
sudah seminggu el dan ustadz faqih menikah, besok kembali lagi ke aktifitas seperti biasa,
"mas..., anter aku beli buku yuk?" kata el
"kemana sayang? " tanya nya
"gramedia ya? sambil jalan jalan" pinta el
"apapun untuk mu sayang" jawab ustadz faqih mengecup sekilas bibir el,
el yang di perlakukan manis oleh ustadz faqih masih saja merona wajahnya, dan hal itu yang membuat ustadz faqih selalu gemas
di kediaman arland, arland sedang menahan rasa cemburunya karna sang istri tengah bermanja ria bersama gio adiknya alesya
"ayo lah sayang, kasian gio dari tadi kamu peluk" kata arland
"mas aku masih kangen sama gio" jawab alesya membuat adiknya memutar bola mata nya
"kak, gio harus bertemu dosen dulu mau bimbingan " kata gio
"tuh sayang, kamu jangan ganggu waktu adik mu, dia mau bimbingan dulu, sebaiknyakamu sama mas aja yah, mas temenenin kamu apa pun yang kamu mau" kata arland membujuk istrinya
"janji? " kata alesya
"iya sayang, apa pun yang kamu mau akan mas turuti" kata arland
"ya sudah, gio kamu ke kampus sana, awas aja kalau kamu bolos, kaka jewer kuping kamu sampe putus" ancam alesya
"eh" heran gio, tadi kakak nya nyuruh dia cepat cepat kesini, karna kangen, pengen peluk, kalau bukan nurutin ngidam kakak nya mana mau gio di suruh suruh sama kakak nya ini
"bang jagain nih, kalo minta yang aneh aneh lagi kasih ke kandang macan aja, pusing gio nih" kata gio
" kamu jahat banget sama kakak kamu" kata alesya yang sudah berkaca kaca
"udah gak usah nangis, gio berangkat, bye. " kata gio melarikan diri
"mas gio jahat" rengek alesya
"udah sayang, jangan di dengerin, mending kita jalan jalan cari makanan, mau gak? " kata arland
"mau mas" kata alesya antusias
sedangkan el kini sedang membeli buku, karna sebentar lagi sudah mulai masuk sekolah
"mas beli buku dulu atau makandulu? " tanya el pada ustadz faqih
"kamu mau nya apa dulu, mas nurutin maunya kamu kemana" jawab ustadz faqih sambil menggandeng tangan el
"kita makan dulu yuk mas? " ajak el
"ayo sayang" jawab ustadz faqih"
"faqih bukan? " tanya seseorang
__ADS_1
"iya, juan.. kamu juan ya? " tanya ustadz faqih
"iya ana juan, tadi ana salah orang, ternyata bener ini anta qih" jawab juan
"sedang apa anta ju? " tanya ustadz faqih
"udah nyari buku, anta sendiri?" tanya balik juan
"ini ana lagi nganterin istri buat cari buku, eh kenalin ini istri ana nama nya elysha putri wijaja dan ini temen mas sayang" kata ustadz faqih
"salam kenal mas" sapa el
"iya, bentar kaya gak asing namanya? " pikir juan
"adik nya arland, yang selalu sama ana" jawab ustadz faqih
"ouh iya, si anak songong" ingat juan
"anak songong?" tanya el
"eh maaf de, dulu abang kamu terkenalnya anak songong sama kaka kelas kita dulu" jelas juan
"gak papa, emang sih bang arland agak songong " kata el terkekeh
"gak boleh gitu sama abang kamu sayang" tegur ustadz faqih hanya di balas cengengesan
"dulu dia yang sering di ingat kamu dek, dikit dikit inget adek ya gak qih? " tanya juan yang hanya di angguki oleh ustadz faqih
"ouh masa-" perkataan el terpotong saat pesanan mereka baru sampai
mereka makan sambil nostalgia, dan el sedang fokus dengan makanan nya, meski ustadz faqih kebanyakan mengobrol dengan juan tapi dia masih bisa memperhatikan el sedang makan, sampai saat el gak bisa membuka tutup botol air mineral, ustadz faqih langsung membukakan untuknya
"eh udah siang aja nih, ana duluanya qih, dek, selamat ya atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah" kata juan
"iya makasih juan, semoga anta cepat nyusul" kata ustadz faqih
"doakan saja qih, yuk akh Assalamualaikum " pamit juan
"waalaikumsalam" jaqab ustadz faqih dan el
"kita langsung cari buku dulu " kata ustadz faqih
"ayok mas" jawab el
"kamu ambil aja, apa yang kamu mau sayang"0 kata ustadz faqih
"ini udah mas" kata
"yuk bayar" ajak ustadz faqih
"total semuanya 453.000, ada lagi mbak" tanya kasir
"udah itu aja mbak" kata el
__ADS_1
"ini mbak saya yang bayar" kata ustadz faqih
"ouh iya mas, ini kartu nya mas" kata kasir
"kakak nya baik banget ya de" kata kasir tertuju pada el
"iya mbak, ayo mas" jawab el sambil menarik tangan ustadz faqih yang langsung cemberut karna di sangka kakak nya
"gak usah cemberut kakak" ledek el terkekeh
"iya adek manis" jawab asal ustadz faqih, malah semakin cemberut karna ledekan el
mereka pulang dengan faqih masih cemberut, kesal pada kasir karna di sebut kakaknya el, yang lebih bikin kesel, el malah mengiyakan apa kata kasir
"mas, udah dong jangan cemberut terus" bujuk el tapi tak di gubris ustadz faqih
"mas, hey mas.. ko marah sih" kata el tapiasih tak di gubris oleh ustadz faqih, ustadz faqih terus melenggang pergi ke kamar nya tanpa mendengar bujukan el, meski dalam keadaan kesel ustadz faqih tetap membawa belanjaan el
"kenapa nak, ko faqih ngambek gitu? " tanya umi yang sedang di ruang keluarga
"itu umi, tadi mas faqih kesel sama mbak kasir eh ko el malah ikut di cuekin" jawab el
"ouh kirain ada apaan, ya udah kamu bujuk aja dulu" kata umi
"el ke atas dulu umi" kata el yang di bales anggukan oleh umi
ceklek
"mas " panggil el mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar
"di balkon kali, mandi dulu aja deh, gerah banget" monolog el, karna tak dapat menemukan ustadz faqih
sesudah mandi el memggunakan daster yang hanya se paha, kebiasaan el selalu memakai pakaian tipis dan sangat pendek
grep
"Astagfirulloh mas, ngagetin aja" kaget el karna tiba tiba ustadz faqih memeluknya dari belakang
"maaf sayang" lirih ustadz faqih
"kamu masih kesel sama aku mas? " tanya el
"iy-enggak sayang" jawab ustadz faqih, niat awal ingin bikin el kesel karna telah mengiyakan perkataan kasir tadi
el memiving mata nya pada ustadz faqih, namun ustadz faqih menuntunnya untuk duduk di sofa, dan dirinya merebahkan kepalanya di paha el
"sayang" kata ustadz faqih memainkan tangan el
"iya mas apa? " jawab el
"mau cucu" kata ustadz faqih
"hah" kejut el bingung, namun melihat mata ustadz faqih terus memandang pada si kembar
__ADS_1
"jangan aneh aneh deh mas masih sore juga" kata el memukul pelan lengan ustadz faqih