Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 3. Percobaan Pemerkosaan


__ADS_3

*Mengandung adegan keras, mohon bijak dalam membaca*


Aku melangkah dengan riangnya pagi ini.


Aku berencana sepulang sekolah akan pergi ke Bank yang tidak jauh dari sekolah, untuk menyetorkan uang tabunganku dan gajiku yang kemarin.


Aku lihat Rani dari jauh


"Rani" panggilku


Rani menoleh kemudian tersenyum menungguku beberapa saat sampai aku menyusul disampingnya.


"Kamu kenapa kok lesu? " tanyaku.


Dia cuma menggeleng, tapi firasatku mengatakan ini tidak baik-baik saja.


"Kenapa Rani? ceritakan aku ini kan sahabatmu?" pintaku.


Dia masih tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala nya saja.


"Ok, kalau kamu belum mau cerita nggak apa apa, tapi kalau nanti kamu butuh teman ngobrol, katakan ya!" ucapku pada Rani.


Dia hanya mengembangkan senyumnya yang dipaksakan.


"Ayo kita ke kelas" kataku lagi.


Sepanjang kelas Rani lebih pendiam dari biasanya, Dia yang tadinya periang kini tertutup dan lebih banyak melamun. Sejurus pandanganku ke arahnya aku bertanya tanya dalam hati, apa yang terjadi? tetapi aku tidak dapat menebak apa pun.


Aku fokus belajar, aku tidak mau ketinggalan sedikit pun pelajaran yang sedang aku ikuti.


"Eh Rani pulang sekolah kamu main ke kost aku ya," kataku pada Rani untuk memecah keheningan, yang sedari tadi diam.


"Emang kamu nggak kerja?" tanya Rani


"Kerja sih, tapi kan ini hari Jum'at jadi aku kerjanya masih sore, masih ada waktu buat kita main." kataku pada Rani.


Aku tahu ada yang tidak beres dengan Rani, tidak biasanya dia pendiam dan melamun terus seharian ini, pikirku.


"Baiklah," dengan dibarengi senyum tipis dari Rani.


"Ya sudah kita kerjakan tugas lagi ya" kataku.


"Ok" sahut Rani.


waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang.


Bel sekolah berbunyi tanda waktu pelajaran usai. Aku dan Rani jalan beriringan untuk pulang bersama.


sesampainya di gerbang sekolah ada suara mengejutkan aku, memanggil Rani.

__ADS_1


"Rani"


kami sama sama menoleh untuk mencari asal suara, ternyata suara Pak Abdul, ayah Rani.


Rani memandangku seolah meminta permisi untuk tidak jadi pergi ke tempat ku.


"Itu ayahmu, menjemputmu?" kataku


"Iya, maaf ya kita tidak jadi main bareng!" kata Rani


" Ya sudah, kapan kapan kita bisa main bareng kok" kataku.


Dengan menganggukkan kepala kepada Pak Abdul, aku tersenyum. Sedangkan Rani langsung berlari kearahnya. Dia melambaikan tangannya sambil naik ke boncengan sepeda motor ayahnya.


Ada rasa iri dalam hatiku, seandainya aku juga ada ayah yang menjaga dan menghawatirkan ku.


Tapi ya sudahlah.


Aku membalikkan langkahku ke arah Alun - Alun kota, sebelah barat tidak jauh dari Alun- alun ada Bank milik pemerintah, itulah tujuanku sekarang.


Aku bergegas karena siang ini agak gelap, sepertinya akan turun hujan, batinku.


Sesampainya di Bank aku langsung menyetorkan uang ku, dan diproses tidak berapa lama selesai, karena hari ini memang Bank tidak terlalu mengantri.


Tapi begitu keluar dari Bank mendung makin gelap, aku percepat langkahku karena sepertinya hujan benar benar akan turun.


Baru sampai di dekat Alun-alun, tiba - tiba hujan turun dengan derasnya. Aku lajukan langkahku bergegas untuk berteduh di halte Alun - Alun.


Dia adalah Bang Zul, pemuda pengangguran yang kadang kadang juga jadi preman dipasar.


Aku kenal dengannya karena rumahnya memang cuma berjarak beberapa meter dari kost aku.


Aku bertegur sapa dengannya, berusaha sopan. Dia pun bicara biasa saja.


Sedikit obrolan diantara kami untuk memecah kesunyian.


Karena hujan sangat lebat, langit gelap, yang ada hanya kilatan menyambar nyambar, yang membuat suasana makin seram. Dan aku lihat tidak ada seorang pun yang lewat dijalan ini.


Kota ini memang bukan kota besar jadi penduduk nya juga tidak padat, lalu lintas kendaraan juga tidak banyak.


30 menit berlalu tapi hujan belum reda juga.


Bang Zul, aku lihat celingukan kesana kemari, entah apa yang dipikirkannya. Tiba tiba dia merangksekkan badannya ke arahku. Aku kaget bukan main.


Aku teriak," kenapa Bang"


Dengan mata tajam dia menatapku.


"Ada apa Bang" aku masih terpaku dan tidak mengerti.

__ADS_1


dia mencengkeram bahuku dengan kuat.


"Apa Bang, Jangan Bang" pikiran ku berkecamuk.


"Jangan Bang"kataku


Aku coba teriak "Tolong tolong "


tapi tidak ada yang mendengar, suasana sungguh sepi, ditambah halte disitu tempatnya agak tertutup. membuat Bang Zul leluasa menyerang ku.


Aku mau lari tapi ditarik nya dengan kuat baju bagian belakangku, di bekapnya mulutku, . Aku menangis berteriak, tapi karena tangannya terus membekap mulutku. aku merasa sesak sehingga sulit bernafas, . Dia terus saja menyerang ku, aku merasa jijik dengan sekuat tenaga aku dorong tubuh tambunnya tapi itu tidak membuat nya tergeser sedikitpun dari posisinya.


Aku menjerit tapi tidak keluar suara karena dia terus membekapku.


Ditambah suara kilat yang terus menyambar. Aku menangis sejadi jadinya. Dan disaat bersamaan seseorang menarik bang Zul dan " Buggg"


"kurang****" kata laki laki yang menarik bang Zul, berulang kali dia memukul bang Zul sampai dia tersungkur tidak berdaya ,sampai akhirnya dia tidak berdaya dan lari dengan terseok Seok.


Sementara aku masih dengan tangis dan gemetar seluruh badanku, kakiku lemas tidak berdaya menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Ya Tuhan, Terimakasih Engkau hadirkan pertolonganmu." ucap syukur ku dalam hati.


aku masih sesenggukan saat laki laki itu coba meraih pundakku untuk di dirikan badanku yang masih lemas tergolek duduk di tanah.


Dengan reflek spontan aku menepisnya dan menengadahkan muka melihat siapa orangnya. Ternyata Rinto yang sudah menolongku.


"Ya Allah Fira, Fira kamu tidak apa apa?" tanyanya dengan kaget


"Aku tidak apa apa" jawabku sambil masih terisak


"Syukurlah kalau kamu tidak apa apa, kamu kenapa disini, Halte sini berbahaya, ngapain kamu disini?" tanyanya dengan rasa cemas.


"Aku kehujanan, dan nggak sengaja berteduh disini" jawabku.


"Ayo aku antar kamu pulang" katanya


"Tidak, aku pulang sendiri aja," kataku, aku masih tidak mau mencari masalah dengan Gadis.


"Terimakasih untuk apa yang kamu lakukan tadi, sungguh kalau tidak ada kamu aku nggak tahu apa yang terjadi padaku" kataku lagi.


"Sudah sewajarnya sebagai sesama manusia, apabila melihat yang lemah membutuhkan pasti akan aku bantu." katanya, dengan sopan.


"Boleh aku minta sesuatu" ucapku dengan ragu


"Katakan" jawab Rinto


"Tolong rahasiakan kejadian tadi, aku malu sungguh aku sangat malu, aku tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada kamu, sekali lagi Terimakasih".


"Iya" dengan dibarengi senyum tulus.

__ADS_1


Aku langsung berlari pulang walaupun hujan masih lebat, aku tidak mau terus ditempat itu. Coba saja tadi aku biarkan terus menembus hujan, pasti ini tidak akan terjadi. pikirku menyesali keputusan ku untuk berteduh.


__ADS_2