
***
Jauh disana dikampung Fira, Paman Fira sedang kelabakan karena beberapa orang dengan badan besar sedang menggedor-gedor pintu rumah.
Mereka ada 4 orang yang tiga bertubuh tambun seperti body guard dan yang satu seperti juragan yang mengenakan kalung emas dan jam tangan besar.
Wajah mereka seperti menyimpan kemarahan yang besar.
"Karta, karta, buka pintunya, dalam hitungan tiga kalau tidak dibuka, aku dobrak" suara seseorang diluar pintu.
Sementara didalam rumah Karta dan Nani sedang gemetar ketakutan, kebingungan apakah harus membuka pintu atau membiarkan nya, jika membiarkan mereka pasti akan mendobrak pintu itu. Karena ini sudah kesekian kalinya mereka datang kesini.
Diantara kebingungan akhirnya Karta memilih membuka pintu.
Ngekkkkkk, suara pintu dibuka.
"Hemmmm, akhirnya kamu tidak bisa mengelak lagi, kapan kamu bayar hutang?" tanya Bang Nadim menggelegar.
"Ehh anu ehhh iya juragan" suara Karta terbata-bata.
"Ehhh nanti Juragan kalau saya sudah punya uang," kata Karta lagi.
"Kapan ?" tanya juragan Nadim.
"Sudah enam bulan kamu berhutang, kamu bilang enam bulan saat jatuh tempo kamu akan bayar, tetapi ini sudah lebih dari enam bulan kenapa belum ada kabar berita nya?" lanjut Juragan Nadim.
"Maaf juragan berikan saya waktu beberapa bulan lagi, panen saya gagal, uang modal yang saya tanamkan belum kembali, jadi saya minta perpanjangan waktu." kata paman dengan ketakutan.
"Perpanjangan waktu katamu, ckckck... " kata Nadim sambil menggeleng kepala.
"Tidak bisa Karta, uang itu harus saya putar untuk modal yang lain" kata Juragan Nadim.
"Uang 100 juta bukan sedikit, sesuai kesepakatan harus kembali 125 juta dalam bulan ke tujuh". Kata Juragan Nadim.
"Apa kamu mau, aku ambil semua aset kamu?" lanjut Juragan Nadim.
"Tidak juragan, berikan saya waktu saya akan menjual aset aset tersebut". permintaan Karta dengan memelas.
"Baiklah, saya masih berbaik hati, akan saya berikan waktu satu bulan untuk menjual asetmu" kata Juragan Nadim.
"Tetapi kalau tidak maka aku akan sita semua nya tanpa terkecuali" kata Nadim sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Karta.
__ADS_1
"Terimakasih juragan," kata Karta dengan lega.
Kemudian mereka pergi meninggalkan rumah Karta.
Sementara didalam rumah, Nani, istri Karta, menangis, "Pak apa kita akan kehilangan semua nya, mobil, tanah, gudang, aku tidak mau hidup miskin Pak" rengek Nani.
"Tidak ada jalan lain Bu, kita harus menjual semuanya, kalau pun tidak kita jual juragan Nadim pasti akan mengambil nya karena itu memang jaminan saat kita pinjam uang." kata Karta.
Tentu ini akan berat buat Nani dan juga Bunga anaknya, karena mereka sudah biasa hidup gelamour. Akan sulit buat mereka untuk meninggalkannya.
"Tapi kita mau kemana setelah itu?, kata Nani lagi, dengan nada tinggi menahan kemarahannya.
"Aku tidak tahu" jawab Karta sambil mengacak rambutnya kasar.
Apa kalau itu dijual semua bisa menutup semua hutang. Itulah yang ada di pikiran Karta.
"Semoga saja bisa" batin Karta berharap.
Mereka kebingungan karena untuk nilai uang sebegitu besar buat ukuran dikampung, kalaupun mereka menjual semua aset mereka belum tentu bisa mencukupi karena harga tanah yang masih murah disana.
Setelah kesana kemari mencari pembeli yang dapat membeli seluruh aset mereka dengan layak, akhirnya mereka bertemu dengan Pak Wira. Dia adalah orang dari kota yang memang sedang mencari tanah-tanah yang masih murah di perkampungan, sedianya akan digunakan untuk investasi.
Dengan harga yang masih pantas Pak Wira membeli seluruh kekayaan Karta.
Hanya tersisa rumah yang sekarang ditempati mereka.
Karta menuju rumah Nadim akan melunasi hutangnya.
Di depan rumah yang besar halaman yang luas dia menginjakkan kakinya. Dia disambut oleh anak buah Nadim dengan kaos hitam lengan ketat dan rambut gondrong.
"Hmmm Karta karta, aku berharap kedatangan kamu kesini membawa kabar baik" sapa Juragan Nadim.
"Iya Juragan, saya akan membayar lunas semua hutang-hutang saya" kata Karta.
"Bagus, tidak perlu ada pertumpahan darah kan" kata Nadim lagi dengan wajah bengis.
Karta menyerahkan tas berisi uang 125 juta kepada Nadim.
"Berapa ini" tanya Nadim.
"125 juta seperti kesepakatan, " kata Karta.
__ADS_1
"Karta, karta kamu tidak pandai berbisnis, 125 juta itu bulan kemarin tetapi karena ini sudah molor menjadi 7 bulan makanya sekarang tambah 10 juta menjadi 135 juta" kata Nadim dengan senyum penuh kemenangan.
"Haaaa" Karta melongo.
"Huh , mana bisa begitu," kata Karta protes.
"Bisa, disini hukum saya yang tentukan, bayar atau babak belur" ucap Nadim lagi.
Dengan terpaksa Karta merogoh kantongnya yang memang masih sisa 10 juta. kemudian diserahkan kepada Nadim.
"Dasar rentenir" Gerutu Karta dalam hati.
Dia pulang dengan tangan hampa, yang tadinya masih ada harapan uang 10 juta itu untuk modal. Kini sudah habis semua.
Dengan langkah gontai dia masuk kerumah, menemui Nani.
Nani marah besar karena sedianya dia ingin meminta uang itu untuk bersenang senang. Tetapi apa daya yang itu sudah diambil semua oleh Nadim. Mereka kini hidup dengan serba kekurangan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Karta menjadi buruh tani. Apa daya tanah garapan sudah tidak ada lagi.
Bunga anak nya menjadi uring-uringan karena mereka yang dulu biasa hidup enak sekarang harus serba berhemat.
Dia menjadi anak yang semakin berandal, untuk memenuhi naluri haus akan kemewahan dia rela menjadi pacar om om kaya untuk mendapatkan uang.
Sementara Nani setiap hari kerjanya marah-marah dan terus menyalahkan suaminya. Jangankan untuk membantu Karta bekerja, sekedar untuk menyiapkan makanan suaminya setelah lelah bekerja saja dia sudah enggan.
Sedangkan Rio lebih memahami dan mengerti keadaan orang tuanya. Dia tidak segan segan untuk ikut membantu Paman bekerja di ladang tetangga supaya juga mendapatkan upah.
Hanya Rio yang bisa membantu Ayahnya. Sambil sekolah dia tidak segan membantu kawan-kawannya mengerjakan tugas sekolah hanya untuk mendapatkan sedikit uang jajan
Begitulah akhir dari sebuah keserakahan, mereka kini harus rela hidup sangat sederhana.
***
Sudah akhir semester genap sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional.
Pagi ini Fira bangun lebih pagi karena dia harus mempersiapkan diri untuk mengikuti beberapa seleksi masuk perguruan tinggi.
Dia sudah sangat antusias mengikuti tes ini. Begitu semangat nya Fira mempersiapkan diri.
Tahap demi tahap dia ikuti, sampai akhirnya dia bisa lolos masuk di salah satu perguruan tinggi terbaik di kota Surabaya.
__ADS_1
Dan fakultas yang dia pilih adalah Fakultas Kedokteran. Sesuai harapan dan keinginan nya, dia ingin mendongkrak segala kekecewaan nya kepada ayahnya. Sakit hati pada masa lalunya membuatnya menjadi sosok yang kuat dan mandiri. Segala rintangan dia hadapi dengan kepercayaan diri yang kuat.