Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 12. Cantik tetapi tidak tertarik.


__ADS_3

Tapi bukankah pesan Bapak tanah itu buat aku, supaya Aku pakai Ruko, lagi pula kamu kan sudah dibagi ladang yang cukup luas oleh Bapak." jawab ibu.


"Mengenai bagian itu memang benar tapi kalau waris itu kan anak laki laki dapat 3/4 kan Mba. sementara lahan pertanian yang dikasi Bapak itu belum 3/4 dari luas semua tanah Bapak". jelasnya lagi.


"Karta begini, Mba sama Bapak cuma di bagi rumah 200 M dan tanah 100 M yang diujung jalan itu, sementara kamu dibagi 300 M untuk rumah dan 400 M lahan pertanian, itu kan sudah adil 1/4 untuk Mba dan 3/4 untuk kamu, karena kamu anak lelaki." Jawab ibu.


"Iya tapi aku tetep mau tanah itu Mba, karena itu cocok buat aku" jawabnya tegas.


"Kalau begitu bagaimana kalau kamu tukar aja tanah yang kamu mau itu sama tanah ladang yang kamu garap" usul ibuku mencari jalan tengah.


"Nggak bisa Mba, ladang itu aku juga butuh, pokoknya Mba izinkan atau tidak aku akan tetap minta tanah itu," jawab Paman sambil beranjak pergi.


"Karta, Karta, " panggil ibu.


Tetapi yang dipanggil tidak menoleh sedikit pun.


Ya Allah, ibuku jatuh terduduk dikursi sambil meneteskan air mata.


"Ya Allah, Bapak Ibu maafkan Ratih yang tidak bisa menjaga Karta, sehingga Karta menjadi orang yang serakah" ucap ibuku lirih sambil terisak.


Aku menghampiri ibu dan memeluknya,


"Ibu berikan saja apa yang diminta Paman, supaya Kakek dan Nenek tenang dialam baka ibu, kasian Kakek dan Nenek kalau anak anaknya bertengkar soal Warisan" kataku menghibur ibu.


"Allah yang akan mengganti nya nanti Ibu," ucapku melanjutkan.


"Diberikan atau tidak Pamanmu akan tetap mengambil nya, itu sifat Pamanmu dari dulu. Itu sebabnya kenapa kakek sudah memberikan banyak padanya supaya bagian ibu tidak diambil juga, tetapi tetap saja Pamanmu melakukan itu, Praktis sekarang yang dipunya ibu cuma rumah ini" ucap ibuku lirih.


"Tidak apa-apa Ibu, kita akan cari sendiri dengan usaha kita sendiri" hiburku pada Ibu.


Setelah kejadian itu Ibuku jadi sangat sedih yang disedihkan bukan dia kehilangan tanah tetapi beliau lebih bersedih karena sifat Paman yang tidak pernah berubah.


Hari sudah larut ketika Fira menyiapkan segala keperluan sekolahnya, Dilihatnya ibunya sudah berbaring sambil menghadap dinding. Kemudian dia merebahkan badannya sampai akhirnya dia juga tertidur.


Jam menunjukan pukul 04.00 pagi, Fira bergegas bangun, karena dia harus berangkat sekolah pukul 5 pagi. Ibunya membuatkan sarapan I*do*ie sekedar untuk mengganjal perut supaya tidak masuk angin, karena udara kampung memang selalu dingin.


Dan dia harus mengejar Angkutan umum pagi pagi supaya tidak terlambat sampai sekolah.


"Kamu nanti pulang ke Kost apa kesini?" tanya ibu


"Ke Kost saja Bu, capek kalau harus bolak balik kesini," jawab Fira.

__ADS_1


"Ya sudah, Ibu sementara tinggal disini ya nanti sebelum ibu berangkat ke kota lagi, ibu mampir ke Kost kamu lagi" kata ibuku.


"Baik ibuku sayang, jangan terlalu dipikirkan permintaan Paman sudah iklasin saja ya Bu" kataku pada Ibu.


Ibuku mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Sudah sana berangkat nanti ketinggalan Mobil" kata ibuku.


Aku mencium tangan ibu kemudian berlalu.


***


Sementara di sekolah, Gadis sudah kembali bersekolah. setelah masa hukumannya selesai dia mulai masuk kembali.


"Jangan buat masalah lagi" pesan Ayahnya.


"Jangan buat ayah malu lagi" itu yang terngiang ngilang ditelinganya.


"Huh, ayah kenapa malah Gadis yang disalahkan, harusnya anak gembel itu yang dihukum" gerutunya, sambil keluar dari mobil Ayahnya.


Masih berdengus kesal, dari kejauhan dia melihat Rinto, kemudian dengan gaya centilnya dia menghampiri Rinto.


Tubuhnya yang tinggi semampai. Gaya jalannya yang bak model, dengan Rok diatas lutut nya, yang memperlihatkan kaki jenjangnya, rambut panjang tergerai, tak lupa polesan lipglos tipis dibibirnya membuat semua laki laki gemas memandangnya, dan mata sipit yang mirip artis Korea. membuat Gadis nampak sempurna.


"Hai Rin, gimana kabarmu pagi ini" sapa Gadis


"Baik" jawab Rinto dengan cepat, tanpa menoleh padanya, dan sambil berlalu pergi.


"Kenapa sih kamu itu selalu cuek padaku, aku kan cantik, sempurna?" tanya gadis sambil bersungut sungut.


Tanpa menjawab Rinto berlalu darinya, Gadis mengejarnya dengan mengadangkan badannya dihadapan Rinto.


"Tunggu, jawab dulu pertanyaanku" tanyanya lagi.


"Minggirlah, aku malu melihat kelakuan mu ini," jawab Rinto.


"Jawab dulu pertanyaanku" teriak Gadis lagi.


sambil menghembuskan nafas kasar Rinto mulai menjawab.


"Baiklah kalau kamu mau tahu kenapa aku tidak suka denganmu, bahkan berteman pun aku tidak suka, karena kamu itu sombong, angkuh, memanfaatkan kekuasaan Ayahmu untuk ambisi aroganmu, dan satu lagi, kamu terlalu rendah, lihatlah dandananmu persis seperti wanita yang tidak punya malu," Kamu cantik tetapi aku tidak tetarik." jawab Rinto, cukup membuat Gadis kehilangan kata kata untuk membalikkannya.

__ADS_1


Tidak disangka Gadis yang selama ini populer, bahkan tidak ada satu teman laki laki pun yang menolak dia, bahkan mereka saling berebut untuk menjadi temannya, tetapi ternyata tidak dengan Rinto. Dia menolak mentah mentah segala daya tarik nya.


Sambil mengepalkan tangannya dia menahan amarahnya.


"Awas kamu Rinto, kamu sudah menghina aku, ini semua pasti gara-gara Fira, hati hati kamu Fira, aku akan buat perhitungan denganmu."


Sementara di gerbang sekolah Fira yang sedang terburu buru memasuki halaman sekolah. Hari ini hampir saja dia terlambat,


"Huh beginilah kalau rumah jauh, selalu terburu buru" keluhnya pada diri sendiri.


Dari belakang terdengar suara Rani memanggil, kemudian dia menoleh, sekilas dia melihat Rani turun dari boncengan motor Ayahnya. Mereka berpandangan sambil melempar senyum.


Sambil berlari Rani mendekat,


"Fira, fira, Fir,,, tolong aku,,, ? ucap Rani sambil tersengal sengal karena habis berlari.


"Kenapa?" tanya Fira.


"Mati aku, aku belum ngerjain tugas Biologi yang diberi Pak Ahmad, celaka aku, pasti kena hukuman aku," ucap dia sambil menepuk jidadnya.


"Sudah tenang aja, ayo ke kelas aku kasi contekan!" kataku lagi.


"My Hani, My Sweet, Thank you very much. kamu memang sahabat terbaikku." katanya dengan gaya yang kocak.


Sambil aku mengambil sebuah buku dari dalam tas dan meyodorkan ke Rani. Secepat kilat dia menyambar buku itu. sambil berlari


"Aku duluan, kamu jalannya lama, kita ketemu di kelas ya" Teriaknya sambil berlari dan melambaikan tangan.


"Terserah kau lah" Jawabku sambil tersenyum.


Saat aku akan menaiki tangga ke lantai dua , pas dianak tangga hendak belok, tiba tiba langkah ku di cekal sama seseorang, pas aku menengadahkan kepala untuk melihat, aku lihat Gadis sudah menghadangku. Saat aku hendak turun lagi dari bawah Ana dan Devi sudah mencegatku di bawah.


"Kenapa, kamu takut, kamu panik, ?" tanya Gadis dengan nada ketus dan judes.


"Kamu kenapa? ada masalah apa dengan ku?" tanyaku.


"Jangan pura-pura polos kamu, aku minta kamu jauhin Rinto, tetapi kamu malah dekat dengannya, Kamu jangan main main denganku!," ancam Gadis.


"Gadis, Kalau kamu memang menginginkan Rinto, bersainglah secara fair,!" kataku


"Kamu menantang ku ya!" teriak Gadis dengan senyum sinis.

__ADS_1


Sambil menarik nafas panjang Fira mencoba menenangkan diri.


"Baiklah apa maumu?" tanya Fira,


__ADS_2