Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab. 29. Pernikahan Ibu


__ADS_3

Paginya aku dijemput ibu untuk keluar kamar.


Ibu kenalkan aku dengan Pak Wira, suami nya. Sambil menyantap menu sarapan pagi.


"Mas, ini Fira," kata Ibunya pada Pak Wira


"Hai Fira, saya Pak Wira," sapa Pak Wira dengan ramah.


Fira cuma mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kami pun melanjutkan sarapan, Pak Wira duduk di ujung meja, Ibu di sampinya dan aku di seberang Ibu.


Kami hanya terdiam hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Pak Wira memecah kesunyian.


"Baik Pak." jawab ku singkat tidak ingin berbicara panjang lebar.


"Kamu kuliah yang benar, In syaa Allah Bapak akan membiayai sampai lulus. Jangan kecewakan Ibumu dia sangat berharap kamu sukses kelak." Kata Pak Wira menasehati, sambil melirik Ibu dengan mesranya.


Aku cuma merespon dengan senyuman setiap perkataan an Pak Wira.


Hehhhhh, pengen rasanya aku memaki pada laki-laki ini. Dia manfaatkan kelemahan situasi Ibuku, berlagak sok baik bagaimana pun masih tetap ada rasa benci dalam hati ini pada nya.


Aku tidak tahu situasi rumah tangga nya dengan isteri pertamanya, tetapi apapun alasannya menikahi Ibuku dengan siri adalah sebuah kesalahan dimata ku.


"Bismillah, aku harus berdamai dengan semua ini, rasanya berat ya Allah." keluhku dalam hati.


Akhirnya waktu sarapan selesai aku hanya duduk saja menyaksikan kemesraan suami istri ini, ya Ibuku dengan Pak Wira.


Ibuku mengantarkan Pak Wira Sampai masuk kedalam mobil.


Sementara aku hanya terdiam terpaku di tempat duduk ku.


"Fira," panggil Ibuku dengan lembut sambil menggenggam tangan ku.


"Maaf kan Ibu, kamu sedih ya dengan keadaan ini, tetapi ini jalan Ibu nak, Ibu harap kamu memahami." kata Ibu sambil matanya memelas menatapku.


Aku mengangguk sambil menahan tangis.


"Iya Bu, Fira iklas, Fira akan belajar Iklas, berbagi kasih sayang Ibu dengan kebahagiaan Ibu." kataku menunduk hingga pecah tangisku.


"Fira mau ke kamar Bu!" kataku sambil berlalu.


Aku berlalu kedalam kamar. Liburan yang seharusnya membuat aku bahagia ternyata justru membuat aku harus menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.

__ADS_1


Seminggu terasa sangat lama bersama Ibuku. Entah kenapa aku menjadi tidak nyaman disamping Ibuku. Tetapi karena aku tidak mau mengecewakan Ibuku maka akupun bertahan seperti rencana semula.


Aku mengurung diri dikamar, aku keluar kalau Ibuku memanggil aku untuk makan.


Sudah tiga hari aku dirumah Ibuku, hari-hari aku lalui hanya dengan berdiam diri dikamar. Tiba-tiba aku ingat Sabrina.


Ahhh... rasanya pengen main kerumah Sabrina deh. Bosan dirumah terus, sebenarnya Ibu mengajak aku jalan-jalan untuk mengunjungi mall dikota ini. Tetapi aku menolak nya hatiku masih kecewa dengan Ibu.


Aku pamit ke Ibuku siang ini untuk main ke rumah Sabrina.


Aku diantar Pak Edi, supir Ibu, Ibu tidak mengijinkan aku pergi sendiri. Setelah kami susuri jalan menuju rumah Sabrina sampai juga kami di depan rumahnya.


"Sini saja Pak Edi, biar aku masuk sendiri saja. Pak Edi langsung pulang saja, Aku tidak usah ditunggu." kataku pada Edi.


"Tapi non, Ibu non menyuruh saya untuk nunggu,!" kata dia lagi


"Tidak apa-apa, nanti kalau mau pulang saya telpon Pak Edi?" jawabku.


"Baik Non, saya pulang dulu." katanya lagi.


Aku melangkahkan kaki ku ke halaman rumah Sabrina, Aku lihat rumah sepi, terdengar suara anak-anak yang ramai dari dalam mushola. Aku me longokkan kepala kearah suara


Aku lihat Sabrina lagi mengajar anak-anak mengaji.


Aku duduk menunggu di serambi mushola tidak mau mengganggu nya.


"Assalamualaikum," ucapku memberi salam.


"Waalaikum salam!" jawab Sabrina sambil menoleh ke arahku.


"Hai, Fira, kamu kok ada disitu, sudah lama menunggu? kok nggak panggil saja dari tadi.?" sapa Sabrina.


"Tidak apa-apa, baru dua jam yang lalu, aku tidak mau mengganggumu yang sedang mengajar?" kataku.


"Ahhh, tidak apa-apa, anak-anak sekitar dari pada main keluyuran kakak ajari saja mereka mengaji, Alhamdulillah banyak yang mau!" kata Sabrina sambil menggandeng tanganku menuju rumahnya.


"Ayo kerumah!" ajak dia.


"Ahhh,,, disini saja, lebih adem!" kataku.


Kami mengobrol sambil duduk di serambi mushola.


Bercerita tentang kegiatan kami masing-masing.

__ADS_1


Sampai sore aku dirumah Sabrina, hiburan tersendiri dapat berbicara dan mengobrol dengan teman, walaupun aku tidak menceritakan masalahku padanya. Mendengar cerita nya dan bercerita tentang sekolahku sudah cukup membuatku melupakan masalah di hatiku.


Hari sudah sore,aku pamit pulang pada Sabrina, sebenarnya dia hendak mengantarkan aku pulang tapi aku tolak, aku mau jalan kaki saja, sambil melihat-lihat suasana di sore hari.


Sampai dirumah aku lihat Ibuku sedang membereskan halaman depan. Aku perhatikan beliau dari jauh, Ibuku menyapu halaman, menyiram bunga, menata taman di depan rumah. Walaupun Ibu sudah menjadi nyonya rumah tetapi dia tetap tidak segan untuk melakukan segala pekerjaan rumah.


"Assalamualaikum,!" salam ku pada Ibu.


"Waalaikum salam,!" jawab Ibuku sambil menengok.


"Kok nggak telepon Pak Edi, minta dijemput?" tanya Ibu.


"Tidak apa-apa Bu, pengen jalan saja," jawabku.


Aku menatap mata Ibuku, aku sayang sekali padanya, tetapi terkadang jalan pikiran kita berbeda.


"Bu, maafkan Fira ya, tidak seharusnya Fira membenci pernikahan Ibu,!" kataku pada Ibu.


"Ibu mengerti Nak, butuh proses untuk menerima sesuatu." kata Ibuku lagi.


"Bu, Fira besok mau pulang ya, mau mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Surabaya nanti.!" kataku


"Katamu seminggu, kamu nggak betah ya?" tanya Ibu.


"Bukan Bu, tetapi memang Fira harus fokus pada kuliah Fira,!" kataku menjelaskan.


"Kenapa kamu nggak kuliah disini saja Nak, temani Ibu, Pak Wira kesini seminggu sekali, Ibu sepi, kalau ada kamu kan Ibu jadi ada temannya.?" pinta ibu.


Aku terdiam, sebenarnya berat meninggalkan Ibuku dalam keadaan seperti ini, aku tidak yakin akan kebahagiaan Ibu sebagai isteri ke dua.


"Tapi aku sudah mendaftar disana Bu!" kataku lirih.


"Kan penawaran beasiswa yang di sini juga ada kan?" tanya Ibuku lagi.


"Iya ada sih, tapiiii.."


"Pak Wira,? kamu nggak nyaman ya kalau harus sering bertemu dengannya?" tanya Ibu sebelum aku meneruskan kata-kata ku, Ibu sudah dapat menduganya.


Aku hanya menunduk, tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana pun perasaan Ibuku harus aku jaga.


"Ya sudah kalau itu alasanmu, Ibu tidak bisa mencegah mu, kapan kamu siap-siap?, mari Ibu bantu?" tanya Ibu.


"Tidak apa-apa Bu, aku bisa kok, kan nggak banyak barangku yang aku bawa!" jawabku.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu butuh Ibu, panggil saja ya!". kata Ibu kepadaku sambil kembali meneruskan pekerjaannya.


Aku berjalan menuju kamarku. Didalam kamar, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak tega harus meninggalkan Ibu sendirian.


__ADS_2