Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
18. Rencana Allah.


__ADS_3

Pagi itu, Adinda akan melakukan operasi pengangkatan rahim, Dimas dan Rania menunggu didepan ruang operasi.


Tak lama orang tua Adinda dan Dimas datang ke rumah sakit.


"Dimas, bagai mana keadaan Adinda..?".Tanya ayah mertua Dimas.


"Masih diruang operasi yah". Jawab Dimas.


"Mi, Fatimah sama siapa mi?". Dimas menanyakan keberadaan anak nya.


"Ada, Fatimah sama bibi Dim". Jawab Uminya Dimas." Ini siapa nak..?". Tanya Umi.


"Ini Rania mi, semalam Dimas nabrak Rania mi, syukur nya Rania tidak ada luka yang serius mi." Jelas Dimas.


"MasyaAllah... nak, syurkur lah jika tidak ada luka yang serius". Jawab Umi.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi,".Apakah ada keluarga yang memiliki golongan darah AB..? Pasien membutuhkan transfusi darah, keadaan nya kritis".Jelas Dokter.


"Bagai mana ini mi, ibu dan ayah siapa yang golongan darah nya sama dengan Adinda..?". Tanya Dimas.


"Ibu dan ayah golongan darah nya O dan B, kakek Adinda yang bergolongan darah AB Dim..". Jelas ibu mertua Dimas.


"Golong darah saya AB, boleh ambil darah saya saja". Rania bersuara.


Semua orang melihat Rania.....


"Tapi dik, kamu sedang tidak sehat". Jawab Dimas tidak enak.


"Tidak mengapa bang.. Saya tidak terlalu sakit, dok ambil darah saya dok". Ucap Rania.


"Baik lah, boleh kita tes dulu mbak..". Dokter membawa Rania keruang operasi.


Disebelah tirai itu, Adinda sedang dirawat paska operasi, dan Rania sedang diambil darahnya untuk menyelamat kan Adinda.


Transfusi darah berhasil dilakukan, Rania lemah dan ia pun kembali keruang perawatan untuk beristirahat.


Sedangkan Adinda sudah melewati masa kritis nya, dan segera dipindahkan ke kamar nya.


"Pasien sudah melewati masa kritis nya pak," Ucap Dokter ke Dimas.


"Alhamdulillah....". Jawab semua orang yang ada diruangan itu.


"Lalu bagaimana dengan Rania Dok?".


Tanya Dimas.


"Ibu Rania sudah diantar ke kamar nya pak, karena kondisinya sangat lemah setelah donor darah, saya harap ibu Rania diberi makanan yang bernutrisi untuk kembalikan energi tubuhnya." Jelas dokter.


"Baik dok saya mengerti." Jawab Dimas.


"Umi, Dimas mau lihat kondisi Rania dulu, Umi, ibu dan ayah tolong jaga Adinda disini". Ucap Dimas.


Sebelumnya, Dimas pergi untuk membeli makanan dan buah-buahan untuk Rania, ia merasa bersalah karena Rania dengan kondisi yang kurang sehat, malah dengan suka rela mendonorkan darah nya untuk Adinda istrinya.


"Assalamualaikum...". Ucap Dimas membuka pintu dan masuk kekamar rawat Rania.

__ADS_1


"Walaikumsalam..". Jawab Rania lemah.


"Bagaimana kondisi kamu dik.?". Tanya Dimas.


"Aku tidak apa-apa bang, hanya sedikit lemah, nantik setelah istirahat akan pulih kembali". Jawab Rania.


"Ini, makan lah buah ini dik, ini akan membantu kamu untuk pulih". Dimas memberi buah yang sudah dikupas.


Rania pun duduk dari tidurnya, dan memakan perlahan buah dan meminum susu yang diberi oleh Dimas.


***


Sementara itu Dikediaman mama Gina.


"Don, kamu mau sampai kapan murung begitu sayang?". Kata mama Gina ke Doni.


"Doni ingin sendiri dulu ma, pliss kasih aku waktu buat sendiri dulu." Doni masih tidak menyangka kalau Rania akan berhianat.


"Kamu sudah urus semua ke pengadilan Don?". Tanya mama Gina yang masih penasaran.


"Aku serahkan semua ke asisten ku ma".Jawab Doni.


"Baik lah, mama tau kamu akan lakukan yang terbaik, mama pergi dulu sayang". Ucap mama Gina dan pergi meninggalkan Doni dikamar nya.


"Kenapa Ran? Kenapaaaa? akhhh". Doni mengusap rambutnya kasar.


*


*


Rania selalu menemani Adinda, dan Dimas bisa pulang ke pesantren untuk melihat anak dan mengurus keperluan sekolah selama ia tinggal kan.


Beberapa hari pun berlalu, tiba waktunya untuk Adinda di ijin kan pulang.


"Alhamdulillah kamu udah pulih sayang". Ucap Dimas ke Adinda.


"Alhamdulillah bi, berkat doa-doa dan dukungan semangat keluarga termasuk kamu Rania, aku bertekat untuk sembuh, terimakasih kamu udah merawat aku". Ucap Adinda untuk Rania.


"Aku senang kak, kamu sembuh... terimakasih kembali untuk kalian yang sudah mau merawat ku dan membiar kan aku tinggal bersama kalian, sekarang waktunya untuk kita berpisah." Rania tersenyum.


"Kamu mau kemana Ran?". Tanya Adinda.


"Entah lah kak, mungkin aku akan mencari kotsan dan akan mulai mencari kerja". Jawab Rania lagi.


"Apa kamu benar-benar tidak ada keluarga untuk tempat mu kembali?". Adinda melanjutkan lagi.


"Aku sudah diceraikan oleh suami ku kak, dan aku sudah diusir, aku punya ibu dan adik ku dikampung, tapi tidak mungkin bagi ku untuk kembali dengan kondisi seperti ini, aku tidak ingin membuat mereka khawatir, nanti kalau sudah waktunya, aku akan menemui mereka kak". Jelas Rania panjang lebar.


"Dik, maaf saya pernah buka tas kamu untuk mencari identitas kamu saat kecelakaan kemaren, saya lihat kamu lulusan sarjana pendidikan Biologi?". Ujar Dimas.


"Benar bang, saya baru lulus". Jawab Rania lagi.


"Kalau begitu mau kah kamu menjadi guru IPA di pondok pesantren kami?". Tawaran Dimas.


"Benarkah tawaran ini bang?". Tanya Rania tidak percaya.

__ADS_1


"Ia, kami benar-benar membutuhkan satu guru IPA lagi, kalau kamu mau kamu bisa ikut bersama kami, kebetulan kami menyediakan rumah untuk guru dilingkungan pesantren." Jelas Dimas lagi.


"Alhamdulillah... saya bersedia..., terimakasih bang dan kak Adinda". Ucapan syukur Rania.


Mereka pun kembali ke pondok pesantren milik Dimas, setelah menempuh perjalanan selama satu jam dari kota L akhirnya mereka pun sampai digerbang Ponpes.


Adinda dan Dimas disambut oleh para guru-guru dan para santri.


Mereka sangat senang bisa melihat Ustadzah Adinda sehat kembali.


Rania pun mengikuti mereka berjalan dibelakang dengan membawa tas nya.


"Ayo masuk Ran...". Ajak Adinda.


"Iya kak...". Jawab Rania.


Mereka pun duduk diruang keluarga yang lumayan luas itu, karena menyatu dengan ruang tamu didepan.


Para santri kembali untuk belajar, dan beberapa guru atau ustadz dan ustadzah sebagian membimbing para santri dan beberapa tinggal Di kediaman Dimas.


"Begini ustad dan ustadzah yang ada disini, perkenalkan ini Rania, ia akan menjadi salah satu ustadzah disini, ia akan mengajar mata pelajaran IPA. Ustadzah Meli, boleh antar dik Rania ke rumah yang ada ditengah sebelah kiri." Jelas Dimas.


"Baik Ustadz Dimas, mari mbak Rania saya antar". Ucap Ustadzah meli.


Rania pun diantar ke rumah sebelah kanan bagian tengah, jaraknya satu rumah dari rumah Dimas, karena rumah para guru berdempetan satu sama lain, seperti kompleks perumah an.


"Maaf ustadzah... meli ya namanya, apa semua guru memang tinggal di ponpes?". Tanya Rania.


"Ia mbak Rania, semua tinggal bersama diperumahan guru disini, kecuali yang rumahnya dekat dari ponpes, mereka bisa pulang pergi setiap hari." Jawab Meli.


"Ustadzah Meli sudah berkeluarga?".


Rania kembali bertanya.


"Saya sudah menikah mbak Rania, kebetulan saya tinggal tidak jauh dari ponpes jadi saya bisa pulang kerumah setiap hari." Jelas meli lagi.


Mereka pun sampai dirumah yang dituju, rumah itu sudah dilengkapi dengan perabotan rumah.


"Ini kunci nya mbak Rania, kalau ada yang ingin ditanya kan lagi boleh sekarang". Meli memberi kunci rumah itu ke Rania.


"Tidak ada ustadzah...". Jawab Rania.


"Jangan panggil ustadzah lagi, panggil kakak juga boleh, seperti nya saya lebih tua dari kamu." Tebak meli.


"Oh, iya kak... jadi kak meli jangan panggil saya mbak lagi ya, hehehe". Rania tertawa kecil.


"Iya, saya tadi cuma belum tau mau manggil kamu apa, ya sudah... saya tinggal dulu ya". Meli pun pergi kembali ke kelas.


Tinggal lah Rania seorang diri dirumah itu, "Ya Allah... aku tidak tau mengapa engkau membuat ku bertemu kembali dengan cinta pertama ku, bahkan aku tinggal diantara mereka". Rania merasa bingung dengan takdir nya...


Ia pun mengenang kisah nya yang singkat dengan Doni...


Hai gaes...


maaf ya aku belum bisa update tiap hari, maklumin ya❤️

__ADS_1


__ADS_2