Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
20. Pernikahan ke dua


__ADS_3

Dan akhirnya pembicaraan pun dimulai.


"Begini bu, kami orang tua dari Ustad Dimas bermaksud melamar Rania menjadi istri ke dua nya, adapun alasan anak kami menikah lagi adalah karena istri pertama nya yang sudah tidak bisa memberi keturunan untuk Dimas. Kami berharap ibu mau menerima lamaran kami". Mulai abah panjang.


Ibu Rania masih diam dan mencerna apa yang barusan ia dengar.


"Maksud bapak, Rania dimadu pak...? Lalu bagai mana dengan istri pertama nya?". Tanya ibu yang masih belum percaya.


"Bu, saya Adinda, isteri pertama Ustad Dimas, saya juga datang untuk melamar Rania menjadi istri kedua suami saya bu.". Jelas Dinda.


"Tapi.... mengapa Rania yang kamu pilih nak?". Tanya ibu Rania lagi.


"Saya sudah mengenal Rania dengan baik bu, saya rasa saya dan Rania bisa saling berbagi.". Jawab Adinda.


Ibu diam lagi, masih memikirkan apa yang akan ia kata kan lagi. Karena berbagi barang saja bisa menyebabkan kan pertengkaran apa lagi berbagi suami. Apa lagi sejatinya wanita itu dominan dengan perasaan cemburu nya.


"Apa kamu benar-benar mengatakan itu nak? berbagi dalam bentuk barang saja bisa menyebabkan kan perselisihan nak, apa lagi ini berbagi suami? Toh, perempuan itu pencemburu loh nak?". Jelas ibu dengan pertanya an lagi.


"InsyaAllah bu, saya yakin bang Dimas bisa mengamalkan ilmu poligami secara adil, InsyaAllah kami bisa akur bu". Adinda masih tetap menjawab dengan tenang.


"Lalu bagaimana dengan nak Dimas sendiri, apakah kamu sudah siap nak hidup dengan dua istri?". Ibu menatap Dimas dengan pertanyaan.


Dimas diam, ia berpikir kalau poligami bukan hal yang mudah untuk diamalkan, karena jika ia sebagai suami tidak berlaku adil, bisa menyebab kan salah satu atau bahkan keduanya teraniaya.


"Bu, memang tidak mudah untuk mengamalkan ibadah pernikahan bu, apa lagi poligami. Tetapi saya akan berusaha untuk adil untuk istri-istri saya dan anak-anak saya kelak." Dimas menjawab dengan keyakinan nya.


"Kamu sendiri nak?". Ibu memegang tangan Rania.


Rania menatap ibu," Bu, kalau ibu mengizin kan, InsyaAllah Rania siap bu".


Ibu kembali diam, ia takut rumah tangga anak nya akan gagal lagi, karena menikah dengan lelaki single saja hubungan Rania tidak bertahan lama. Kali ini dia akan menjalani biduk rumah tangga poligami.


"Yasudah, kalau memang kamu sudah siap untuk menjalaninya, ibu merestui kalian". jawab ibu.


Sontak membuat semua yang hadir menjawab"Alhamdulillah...".


Umi Dimas pun memberikan satu set perhiasan emas untuk Rania. Ia pun memasangkan sebuah cincin permata dijari manis Rania.


"Terima kasih bu, sudah merestui mereka". Abah tersenyum bahagia.


"Saya harap nak Dimas akan bertanggung jawab untuk istri-istri nya pak". Ucap ibu lagi.


"InsyaAllah bu, saya akan berusaha mengingat itu". Dimas menjawab keraguan ibu.


***


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, acara pernikahan dilakukan secara sederhana dengan acara syukuran secara khidmat dan sederhana. Sesuai permintaan Rania.

__ADS_1


"SAH?". Ucap pak penghulu.


SAH... jawab para saksi dari kedua belah pihak.



Rania terlihat cantik dan anggun dengan balutan busana pernikahan yang tetap syar'i.


Dimas menatap Rania yang duduk didepan nya ia akan memberikan mas kawin untuk Rania.


Hati Rania bergetar, ia tidak menyangka akan menikah dengan Dimas cinta pertama nya yang kala itu bertepuk sebelah tangan, malah berjodoh namun menjadi istri keduanya.


Rania menerima mas kawin yang diberikan oleh Dimas, dan ia pun mencium tangan Dimas kala bersalaman. Sungguh sentuhan pertama yang menggetarkan hati Rania.


Sedang kan Adinda dan Fatima duduk dibelakang Dimas, tersenyum saat Rania menoleh ke arah nya dan Rania pun memeluk Adinda.


"Terbuat dari apa hati mu kak?". Rania menangis dipelukan Adinda.


"Tidak mengapa dik, karena itu adalah kamu saudariku..". Adinda pun menangis, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya berguguran membasahi pipinya yang tertutup cadar.


Orang-orang yang menghadiri acara itu pun ikut haru akan pemandangan yang mereka lihat, terlebih lagi para ibu-ibu, mereka iba akan nasib Adinda istri pertama Dimas.


sementara itu kedua orang tua Adinda tidak hadir di acara itu, mereka kecewa akan keputusan Adinda.


mereka takut Adinda akan tersakiti oleh keputusan nya sendiri.


Sore itu Yati tetangga nya Rania baru pulang dari kota, ia mendengar kabar pernikahan kedua Rania pun turut hadir walau terlambat.


"Aih.... berjodoh juga akhirnya kamu ya Ran sama bang Dimas...!". Ucap Yati asal.


"Yati..!!! sstttt jangan asal deh... Nanti ada yang denger...". Rania pun menarik Yati menjauh dari orang yang masih ada dirumah ibunya.


"Eits... kelepasan aku Ran... hehehe,


Sori ya aku telat, baru pulang aku dari kota, Emang bang Dimas belum tahu kalau kamu yang ngirim surat lima tahun yang lalu ya kalo gak salah?". Tanya Yati.


"Gak papa yang penting kamu datang kan. hem... soal surat, dia belum tahu yat. Jangan cerita ya ke siapa pun..". Jawab Rania.


Mereka pun berbincang dan berfoto sebentar, karena masih ada tamu yang datang untuk memberi selamat untuk Rania, akhirnya Yati pun pamit.


Malam pun tiba, malam ini Rania dan Dimas akan tidur dirumah ibunya Rania, sebelum esok Rania akan diboyong ke rumah nya Dimas diponpes.


Malam itu Rania terlebih dahulu ada dikamarnya. Ia merasa canggung dengan statusnya sekarang.


"Duh... ya Allah... jantung aku kok deg deg kan ya..". Perasaan Rania tak menentu.


Dimas pun mengetuk pintu kamar Rania dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Belum tidur dik..?". Dimas menyapa.


"Belum bang... kalau abang udah ngantuk tidur duluan aja bang...". Balas Rania.


"Abang tidur duluan ya... ". Dimas pun berbaring diranjang itu.


Rania hanya duduk didepan cermin, ia sengaja menunggu Dimas tertidur.


Rania ingin mengganti pakaian tidurnya, tapi malu padanya. Rania takut Dimas mengira kalau ia sengaja menggoda nya.


Perlahan Rania pun membuka jilbab nya, dan mengganti dengan baju tidur panjang.


Rania mengira Dimas sudah tidur, ia pun berbaring dipinggiran ranjang.


Malam itu Dimas tidak bisa tidur, ia hanya memejam kan matanya, sedangkan hati dan fikiran nya hanya memikirkan perasaan Adinda.


Dimas yakin perasaan Adinda tidak baik-baik saja.


Ternyata dikediaman Jamal, Adinda yang tidur bersama Fatima benar-benar tidak bisa memejamkan mata.


Ia menatap dinding kamar, semua terasa hampa tampa kehadiran Dimas disisi nya.


Tak terasa air mata pun lolos jatuh membasahi pipi nya.


Kalau saja dirinya tidak jatuh saat itu, mungkin saat ini ia dan Dimas sudah bahagia dengan dua anak-anak mereka. Tetapi apa boleh buat, semua sudah berubah, Allah memberi jalan hidup yang lain bagi nya.


Adinda pernah mendengar Dimas berdoa di sepertiga malam nya, ia memohon untuk dilimpahi keturunan yang banyak anak-anak sholeh dan sholeha, ketika itu Adinda belum melakukan operasi pengangkatan rahim nya.


Ia begitu tahu akan perasaan suaminya. Oleh karena itu, Adinda memikirkan tentang poligami sejak pertemuan nya dengan Rania.


Beberapa bulan lamanya ia memantap kan hati untuk berbagi suami, hingga akhirnya ia menemukan jawaban di sholat istikharah nya.


Dirumah Rania, Dimas masih belum bisa lena dengan tidur nya.


Sementara Rania yang sudah terlelap tiba-tiba berbalik memeluk Dimas disebelah nya.


Dimas terpaku, ada rasa seperti sengatan disentuhan Rania,sebab Rania adalah wanita yang baru ia nikahi. Membuat jantung nya berdetak tak menentu.


Dimas pun berbalik ingin melepaskan tangan Rania yang memeluknya, saat ia berbalik Dimas melihat wajah Rania yang cantik meski sedang terlelap.


Dimas menatap Rania dan.....


Hai gaes....


tetap semangat baca nya ya...


TQ support nya❤️

__ADS_1


__ADS_2