Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 28. Kabur


__ADS_3

Sabrina mengajak aku duduk dan menyuguhkan minuman teh hangat. Membuat aku sedikit ada tenaga setelah berlari.


Dia duduk di hadapan ku, kemudian melepaskan cadarnya dan tersenyum kearah ku.


Sabrina mencoba untuk bicara,


"Fira, ayo aku antar pulang, nanti orang tuamu khawatir!" kata Sabrina pelan.


"Kak, aku tidak mau pulang, aku kesal sama Ibuku, kenapa dia lakukan ini padaku." kata Fira sambil berapi-api.


"Maaf ya Fira, kalau boleh Kaka sarankan, sebaiknya kamu pulang, Kaka tidak tahu apa masalahmu dengan Ibumu, tetapi seburuk apapun yang dilakukan Ibu kita,. dia adalah syurga untuk kita anaknya." kata Sabrina lembut.


Deg, langsung Fira sadar kalau dia telah berbuat salah dengan melakukan ini pada Ibunya. Ibu yang selama ini sudah berjuang untuk hidupnya dan masa depannya. Kalau memang ini membuat Ibunya bahagia harusnya tidak apa-apa buat Fira.


"Aku baru kenal Kaka, kenapa Kaka mau peduli dan menasehati aku?" tanyaku.


"Maaf kalau kamu tidak suka, tetapi Kaka diajarkan oleh guru Kaka, untuk selalu menghormati orang yang lebih tua, terlebih dia adalah orang tua kita." kata Sabrina dengan lembut.


***


Sementara di rumah, Ibu Fira panik karena mendapati Fira tidak pulang-pulang. Dia juga sudah menyuruh Edi Sang supir untuk berkeliling sekitar rumahnya, namun tidak menemukannya.


Dia hanya bisa menangis sesenggukan, sambil menyesali keputusan nya karena telah membuat Fira kecewa dan marah.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu janji akan berpisah dengan suami Ibu supaya kamu mau memastikan Ibu." katanya sambil menangis.


"Tenang Nyonya, non Fira pasti nanti pulang kalau sudah tenang," hibur bibi mumun, Sang asisten rumah tangga.


Drrrrng,


Suara mobil suaminya Pak Wira, memasuki garasi rumah. Dengan tergopoh-gopoh Ratih menyambut suaminya sambil menangis.


"Ada apa? kok nangis" tanya Pak Wira.


"Fira kabur, setelah aku ceritakan tentang kita." kata istrinya.


"Mungkin dia kaget, apa perlu kita mencarinya sekarang?" kata Pak Wira.


"Mas capek, istirahat saja dulu, biar aku tunggu saja dulu, semoga sebentar lagi dia pulang." Kata Ratih melihat suaminya yang baru pulang dia merasa tidak enak.


Ratih ibu Fira semakin khawatir. Bahkan sampai larut malam dia belum juga dapat memejamkan matanya.


***


"Kak, bolehkan aku minta tolong diantar pulang?" kata Fira.


"Syukurlah kamu mau pulang, ayo kakak antar. Alamat rumahmu dimana?" kata Sabrina.


"Aku tidak tahu, tadi aku berlari saja sehingga aku tidak tahu dimana alamat rumahku,!" kata ku.


"Lho, kok bisa?" tanya Sabrina.


Kemudian Fira menceritakan apa yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


"Hmmmm, Sabrina mengangguk-angguk mengerti, ya sudah coba kamu ceritakan ciri-ciri rumahmu kemudian ayo kita cari, aku cukup mengenal daerah ini, aku lahir dan dibesarkan disini, cuma kebetulan saja aku sekolah di pondok." kata nya lagi sambil tersenyum.


Aku ceritakan secara detil rumah Ibuku yang aku lihat sekilas tadi siang.


"Ohhh, iya aku ingat aku pernah melewatinya beberapa waktu lalu, rumah itu memang masih baru, baru dibangun beberapa bulan lalu. kalau begitu ayo kita lihat sekarang!" kata Sabrina.


"Tapi ini terlalu larut!" kataku, apa boleh aku menginap disini.


"Tetapi Ibumu malam ini tidak akan dapat memejamkan matanya, sebaiknya kamu pulang, datanglah lain kali kalau kamu sedang tidak ada masalah. Ingat rido orang tua itu sangat penting." nasehat Sabrina.


"Benar juga kata Kaka, baiklah, terimakasih ya kak." ucapku pada Sabrina.


"Sama-sama, tidak apa, ayo jalan!" kata Sabrina sambil menyambar cadarnya yang di taruh di meja.


Sabrina kemudian mengambil dua helm yang satu dipakainya dan yang satu diberikan pada ku.


Dia kemudian memacu roda duanya sambil berboncengan dengan aku.


Kami menyusuri jalan komplek yang sepi, tetapi cukup aman karena komplek itu dijaga dua orang satpam dan di halang pintu portal.


Aku perhatikan satu per satu rumah yang ada di komplek itu.


Tiba di rumah besar di tengah, sejenak aku perhatikan pagar dan bentuk rumahnya.


Sabrina meminggirkan motornya.


"Apa ini rumahmu, rumah ini baru saja dibangun, dan semoga benar ya?" kata Sabrina.


"Seperti nya iya, tunggu sebentar aku tekan bel nya!". kataku.


"Aduh, non Elfira, Ibu non menangis terus dari tadi, ayo masuk," katanya sambil menarik tanganku.


"Masuk dulu Sabrina, aku kenalkan pada Ibuku," kata ku pada Sabrina.


Sabrina memarkir kan motornya masuk ke gerbang rumah. Dan aku mengajaknya masuk.


Sementara didalam rumah, Ibu langsung menghambur memeluk ku, dan aku sambut dengan pelukan juga.


"Maaf kan Fira ya Bu,!" kataku sambil sesenggukan.


"Tidak apa, Ibu sangat khawatir, ya sudah kamu sudah pulang, ayo tidak apa-apa." kata ibu sambil mengelus kepala ku.


"Ini siapa? " tanya Ibu sambil menunjuk Sabrina.


"Bu, kenalkan ini Sabrina, dia yang mengantarkan Fira pulang!" kataku pada Ibu.


"Terimakasih sudah antar kan Fira pulang!" kata Ibu pada Sabrina.


"Tidak Apa-apa Bu, yang penting Fira sudah sampai rumah." katanya dengan ramah.


"Silakan duduk nak Sabrina" sapa Ibuku hangat.


"Tidak usah Bu, sudah malam saya pamit pulang saja." kata Sabrina ramah.

__ADS_1


"Kamu berani pulang sendiri, ini sudah malam, sebaiknya kamu menginap saja disini,?" kata Ibu menawarkan pada Sabrina.


"Terimakasih, lain kali saja saya main lagi,!" jawab Sabrina.


"Fira, aku pamit ya, setelah ini kalau kamu mau menginap di rumahku boleh ya, kalau tadi aku tidak mau,!" kata Sabrina sambil bercanda menyindir aku.


Aku hanya terkekeh mendengar candaan Sabrina.


Kami mengantarkan Sabrina sampai didepan pintu gerbang. Dia memacu motornya pulang menuju rumahnya. Kami melambaikan tangan padanya.


Kami masuk kedalam rumah.


"Oh iya Fira kenalkan ini bi Mumun ya, kamu belum kenal kan?" kata Ibu.


Aku hanya tersenyum mengangguk pada Bi Mumun. Canggung rasanya aku yang biasa menjadi asisten rumah tangga, tiba-tiba harus menjelma menjadi seorang nona.


Hiiii geli juga di dalam hati.


"Bi, tolong siapkan Fira makan ya!" minta Ibuku.


"Baik Nyonya!" kata Bi Mumun.


Ibu mangajak aku duduk dimeja makan sambil menunggu Bi Mumun menyiapkan makanan.


"Bu, aku mau yang sederhana saja ya!" kataku pada Ibu.


Ibuku mengangguk mengerti.


"Bi, tolong bawa kesini nasi sama ayam goreng saja, sudah ditaruh di piring jadi satu ya!" kata Ibuku lagi.


"Begitu saja nyonya?" tanya Bibi yang keheranan, karena biasanya terhidang berbagai menu masakan yang ditata rapi dimeja, tetapi ini majikannya cuma minta nasi sama ayam goreng, itu pun diramu dipiring.


"Iya,!" kata ibuku singkat.


Nasi sudah datang aku menyantap hidangan yang di berikan Bibi dengan agak tergesa-gesa. Aku masih belum siap kalau harus ketemu dengan suami Ibuku.


"Tidak usah buru-buru nanti tersedak," kata Ibuku.


"Uhuk,,, uhuk kkk" aku tersedak.


"Benar kan kamu tersedak, hati-hati!" kata Ibuku.


"Huh, benar kata Sabrina, Ibuku adalah surgaku, katanya bagai doa untukku" pikiranku berkata.


Selesai makan aku langsung pamit pada Ibu untuk ke kamar.


"Bu, aku istirahat dulu ya.!"


"Iya, sudah larut malam, ayo Ibu antar!" kata Ibuku lagi.


" Tidak usah Bu, aku nggak apa-apa!" kataku meyakinkan Ibuku.


Ibuku tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Dan akupun berlalu kekamar.


__ADS_2