Cintaku Tumbuh Di Pesantren

Cintaku Tumbuh Di Pesantren
episode 28


__ADS_3

dini hari el terbangun merasakan dingin karna tubuhnya tak memakai pakaian hanya selimut tebal yang menyelimutinya


"euughh" lenguh el


"kenapa sayang" kata ustadz faqih yang hendak turun


"dingin" jawab el


"mau mandi sekarang gak, mas mau mandi udah jam 3 dini hari" kata ustadz faqih


"nanti dulu ya, badan ku masih lemes" jawab el


tidak lemes gimana? semalam ustadz faqih menggempurnya berkali kali


"ya sudah mas mandi dulu ya" kata ustadz faqih yang di jawab anggukan kepala oleh el, merapikan selimut yang di pake el, supaya istrinya gak kedinginan dan langsung pergi mandi menunaikan sholat malam nya


di lain tempat arland sedang kebingungan mencari tukang bakso malang di pukul 3 dini hari, tingkah alesya lebih manja dan agresif setelah positif hamil


"lupa gue, kenapa gak nyuruh aja" monolog arland


"selesai tinggal tunggu di depan rumah" lirih arland dan langsung memutar balikan mobilnya untuk pulang


"sayang.. " kata ustadz faqih lembut


"hmm" jawab el


"bangun yuk, sudah subuh, maaf mas baru bangunin kamu" kata ustadz faqih


"jam berapa? " jawab el dengan suara seraknya


"hampir jam lima sayang, mas sudah siapin air hangat nya" kata ustadz faqih


"awwssshh" ringis el saat mau berdiri


"kenapa sayang? " panik ustadz faqih


"sakit ini" jawab el


ustadz faqih yang mengerti langsung menggendong el ke dalam toilet


"mas ikh sana keluar, el mau mandi dulu" kata ustadz faqih


"rendem dulu sayang biar sakit nya agak berkurang" kata ustadz faqih


"iya mas" jawab el malas


"mas di depan, kalo sudah panggil mas, " kata ustadz faqih


"iya mas iya" jawab cepat el


el pun merendamkan dirinya merilekskan otot dari ***********, rasanya tak di pungkiri sakit di campur nikmat


mengingat semalam el tak menyangka suaminya yang notabene nya sang ustadz tapi ganas di ranjang


memikirkannya sampe geleng geleng kepala el, mengingat barang nya yang segede apa masuk ke dalam lubang yang sempit


setelah mandi el keluar dengan tertatih, selangkangannya masih sakit meski sudah agak berkurang dari tadi


"loh ko gak panggil mas sih sayang" kata ustadz faqih

__ADS_1


"udah agak enakan ko mas, " jawab el,


"ya sudah, kami sholat dulu sayang, mas mau rapiin ranjang kita" kata ustadz faqih


"iya mas" jawab el


melihat ranjang, ustadz faqih mengingat pergulumannya dengan el semalam, hasrat tak henti henti, bahkan kalo bukan el yang memintanya berhenti dia akan terus memintanya


"darah perawan nya el" monolog nya saat melihat berkas darah di sprei putih nya


bibir nya melengkung ke atas, suasana hatinya sangat senang saat ini meski ia harus menunda untuk punya anak, ia tak boleh egois karna el masih sekolah, alhasil banyak nya tisu yang dia gunakan malam ini


"harus stok banyak ini mah" monolog ustadz faqih


"mas mau sarapan apa? " tanya el dengan langkah pelan pelan dan sedikit meringis


"kamu yang mau apa sayang, nanti mas bawa kesini" kata ustadz faqih


"malu lah mas sama umi, harus nya kan seorang istri yang nyiapin, bukan suaminya" kata el


"untuk kali ini biar mas sayang, kasian kamu jalannya sakit, nanti umi juga paham ko" jawab ustadz faqih


"tapi mas-" perkataan el terpotong oleh ustadz faqih


"kamu duduk aja dulu sayang, yuk,, kamu tunggu di sini dulu ya" kata ustadz faqih menuntun istrinya ke sofa tak lupa mencium kening nya sebelum keluar kamar


tap tap tap


di lihatnya hanya ada umi di meja makan, sedang menyiapkan makanan


"loh ko sendiri qih" tanya umi


"hah" kaget umi


"sampe gak bisa jalan?" tanya umi


"hehe" hanya di jawab cengengesan oleh faqih


"tapi kamu gak maksa el kan qih? " tanya umi lagi


"enggak umi, tapi kita tunda dulu punya anak nya, mengingat el kan masih sekolah, 1tahun lagi umi buat umi punya cucu" kata ustadz faqih


"umi gak masalah kalo soal cucu, tapi kamu gak maksa kan? sampe el gak bisa jalan? " tanya umi


" enggak umi, tanya aja nanti sama el nya langsung" kata faqih


"ada apa ini? " tanya abi


"istri kamu gak di ajak sarapan qih? " tanya lagi abi


"ini mau faqih bawa ke kamar bi" kata faqih


"kok di kamar qih, di sini aja biar ngumpul makannya lebih enak" kata abi


"besok aja bi, sekarang faqih sama el di kamar dulu ya" kata faqih sambil melenggang pergi ke atas kamar nya


"anak kamu tuh bi ganas banget" celetuk umi


"ganas gimana umi? " tanya abi

__ADS_1


"itu menantu umi, sampe gak bisa jalan, kaya abi dulu " jawab umi


"namanya juga laki laki umi, yang penting sudah halal umi" bela abi


"sayang makan dulu yuk" kata ustadz faqih


"maaf ya mas jadi ngerepotin" kata el


"gak apa apa sayang, kita makan di balkon aja yuk? mas taro dulu makanannya" kata faqih


"sayang kamu pake kerudung nya" teriak faqih


setelah menyimpan makanan faqih masuk lagi dan langsung menggendong istrinya


"mas ikh malu tau"kata el setelah faqih mendudukan nya di kursi


"malu terus kamu tuh yang, kan sam suami" jawab ustadz faqih


"mau pake bantalan gak, takut gak nyaman kamu duduk nya" tanya ustadz faqih


"enggak usah mas, ayok mas makan, el sudah lapar" kata el


"iya ayok, makan yang banyak sayang biar ada tenaganya lagi" canda ustadz faqih


"mas ikh" malu el sampai merona yang jail malah terkekeh liat istrinya


"ouh ya nanti mas harus ke cafe dulu, kamu gak papa kan di rumah, nanti di temenin umi dulu" kata ustadz faqih


"iya mas gak papa" jawab el


"mau di bawain apa nanti" tanya ustadz faqih


"apa aja mas" jawab el


"ouh ya mas, kalo di kamar el boleh gak pake baju sama celana pendek? " tanya el hati hati


"boleh, tapi itu pun harus ada mas sayang, kalo gak ada mas di usahakan pake yang panjang ya" kata ustadz faqih


"iya mas" jawab el


"mas mau pergi dulu, peluk dulu dong" kata ustadz faqih sambil merentangkan tangannya


"mas wangi banget sih" kata el sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang faqih


cup


tak henti henti nya faqih mencium puncak kepala el


"mas jadi pengen berduan saja sama kamu" kata ustadz faqih


"nanti ya mas" sambil melepaskan pelukannya


"sekarang mas kerja dulu, cari duit yang banyak" jawab el sambil tertawa kecil


"mas cuma belanja stok sama liat sebentar, buat pembukuan mas kerjain nanti di rumah" kata ustadz faqih


"iya mas, hati hati ya mas di jalannya" kata el


"iya sayang" jawab ustadz faqih

__ADS_1


__ADS_2