Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 20 Meriahnya pesta


__ADS_3

Dilanjutkan dengan acara makan siang, kami menikmati hidangan makan siang yang sudah ditata rapi berjejer dilapangan kebetulan ada dua buah pohon besar sehingga menjadikan tempat ini nyaman dan tidak kepanasan.


Kami mengantri untuk mengambil makan siang. Dan saat itu pula aku menarik diri dari keramaian. Aku berjalan kebelakang menyusuri setiap lorong sekolah, aku perhatikan setiap detil dari sekolah, lewat depan Mading aku pandangi aku perhatikan.


Kemudian lewat depan perpustakaan aku berhenti sejenak memandang kedalam disana dibangku pojok biasanya aku menghabiskan buku-buku untuk dibaca.


Aku melewati setiap kelas, dimana aku pernah duduk. Mulai dari kelas 1 dimana aku baru pertama masuk sekolah, Gadis kampung yang sekolah di kota walaupun kota kecil. Dengan dandanan yang sederhana bahkan sering diejek oleh teman-teman. Dan sampai Rani lah satu-satunya teman yang mau duduk sebangku dengan ku.


Aku melanjutkan langkah menuju ke kelas 2 dimana disana aku mulai menampakkan diri, menjadi pengurus OSIS, disebabkan prestasi ku yang gemilang waktu di kelas 1 dan kepiawaian ku dalam berdialog, membuat aku dipercaya menjadi pengurus OSIS. Disini juga aku menjelma menjadi Fira yang penuh percaya diri dengan penampilan yang baru, dan prestasi yang terus menanjak. Meninggalkan para pesaingku. Disini pulalah setiap kejadian-kejadian yang membuat aku makin tangguh.


Dan langkah selanjutnya ke kelas terakhir aku singgah. Disana aku mulai merajut mimpi menjadi kenyataan, Olimpiade, kemenangan, Medali, Universitas dan semua keberuntungan seperti bertubi-tubi menghampiriku.


Sampai di belakang sekolah di Mushola aku pandangi tempat biasa aku menaruh sepatu saat akan mengambil wudhu untuk sholat, baik sholat dhuhur maupun kadang kadang sholat asar, jika aku ada kegiatan sampai sore hari.


Aku duduk di lantai terasnya, terdiam sesaat. Aku akan meninggalkan tempat ini.


Sayup-sayup kudengar suara langkah sepatu menghampiri aku bergegas berdiri untuk segera pergi. Tetapi ada sebuah suara memanggil membuatku berhenti.


"Tunggu" asal suara itu


Aku menoleh untuk melihat dan setelah tahu siapa pemilik suara itu aku membalikkan badan lagi.


"Ini hari terakhir kita bertemu, aku pasti akan rindu senyummu, tawamu, dan aku tahu kamu juga demikian," Kata Rinto, memulai pembicaraan.


"Sok tahu kamu," jawabku berusaha menyembunyikan perasaan ku.


"Kamu jangan bohong, jangan ingkari perasaan mu, jujur lah setidaknya pada dirimu sendiri" Ucap Rinto lagi.


Aku hanya terdiam tidak tahu harus bicara apa. karena sejujurnya semua yang dikatakan oleh nya adalah benar.


Bayang-bayang Rinto selalu hadir bahkan saat ini pun aku lagi mengejar bayang-bayang nya di setiap sudut sekolah.


"Tidak apa-apa, aku mohon kamu bersabar sampai saat itu tiba, kita raih dulu cita-cita kita dan saat waktunya tiba aku akan datang, kosongkan hatimu hanya untukku, aku mohon" kata dia lagi.

__ADS_1


"Aku...." belum selesai aku meneruskan kata-kata dia langsung menyodorkan sebuah amplop.


"Bacalah saat kamu sudah dirumah, dan tunggu aku ya," kata dia lagi.


"Aku mencintai mu dalam diam, karena mencintai dalam diam ada seribu doa yang dipanjatkan." kata dia lagi sebelum dia pergi meninggalkan halaman mushola.


Sedangkan aku hanya terpaku tanpa tahu harus berkata apa. Aku biarkan dia pergi dan tanpa sengaja aku terus memandangi punggungnya sampai menghilang di belokan samping kelas.


aku masih terpaku disana sampai sebuah suara dibarengi tepukan mendarat di bahuku."


"Hai, ngelamun disini kamu rupanya?" suara Rani mengejutkan ku, Sambil aku merangksekkan amplop yang tadi diberikan Rinto padaku.


"Hehhh,,,, kaget,, ada apa?" tanyaku


"Kamu menghilang begitu saja, aku pikir kamu sudah pulang, ayo aku lapar kita makan yuk, sekarang sudah tidak mengantri," seloroh Rani sambil menggandeng tanganku.


Aku menurut saja ajakan Rani. Aku mengambil nasi sedikit sepotong ayam dan sayur.


"Selesai kan makan mu dulu baru bercerita, lihat kamu makan belepotan" kataku.


"Hi hi hi,,,,, Fira hari ini kan hari terakhir kita ketemu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama" katanya lagi.


"Ya sudah kita pulangnya sore aja, lagi pula aku belum berniat berkemas dari kost kok" jawabku.


"Ok, gimana kalau malam ini aku nginep di kost kamu," celoteh Rani.


"Ok,, aku seneng banget, kita bisa puas bercerita sampai larut" jawabku dengan senyum mengembang.


Kemudian kita menepukkan telapak tangan masing masing-masing.


"Tos" kata kami bersamaan.


Selesai makan masih ada sesi foto bersama, semua siswa enam kelas masing-masing kelas ada sekitar 40 siswa. Kami berjejer dibagi 3 sap, sap pertama jongkok, sap kedua duduk dan sap ketiga berdiri. Bisa dibayangkan betapa sesak itu tempat nya. Ada juga yang foto bareng sahabat masing-masing.

__ADS_1


Terakhir kami saling coret baju, itu khas lulusan anak SMA. Sungguh sangat meriah setiap acara kelulusan setiap tahunnya. Dan paling repot adalah panitia, Panitia diambil dari anak OSIS dan dibantu dari perwakilan masing-masing kelas dari kelas satu dan dua.


Sampai akhirnya ke acara pembagian ijazah. Inilah sesi terakhir acara hari ini, kami benar-benar telah selesai sekolah disini.


Jam belum menunjukan waktu shalat dhuhur. Dan benar saja aku dan Rani dan beberapa teman masih saling duduk di bangku taman, ada yang masih ngobrol sambil makan cemilan ada juga yang sekedar menunggu jemputan. Ada yang langsung pulang.


Aku dan Rani masih duduk dibawah pohon tempat favorit kami. Sambil bercerita dan menyaksikan anak panitia yang sedang sibuk, ada yang membenahi panggung, kursi dan membersihkan sampah yang berserakan.


Ada juga yang membantu mengangkat catering sisa makan tadi.


Ini adalah pemandangan terakhir kami.


Saat adzan dhuhur tiba, aku dan Rani memutuskan pulang.


"Fira kita pulang yuk, aku izin dulu sama Ibu untuk nginap di kost kamu ya" kata Rani, sambil kita berjalan beriringan kedepan pintu gerbang sekolah.


"Baiklah, aku tunggu di kost ya, sambil bantuin aku berbenah barang-barang" kataku sambil terkekeh.


"Huuuu,,, maunya,,, siap komandan." jawab Rani sambil sikap hormat.


Aku terkekeh saja melihat tingkahnya.


Kami berpisah didepan pintu gerbang, dengan bergegas aku melangkah pulang ke kost, karena hari sudah siang.


Sampai di kost, aku langsung buka sepatu masuk kamar, letakkan map berisi ijazah yang baru saja aku ambil tadi, berganti pakaian dan ambil wudhu untuk sholat dhuhur.


Aku makan seadanya sambil membuka lembar demi lembar nilai. Tiba-tiba aku teringat kalau tadi Rinto memberikan sebuah surat untukku. Aku cari-cari disaku, kok tidak ada seperti nya tadi aku masukkan kedalam saku rok ku.


Bolak balik aku masukkan tangan ke dalam saku. Sampai akhirnya aku menemukan surat itu dalam keadaan lecek karena tadi terburu-buru takut ketahuan Rani.


Aku sobek ujung amplopnya dan aku mulai membuka dengan hati berdebar-debar.


"Apaan sih pake surat-surat an segala bikin jantungan aja" Gerutu ku senang, sambil tersenyum kalau bisa dilihat pasti pipiku merah.

__ADS_1


__ADS_2