
"Kan..... Ami mulai lagi deh... ". Dimas pun menggoda Dinda, membuat Dinda tersipu malu ketika Dimas memeluk nya dari belakang.
"Abi... malu ah, mau sholat gak nih...". Alih nya.
"O.. iya yah... yuk mi..". Dimas pun melepas kan pelukan nya dan bergegas ke masjid depan.
Sementara itu dirumah pribadi Doni...
Semua apa yang terjadi pada Rania akan sampai ke Doni.
"Jika saat ini kamu sudah mengandung anak nya, berarti tak ada kesempatan untuk ku lagi Ran...".
"Mulai saat ini aku ikhlas kan kamu untuk nya, semoga kamu bahagia".
Doni hanya bergumam sendiri diteras kamar nya sambil memandang foto pernikahan nya dengan Rania.
*
*
Dimas menemukan seseorang yang bisa menemani Rania tidur dimalam hari saat ia tak pulang kerumah nya.
Wanita setengah baya seorang janda yang memiliki seorang anak gadis yang usia nya sudah 18 tahun.
Buk ida akan menemani Rania tidur
saat malam hari dan ketika Dimas tidak dirumah.
Malam ini Dimas menginab dirumah Rania.
"Sayang... makan yang banyak ya.. biar dedek bayi nya sehat". Dimas menyuap kan makanan untuk Rania.
"Gak mau makan bang... bauk..". Rania menutup mulut dan hidung nya dengan telapak tangan nya.
"Sedikit saja.... A... buka dong tangan nya...". Bujuk Dimas.
"Abang gak percaya? ini bauk... Hueekkkk". Rasa mual melanda, pasal nya baru hari ini Rania merasa mual dan muntah.
"Jadi... mau nya makan apa..? coba kasih tahu abang, nantik abang coba carikan". Tanya Dimas.
"Hemm.... pingin makan kebab yang dekat taman kota L bang...". Jawab nya.
"Oo... kebab... disini juga ada sayang...
". Dimas memberitahu Rania.
"Gak mau.... pingin makan kebab yang disana, terus makan nya di taman". Balas Rania.
"Kalau gitu kita ganti baju dulu, siap-siap ke kota L". Dimas pun bersiap.
Dari kota kabupaten B ke kota L menempuh jarak 1 jam perjalanan, demi Rania dan si buah hati, Dimas pun semangat untuk ke kota L.
Mereka pun berangkat usai sholat magrib, terlihat keceriaan diwajah cantik Rania, seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan baru.
"Bang.... ". Rania menyandar kan kepala nya di bahu Dimas yang sedang menyetir.
Dimas mengusap lembut pucuk kepala isteri nya."Kenapa sayang abang...? Hemm..?".
"Mau dicium...". Rania pun menyodor kan wajah nya ke arah Dimas.
"Heemm.... muach". Dimas pun mencium kening istrinya.
Tingkah Rania mulai bertambah sejak kehamilan nya, apa kah mungkin ini yang namanya bawaan bayi..?
Tak terasa Dimas pun memarkir kan mobil nya dipinggir jalan yang mulai padat.
"Mang... pesan kebab nya tiga ya makan disini". Pesan Rania.
"Kok tiga sayang...?". Dimas heran.
__ADS_1
"Iya dong abang.... buat abang 1, Rani 1 dan dedek bayi 1, jadi... 3 kan..?". Jelas nya.
"Ooo.... iya abang lupa". (Bawaan bayi kali ya) Dimas pun tersenyum sendiri melihat tingkah Rania.
"Ini kak, pesanan nya". Kang kebab memberikan 3 buah kebab siap untuk dinikmati.
Mata Rania berbinar melihat kebab ditangan nya.
"Bismillahirrahmanirrahim...". Ia pun menggigit kebab yang ada ditangan nya.".Hemm.... sedap nya". Rania memakan nya lagi.
Dimas tersenyum bahagia melihat Rania makan dengan lahap.
"Bang.... minum...". Ucap nya manja.
"Ini.... abang udah beli minum nya". Memberi botol air mineral ke Rania.
"Minum pelan-pelan ya..".
Usai makan Rania dan Dimas pun bersantai ditaman yang dipenuhi keindahan lampu kelap kelip nya.
Mereka berfoto berdua dan minta difoto oleh orang yang lewat.
Sungguh serasi dan romantis nya pasangan itu.
"Udah..? Pulang kita sayang..?". Ajak Dimas.
"Hemm.... yuk pulang, adek juga udah gak sabar mau pulang". Balas nya.
"Kenapa gak sabar?". Tanya Dimas heran.
"Iya dong... Gak sabar pengin maen bola sama abang". Jelas Rania.
"What... maen bola..?". Dimas heran.
"Iya maen bola diranjang sayang...". Jawab Rania.
Bagai tersengat listrik, goda an Rania mebuat Dimas kesentrum diseluruh tubuh nya.
Sepanjang perjalanan Rania hanya menyandar kan kepala nya dibahu Dimas dan tangan nya meraba dengan nakal nya di area paha Dimas.
Dimas yang sudah tegangan tinggi pun bersemangat untuk lebih cepat sampai dirumah.
Setiba nya dirumah, tak sabar menunggu nanti, kedua nya langsung memulai permainan sepak bola di atas ranjang.
Nafas mereka berderu kencang, sungguh aktifitas olahraga yang menyenangkan.
"Abang,". Sapa Rania dalam pelukan nya.
"Hemm..?". Jawab Dimas.
Rania menatap suaminya...
"Ingat gak? surat balasan abang dulu?
kata nya rasa suka yang adek tujukan itu hanya nafsu belaka?".
"hem.. itu.. kenapa sayang..?". Balas Dimas.
"Seperti nya memang begitu bang, karna adek pengin bercinta terus sama abang...". Jawab Rania tampa rasa malu.
Dimas hanya diam menatap wajah Rania. Dalam hati ia bicara (Sejak hamil Rania jadi ceplas ceplos, kemarin awalnya aja malu-malu, sekarang hemm.... Hots banget).
"Wajah ini...". Rania memegang wajah Dimas.
"Bibir ini...". Rania membelai bibir seksi suaminya.
Rania pun mengecup bibir suami nya.
"Semua adek suka".
__ADS_1
"Abang...... kok diam sih?".
"Jadi.... abang mesti bilang apa?".
"Hemm... Yaudah ah.. tidur aja". Ajak Rania.
Dimas hanya menarik tubuh istri nya kedalam pelukan nya.
Seperti biasa, mereka akan bangun subuh, karena Dimas segera ke masjid pondok.
"Nanti sarapan disini ya...".
"Iya, nanti abang balik kesini selesai sholat." Jawab Dimas.
Rania pun mempersiap kan sarapan pagi nasi goreng dan mie goreng di atas meja makan.
Tak lama Dimas pun pulang, Alang kah terkejut nya Dimas melihat Rania memakai dres seksi nan pendek dengan dandanan cantik dan rambut di urai bak anak gadis perawan nan seksi.
Tampilan yang berbeda.
"Assalamualaikum...". Sesaat menoleh ke Rania yang datang menyambut nya dan.... "Subhanallah... sayang... Cantik, seksi banget...".
"Mulai sekarang aku dandan seperti ini dirumah buat kamu sayang". Goda Rania dengan membelai wajah suaminya.
"Auto mandi lagi pagi ini....". Ucap Dimas.
Sarapan pagi dimeja terabai kan, Dimas sarapan dikamar bersama Rania.
Hari ini dipondok Adinda melihat wajah Dimas yang terlihat lelah.
"Abi, sepertinya lelah banget ya...?". Tanya Dinda.
"Enggak kok mi, mungkin karna lagi banyak kerjaan aja, kelihatan cape ya wajah abi?". Kilah Dimas.
Bagaimana tidak lelah? Rania sungguh membuat Dimas candu akan permainan sepak bola nya.
Ditambah lagi tampilan Rania dirumah sungguh berbeda, Rania sungguh mencuci mata Dimas yang membuat nya rindu pada nya.
Selang dua malam mereka tidur bersama, malam ini Rania akan ditemani oleh buk ida dirumah.
Setelah memperkenal kan buk ida ke Rania, Dimas mengikuti langkah Rania yang masuk ke kamar.
"Abang mau balik dulu ke pondok ya sayang...?". Dimas pamit.
"Abang...". Panggil nya.
"Hemm?". Dimas aja berdehem lembut.
Rania memeluk Dimas dengan erat.
"Udah, abang boleh pergi..". Katanya.
"Hemm.. yaudah, abang pergi dulu." Dimas pun mengecup kening Rania.
Ia pun bergegas kembali ke rumah Dinda.
Malam itu Dimas menarik tangan Dinda.
" Adek, Sayang... sini dekat abang...".
Dinda yang mendengar Dimas memanggil nya dengan sebutan adek sayang merasa heran...
"Adek...? Abi manggil ami adek?." Tanya Dinda kecewa, bisa-bisa nya Dimas salah sebut panggilan istri nya.
Dimas"...?????
Hai gaes...
Pembaca tersayang kuh❤️
__ADS_1
jangan lupa like ya😍