Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
15.Orang Aneh


__ADS_3

"Rania...".


Rania menoleh ke asal suara itu, ternyata mama Gina datang ke rumah mereka.


"Ibuk... ibuk datang..?". Rania heran kenapa tiba-tiba ibu mertuanya datang berkunjung.


"Iya, emang kenapa kalau saya datang ke rumah anak saya, kamu keberatan?". Mama Gina menaik kan alis mata nya sebelah.


"Justru aku senang buk, ibuk mau datang ke rumah kami". Ucap Rania ke ibu mertuanya.


"Apa? rumah kami, ini rumah anak saya, bukan rumah bersama, paham kamu! ". Mama Gina menambah kan .


"Silahkan masuk buk...". Rania mempersilah kan ibu mertuanya masuk.


"Tentu saya akan masuk, ini rumah anak saya". Mama Gina dengan angkuh nya masuk kerumah anaknya.


Rania segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mertuanya, " Silahkan diminum buk".


"Dah ya, gak perlu basa-basi, saya minta sama kamu, kamu tanda tangani surat ini,". Mama Gina memberi sebuah surat.


"Surat apa ini buk,". Rania membuka dan membacanya.


"Ini surat gugatan cerai, dan disini saya yang menggugat bang Doni??".


"Iya, saya mau kamu tanda tangani surat gugatan cerai ini, karna anak saya Doni akan kami jodohkan dengan anak dari keluarga kaya, sebanding dengan keluarga kami, jadi kamu jangan mimpi kami bisa menerima mu dikeluarga ini." Mama Gina tampa segan-segan merendah kan Rania.


"Maaf buk, saya tidak bisa menerima ini, dan saya tidak akan mau menandatangani surat gugatan itu." Rania menolak dengan tegas.


"Kalau kamu tidak mau menandatangani surat ini, berarti kamu siap dengan konsekuensinya." Mama Gina menyeringai dengan licik.


"Maksud ibuk?". Rania tak mengerti dengan konsekuensi yang dimaksud ibu mertuanya.


"Saya tidak akan memaksa kamu, jadi kamu jangan coba-coba mengadu tentang hal ini ke Doni, ingat kamu masih punya keluarga kan di kampung!". Mama Gina pergi setelah mengatakan ancaman itu.


"Astaghfirullahal'azim.... kenapa seperti ini ya Allah..". Rania tak habis pikir dengan keinginan ibu mertuanya.


Keesokan harinya, Rania meminta izin ke Doni, kalau ia akan berkunjung ke kafe tempat Rania kerja dulu, untuk menemui sarah disana.


Sesampainya dikafe, ternyata Sarah sudah tidak bekerja disana, Rania pun menelepon sahabatnya itu.


"Assalamualaikum...". Rania mengucapkan salam untuk sahabat nya itu.


"Walaikumsalam, Ran... apa kabar kamu....?". Sarah membalas.


"Aku ada di kafe nih, kamu nya malah udah gak kerja disini lagi, kemana kamu..?". Rania bertanya ke sahabat yang dirindukan nya.


"Aku pulang ke desa Ran, Bapak sama ibuk ku suruh aku pulang". Jawab Sarah dari seberang telpon.

__ADS_1


"Yah... padahal aku kangen loh mau ketemu, bisa ngobrol bareng..". Rania merasa kecewa.


"iis... aku juga kangen tau..abang sayang mu mana Ran..? Kok gak denger suaranya."Sara mau menggoda Rania.


"Bang Doni ke kota K Ra, kapan kamu kesini lagi, aku pengin curhat nih...". Rania ingin menceritakan perihal sikap ibu mertuanya.


"Yah.... kacian deh kamu Ran, gak ada yang nemenin.. hahaha, kamu mau curhat apa sih.. jangan curhat tentang malam pertama yah, aku masih dibawah umur". Sara tak henti ingin menggoda sahabatnya itu.


" His.. apa an sih kamu ra... gak itu juga kale yang mau aku curhatin". Rania merasa malu oleh sahabat.


"Eh, udah dulu ya Ran, aku dipanggil ibuk, entar kita telponan lagi, Assalamualaikum.." Sara menutup telepon.


"Eh ra, tunggu jangan... Walaikumsalam". Baru sebentar juga, udah ditutup telponnya.


Tak jauh dari tempat Rania duduk, ada seorang pria yang sedari tadi mengawasi Rania. Dan Pria itu dengan sengaja datang ke meja tempat Rania menikmati jus nya.


"Hi, sendirian aja, boleh saya duduk disini...?". Pria itu mencoba mendekati Rania.


"Maaf, tapi masih ada meja yang kosong". Rania membalas.


"Sebentar... saja ada yang ingin saya tanya kan". Pria itu beralibi.


"Okey, mau nanya apa... Mas nya?". Rania balik bertanya.


"Sebelum nya kenalkan saya Hendra, kalau gak salah kamu Rania kan..?". Hendra menebak.


"Tau dong... saya pernah satu kelas sama kamu di semester lima, kamu nya aja yang terlalu tertutup". Hendra mencoba mengingat kan Rania.


"Masa sih.? kok aku gak ingat ya..". Jawab Rania ragu.


Ketika itu Rania akan meminum jus nya, tetapi seorang pelayan kafe yang lewat situ tampa sengaja menyenggol siku Rania yang memegang gelas berisi jus itu. Jus tumpah mengenai baju Rania.


"Maaf,, kak.. saya gak sengaja". Ucap pelayan itu.


"opss... huh... okey, gak papa". Rania menghela nafas dan memaaf kan pelayan itu, dia tau rasanya bagai mana menjadi seorang pelayan, apa lagi kalau buat kesalahan.


Rania berdiri dan ingin membersihkan kotoran jus di pakaiannya. "Maaf saya mau ketoilet dulu". Ketika Rania berjalan melewati Hendra, tiba-tiba Rania terpeleset seketika Hendra menahan tubuh Rania dipelukannya.


"Astaghfirullahal'azim... Maaf, tolong lepaskan, Terimakasih sudah menolong saya." Rania masih terasa berdebar akan kejadian itu. Ternyata Rania menginjak genangan air dilantai.


"Iya, gak papa.. itu spontan saja". Ucap Hendra.


"Hampir saja aku jatuh ya Allah...". Rania berbisik sendiri.


Tak lama setelah dari toilet Rania pun pamit untuk pulang.


"Maaf mas Hendra, saya pamit pulang duluan". Tampa menunggu jawaban dari Hendra, Rania pun pergi meninggal kan Hendra.

__ADS_1


Sesampainya dirumah....


dert dert dert... ada panggilan telpon.


Ternyata panggilan telepon video call dari Doni.


"Assalamualaikum bang... ". Rania menatap wajah suaminya.


"Walaikumsalam sayang... baru sehari aku udah rindu kamu sayang..". Doni mulai menggoda isterinya.


"ih, gombal...". Balas Rania.


"Gimana tadi, seru dong ketemu sama Sarah dikafe..?". Doni melanjutkan.


"Sayangnya gak seru bang, Sara udah gak kerja lagi, udah pulkam". wajah Rania sedikit murung.


"Kok Sara gak bilang-bilang mau pulkam". Lanjut Doni.


"Hmm.... ".Bibir Rania sedikit manyun.


"Tu bibir kok dimanyunin, mau digigit ya? hah?". Goda Doni.


"His... apaan sih bang, orang lagi sedih juga".Rania kesal.


"Hehehe... gitu aja kesel sih sayang, hmm.. biar jangan bosen, besok pergi ke mall aja, belanja baju atau sepatu biar kamu gak suntuk yangg...". Doni menyarankan Rania agar tidak bosan dirumah.


"Hmm... gak ada temen bang... males jalan sendirian". Jawab Rania.


Mereka pun melanjutkan obrolannya sampai mata mengantuk.


Keesokan harinya, bik Jum memberitahu Rania kalau persedia an dirumah habis.


Akhirnya Rania pun minta ijin ke Doni untuk ke supermarket belanja bulanan.


Rania pun pergi sendiri ke supermarket dengan taksi. Sesampainya disana, ia mendorong troli,memilih barang-barang yang ia butuhkan dirumah.


Rania sibuk sendiri, ia ingin mengambil barang yang ada dirak atas, sedikit lagi dapat diraih tiba-tiba seseorang memegang tangan Rania.


Rania menoleh ke arah pemilik tangan.


"Kamu...?". Rania heran bisa bertemu Hendra lagi, secara kebetulan kah, atau memang.....


Maaf Gaes,


Penulis lagi kurang fit,


semoga kalian tetap semangat ya baca novel Cinta yang kedua. Tq❤️

__ADS_1


__ADS_2