
hari demi hari, bulan demi bulan el lalui harinya di pesantren dengan status istri dan santri, dalam rumah tangganya tidak semulus jalan tol, kadang ada cek cok nya, salah paham bahkan soal pembagian waktu, mungkin karna el masih labil helum bisa memposisikan dirinya menjadi istri sekaligus santriwati
hari ini dimana ujian telah selesai semua dan ustadz faqih mulai meyebarluaskan tentang hubungan mereka dan el menyetujuinya, terkadang sifat el bisa kalem, manja dan kadang childish tapi mereka selalu membicarakan dengan kepala dingin di setiap ada masalah
pagi ini di kediaman abi sedang kedatangan tamu teman nya semasa mondok
"Assalamualaikum " ucap tamu
"waalaikum salam" ucap umi yang membukakan pintu "eh, kyai rohim, kirain siaoa, ayo masuk" ucap umi mempersilahkan masuk
"aduh nuhun ceu" jawab kyai rohim
"bentar ya, saya panggilkan dulu abi nya sama bikin minuman" ucap umi
"makasih lo umi" ucap istri kyai rohim
umi pun pergi menemui abi nya dan pergi ke dapur membuat minuman
"umi sedang apa? " tanya el yang baru turun dari kamar
"eh nak, umi lagi buat minuman, di depan ada temen nya abi waktu mondok" jawab umi
"el bantuin umi" kata el
"ya udah, kamu bawa minumannya, umi sama bibi bawa makanan nya" kata umi
" iya umi" jawab el
obrolan abi sama kyai rohim terhenti saat umi dan el menyajikan minuman dan makanan, abi pun menyuruh umi dan el duduk dekatnya
"aduh maaf lama, mangga di cicipi" kata umi
"makasih loh umi ini malah merepotkan" jawab istri kyai rohim, santi
"gak ngerepotkan ko umi" jawab umi, umi pun melirik gadis yang di apit oleh kyai rohim dan santi " ini neng aisyah, teman nya faqih bukan? " tanya umi
"iya umi, masih inget umi sama aisyah? " tanya aisyah
"masih inget, dulu kamu selalu tanyain faqih" kata umi membuat aisyah tersenyum
umi yang baru sadar akan adanya el merasa tak enak hati dan menggenggam tangan nya el
"ouh ya kenalin ini man-" perkataan umi terpotong oleh salam seseorang
"Assalamualaikum "
"waalaikum salam" jawab serempak
faqih yang melihat aisyah merasa senang, teman kecilnya dulu dan sudah di anggap afik oleh faqih kini ada di hadapannya
"loh aisyah kamu apa kabar? " tanya faqih yang langsung duduk di samping el tanpa melihat el
deg
melihat keantusiasan suaminya el merasa geram, dia menahan rasa cemburunya
"aku baik faqih, faqih aku senang sekali sudah kembali lagi kesini, bisa bertemu lagi sama kamu" seru aisyah
"aku juga senang aisyah, ouh ya gimana pendidikan kamu di kairo ? " tanya faqih antusias
"aisyah sudah khatam 30 juz loh nak, dia juga sudah lulus kuliah nya" jawab santi
__ADS_1
"wah kamu hebat aisyah," jawab faqih yang masih dengan senyumannya
"ouh ya husein, kedatangan kami kesini ada yang kami sampaikan, kita sudah lama kenal nih sein, gimana kalo kita menjodohka. saja faqih sama aisyah " kata kyai rohim
deg
abi dan umi saling pandang, faqih diam mematung dan el hanya memejamkan mata dan menunduk
"gimana husein? mereka sudah dewasa dan mereka sudah saling mengenal, tidak sulit buat menjodohkan mereka" kata kyai husein
" maaf semuanya, saya ke atas dulu" pamit el menahan kesal di dalam hatinya bahkan ustadz faqih tidak menahan atau menyusulnya
"ouh iya umi, yang tadi itu siapa? kok aisyah baru liat? " tanya aisyah setelah menghilangnya el
"dia itu" jeda umi melirik faqih tapi faqih malah masih diam membisu, membuat umi menahan kesalnya
"dia menantu kami" jawab abi lugas karna beliau tau istrinya menginginkan faqih yang menjawab
"ya, istrinya faqih" jawab umi dengan senyumnya
deg
jantung aisyah terasa berhenti, laki laki yang selalu dia harapkan kini sudah menjadi milik orang lain
"ouh ya umi, maaf aisyah tidak tau, kami pamit dulu" kata aisyah dengan mata yang sudah berkaca kaca menarik abi dan uminya untuk segera pulang
setelah mereka pulang, abi dan umi langsung mengintrogasi faqih
"kenapa kamu tidak menjawab? "tanya umi
"iya loh nak, kamu malah bengong?" tanya abi juga
"maaf umi, tadi faqih sangat syok atas keinginan abinya aisyah " jawab faqih
"sana kamu susul istri kamu, tenangin dia " kata umi
"iya mi" jawab faqih
el sedang menikmati udara di balkon yang langsung menghadap jalan raya sebelah kanan
grep
faqih memeluk el dari belakang dan membenamkan kepalanya di ceruk leher el
"maaf" ucap ustadz faqih
"hmm" jawab singkat el
"maaf sayang" ulang ustadz faqih
"mas tak usah minta maaf, mas tak salah" jawab dingin
"sayang" ucap ustadz faqih membalikan el menghadapnya "mas ga ada niatan buat nikah lagi, itu tadi aisyah sedari dulu sudah mas anggap adik mas sayang" jelas ustadz faqih
"iy-ya mas" jawab el terbata dan berkaca kaca
" mas tak pernah mencintai orang selain sama kamu sayang" kata ustadz faqih memeluk el dengan erat
"maaf mas" kata el dengan terisak
"maafkan juga mas sayang" kata ustadz faqih yang di bales anggukan oleh el
__ADS_1
"ayo masuk sayang" ajak ustadz faqih
"hm, mas" tahan el
"kenapa sayang? " tanya ustadz faqih
"ak-ku su-sudah siap mengandung mas" kata el terbata
ustadz faqih melebarkan senyum nya " kamu yakin sayang? " tanya nya berbinar
"iya mas" jawab el mantap
"ayo kita lakukan sekarang" bisik ustadz faqih menggoda el
kali pertama mereka melakukan sengan menyemburkan langsung ke dalam rahim
akhhhhhh
erang faqih dan el secara bersamaan, el merasakan semburan hangat ke dalam rahimnya
faqih ambruk di atas el, dengan masih membenamkan milik nya
"mas berat" kata el
faqih pun berpindah ke samping el, dengan kepala masih di ceruk leher el dan tangan nya di gunung kembar el
"lagi ya sayang" pinta faqih "yang tadi lebih nikmat dari biasanya" kata faqih dengan tangan sudah meremas dada el tanpa persetujuan e,
"mas" erang el membuat faqih tersenyum puas,, dengan masih tetap pada posisinya
mereka melakukan lagi dengan penuh cinta sampai hampir waktu dzuhur
"mas cepat mandi duluan, nanti mas telat ke mesjid nya" kata el
"mandi berdua aj sayang" jawab faqih
"enggak yak, ini idah mau hampir waktu dzuhir lo mas" delik el
"iya deh mas duluan," kata faqih langsung ke kamar mandi sementara itu el langsung menyambar kimono nya dan menyiapkan baju buat faqih
ceklek
tak lama faqih selesai dengan mandinya,
"sayang nanti mas mau ke cafe, kamu mau ikut? " tanya faqih
"aku mau di rumah aja, mau istirahat, caoe mas" keluh el sembari membantu faqih memakai pakaiannya
"ya udah kamu istirahat aja, jangan lupa makan sayang" kata faqih
"iya mas" jawab el dengan senyumnya
"mas ke mesjid dulu ya, " pamit ustadz faqih pada el tak lupa mencium kening nya dan mengucapkan salam
"nak el dimana? " kata umi saat faqih turun di tangga
"di kamar umi" jawab faqih
"suruh makan dulu qih" kata umi
"biarkan el istirahat umi, nanti kalo lapar dia turun, dia sudah siap mengandung umi" kata faqih pada uminya
__ADS_1
"ouh ya, biar umi bawa makanannya ke atas" jawab umi dengan antusias sedangkan faqih hanya tersenyum dan geleng geleng