Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 24. Maaf


__ADS_3

Nasi bungkus aku taruh diatas piring, aku panggil Paman dan Rio.


"Paman mari makan," kataku.


Kemudian Paman mencuci tangan dan menerima nasi yang aku sodorkan.


"Terimakasih Fira," kata Paman


Aku cuma tersenyum dan mengangguk, sementara Rio meraih satu bungkus kemudian membaginya menjadi dua.


"Kenapa dibagi?" tanyaku.


"Ini yang separo aku suapin untuk Ibu kak, Ibu tidak akan habis kalau semuanya, nanti yang separo aku yang makan" kata nya menjelaskan.


Aku mengangguk,


"Ya Allah sungguh kamu anak berbakti Rio, anak seumuran kamu sudah sangat melayani ibunya, kalau anak lain mungkin akan malu memiliki seorang ibu yang sakit seperti ini!" Pikirku sambil tidak terasa menetes air mata ini.


Lama aku melamun sampai Rio mengejutkan aku setelah selesai menyuapi Bibi.


"Kaka, kok nggak dimakan nasinya ?" tanya Rio menunjuk nasi bungkus satu lagi.


"Ahhh kamu mengejutkan Kaka saja, Ini buat kamu, Kaka tadi beli bubur lodeh, sudah lama tidak makan bubur lodeh jadi kangen." kataku sambil menunjukan satu kantong lagi isinya bubur lodeh.


Kemudian aku lihat Rio memakan nasi sisa ibunya yang tidak habis dan mencampurkan separo nasi bungkus yang tadi. Aku hanya memandanginya heran dia tidak merasa geli memakan bekas ibunya.


"Ya Allah mulia sekali hati anak ini." kembali pikiran ku melayang.


"Ayo makan, jangan bengong aja!" kata Rio.


"Ehhh iya." kemudian aku membuka bungkusan bubur kemudian plastik sayur lodeh nya kemudian aku tuang kebubur.


"Rio, apa kamu melakukan ini setiap hari?" tanyaku disela-sela kami makan.


"Iya kak, siapa lagi, Bapak sudah capek setiap hari kerja" kata dia.


"Kalau kamu sekolah gimana?" tanyaku.


"Kalau aku sekolah biasanya, aku bilang pelan-pelan ke ibu, kalau Rio mau sekolah Bu, tunggu Rio pulang ya, jangan marah, sambil aku kasi tasbih sama mainan supaya dihitung, biasanya ibu akan tenang sampai aku pulang. Kalau aku nemuin ibu sambil pake seragam biasanya beliau mengerti." Rio menjelaskan.


"Ya Allah, yang kuat ya Rio" kataku sambil mataku berkaca-kaca.


"Iya kak, sudah takdir Rio, mau bagaimana lagi" ucapnya sambil menahan kesedihan.


Suara sepeda motor menggema di halaman depan. Spontan aku melihat kedepan dan aku lihat Ibu ku sedang turun dari motor sedang membayar ke tukang ojek.


Dengan tentengan kardus ditangannya, Rio berlari menyambutnya mencium tangan Ibu kemudian mengambil kardus di tangan Ibu dan menjunjungnya ke dalam rumah.


Aku berlari menyambut tangan Ibu dan menciumnya takzim.

__ADS_1


"Ibu" kataku sambil memeluk dan bergelayut dipundaknya.


"Iya, kamu sudah sampai?" tanyanya.


"Iya tadi pagi-pagi dari kost langsung kerumah, tapi barang-barang ku belum diberesi tadi aku langsung ke rumah bibi." kataku.


Kemudian aku dan Ibu berjalan beriringan masuk kedalam rumah Paman.


Ibu langsung menerobos ke dapur. Mencari Bibi, tetapi dia hanya mendapati Rio yang sedang bebenah didapur.


"Rio, Ibu mu mana?" tanya Ibu.


"Emm, Ibu didalam kamar Wa," kata Rio.


"Ngapain siang begini Ibumu didalam kamar, pasti lagi ngelus-ngelus perhiasannya ya?" tanya ibu


"Ibu sakit Wa," jawab Rio.


"Sakit, sakit apa?" tanya ibu lagi.


Aku dengan sigap segera memeluk pundak ibu dan menuntunnya menjauh dari Rio, kemudian aku menjelaskan semua yang terjadi pada Bibi.


Ibu terperangah mendengar penjelasan ku. Beliau langsung meneteskan air mata, dengan sedihnya.


"Ya Allah, kasihan Karta dan Nani." sambil mengusap air matanya.


Kemudian kami mendekati Rio yang masih sibuk didapur membereskan piring kotor di cucian piring.


" Kamu yang sabar ya!" kata Ibu.


Rio, sepontan memeluk Ibu dengan kencang sambil menangis sejadi jadinya, air mata kesedihan yang selama ini dia tahan, dia harus kelihatan kuat dan tegar dihadapan ibu dan ayahnya. Sekarang dia bisa bernafas lega dan mencurahkan segala beban yang selama ini dipendamnya sendiri.


Ibu balik memeluknya, mengelus kepalanya,


"Anak baik, anak Sholeh, kamu harus kuat, menangis lah kalau itu bisa meringankan bebanmu." ucap ibu dengan lembut


Rio masih sesenggukan dipelukan Ibu. sampai akhirnya dia membuka pelukannya, dan menatap Ibu.


"Uwa, sudah tahu kan semua ceritanya, beginilah sekarang keadaan kami Wa, kami meminta maaf kepada Uwa dan juga kak Fira, atas semua perlakuan kami pada kalian dulu, kami sungguh malu kalau mengingat semuanya, tetapi kalian tidak membenci kami, Terimakasih!." ucap Rio terbata-bata.


"Tidak ada kebencian karena kita adalah saudara sampai kapanpun kita tetap saudara" kata Ibuku lagi.


Kemudian Ibu menegakkan badan Rio yang tertunduk,


"Kamu harus semangat, harus menjadi sosok kuat kamulah satu-satunya harapan keluarga. Belajar yang rajin dan selalu semangat." kata ibu menguatkan Rio.


Aku terharu melihat pemandangan semua itu. Tiba-tiba Paman datang setelah melaksanakan shalat dhuhur, melihat Ibu, Paman langsung menghambur ke pelukan Ibu dan berlutut dikaki Ibu.


"Maafkan aku Mba," katanya sambil menangis dan memeluk lutut Ibu.

__ADS_1


"Bangunlah, tidak perlu seperti ini" kata Ibu sambil memegang bahu Paman dan menggiring nya berdiri.


"Maafkan aku dan keluargaku, selama ini telah berbuat dholim terhadap Mba, dan Fira" kata Paman lagi.


"Syukurlah kamu sudah sadar, aku sudah memaafkan kamu, semua sudah menjadi garis takdir yang harus dijalani, sekarang bersabarlah" Kata Ibuku lagi.


"Terimakasih Mba," kata Paman lagi.


"Boleh aku lihat Nani" tanya Ibu.


"Boleh Mba, ayo aku antar" kata Paman.


Ibu dan Paman berjalan beriringan menuju kamar Bibi,


Sementara aku dan Rio sibuk membereskan barang bawaan Ibu. Ada oleh-oleh makanan dan beberapa botol minuman kemasan.


Nggak berapa lama Ibu dan Paman keluar dari kamar Bibi.


"Terus apa rencana mu terhadap Nani?" tanya Ibu.


"Entahlah Mba, mungkin kami akan merawatnya seperti ini saja," kata Paman.


"Apa tidak sebaiknya Nani kita bawa berobat, ke RS khusus gangguan jiwa" usul Ibu.


"Iya Mba, tapi kami tidak punya biaya, gajiku sebagai kuli hanya cukup untuk biaya makan dan sekolah Rio, aku nggak mau Rio putus sekolah" jawab Paman sedih.


"Hmmmm, iya ya." kata Ibu ku sambil mengangguk.


"Sudah lah, Mba kan baru sampai sebaiknya istirahat dulu," Kata Paman lagi.


"Iya." jawab Ibu.


Akhirnya aku dan Ibu pulang ke rumah. Melihat kardus yang masih ditumpuk di ruang tamu, karena memang aku tadi begitu sampai belum sempat membereskan nya.


"Fira, barang mu banyak sekali" tanya Ibu


"Iya Bu, aku kan tiga tahun tinggal di kost udah pasti banyak lah.!" kataku sambil bergelayut dilengan Ibu.


"Ayo dibereskan, masukkan ke kamar mu dulu saja, besok bereskan nya kalau masih capek." kata Ibuku lagi.


"Iya Bu, aku sih nggak capek, Ibu mungkin yang capek karena baru dari perjalanan jauh." ucapku pada Ibu.


Kemudian aku mengangkat barang-barang ke dalam kamar.


Kemudian sholat dhuhur, dan mulai membuka semua kardus-kardus itu, dan menyusunnya di lemari.


Buku-buku yang sudah tidak terpakai aku biarkan masih didalam kardus, siapa tahu ada yang bisa dimanfaatkan Rio.


***Terimakasih kepada pembaca yang masih setia dan selalu menunggu kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


Komentarnya ditunggu ya***.


__ADS_2