Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 1 Prestasi


__ADS_3

Ini novel pertamaku, mohon bimbingannya ya kakak Author yang baik, kalau ada yang salah baik dalam tanda baca maupun cerita nya mohon sarannya.


Terimakasih


"Alfira Maulani"


Panggilan dari arah Podium mengagetkan aku.


Tak menyangka aku yang hanya gadis biasa menjadi juara kelas disekolah ku.


Dengan tergopoh gopoh aku hendak maju ke arah suara. Sudah menjadi kebiasaan di sekolah ku bagi siswa yang berprestasi mendapatkan penghargaan.


Ketika hendak sampai di barisan paling depan, dengan tiba tiba seseorang menyandung kakiku dan "brugg" tanpa menunggu waktu lama aku jatuh tersungkur ke tanah. Dibarengi dengan suara tawa seluruh siswa satu sekolah.


"Hei, jatuh, "


"makanya jadi anak jangan belagu" seloroh Gadis, Ana dan Devi.


"Dasar babu, ya tetep babu aja, mimpi jadi ratu" ejek mereka.


Namun aku tetap tidak bergeming. Dengan menahan rasa malu, aku bangkit dan kembali berjalan ke arah podium upacara yang dihadiri seluruh siswa. Jangan ditanya malunya aku, tapi sudah menjadi kebiasaan bagi aku dihina dan diejek mereka.


"Tunggu balasan ku" hati ku bergumam"


"Selamat Fira, kamu menjadi juara sekolah lagi" ucap ibu kepala sekolah.


"Terimakasih Bu, dan juga Terimakasih kepada ibu bapak guru yang sudah senantiasa membimbing saya dalam setiap pelajaran disekolah ini" ucap ku saat diminta untuk menyampaikan beberapa kata sambutan.


Banyak Teman teman yang memberikan selamat, tapi tidak buat Gadis, Ana dan Devi. Mereka memang tidak pernah suka dengan ku.


Mereka adalah gadis gadis cantik, kaya dan sempurna. Dimata mereka aku adalah simiskin yang buruk rupa. tetapi Tuhan menganugerahkan aku kecerdasan yang luar biasa.


Itu memang tidak salah, setiap aku berkaca, "aku memang jelek dengan kulit hitam, badan gemuk berisi dan rambut keriting tidak terawat"


hmmmm seandainya orang tuaku ada.


Ada memang ada tapi mereka tidak peduli padaku.


Teringat beberapa tahun lalu.


"Dasar kamu perempuan tidak tahu diri, prakkk, sudah ku bilang jangan mencari ku." teriak ayahku.


"Pak, aku ingin kamu berubah" jawab ibuku dengan sesenggukan.


"Itu hobiku sampe kapan pun aku nggak akan meninggal kannya " jawab ayahku dengan tidak kalah lantang

__ADS_1


"Tapi harta kita akan habis kalau kamu terus terusan berjudi"


"Aku hanya memakai sedikit saja untuk senang senang." Dengan jalan yang sempoyongan menandakan ayah ku sedang mabuk.


"Ingat anak kita Pak"


"hah, kamu perempuan jangan banyak bicara cukup urus anak baik baik saja." hardik ayahku


"jangan pernah mangatur atur hidupku"


Teriak ayahku sambil berjalan pergi.


"Kamu mau kemana lagi? " tanya ibuku masih dengan sesenggukan.


"Bukan urusan mu" sambil menepis tangan ibuku yang ingin menahannya.


"Jangan pergi Pak" cegah ibuku.


"haahhhhhh sudah jangan cari aku lagi, aku muak dengan mu" kata ayahku sambil berlalu masih dengan jalan yang sempoyongan.


kemudian nggak berapa lama suara mobil menderu meninggalkan rumah.


Aku berjalan perlahan menghampiri ibuku yang masih sesenggukan menangis di dapur.


"Bu" panggilan ku


Sudah seberapa sering aku melihat perlakuan ayahku yang kasar, menghina dan menghardik ibuku, bahkan tak jarang memukul ibuku.


Kalau diingat kan ibuku untuk tidak berjudi dan mabuk mabukan lagi. Tapi itu sudah mendarah daging di dalam diri ayahku. sehingga sekeras apapun ibuku mengingatkan tetap pasti akan berakhir seperti ini.


Ayahku adalah anak manja dari kakek dan nenek ku. Mereka selalu membenarkan Apapun yang dilakukan ayah ku. Walaupun itu melanggar aturan agama dan menyakiti ibuku. mereka tetap akan membelanya.


"Nak," kata ibuku sambil melepas pelukannya.


"Iya bu" jawabku.


"Kelak saat kamu dewasa carilah seorang suami yang baik dan bertanggung jawab, yang paling penting dia mengerti dan menjalankan agama dengan baik" nasehat ibuku.


"Iya bu" jawabku sambil ikut terisak.


Dikamar kost yang sempit ini tempat aku belajar setiap hari. Yah disinilah sekarang aku tinggal, sejak memasuki bangku SMA aku memang memilih kost sendiri an, Dikarenakan jarak sekolah dan rumah yang sangat jauh.


Ibuku memilih merantau ke kota sedangkan ayahku pergi entah kemana.


Harta kami habis bahkan ayah ku meninggalkan hutang dimana mana, dan ibuku yang menanggung nya. Yang tersisa hanya rumah dan sebidang tanah.

__ADS_1


Ibuku kekota untuk bekerja agar aku bisa tetap sekolah dan melunasi hutang yang ditinggal kan ayah ku.


Setelah selesai mengerjakan tugas dari sekolah dan merapikan buku pelajaran buat besok, aku coba untuk merebahkan diri di kasur tipis dan kasar, yah untuk disebut kasur memang kurang pas tapi itulah tempat tidurku.


Sambil menatap langit-langit kamar, aku melamun aku ingin menjadi seorang dokter, itulah mengapa aku belajar sangat keras, uang bulanan kiriman Ibu selalu aku sisihkan untuk di tabung, hanya aku gunakan untuk biaya sekolah dan membayar kost.


aku juga bekerja paruh waktu sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah di komplek sebelah kost ku.


Terkadang aku juga membawa jajanan atau alat tulis atau apa saja untuk aku jajakan disekolah saat waktu istirahat jam belajar.


Aku selalu berdoa semoga suatu saat nanti aku benar benar bisa menjadi seorang dokter. sambil berderai air mata harapan itu selalu aku gantungkan di dalam hatiku.


Tit, tit, tit, tit,


aku dikejutkan suara alarm jam didampingku.


"huh udh jam 3.45",


dengan rasa masih kantuk aku paksakan bangun untuk tahajud sekaligus menunggu waktu sholat subuh tiba.


Tak lupa aku menanak nasi dan sayur yg sudah aku siapkan dari sore.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga hari ini lancar dan dimudahkan" ucapku sambil menjinjing kotak berisi jajanan yg nanti aku akan jajakan disekolah.


Setiap hari aku mengambil jajanan ibu Wati, tetangga yang mempunyai warung sebelah kost ku. untuk aku jual dan mendapatkan upah 5000 jika habis.


Dengan menyusuri gang samping sekolah aku berjalan dengan bergegas. Tapi dari kejauhan aku lihat Gadis, Ana dan Devi sudah menatap ku dengan tatapan yang merendahkan.


"Huh, pasti mau bikin ulah lagi" gumamku


Dengan langkah agak tergesa gesa aku melewati mereka. Dan benar saja.


"Hei gadis Kumal, masih berani lewat depanku" teriaknya Gadis sambil mengalangkan kakinya didepanku.


"maaf aku permisi mau lewat" kataku masih sopan.


"Berani bicara rupanya kamu" katanya dengan tatapan mata sinis.


"Gadis aku tidak pernah mengganggu mu jadi tolong jangan ganggu aku, aku mau lewat" ucapku masih dengan kata yang baik.


"Aku akan tetap mengganggumu selama kamu masih dekat dengan Rinto" dengan nada mengancam.


Rinto adalah pelajaran berprestasi, ganteng, posturnya yang tinggi tegap membuat banyak cewek suka padanya. Tak terkecuali Gadis yang terus mengejarnya. Dia ketua OSIS dimana aku sebagai salah satu pengurus OSIS yang mengharukan aku sering berinteraksi dengan nya.


"Gadis, aku hanya berteman dengan nya,

__ADS_1


"Tapi aku tidak peduli yang aku mau kamu tidak berdekatan dengannya", sambil menoyor kepalaku dengan kasar.


Terimakasih sudah mampir jangan lupa ditunggu Like dan subscribe nya ya.


__ADS_2