
Akhirnya kegiatan panas mereka terhenti, Dimas merapikan rambut dan pakaian yang ia kenakan.
Sedangkan Rania merapikan rambut dan baju nya yang mulai tersingkap.
Bagai orang yang ketahuan mencuri, Dimas dan Rania dibuat tak karuhan oleh nya.
"Assalamualaikum... mi.. ". Ucap Dimas saat mengangkat panggilan video call dari Dinda.
"Lagi sibuk bi? kok lama banget ngangkat telepon nya?". Dinda curiga.
"Enggak.... tadi abi lagi ditoilet..". Wajah Dimas serasa tebal didepan istri pertama nya.
"Rania mana bi?..". Sambung Dinda.
"Itu... kek nya udah tidur mi.. mau abi bangun kan?". Tawar Dimas.
"Gak bi, kok cepet banget tidur nya bi?". Selidik Dinda.
"Iya, tadi dipesawat Rania merasa pusing, mungkin kecapean mi". Jelas Dimas singkat.
Cukup lama Dinda dan Dimas video call, Dimas tak tega memutus telepon duluan. Sehingga membuat Rania benar-benar Ketiduran, karena lama menunggu Dimas dan Dinda video call.
Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya saja entah mengapa, mungkin Dinda sengaja melakukan itu. Seolah tak rela memberi waktu untuk Dimas dan Rania.
Panggilan telepon pun selesai...
Dimas pun melihat Rania yang terlelap diranjang nya.
Dimas menatap lekat wajah Rania, membelai nya dan mengec*p nya.
Dimas pun membawa Rania terlelap dalam pelukan nya.
Pagi itu Rania bangun terlebih dahulu, ia pun membangun kan Dimas untuk sholat subuh.
"Rania sayang...". Dimas memeluk Rania dari belakang.
"Hemm..?". Rania hanya berdengung.
"Sabar ya sayang... nanti diKairo kita bisa melanjutkan nya, aku janji tidak akan gagal lagi". Dimas pun membalik tubuh Rania dan memeluk nya.
Sungguh nyaman pelukan Dimas, menenangkan hati dan fikiran nya yang tak menentu.
Mereka pun bersiap untuk sarapan pagi dihotel dan akan mengelilingi kota KL, karena jadwal penerbangan mereka adalah pukul 13:00.
Dimas mengajak Rania berkeliling kota dan singgah dibeberapa tempat untuk berfoto.
Hingga tiba waktunya bagi Dimas dan Rania berangkat menuju kairo Mesir.
Setelah menempuh perjalanan selama 19 jam, Dimas dan Rania pun sampai dibandara internasional cairo.
Dimas sudah membeli kartu telpon untuk nya, tetapi ia hanya menyimpan nya terlebih dulu.
Dimas tak ingin mengecewakan Rania, apa lagi dirinya sendiri.
Dimas mencari hotel yang dekat dengan tempat pertemuan mereka.
Di Kemp*** Nile hotel Cairo Dimas menginap disana.
Perbedaan waktu membuat Dimas dan Rania perlu beristirahat dulu untuk menstabil kan waktu dunia yang berbeda.
Sore itu Dimas sudah membersih kan diri, disusul oleh Rania.
Dimas dan Rania hanya mengenakan handuk...
__ADS_1
Dimas memeluk Rania dari belakang, ketika ia akan mengambil pakaian dikoper nya.
Tak menunggu lama Dimas pun memulai aksinya. Berawal dari ciuman lembut dan berujung memanas.
Tak butuh waktu lama Dimas membuka handuk yang Rania kenakan.
Sungguh Rania ingin mencapai puncak pertamanya bersama Dimas.
Dimas pun tak mau menunggu lama, ia melanjutkan aksinya.
Meski Rania sudah menjadi Janda kembang, tetapi area sensitif nya sungguh sempit untuk dibuka.
Rasa sakit diawal akhirnya berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa diantara keduanya.
Tak berapa lama Rania sampai dipuncak keduanya, Dimas merasa puas melihat kekasih halal nya sudah dua kali pelepasan.
Posisi pun berganti dan de**han saling bersahutan, mereka pun sama-sama mencapai puncak akhir dari kenikmatan surga dunia itu.
Kedua nya terkulai lemah dan tidur dipembaringan hingga waktu malam pun tiba.
Dimas membangun kan istri mudanya, dan membawanya mandi bersama.
Niat untuk mandi pun berujung percintaan yang nikmat bagi keduanya.
Usai mandi Dimas dan Rania akan keluar untuk makan malam bersama.
Dimas pun mengaktifkan kartu perdana nya.
Sudah ada belasan panggilan video call dari Adinda.
Dimas pun menghela nafas... Dugaan nya benar lagi.
Dimas menganggap Adinda bersikap cemburu kepada Rania, sehingga Dinda membuat waktu nya bersama Rania terganggu.
Dimas pun menghubungi Dinda dengan panggilan Video call.
"Waalaikumsalam bi... kok baru aktif bi..?". Dinda selidik.
"19 jam mi... jauh perjalanan, cape dan kantuk gak bisa ditahan, jadi perlu istirahat terlebih dahulu, apa ada yang penting mi?". Tanya Dimas balik.
"Ami kan khawatir bi... cuma mau tau kabar aja, Rania mana bi..?". Tanya Dinda lagi.
"Ini... Dik...". Dimas memberi ponsel nya ke Rania.
"Halo kak... Assalamualaikum Fatimah...". Salam Rania.
"Walaikumsalam ibu... ". Jawab Fatimah.
"Gimana Ran... perjalanan nya". Tanya Dinda basa basi.
"Alhamdulillah kak... aku gak nyangka bisa lihat Negeri Orang..". Wajah Rania tersenyum cerah.
Dinda melihat dua wajah dilayar ponselnya, wajah mereka terlihat berseri. Seolah menyadari apa yang telah terjadi, Dinda pun pamit menutup telpon.
Dinda tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Air mata pun lolos dari kelopak mata nya.
Sungguh berbagi itu berat.... Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur.
Memang benar, wanita bisa menyembunyi kan rasa cinta nya, tapi wanita tak mampu menyimpan rasa cemburunya.
Di hiruk pikuk nya kota Cairo Dimas dan Rania berjalan menikmati indah nya suasana malam diCairo.
Penyatuan mereka hari ini menumbuh kan rasa cinta diantara mereka.
__ADS_1
"Bang... ". Rania menatap wajah Dimas. (Aku sungguh bahagia bang, aku ingin selalu bersama mu, Egokah aku?) Rania berbisik dihati kecil nya.
"Sayang... ada apa..?". Dimas melambaikan tangan nya didepan wajah Rania.
"Hemm... I Love You Honey...". Rania tersenyum dengan manis nya.
"I Love You To Rania sayang..". Dimas pun menyadari kalau senyuman Rania begitu indah. Tak bosan memandang wajah cantik nya yang berbalut senyuman manis nan indah dipandang.
Sungguh honeymoon yang indah...
Mereka pun kembali ke hotel, pertarungan pun kembali dilakukan.
Entah berapa kali mereka bergumul diranjang, seperti tak ada rasa kenyang bagi Dimas untuk bercinta dengan kekasih halal nya.
Lelah jangan ditanya, rasa remuk ditubuh nya dan perih diarea sensitif Rania membuatnya tak bisa berjalan dipagi hari nya.
Dimas pun mengurus istrinya dengan telaten, karena ulah nya Rania tak bisa berjalan.
Dimas pun bersiap menghadiri pertemuan digedung sebelah, ia meninggalkan Rania sendiri dihotel dan memesan semua kebutuhan Rania dihotel selama ia tinggal ke pertemuan alumni Al-Azhar.
Rania hanya bisa beristirahat diranjang.
Sesekali bangun untuk memakan cemilan nya dan meminum jus nya.
Hingga sore itu Dimas pun kembali ke hotel.
"Assalamualaikum... Sayang... gimana ke adaan kamu?". Dimas mengecup kening istrinya.
"Udah agak seger bang...". Jawab Rania singkat.
"Hemm.. udah bisa jalan gak?". Ledek Dimas.
"Emang kenapa? Jangan bilang mau itu lagi bang... ". Rania menatap Dimas curiga.
"Abang mau ajak kamu jalan-jalan sore ditepian sungai Nil sayang... Suudzon sama suami gak boleh loh... dosa". Jelas Dimas.
"Hem.... beneran bang.. kalau itu sih aku sanggup... aku siap-siap dulu ya". Jawab Rania girang dan mulai membersih kan diri.
"Huh.... mudah-mudahan entar malam dia semangat lagi". Gumam Dimas sendiri.
Dimas mengganteng tangan Rania, mereka berjalan ditepian sungai Nil dipinggir kota.
Sungguh indah nya sungai nil...
"Bang... makasih ya... Ini sungguh momen yang gak bisa aku lupakan". Ucap Rania dengan senyuman nya.
Mereka pun duduk di tepian sungai, ada kursi panjang disana.
Dimas pun pamit untuk membeli minuman dan cemilan untuk mereka.
Rania yang ditinggal duduk sendiri disini, tiba-tiba ada yang menyapa nya.
"Rania....". Panggil seseorang dari sebelah nya
Rania pun menoleh ke asal suara.. "Ya...". Ia pun terdiam dan merasa tak nyaman akan sosok lelaki yang ia lihat.
Orang itu adalah.....
Hai gaes...
Aku semangat up..
__ADS_1
kamu semangat baca ya..
jangan lupa like and comen😍