan lagi.
Tak ku sangka ada rasa getir dihati ku...
aku takut perhatian suami ku akan terbagi lebih untuk keluarga barunya.
Aku memang egois... Setelah ku tahu rasa nya dimadu, ternyata tak semudah yang ku bayangkan... Seandainya.... ah, sudah lah.. Ada hal yang tak bisa diulang dunia ini, yaitu waktu yang telah berlalu...)".
"Rania.... ada salam dari kak Dinda untuk kamu dan ucapan selamat juga atas kehamilan kamu..". Dimas memberi tahu Rania.
Rania yang mendengar... Deg..!!
.........
Hai.. gaes...
Semangat baca ya..
__ADS_1
Jangan lupa like nya ❤️