Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 27. kenyataan 2


__ADS_3

Kemudian Aku tiba-tiba muncul dan memanggil,


"Ibu," suaraku.


"Iya," jawab sambil menoleh.


Merasa aku mendengar percakapan Ibuku dengan wanita itu, kemudian menyuruh wanita paruh baya yang sedang bersama nya didapur untuk pergi.


"Ibu bisa jelaskan semua ini? kata Ibu, ibu adalah ART, tapi ini apa ibu? Nyonya? dan supir itu? siapa ini ? dan kenapa ini?" ucap Fira sambil kebingungan.


"Ayo kita ke kamar" kata Ibu sambil mematikan kompor dan menggandeng tanganku kekamar.


Aku ditarik Ibu ke kamar, aku hanya menurut saja.


Sampai di kamar, kami masuk dan Ibu menutup pintu, kemudian berbalik badan ke arahku.


"Begini, sebelum nya Ibu minta maaf, karena ibu tidak jujur sama kamu." kata Ibu lembut.


"Kenapa Bu? ada apa? jangan buat Fira bingung?" kataku.


"Ibu sebenarnya sudah menikah lagi." kata. Ibu membuatku kaget.


Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa, sedih dan cemburu, aku merasa dinomor duakan Ibuku, aku tidak mau, aku tidak mau ada orang lain dalam hidup Ibuku selain aku.


Aku merasa Ibuku tidak sayang padaku karena Ibu butuh orang lain dalam hidupnya, orang yang tidak aku kenal.


Selama ini aku merasa Ibu sudah cukup bahagia seperti ini, hidup hanya berdua denganku tetapi ternyata Ibu butuh orang lain juga. Pikiran ku berkecamuk.


"Kamu marah?, Ibu tahu kamu tidak suka Ibu melakukan ini, tetapi Ibu punya alasan yang Ibu juga tidak bisa mengelak lagi." kata Ibu menjelaskan.


Aku hanya terdiam, Aku mencoba untuk menjernihkan pikiran.


"Ibu menikah enam bulan lalu, waktu itu ibu tidak sengaja ditelepon oleh Lek Warni, tetangga kita dikampung. Lek Warni cerita kalau Paman sedang terlilit hutang dan terancam bangkrut, sehingga membuat Paman harus menjual tanah peninggalan kakek dan ruko yang dulu diambil dari kita. Ibu kaget dan bingung, karena sebenarnya amanah dari kakek tanah tersebut tidak boleh dijual, apapun yang terjadi, karena tanah itu didapat kakek dari kerja kerasnya selama hidup. Kata kakek hanya boleh dimanfaatkan untuk wakaf atau diberikan pada cucunya, atau untuk apa saja asal jangan dijual. Begitulah pesan kakek." kata Ibu menjelaskan sambil menatap aku.

__ADS_1


"Terus hubungannya sama semua ini apa?" tanyaku.


Aku masih belum sanggup untuk menyebut pernikahan Ibu. Hatiku perih aku merasa tersisih.


"Kemudian Ibu meminjam uang pada Pak Wira majikan Ibu, tetapi dia mau memberikan dengan syarat Ibu harus menikah dengannya menjadi istri ke dua sekaligus istri sirinya!" jelas Ibu.


Duarrrrrrr suara di kepalaku, bagai disambar petir.


Istri ke dua dan siri. Ya Allah jadi Ibu jadi istri simpanan, makin tidak percaya aku makin membuatku benci dengan semua ini. Ingin aku rasanya menyalahkan Ibu. Tetapi aku juga tidak berani takut dosa. Aku hanya terdiam tidak berkata apa-apa.


"Ibu bingung harus berbuat apa, antara menyelamatkan warisan keluarga dengan menerima syarat dari Pak Wira, atau melepaskan semua amanah kakek. Desakan untuk mengambil keputusan semakin dekat. Akhirnya Ibu menyetujui semua permintaan Pak Wira, tanpa sepengetahuan istrinya kami menikah secara siri dan kemudian Pak Wira membeli semua tanah Paman dan mengatasnamakan itu dengan nama Ibu. Ibu lega amanah kakek masih tetap bisa Ibu pertahankan, tetapi Ibu juga sedih karena Ibu harus menjadi orang ketiga dan Ibu belum memberitahumu, Ibu memutuskan untuk memberitahu kamu saat kamu sudah lulus dan mungkin inilah saat nya." ibu menjelaskan sambil menangis.


"Maafkan Ibu Nak, kalau Ibu salah ambil keputusan ini dan Ibu tidak sempat berdiskusi dengan kamu!" ucap Ibu lirih.


Aku mundur beberapa langkah saat Ibu akan meraih kepalaku.


"Ibu jahat, Fira pikir Ibu tidak butuh orang lain selain Fira, setelah apa yang ayah lakukan pada Ibu, laki -laki semua sama pasti akan menyakiti Ibu, apalagi ini Ibu jadi istri ke dua, pasti Ibu akan menderita. Kenapa Ibu lakukan ini?" kataku sambil menangis dan menepis menjauh dari Ibu.


"Fira maafkan Ibu Nak, dengarkan Ibu, ibu lakukan ini karena ada alasannya!" kata Ibu lagi.


"Ibu jahat, aku tidak mau Ibu menikah lagi, aku tidak mau, aku mau hanya kita berdua saja,aku tidak mau." kataku sambil berlari.


Karena lelah lututku tidak mampu berlari lagi , akhirnya kakiku jatuh terduduk di tengah jalan.


Aku mendongakkan wajah melihat sekeliling, sepi aku bangun dan mendudukkan badanku dipinggir jalan. Aku terdiam mencoba menjernihkan pikiran. Aku lihat Kanan kiri, dimana ini ditempat yang asing tidak ada yang aku kenal, hanya sesekali melihat orang lalu lalang tanpa menghiraukan aku.


Hari semakin larut, aku bingung harus kemana aku juga lupa jalan kembali kerumah, aku melihat ternyata sudah jauh aku berjalan hingga Ibu pun tidak mampu mengejar ku.


Pandanganku tertuju pada sebuah mushola kecil, mungkin aku bisa sholat dan numpang istirahat di Mushola itu.


Aku berjalan menuju mushola itu dan masuk kedalam nya, mengambil wudhu kemudian shalat Isya'. Aku lihat sepi hanya ada seorang wanita yang sedang duduk berdzikir di pojokan mushola.


Aku tidak perduli dengan sekeliling, aku sholat dan kemudian aku menangis sesenggukan, aku adukan kegalauanku pada Robbku.

__ADS_1


Lama sampai akhirnya aku tersungkur bersujud masih sambil menangis.


Kemudian aku dikejutkan oleh tangan seseorang menepuk pundakku perlahan.


"Dek,,,, kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu.


Aku kaget kemudian bangun dan menengok


"Iya" sahutku sambil mencoba menghapus dan menyembunyikan tangisku.


Aku lihat wanita itu bercadar, dan mendudukkan badannya di hadapanku.


"Kamu menangis, kamu bersujud sudah hampir satu jam, maafkan Kaka ya mengejutkanmu, tidak apa-apa kan kalau Kaka temani?" kata dia lagi.


Aku hanya mengangguk tidak menjawab.


"Manusia itu dilahirkan di hidupkan dan dimatikan, disela-sela semua itu ada pasang surut, ada suka duka, ada masalah ada bahagia, semua silih berganti. Semua fase itu kita akan mengalaminya." kata dia lagi, mencoba mencairkan suasana.


"Kenalkan nama Kaka Sabrina, kaka tinggal di sebelah mushola ini," sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Aku raih tangan itu dan menyebut nama.


"Fira, aku Fira" kataku memperkenalkan diri.


"Apa boleh kita berteman?" tanya dia lagi.


Aku cuma menganggukkan kepala.


"Kalau Kaka boleh tahu kamu tinggal dimana?" tanyanya kembali.


"Aku nggak tahu!" jawabku.


Aku baru ingat kalau aku nggak tahu dimana aku tinggal.

__ADS_1


"Ya sudah mau mampir ke rumah Kaka yuk?" ajak dia.


Karena bingung harus kemana setelah melarikan diri, aku terima saja ajakan Sabrina. Kelihatan nya dia bukan orang jahat. Kemudian mengikutinya dan masuk kedalam rumahnya.


__ADS_2