Cintaku Tumbuh Di Pesantren

Cintaku Tumbuh Di Pesantren
episode 31


__ADS_3

di perkebunan el sangat antusias melihat berbagai macam sayuran, tanah di sini ang sangat bagus bila di tanaman sayuran


perkebunan salah satu usaha pondok untuk membiayai para santri yang kurang beruntung, tselain peekebunan juga ada peternakan dan kolam, dan semua yang mengurus adalah alumni dari pondok


"wah luas banget mas, " kata el


" iya sayang, " jawab


el mendekati para pria yang sedang memetik timun dan ustadz faqih terus menemaninya


" kok timun nya di petik? " kata el


para petani yang sedang memetik timun pun menoleh, dan terkejut menantunya pak kyai datang ke kebun


"eh neng ngapain ke kebon" tanya pria tadi


"mau liat sayuran, kata umi ada yang panen sayuran" jawab el


"ini juga lagi panen neng, di pilih yang layak buat di jual" katanya


"ouh, yang itu kok gak di petik? " tanya el


"masih kecil neng, kalo yang pas buat di jual yang seperti ini" jelasnya yang hanya di bales oh doang sama el


ustadz faqih merasa cemburu saat para pria sedang memandang el takjub, langsung memeluk pinggang el secara posesif


"sayang katanya mau nemenin umi, tuh umi lagi di sana" kata ustadz faqih


"ouh iya mas, el ke sana aja deh" kata el


"mas disini dulu sayang, mau nyatet yang udah di timbang" kata ustadz faqih


"iya mas" jawab el berlari


melihat umi sedang membantu para pekerja panen, el tanpa merasa jijik membantu mereka, hal pertama yang el pernah lakukan tapi justru membuatnya bahagia, entah kenapa keceriannya yang dulu kembali hadir setelah dia menetap di pondok


siang hari mereka memutuskan untuk pulang, setelah istirahat dan sholat dzuhur kembali merebahkan tubuhnya


ceklek


"sayang" kata ustadz faqih


"hmm"


"kamu belum makan, makan dulu yuk? " ajak ustadz faqih

__ADS_1


"mas" kata el


"apa sayang?" jawabnya sambil mengelus rambut nya


"pengen beli seblak" kata el


"ya udah ayo" kata ustadz faqih


el dan ustadz faqih memutuskan buat jalan jalan terlebih dahulu mengingat besok sudah mulai masuk sekolah dan hari ini terakhir para santri datang ke pondok


"mas agak pedesan ya punya ku" kata el


"iya sayang" jawabnya


banyak pengunjung di warung sini, meski cuma warung kaki lima soal rasa tak di ragukan lagi, makannya ustadz faqih mengajak nya kesini


"pedas mas" ucap el setelah merasakan sensasi pedas di mulut nya


"mau punya mas gak? yang mas gak pedes banget kaya punya kamu" kata ustadz faqih


"enggak mas yang ini aja" kata el


keringat bercucuran di wajah el, nikmat saat makan pedas yang sangat el sukai, dari dulu ia sangat menyukai makanan pedas,


"tisunya mana" gumam el setelah melihat ke depan meja nya gak ada tisu


"ini mas tisu nya," kata pengunjung sana dengan terus memperhatikannya yang hanya di angguki ustadz faqih


el sangat geram dan sangat panas suasana hatinya saat ini, udah gerah karna kepedasan sekarang suasana hatinya panas liat suaminya di perhatikan banyak wanita


"mas, bagaimana dengan anak anakkita ya? momy nya malah asik makan pedas gini" tanya nya dengan suara agak keras dan mengelus perut ratanya


ustadz faqih langsung menaikan alisnya sebelah, setelah tau maksud el, dia mengikuti drama yang el buat


"insya alloh mereka gak kenapa napa sayang" ucap nya mengelus perut rata istrinya "iya kan sayang? " mengajak ngobrol perut rata istrinya seolah apa yang di bilang istrinya tadi benar ada nya


"ouh udah punya istri, tadi kiranya masih lajang" kata pengunjung sana


"yuk akh cabut, gak usah jadi pelakor" ucap merekal


el tertawa saat setelah pengunjung tadi pergi dan ustadz faqih masih mengekus perut rata el


"mas apaan ini? " kata el melepaskan tangan ustadz faqih di perut nya


"ayok pulang" kata ustadz faqih dengan sirot mata yang tajam

__ADS_1


"Ustadz faqih masih menggenggam erat tangan el, dia melepaskan pegangannya saat mau masuk dan mengganti terus mengelus perut el dengan tangan kiri, dan tanga. kanan tetap menyetir


" mas, geli ih dari tadi kamu elus" kata el


"sebentar sayang" kata ustadz faqih , tangannya pindah kebagian paha el dengan terus di elus nya paha el


el yang tau suaminya sedang berhasrat padanya pun membiarkannya


setelah sampai Ustad faqih segera masuk dan menggandeng tangan el


"nak makan dulu" seru umi


"nanti mi" jawab faqih dengan dingin dan terus menggandeng tangan el ke kamar nya


umi yang merasakan dingin nya faqih tadi, terus berdoa supaya mereka tak ada masalah besar


"ustadz faqih langsung mengunci pintunya dan mengaktifkan kedap suaranya


"mas kamu kenapa sih? " tanya el heran


tapi ustadz faqih menyerang nya tanpa menjawab, dia terus menjilati leher el dan membuka paksa baju el,


el hanya bisa pasrah dengan sikap mesum suaminya


erangan silih bersautan, sudah ke berapa kali el mencapai puncaknya tapi belum dengan ustadz faqih, setelah merasa akan mecapai puncaknya, faqih langsung mencabut dan menyemburnya di bagian luar,


faqih langsung ambruk di sisi el dan el membersihkan terlebih dahulu ulah suaminya itu


setelah di rasa cukup untuk mendinginkan emosi suaminya, el mengelus surai suaminya


"mas sebenarnya kenapa sih? " tanya el dengan terus mengelus surai suaminya


"mas kesel sama kamu el" jawabnya dengan mata masih tertutup


"tapi kenapa? " tanya el lagi


ustadz faqih pun duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut menyelimuti setengah badan nya karna dia masih telanjang dan el sudah memggunakan kimono nya


"denger sini" pinta Ustad faqih pada el


"mas tadi kesel sama kamu karna kamu becandain soal anak, dan bodoh mas malah menanggapi candaan kamu, mas emang berharap punya anak dari kamu, tapi mas tak mau kamu terbebani, terlebih kamu masih sekolah dan akan ujian nasional nanti, mas gak mau kalau kamu hamil dalam keadaan banyak pikiran, belum tugas ini tugas itu bahkan kalo ujian praktek dapat melelahkan fisik dan itu dapat membahayakan kamu dan calon anak kita nanti, jadi mas setuju untuk menunda kehamilan kamu itu, untuk keselamatan dan kesehatan kalian nantinya, terlebih lagi anak otu bukan candaan el, tapi anugrah yang harus kita jalani karna di dalam nya ada amanah untuk kita" jelas ustadz faqih


"maaf mas, tadi el geram, banyak nya perempuan yang memperhatikanmu" kata el lirih dengan menunduk


ustadz faqih megangkat dagu el dan mengecup sekilas bibir el

__ADS_1


"ini salah mas juga, maaf mas gak bisa bicara dalam keadaan emosi dan mas gak mau mendimi kamu jadi mas meluapkan kekesalan dengan cara tadi supaya hati mas tenang dan kita bisa bicara" jelas ustadz faqih membawa el ke dalam pelukan nya,


__ADS_2