
hari ini hari dimana akan di laksanakan pernikahan santri dan ustadz, pernikahan yang tadinya akan di gelar sederhana tapi kini di gelar sangat mewah, bedanya hanya tempat yang di adakan di lapangan pondok pesantren
faqih yang menyiapkan pernikahannya bersama arland karna ingin mewujudkan keinginan el, bahkan umi sangat menyetujuinya mengingat dia hanya memiliki 1 putra yakni hanya faqih seorang,
meski pernikahan di adakanbsecara tertutup, bahkan saat santri dan santriwati di liburkan tapi tamu undangan sangat banyak, bukan saja dari kalangan ustadz kenalan faqih dan abi para kline dan para karyawan arland dan kakek anton juga turut hadir, mengingat yang menikah adalah putra mahkota dari pak kyai husein dan putri emas dari keluarga wijaya
setelah kata sah bergema kini el telah menyandang dengan status baru yaitu istri ustadz faqih dan menantu kyai
"ini tamu nya masih banyak mas" tanya el
"lumayan sayang, kamu cape? " tanya faqih dan di angguki oleh faqih
"ya udah ayo kita ke kamar, aku anterin dulu kamu nanti ke sini lagi, gak enak kalo tamu di anggurin" kata faqih
"el tunggu mas aja deh, gak enak juga kalo mas doang yang menemani tamu, kan nikah nya juga berdua" kata el
"ga papa sayang, aku anterin kamu ya ke kamar" kata faqih
"ada apa ini ko ribut ribut? " tanya umi
" enggak ribut ko umi" jawab el
"ini umi el cape, tadi faqih suruh istirahat di kamar faqih, tapi gak mau " kata faqih
"el gak enak lah umi, masa mas faqih doang yang menyalimi tamu, kan nikah nya juga ber dua" kata el cepat
umi tersenyum kearah menantunya " kalo kamu gak enak, duduk aja ya, biar gak terlalu cape, bentar lagi tamu nya juga beres" kata umi menengahi
"iya umi" kata el
tamu undangan sedikit demi sedikit pulang, acara akan di laksanakan lagi nanti ba'da isya akan di gelar tausiyah,
"aduh cape" keluh el sambil membaringkan badannya
"sayang mandi dulu " kata ustadz faqih menyusul istrinya
"bentar dulu mas, pengen rebahan dulu" kata el
ustadz faqih mengikuti el dan membaringkan badannya di sebelah el, tangan nya memeluk perut el dengan erat
"mas jangan gini," ucap el
"bentar sayang, pengen nikmatin dulu meluk kamu" kata ustadz faqih
"tadi katanya suruh mandi" kata el
"kamu ngerasa gak? " tanya ustadz faqih menuntun tangan el ke dadanya
deg deg deg el merona saat merasakan detak jantung ustadz faqih yang kini jadi suaminya
__ADS_1
"sama mas" cicit el tersenyum
"mana coba, pengen denger" kata ustadz faqih mengangkat tangannya mengarah dada el
"etss mau ngapain? " kaget el
"mau pegang lah" jawab ustadz faqih
"enggak ya, awas akh mau mandi dulu" kata el
"emang nya kenapa? kan sudah halal bebas pegang pegang juga, lebih juga tak masalah" jawwb ustadz faqih
"enggak akh, awal el mau manfi" kata el sambil lari ke dalam kamar madi
ustadz faqih terkekeh melihat istri kecilnya itu
"Alhamdulillah ya Alloh, engkau telah mengabulkan doa doa hamba" lirih ustadz faqih
"mas... " teriak el
"apa sayang? " kata ustadz faqih
ceklek
el nonghol di pintu kamar madi dengan kepala sudah tidak di tutupi hijab
"boleh minta tolong? " kata el
"tolong bukain resleting di belakang, susah" kata el
faqih langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya
"kok di kunci pintunya? " kaget el
"kan mau mandi" kata ustadz faqih
gak ya aku dulu yang mandi" sewot el
"sudah, hadep belakang katanya mau buka resleting" kata ustadz faqih
perlahan ustadz faqih membuka resleting gaun yang di pake el, terlihat mulus punggung el membuat jiwa lakinya keluar
"sudah mas" cicit el, tak di pungkiri saat ini el merasa malu
greppp
"bentar dulu kaya gini," kata ustadz faqih
ustadz faqih memeluk nya dengan erat, el bahkan sampai tak bisa bersuara atas perlakuan ustadz faqih, pipi nya merona melihat wajah suaminya bertumpu pada pundaknya dengan mata terpejam
__ADS_1
serasa terhipnotis tangan el terulur memyentuh kepala ustadz faqih, mengelus nya lembut, pandangannya bertemu dengan ustadz faqih lewat kaca depan
dengan cepat ustadz faqih memangku rl di dudukinya di watafel
"mas nanti aku jatuh lo" kata el yang kaget akan pergerakan ustadz faqih
"gak bakalan sayang"kata ustadz faqih dengan suara serak nya menumpu kedua tangan nya mengunci pergerakan el
"mas, awas ikh" kata gugup mendorong sedikit dada ustadz faqih
tak ada jawaban dari ustadz faqih, pandangab nya tertuju pada bibir mungil sang istri," volehas cium? " tanya nya yang masih mengarahkan pandangannya di bibir sang istri
tak ada jawaban dari el, el malah menggigit bibir bagian bawah justru memancing hasrat ust astadz faqih
cup
hanya kecupan singkat yang tapi membuat el terkejut, tanpa ada penolakan
cup
ustadz faqih masih menempelkan bibir nya di bibir sang istri, ********** secara perlahan membuat el terbuai dan menutup matanya,
ustadz faqih masih ******* bibir el dengan lembut, tangannya sudah memegang tengkuk el, tangan el di tuntuk melingkar di atas lehernya, ciuman nya semakin menuntun menggigit kecil bibir bawah el, membuat el membuka mulutnya membuat ustadz faqih leluasa mengobrak abrik mulut el
"mas" el yang hampir kehabisan nafas memutuskan ciumannya,
"nafas sayang" kata ustadz faqib dengan suara seraknya, tangan nya terulur mengelus bibir yang tadi dia cium
el yang merasa malu memeluk ustadz faqih menyembunyikan rona merahnya
ustadz faqih hanya terkekeh sambil mengelus punggung mulus yang terbuka
"sayang" kata ustadz faqih
el mendongak melihat ustadz faqih, tak di sia siakan lagi bibir el langung di sambar oleh ustadz faqih menuntun nya untuk melakukanya lebih
el terbuai bahkan dia tidak sadar ciuman ustadz faqih turun ke lehernya, meninggalkan tanda kepemilikannya di sana
"akhh" desah el membuatnya semakin berhasrat
"tunggu mas" kata el menghentikan aktifitas ustadz faqih
"gi gimana kalo kita tunda dulu, a-aku belum siap punya anak mas, ak ku pengen sekolah dulu, 1 tahun aja?? " kata el sembari gugup
"kalo kamu belum siap, kita pake cara alami aja jangan pake kb, jadi kita masih bisa melakukannya" kata ustadz faqih
"gimana? " tanya el bingung
tau kebingungan el, ustadz faqih menuntunnya ke dalam kamar, "nanti mas kasih tau caranya" bisik ustadz faqih di samping telinga el membuat nya sedikit meremang
__ADS_1
ustadz faqih menidurkan nya secara perlahan, membimbing el berdoa terlebih dahulu
tanpa ada penolakan dari el ustadz faqih melakukannya dengan syahdu memiliki el seutuhnya