Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 21. Sahabat


__ADS_3

Kemudian perlahan aku mulai membacanya.


Senyum ku tidak lepas dari bibirku, nafasku memburu, hawa hangat mengalir di tubuhku.


Teruntuk Cintaku


Elfira Maulani.


Di malam ini aku gelisah, Hari-hariku akan hampa.


Tak kulihat lagi senyummu, tawamu, candamu, dan merahnya pipimu saat kamu malu.


Dalam sujud ku berdoa Tuhan jagalah dia untukku sampai saatnya nanti kita akan kembali bertemu.


Aku mencintai mu aku akan tetap memupuk cinta ini, aku harap kamu juga tetap mengosongkan hatimu dari cinta lain sampai saat nya tiba nanti aku akan datang.


Raga boleh terpisah tetapi hati tetap menyatu.


Aku yang mencintaimu


Rinto Agustian


Mataku menerawang jauh, kudekap surat itu, berulang kali aku baca. Indahnya mencintai dan dicintai dalam batasan.


"Bersabar lah dalam penantian semoga suatu saat kita akan bersama dalam lautan cinta halal. Aamiinn" batinku berdoa.


Jam sudah menunjukan pukul 15.00 sore, aku melanjutkan packing barang-barang ku, selama aku kost di rumah Bu Pur.


Aku akan pulang membawa semua pakaian buku-buku pelajaran yang masih bisa aku manfaat kan.


"Huh, banyak juga ya barangku," setelah mengepak kardus yang ke tiga. batinku.


Tok tok tok..


Suara pintu kamar diketok, Itu pasti Rani, pikirku.


Saat ku buka ternyata dia adalah Bu Pur, ibu kost.


"Ehh Ibu saya pikir Rani yang datang" kataku.


"Ada tamu," kata Bu Pur lagi.


"Siapa Bu?" tanyaku keheranan.


"Lihat saja sendiri!" Jawab Bu Pur sambil pergi.


Tamu, siapa aku tidak merasa ada janji.


Sambil merapikan kerudung yang aku pakai aku menuju ruang tamu.


Sebelum sampai di ruang tamu aku sempat mengintip dari balik tembok. Dan ternyata yang datang adalah Zul. Dia tidak sendiri ditemani Kaka perempuannya.


Kini penampilannya sudah berubah, tidak urakan lagi, dengan memakai kemeja Koko lengan pendek dan celana sirwal, membuatnya menjadi tampak alim.


Deg, jantungku langsung gemetar,


"Ada apa dia datang, apa belum cukup dia menyakitiku, sekarang malah berpakaian sok alim, huh semoga cepet pulang." harap ku sambil menggerutu menahan kebencian.

__ADS_1


Dengan langkah berat aku menemui mereka.


"Assalamualaikum Fira," sapa mereka terutama Kak Yuni kakanya Zul.


"Waalaikum salam, kak Yuni, kok tumben ada apa ya" jawabku tanpa basa basi.


"Kamu sudah lulus ya, selamat ya," kata Kak Yuni lagi.


"Iya kak, Terimakasih," jawabku.


"Kedatangan kami kemari, terutama Zul kami mau minta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan padamu dulu. Dia sangat menyesal dan dia juga sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya" kak Yuni menjelaskan panjang lebar.


"Saya sudah memaafkan kak," jawabku sinis, padahal dalam hatiku sangat benci padanya.


"Iya Fira, saya sangat menyesal, sejenak setelah kejadian itu pun saya sudah sangat menyesal." kata Zul mulai membuka suara yang sejak tadi diam sambil menundukkan pandangannya.


Aku pun cuma bisa mengangguk mendengar kata-kata Zul.


"Iya Fira, Zul sudah dipenjara dan sudah semenjak keluar dari penjara dia langsung memutuskan untuk mondok di pesantren." sambung Kaka Yuni.


"Syukurlah kak, semoga Bang Zul istiqomah" jawabku.


"Baiklah kami berterima kasih karena kamu sudah memaafkan kami, kami pamit ya," kata kak Yuni lagi.


"Ngomong-ngomong kamu mau melanjutkan kemana?" tanya kak Yuni.


"in syaa Allah, Fira akan ke Surabaya kak, di U**IR fakultas kedokteran" kataku.


"Waduh calon dokter ya, selamat ya, semoga lancar belajarnya." kata kak Yuni lagi.


"Iya, Terimakasih kak." jawabku.


"Huh,,, semoga benar dia sudah bertobat, bukan cuma penampilannya saja yang berubah," gerutu ku setelah mereka pergi.


Kemudian aku langsung masuk kamar menyelesaikan kerjaan ku packing barang. Suara panggilan telephon berbunyi, aku lihat layar handphone dan ternyata itu ibuku.


"Hallo, Assalamualaikum Ibu" sapa ku.


"Waalaikum salam sayang, lagi apa" tanya ibu.


"Lagi packing Bu, mau pulang barang-barang aku bawa pulang banyak banget" kataku sambil mengeluh.


"Nggak ada yang bantuin?" tanya ibu.


"Siapa yang bantuin, nggak ada lah" jawabku.


"Kamu pulang kapan? " tanya ibu.


"Besok Bu!" jawabku.


"Ya sudah besok ibu juga izin pulang sama majikan ibu ya, biar bisa nemenin kamu," kata ibu lagi.


"Ibu kalau pulang langsung kerumah aja ya jangan ke kost, aku bosen kalau sendiri di rumah" jawabku lagi.


"Baiklah ibu besok langsung menuju rumah ya!" kata ibuku lagi.


" Ya sudah ya, ibu kerja lagi, sampai ketemu besok. Assalamualaikum." kata ibuku sambil menutup teleponnya.

__ADS_1


"Waalaikum salam" jawabku


"Ahhh, syukurlah aku tidak sendirian besok dirumah, ada ibu." batinku.


Sesaat Rani datang.


"Hei sudah selesai packing nya?" tanya Rani.


"Hu, kamu mau bantuin apa mau main doang, datang datang sudah selesai semuanya." jawabku.


"Ya, mo bantuin lah , bantuin doa" jawabnya sambil nyengir.


"Udah ini aku bawain nasi bungkus kamu pasti belum makan kan, dan juga aku bawa cemilan buat kita malam ini bergadang" katanya lagi.


"Ahhhh kalau begini baru sedap, hilanglah lapar ku." sambil aku raih nasi tersebut kemudian membukanya,


"Wahhh Nasi rendang, kamu tahu aja ini memang lagi aku butuhkan. Amunisi perut" jawabku sambil mencuci tangan kemudian berdoa dan melahap nasi yang dibawa Rani.


Kulihat Rani sedang sibuk mengeluarkan cemilan dan minuman dari kantong kresek yang dibawanya tadi.


"Banyak banget Ran, apa kamu lagi banyak uang ya?" tanyaku.


"Bukan, ini ibu yang beliin, kamu kan tahu ibuku paling tidak bisa kalau melihat anaknya lapar," jawabnya.


"Eh, ngomong-ngomong ibu kamu ngizinin kamu nginep disini?" tanyaku.


"Boleh lah, ini kan hari terakhir kita bersama, jadi ibuku mengizinkan" jawabnya sambil membuka bungkus makanan dan memasukannya kedalam mulut.


Aku tidak berkata lagi sampai nasi ku habis aku makan.


"Rinto bagaimana? " tanya Rani tiba-tiba.


"Apanya yang bagaimana?" tanyaku lagi.


"Maksudku hubunganmu dengan Rinto?" ulang nya lagi.


"Biasa saja, memang kenapa? " tanyaku lagi.


"Tidak, lupakan saja" katanya sambil tersenyum lebar.


Kami asyik bercengkerama dan bercerita, seakan kalau kita sudah bersama tidak ada habisnya cerita yang kita bicarakan.


Jam menunjukan pukul 9 malam, kami masih belum bisa terlelap. Tiba-tiba terdengar perut kami keroncongan.


"Ha ha ha, kamu lapar ya," tanyaku pada Rani.


"He he he," Jawab Rani sambil terkekeh malu.


"Kita makan baso yuk," disana diujung gang bakso Pak Juni, enak rasanya.


"Aku yang traktir deh" kataku


"Iya ayo, lagian pengen lihat suasana malam di sekitar sini." kata Rani


Setelah merapikan kerudung ku, kami pun berjalan beriringan menuju tempat bakso Pak Juni.


Disepanjang jalan kami tidak hentinya bercanda, selayaknya sahabat.

__ADS_1


Dan sampailah kami ditempat yang dituju.


Terimakasih atas apresiasinya buat para pembaca, baik itu like, vote , atupun komentar dan hadiahnya. Semoga sukses buat kita semua ya.


__ADS_2