Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 30. Kuliah


__ADS_3

Aku membersihkan diri kemudian menjalankan kewajiban ku pada Rabb ku menjelang sore.


Aku menyandarkan badanku pada ranjang besar yang aku pakai selama aku menginap disini.


Aku berfikir apa iya aku harus kuliah disini, dikota tempat tinggal Ibuku. Praktis aku akan sering ketemu dengan Bapak sambung ku. Rasanya aku masih belum siap untuk hidup bersama.


Lama aku berfikir, dan akhirnya aku memutuskan untuk hidup mandiri, sesuai rencana awal, aku akan melanjutkan di tempat yang sudah aku jadwalkan sebelumya.


Selesai Sholat Magrib, aku keluar kamar, aku cari Ibuku, rupanya beliau sedang menelpon.


Melihat aku beliau langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Kemudian beliau berjalan kearahku.


"Ada yang bisa Ibu bantu?" tanya Ibu.


"Fira, lapar Bu!" kataku.


"Ohhh,,,, rupanya putri Ibu kelaparan? Ayo kita ke meja makan." Ajak Ibuku.


"Bi Mumun tadi udah masak banyak." sambil menarik kursi kami duduk di meja makan.


"Hemmm, Pak Wira tidak pulang?" tanyaku.


Ibu menggeleng, "ini kan belum hari Sabtu, beliau kesini kalau hari Sabtu saja." kata Ibuku.


"Bu, boleh nggak Fira nanya sesuatu?" tanyaku berhati-hati.


"Boleh, tanyalah?" jawab Ibu sambil tersenyum.


"Bu, bagaimana kalau isteri pertama Pak Wira tahu kalau Ibu sudah menikah dengan suaminya?" tanyaku agak ragu-ragu.


Sejenak Ibu diam, kemudian menghela nafas panjang.


"Sejujurnya Ibu juga tidak tahu harus bagaimana apabila suatu saat isteri pertama beliau tahu, tetapi Ibu tidak akan ngotot, Ibu pasrah kalau harus dicerai Pak Wira, yang penting bagi Ibu, tujuan Ibu sudah tercapai. Percaya lah Tuhan tidak akan mengirimkan masalah pada hambanya melainkan disertai dengan jalan keluar." kata Ibu pasrah.


Aku cuma mengangguk-angguk.


"Sebenarnya Fira juga senang Ibu menikah lagi, tetapi bukan menjadi istri ke dua, dan siri lagi. Itu yang Fira tidak mau." kataku pada Ibu.


"Sudahlah, ini sudah takdir, ibu akan jalani dengan baik dan pasrah." kata beliau lagi.


"Gimana tawaran Ibu untuk kuliah disini?" tanya Ibu.


"Maaf Bu, Fira memilih untuk hidup mandiri saja, biarlah sesuai rencana, Fira akan kuliah di sana saja." kataku dengan berat hati.

__ADS_1


"Ya sudah kalau itu keputusan mu, Ibu tidak bisa melarang, kamu baik-baik disana dan jangan lupa kunjungi Ibu ya!" kata Ibu lagi.


"Iya, In syaa Allah Bu." jawabku.


"Mengenai tanah itu, apa Paman tahu Bu?" tanyaku.


"Tidak, paman tidak tahu, biarlah paman berusaha sendiri untuk hidup sehari hari dan untuk sekolah Rio, untuk biaya pengobatan Bibi Nani biar Ibu yang tanggung." kata Ibu.


Aku mengangguk mengerti.


"Jangan cerita sama Paman ya soal siapa yang beli tanah itu?" pinta Ibu.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk.


Begitu lah akhirnya Fira keesokan harinya kembali pulang ke kampung. Sepanjang perjalanan dia banyak merenungi semua apa yang terjadi. Dia merasa sangat bersyukur atas apa yang terjadi.


Masalah yang dihadapi satu persatu bisa terselesaikan dengan baik. Walaupun ada yang tidak disangkanya. Toh pada akhirnya dia harus berusaha berdamai dengan masalahnya.


Sekarang fokus dia hanya pada study nya.


"Bismillah semoga aku mengikuti semua mata kuliah dengan baik dan bisa lulus secepat mungkin." kata dia dalam hati.


Sampai di kampung, dia tidak mau menunda waktu. Dia langsung menyiapkan segala keperluannya dan bergegas menuju kota Surabaya, dia sudah siap dengan segala keperluan nya, hanya membawa satu koper pakaian, sedangkan untuk buku-buku dia memutuskan membelinya langsung di kota saja.


Langkah pertama nya dia langsung mencari kost, dengan ponsel canggih yang diberikan Ibunya, dia merasa terbantu hanya mengklik aplikasi pencarian dia bisa menemukan segala yang dibutuhkannya.


Dia memesan ojek untuk mengantarkannya ke tempat kost yang sudah ditunjukan aplikasi ponselnya.


"Ke Jl, Dharma No. 50 ya Pak." kata ku pada ojek.


"Baik Mba." jawabnya ramah.


Tidak sampai 20 menit aku sudah sampai. Rumahnya joglo besar dan di pagar tinggi ada tulisan TERIMA KOST KHUSUS PUTRI.


Aku tekan bel, tidak berapa lama muncullah seorang wanita nyentrik dengan pakaian serba gelamour.


"Cari siapa?" tanyanya.


"Saya cari tempat kost Bu, apa Ibu pemiliknya?" tanya ku ramah.


"Oh, iya masuklah." katanya lagi sambil membuka pintu pagar.


"Kenalkan saya Mona, pemilik kost ini." kata nya sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Saya Fira, Elfira maulani.," jawabku sambil menjabat tangan nya.


"Kamu kuliah atau kerja?" tanyanya lagi.


"Saya kuliah, Bu." jawabku.


"Jangan panggil Bu, saya kan belum tua-tua amat, panggil saya Tante, Tante mona!" katanya.


Kemudian Tante Mona, menunjukan kamar yang akan aku tempati. Dan menunjukan peraturan yang ada di kost itu.


Lalu aku membayar untuk bulan ini. Dan Tante Mona pun memberikan kunci kamarku.


Aku masuk kamar, aku perhatikan sekeliling, ada ranjang singgle, lemari pakaian dan kamar mandi pribadi, bersih, dan rapi sesuai seperti keinginan ku. Tentunya sebanding dengan harga yang ditawarkan.


Aku mulai menyusun pakaian ku kedalam lemari. Membuka agenda ku dan mulai menuliskan rencana - rencana yang akan aku lakukan besok. Hari ini aku memutuskan untuk istirahat, sambil mengumpulkan tenaga untuk aktifitas besok.


***


Sementara di tempat lain, Rinto yang juga sedang mempersiapkan pendidikan nya. Dia bermaksud masuk di pendidikan angkatan Udara. Dia mulai mengikuti berbagai tes, postur dia yang tinggi dan dia juga memiliki kecerdasan yang mumpuni membuat dia tidak mengalami kesulitan saat menghadapi serangkaian tes.


***


Sementara Ibu Fira, Ratih, sejak ditinggal Fira, Ibunya lebih banyak menganggur, untuk mengisi kesepiannya dia sering mengunjungi panti asuhan dekat komplek rumahnya.


Sesekali Sabrina datang untuk sekedar mengobrol dengan Bu Ratih.


Dia sangat kesepian sekarang dia menjadi seorang nyonya tetapi tidak seutuhnya. Kadangkala membuat dia cemas, takut suatu saat Istri pertama Pak Wira, Anggel datang melabraknya.


Di cerita kan jika Pak Wira sering bertengkar dengan Isteri nya Anggel, karena perangainya yang buruk, sering keluyuran dan suka menghambur kan uang untuk kebutuhan sosialitanya.


Tidak dengan Ratih dia yang hanya seorang wanita sederhana dan penurut.


Ratih mulai mengumpulkan uang belanja yang diberikan Suaminya, dia sering berhemat untuk menekan pengeluaran, dia sengaja supaya saat dia harus mundur sebagai Istri Wira, dia sudah memiliki cukup modal untuk merintis usaha.


***


Hari yang ditunggu Fira sudah tiba, hari ini mulai masuk pengenalan di Universitas nya. Dia sudah mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengikuti Ospek.


Satu Minggu masa Ospek dia lalui dengan lancar, semua berjalan dengan baik. Dan kini saat nya belajar sudah dimulai.


❤️❤️


Terimakasih untuk kakak kakak reader tercinta sudah mampir dan setia di Cita Citaku bukan khayalan, dukungan dan subscribe nya ditunggu ya. semoga kita semua dalam keberkahan.

__ADS_1


❤️❤️


__ADS_2