
tak terasa ujian telah usai, el sangat gugup bukan karna masalah hasil ujian, tapi liburan kenaikan tiba el melaksanakan pernikahannya dengan ustadz faqih,
el sedang duduk termenung memikirkan tindakan nya, ustadz faqih yang melihat el sedang melamun menatap kolam dengan tatapan kosong pun menghampirinya
el tak sadar sedang di perhatikan oleh ustadz faqih di belakang "apa aku batalin aja ya, pernikahannya? mumpung belum ada persiapan" lirih el
ustadz faqih yang mendengar perkataan el terasa marah, dia hanya mengeraskan rahangnya menahan amarahnya mendengar keluh kesah el
"lagian mana mungkin ustadz faqih suka sama cewe yang jauh dari kata alim, secara dia kan ustadz, anak kyai pula pasti yang di cari ya sekelas ustadzah juga santri solehah minimal, lah gue bacaan quran aja baru hafal sekarang sekarang hafalan masih juz ama lagi" monolog el
"sebenarnya apa sih yang abang sama kakek rencanakan? apa mereka memaksa ustadz faqih buat nikahin gue supaya gue gak bisa keluar pesantren ini? kenapa gak kepikiran sampe situ sih? maen iya in aja" rutuk el
"lah sekarang gue harus ngapain? rumit banget sih hidup gue, " keluh el
ustadz faqih yang sudah tak bisa menahan rasa marahnya langsung duduk di samping el tanpa pamit
"Astagfirulloh ustadz, ngagetin saya aja" kata el
ustadz faqih hanya memandang wajah terkejut el sekilas, lalu menghadap ke depan memandang kolam yang luas, " tidak ada yang memaksa saya untuk menikahimu" kata ustadz faqih dingin
deg
jantung el terasa berhenti "apa ustadz faqih sudah mendengarkan ucapan gure dari tadi" batin el "gimana ini" rutuk el
"saya tertarik sama kamu saat pertama kamu datang, dan rasa itu semakin besar setiap harinya, awalnya aku hamua memganggap rasa ini hanya kagum semata, tapi setiap saya istikhoroh selalu wajah kamu yang ada di mimpi saya" kata ustadz faqih dingin
"emang saya belum tau kamu memiliki perasaan yang sama atau tidak kepada saya tapi saya dengan bego nya malah memintanya langsung sama abang dan kakak kamu" kata ustadz faqih terkekeh
"saya cari istri buat menyempurnakan agama saya, bukan cari istri yang sempurna dan tak perlu sekelas ustadzah apalagi santri sholehah" kata ustadz faqih melirik el
"awalnya saya mau mengkhitbah kamu dulu, tapi dengan ada nya masalah kamu membuat saya hilang akal, saya terlalu takut kehilangan kamu, dan saya pun sangat menyetujui untuk menikah dengan mu" kata ustadz faqih
"tapi ternyata Alloh telah menyadarkan saya, saya telah berani mencintainya mumgkin melebihinya, dan semua saya serahkan sama kamu sebelum tenda yang ada di depan akan dipasang, Assalamualaikum " pamit ustadz faqih langsung pergi tanoa menunggu jawaban dari el
el sangat sakit dengan perkataan ustadz faqih, "apa ini namanya sakit hati? " kalau pun benar pasti saat ini ustadz faqih sangat sakit" lirih el
"gimana ini? gue harus apa? " lirih el
ustadz faqih yang sedang diliputi rasa marah dan sedihnya mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan, terlihat para santri gak berani menyapa saat melihat raut mukanya
umi yang melihatnya merasakan ada yang tidak beres dengan anak satu satunya "faqih nak, ada apa? " tanya umi saat faqih melewatinya
"gak ada apa apa umi, faqih hanya perlu sendiri dan umi tolong sama orang yang akan pasang tenda suruh tunda dulu pekerjaannya" kata faqih langsung pergi
__ADS_1
"loh nak kenapa? " kata umi yang kaget
"pasti ada yang tidak beres, harus cari dulu el, mungkin ada masalah dengan el" monolog umi
umi yang terlihat sangat panik dan terus menerus mondar mandir tak jelas membuat penasaran santriwati yang melihat
"Assalamualaikum " sapa santriwati
"waalaikumsalam" jawab umi
"umi kenapa? kok umi terlihat sangat panik? " kata santriwati
"umi lagi cari el, kamu tau dimana dia? " balas umi
"afwan umi tidak tau, mau saya panggilkan saja el nya umi? " kata santriwati tadi
"tak usah, biar umi yang langsung menghampiri el, kamu tolong cari el dimana saja, biar umi nanti kesana" kata umi
"iya umi, kami carikan, Assalamualaikum " pamit santriwati
"waalaikum salam" jawab umi
tak berselang lama santriwati itu datang dengan tergopoh gopoh
"waalaikim salam, kenapa? " jawab umi
"kami lihat el sedang menangis umi, di belakang pondok dekat kolam ikan" jawab santriwati
"kalian beneran itu el?" tanya umi
"iya umi, kami gak samperin el karna el lagi menangis mungkin dia butuh waktu sendiri" kata santriwati
"ya udah makasih, kalian lanjutkan aktifitasnya, paatikan semuanya kelas bersih, karna beaok hari pembagian rapot" kata umi
"iya umi kami pamit, Assalamualaikum " pamit santriwati
"waalaikum salam" kata umi
sedari tadi el di tinggalkan ustadz faqih, masih belum beranjak di tempat itu, tubuhnya terasa terpaku menempel di tempat itu" papi hiks mami hiks el harus gimana? el sakit banget liat sikap dingin nya ustadz faqih, hiks mami" lirih el
"el" lirih umi
el yang kaget langsung berdiri dan menghapus air matanya, pikirannya langsung bertanya tanya kenapa umi menghampirinya, apa dia marah ?
__ADS_1
tapi tak di sangka umi langsung memeluk el "kamu yang sabar ya" kata umi
air mata el tak bisa di tahan mengalir tanpa ijinnya "umi... el harus giman? " kata el
"katakan sama umi ada apa sebenarnya? kenapa sampai faqih menunda buat pemasangan tendanya persiapan nya sudah 70 persen, ada apa dengan kalian? " kata umi
el yang kaget pun dengan perlahan menceritakan semuanya sama umi
"apa kamu tak memiliki perasaan sama faqih el" tanya umi
"bu-bukan begitu umi, el hanya merasa tak cocok bersanding dengan ustadz faqih, umi tau sendiri bagaimana el, el takut membuat malu ustadz faqih" kata el
"nak,, kami tak pernah memilah siapa pun sa harus jadi istri nya faqih, faqih sudah cerita tentang kamu dan hatinya selalu tertarik sama kamu, kami tak memperdulikan kamu yang baru masuk pesantren " kata umi
"apa kamu mau serius sama faqib atau enggak? umi tak akan memaksa kamu? " kata umi
"tapi umi ustadz faqih sudah terlanjir kecewa sama el, pasti sekarang beliau sangat marah sama el" kata el
umi tersenyum atas jawaban el, umi bisa menilai el juga sudah ada rasa sama faqih tapj el tidak mengetahuinya " kamu nanti bicara baik baik sama faqih ya, biar umi yang atur waktu dan dimna nya" kata umi
"iya umi" kata el dengan memeluk umi begitu erat
malam hari ustadz faqih begitu semangat, beliau memutuskan pulang guna menghindari rl
"Assalamualaikum " ucap faqih.
"waalaikumsalam" jawab umi
umi yang kaget melihat faqih pulang " loh ko kamu udah pulang qih? " tanya umi
"faqih terasa gak enak badan umi, faqih ke kamar dulu ya" kata faqih
umi yqng tau faqih berbohong langsung menghampiri el mengajak nya ke rumah,
"kamu duduk dulu el, biar umi panggilkan faqih
tak lama kemudian suara kaki melangkah di arah tangga
tap tap tap
"elisha" kaget ustadz faqih saat mengetahui tamu yang ingin bertemu dengan nya
"kalian bicarakan dahulu gih, di belakang rumah aja, biar adem, umi mengamati kalian di depan dapur takut kamu macem macem qih" kata umi
__ADS_1
"makasih umi" kata el tersenyum