
Sesampainya di Perpustakaan aku lihat Pak Gani, Dia petugas perpustakaan yang baru saja membuka pintu perpustakaan.
"Selamat pagi Pak Gani" sapaku
"Pagi Fira, mau ke Perpus?" tanyanya.
"Iya Pak, sudah bolehkan?" tanyaku sambil tersenyum.
"Oooo ya boleh lah!" masuklah.
Aku kemudian masuk sambil melempar senyum kepada Pak Gani, Pak Gani kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Sejurus aku berjalan ke rak Buku yang paling kiri, aku lihat buku buku berjajar. Tangan ku meraih sebuah buku kumpulan soal matematika, dan Panduan Sukses Olimpiade Saint.
Aku mengambil duduk pojok, yang aku rasa paling nyaman, Aku buka buku satu persatu, aku perhatikan lembar demi lembar, setiap soal yang aku lihat aku baca dengan teliti.
Waktu masih tiga puluh menit, lumayan buat buka beberapa lembar.
Saking seriusnya aku tidak melihat sepasang mata yang memperhatikan aku dari jauh.
***
Fira, kamu memang hebat, kamu tidak pernah menyerah, aku semakin tergila gila padamu, aku sungguh tidak mampu menahan rasa ini lebih lama lagi. Rinto terus duduk beberapa jarak dari tempat Fira duduk. Dia terus bermain dengan buku yang dipegangnya tanpa membacanya, Pikiran dan matanya terus saja memperhatikan Fira yang masih serius dengan bukunya.
" Ya Tuhan, jagalah dia untukku, sampai saatnya nanti akan tiba" Doa Rinto dalam hati.
Kalau bisa aku akan dekap kamu erat tidak akan aku lepaskan walau sedetik. Pesonamu membuatku semakin mencintai mu.
Begitulah Rinto terus saja bermain dengan pikiran nya. Sampai sampai dia tidak melihat temannya datang,
"Hei, ngelamun lo?" kejut Andi sambil menepuk pundak Rinto.
Sambil terkaget Rinto cuma menoleh sambil menggelengkan kepala.
Kemudian Andi mengedipkan mata sambil menuju ke arah Fira,
"Dia makin mempesona ya, katanya sambil berbisik, bisa bisa aku akan tembak dia nih, Semakin hari semakin cantik, makin ada aura yang tidak dimiliki gadis lain. Bahkan gadis yang paling populer pun kalah sama dia sekarang," seloroh Andi sambil wajah nya berekspresi melamunkan Fira.
"Itu tidak akan terjadi aku tidak akan membiarkan kamu merebut hatinya" ucap Rinto sambil mengacungkan jarinya ke Andi.
"Weleh,,, ada yang marah nih, aku tahu kamu mencintai nya kenapa tidak pacari dia" kata Andi.
"Tidak mudah mendekati dia," jawab Rinto sambil menatap mata kosong.
__ADS_1
"Tahu apa kamu, udah ah jangan ngaco" lanjut Rinto.
Sambil kembali melihat buku yang dipegangnya, yang sejak tadi pun dia tidak membacanya.
***
Bersamaan dengan itu bel sekolah berbunyi, murid murid langsung berhamburan masuk kekelas masing masing. Tidak terkecuali Fira, dia langsung mengembalikan buku yang diambilnya kemudian bergegas masuk kelas.
Di kelas semua sudah duduk ditempat masing masing-masing, sampai Bu Lina Guru Geografi datang.
"Pagi anak anak" sapa Bu Lina
"Selamat Pagi Bu" jawab kami serentak.
"Hari ini ibu ada keperluan keluar sekolah, jadi ibu hanya memberi tugas kepada kalian saja," kata Bu Lina.
"Hore...." sorak anak anak gembira.
"Jangan senang dulu saya mau tugas hari ini langsung selesai dan dikumpulkan" kata Bu Lina lagi.
"Huuuu..." suara anak anak hampir serentak.
Kemudian Bu Lina menuliskan tugas dipapan tulis dan kemudian beliau keluar kelas.
Aku dan Rani langsung mengerjakan tugas dengan serius, aku berharap tugas cepat selesai agar bisa langsung mengerjakan beberapa soal latihan Matematika lagi.
"Hem" sahutku
"Gimana Rinto?" tanyanya membuat aku kaget dan sempat menghentikan kegiatan ku mengerjakan tugas.
"Gimana apanya? dia baik baik saja kan?" tanyaku lagi berpura pura tidak mengerti arah pertanyaan nya.
"Jangan berlagak pilon, aku tahu kamu memendam perasaan untuk nya kan?" tanya Rani.
Aku meletakkan pulpen ku kemudian menghadap kearah nya.
"Rani, perasaan ku padanya adalah perasaan seorang teman, tidak lebih" kataku berpura-pura.
"Aku tahu kamu bohong, aku sudah kenal kamu Fira, aku tahu kapan kamu jujur dan kapan kamu menyembunyikan sesuatu" katanya lagi.
"Sudahlah itu tidak penting" jawabku asal harapku Rani cepet diam.
"Pupuklah cintamu karena aku juga melihat binar cinta dimata Rinto saat memandangmu" kata Rani.
__ADS_1
Aku langsung terdiam, "binar cinta dimatanya? benarkah? aku tidak menyadarinya" kataku dalam hati
Tidak terasa sudah beberapa mata pelajaran yang kami ikuti hari ini. Tiba sudah waktunya pulang, menit menit terakhir pulang sekolah adalah waktu yang lama. Karena kami sudah lelah.
Bel pulang berbunyi,
"Huhhh...." sambil meregangkan otot badan aku melenguh.
Aku rapikan buku-buku dan melangkah ke Mushola belakang sekolah, untuk sholat dhuhur, aku akan mengikuti pelajaran tambahan Matematika untuk pemantapan materi sebelum aku berangkat ke ajang olimpiade saint. Sementara Rani langsung pulang seperti biasa dia dijemput ayahnya di depan sekolah. Ayah nya memang sangat protektif padanya.
Aku lepas sepatu hendak mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan kewajiban ku pada Rabb ku.
Selesai semua aku hendak melangkah ke perpustakaan karena tidak banyak orang maka pelajaran diadakan di perpustakaan supaya lebih mudah saat akan mengambil buku buku untuk referensi.
Tiba tiba langkahku terhenti karena aku merasa ada orang yang menghalangi jalanku.
Aku mendongakkan kepala, aku merasa orang itu terlalu tinggi sehingga aku harus mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.
Dan ternyata dia adalah Rinto, Karena postur tubuh Rinto yang tinggi dan atletis, dengan wajah yang tampan siapa saja yang melihatnya pasti akan tertarik padanya. Tetapi aku selalu mengambil jarak darinya aku tidak mau bermasalah lagi dengan Gadis. Aku langsung menghindar untuk mengambil jalan lain.
"Tunggu" suara Rinto mengejutkan aku.
Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh.
"Jangan kau buka hatimu untuk siapapun, aku tahu saat ini belum tepat dan aku akan menunggu sampai waktunya tiba, aku yakin dihatimu ada aku," kata dia.
"Cinta terindah antara dua insan yang belum halal adalah saling mendoakan dalam diam tanpa saling mengetahui. Dan aku akan tunggu sampai waktu yang kau janjikan." kataku sambil menunduk, dengan suara yang tertahan karena gemetar dan gugup.
Aku berlalu meninggalkan Rinto dengan perasaan yang tidak karuan antara bahagia, malu bercampur dengan harapan.
"Ya Allah perasaan apa ini,.kenapa hatiku merasa berbunga bunga, mendengar semua perkataan Rinto tadi, dan jawaban yang aku ucapkan tadi seperti aku tidak menyadarinya." batinku.
Aku langsung menuju toilet, aku basuh wajahku di wastafel aku rasa ada hawa hangat menjalar di wajahku dengan pipi yang memerah. Aku bercermin, aku tersenyum bahagia, "seperti inikah rasanya jatuh cinta". Bisikku dalam hati.
Sementara Rinto memandang punggung Fira yang ditutup hijabnya yang tergerai, dan sudah berlalu pergi setelah mengucapkan kata kata yang sangat membuat Rinto bahagia.
"Benarkah yang dia ucapkan tadi, Cinta dalam diam, jadi benar dia juga mencintai ku, benar dia akan menunggu ku." Gumamnya seperti tidak percaya. Kata kata Fira seperti terus terngiang dalam ingatan nya.
Dia seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Pikiran dan hatinya dipenuhi oleh bayang bayang Fira.
***
Waktu menunjukan pukul 15.30.
__ADS_1
Begitulah setiap harinya Fira harus lalui, demi estafet mengejar pelajaran untuk persiapan Olimpiade Sains.
Untuk sebagian anak yang kecerdasan nya biasa saja, ini akan melelahkan dan membuat pusing. Tetapi tidak bagi Fira, kegiatan ini sangat menantang, dan menyenangkan, dia tidak berhenti untuk memecahkan setiap soal yang sulit. Justru itu membuat nya tertantang untuk menyelesaikan, dan baru merasa puas setelah mampu menyelesaikan dengan sempurna.