Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 23. Gangguan jiwa


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi.Setelah duduk sejenak dirumah aku pergi ke rumah paman.


"Assalamualaikum, paman, bibi," aku panggil tidak ada sahutan.


Aku panggil sekali lagi belum juga ada sahutan, aku longokan kepala ke dalam rumah. " Sepi " batinku


"Waalaikum salam, tiba-tiba Rio yang menjawab.


"Rio, Paman sama bibi kemana?" tanyaku.


"Kak Fira, ayah lagi kerja ibu lagi dikamar" kata Rio.


" Kok tumben Bibi masih dikamar," biasanya jam segini beliau sudah sibuk didapur" tanyaku pada Rio.


"Aku mau nemuin bibi ya," belum Rio menjawab aku sudah hendak ngeloyor pergi ke kamar Bibi.


"Kak Fira," panggil Rio dengan hati-hati.


Aku menghentika langkah kemudian menoleh " ada apa?"


"Emmmmm,, ibu ibu lagi sakit" ucap Rio seperti ada keraguan.


"Sakit, sakit apa, ya sudah Kaka ke kamar bibi dulu ya?" kataku sambil hendak beranjak ke kamar bibi.


"Ibu sakit gangguan jiwa" kata Rio cepat.


Seketika langkahku terhenti, aku membalikkan badan, kemudian menatap Rio tajam.


"Apa katamu, coba jelaskan ada apa sebenarnya,?" kataku pada Rio sambil mengajaknya duduk.


Rio mulai bicara dengan tatapan menunduk.


"Ayah terjerat hutang yang sangat banyak, kemudian ayah menjual semua aset, dan ibu tidak bisa menerima semua itu kemudian menjadi terganggu mentalnya" cerita Rio sambil berkaca-kaca.


Aku terperangah sambil menutup mulutku. "Astaghfirullah, maafkan Kaka ya Rio Kaka tidak tahu semua ini, sekarang paman dimana dan Bunga bagaimana?" tanyaku bertubi-tubi.


"Ayah kerja serabutan, kadang menjadi buruh tani, kadang juga menjadi kuli, sedangkan kak Bunga pergi meninggalkan rumah entah kemana tidak ada kabar" lanjut Rio lagi.


Aku mengangguk sambil menghembuskan nafas perlahan.


"Kamu masih sekolah?" tanyaku.


"Masih kak, ayah melarang aku berhenti sekolah, ayah berusaha untuk membiayai aku sekolah" kata Rio.


"Syukurlah, tetap semangat ya Rio sekolahnya, yang rajin biar dapat prestasi yang bagus, supaya tidak mengecewakan paman." nasehatku pada Rio sambil memegang tangannya untuk menguatkan.


"Kaka mau kekamar bibi ya!" kataku.


"Hati-hati kak, Ibu suka melempar barang" kata Rio memperingatkan.


Aku tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Dengan hati-hati aku membuka kamar bibi, aku lihat kamar itu berantakan, gelap dan bau apek menandakan kamar itu jarang dibuka dan dibersihkan. Perlahan aku panggil bibi.


"Bi, bibi, ini Fira yang datang Bi," sambil aku menekan knop saklar lampu.


Cetek....


Dua sorot mata tajam langsung menoleh, mata yang penuh kemarahan. Aku lihat bibi duduk diatas bale dengan kedua kaki nya di tali dengan bale tempat tidur, dengan rambut gimbal dan pakaian sangat lusuh.


Aku berjalan mendekat,


"Bi jangan takut ya ini Fira yang datang" kataku lembut sambil berjalan perlahan menuju ke arah nya.


"Fira, Fira Fira" suara bibi seolah olah hendak mengingat sebuah nama.


"Ohhhh Jeng Fira yang tinggal di komplek atas, ya Ampun Jeng kapan kita arisan lagi, ini lihat saya banyak uang itu jeng lihat uang saya segunung" kata Bibi ngaco.


Aku menangis melihat keadaan bibi. Untuk membuat nya tenang aku mencoba menjadi orang yang ada di khayalan bibi.


"Iya Bi, kapan-kapan kita arisan lagi" sambil aku beranikan untuk mendekat lebih dekat.


"Sini-sini Jeng buka tali ini aku mau keluar," katanya lagi masih memanggil aku dengan Jeng.


Aku usap lembut kepalanya, aku lanjutkan ngobrol apa saja yang membuat dia nyaman dan tenang.


Agak lama kami ngobrol, tiba-tiba bibi teriak histeris sambil menarik-narik tali yang ada dikakinya.


Mendengar itu Rio langsung lari kekamar, mendekap kepala ibunya, Ibu ibu tenang ini ada Rio.


"Ini siapa perempuan ini, hah ini siapa suruh pergi aku tidak mau ketemu perempuan ini," ocehannya sambil mengacungkan jari nya padaku.


Aku bergegas keluar. Keadaan mulai kacau suara teriakan bibi kata makian dan umpatan dari dalam begitu nyaring.


Aku berdiri terpaku diluar kamar dengan kaki gemetar, Aku jatuh terduduk dikursi tamu, sambil berusaha meredakan ketakutan.


Beberapa saat sunyi, tinggal suara Isak tangis kemudian hening.


Rio keluar kamar, aku bergegas menghampiri.


Aku lihat Rio menunjukkan jari telunjuk ke bibir tanda aku suruh diam, Dan Rio mengajak aku kedapur untuk bicara.


"Begitulah kak keadaan Ibu, dia hanya bisa nurut dan tenang kalau sama aku, sekarang Ibu sudah tidur, karena lelah meronta." kata Rio.


"Apa separah itu keadaan Bibi" kataku pada Rio.


"Entahlah kak, kami tidak punya biaya untuk membawa Ibu berobat, semua sudah habis kak, tinggal rumah yang kami tempati ini" cerita Rio sambil menerawang.


"Siapa yang membeli semua tanah Paman?" tanyaku pada Rio.


"Orang dari kota kak, namanya Pak Wira, itu setahu aku" jawab Rio.


"Orang dari kota, kota mana, kok bisa orang kota beli tanah dipedesaan begini" tanyaku.

__ADS_1


"Entahlah kak buat investasi katanya," jawab Rio.


"Terus sudah diapakan tanah itu sekarang?" tanyaku lagi pada Rio penuh selidik.


"Belum diapa-apakan masih terbengkalai" jawab Rio.


Lama kami berbincang tidak terasa Paman sudah pulang dari ladang.


Mendengar paman pulang aku langsung menghampiri beliau.


"Paman," panggilku sambil mengambil tangannya untuk mencium nya takzim.


"Kapan kamu pulang?" tanya beliau sambil meletakkan cangkulnya di halaman belakang.


"Baru saja Paman" jawabku,


Paman menghempaskan badannya di bale-bale sambil mengipas ngipas badannya yang berkeringat.


"Gimana sekolah mu?" tanya paman lagi.


"Baik Paman, Fira sudah lulus dan sekarang in syaa Allah hendak masuk universitas" kataku.


"Syukurlah, kalau kamu berhasil paman ikut bangga, tidak seperti Bunga," jawab paman sambil menerawang.


"Sabar ya Paman" kataku menguatkan, melihat Paman yang semakin tampak tua.


"Iya, kamu sudah mendengar kan semua kisah Paman, kamu sudah ketemu dengan bibi?" tanya Paman.


Aku hanya mengangguk, tidak tahu harus berkata apa.


"Ini pasti karena Paman telah berbuat dholim pada ibumu dulu, Paman minta maaf sama kamu ya?" kata Paman kelihatan menyesal.


"Sudah Paman, kami sudah memaafkan Paman dan kami pun sudah mengikhlaskan semuanya, Paman tidak usah bersedih, hidup itu memang naik turun, cobaan datang silih berganti mungkin sekarang Paman sedang diuji sama Allah, supaya Paman semakin dekat dengan Nya" kataku mencoba menghibur Paman.


Paman hanya diam sambil mengangguk, "Betul juga katamu, mungkin selama ini Paman terlalu angkuh dan lalai, membuat Paman jauh dari Allah." kata Paman.


Aku terdiam aku takut jika Paman merasa hendak aku guru i.


Fira siapkan makan ya Paman, kataku memecah keheningan.


"Oh.. kan ada Rio, kemana dia?" tanya Paman.


"Ada Paman, tadi habis nenangin Bibi, Bibi ketakutan saat saya datang menemuinya!" kataku pada paman.


Kemudian aku beranjak ke dapur untuk melihat apa yang bisa aku masakan untuk Paman.


Ternyata cuma ada singkong rebus dan sambal. Beras pun tidak ada.


"Astagfirullah, begitu susahnya kah hidup Paman sekarang?" gumamku dalam hati.


Sekejap aku langsung ke warung, membeli nasi bungkus tiga, dan juga membeli beras, gula, kopi dan minyak.

__ADS_1


Aku masih ada tabungan dari kerja, hadiah dari olimpiade dan juga kiriman ibu yang selalu aku sisihkan.


Terimakasih kaka pembaca atas dukungannya, kalau ada saran untuk cerita Fira silakan di komentar ya. Terimakasih atas masukannya, karena itu sangat berharga buat saya. Love you All


__ADS_2