
Aku memesan dua mangkok bakso, buat Rani tidak pakai sayur aku tahu kesukaan Rani, setiap makan bakso dia selalu tidak pakai sayur, sedangkan aku komplit dengan sayur dan mi campur. Maklum anak kost jadi komplit tambah banyak jadi kenyang.
Sambil menunggu bakso kami duduk bercerita. Letak bakso Pak Juni bertepatan dengan sebuah masjid di seberang jalan. Dari tempat duduk kami bisa terlihat jelas jamaah masjid yang keluar masuk. Pandangan kami tertuju pada sesosok yang sedang keluar masjid sambil menundukkan pandangannya.
"Eh Fira, bukankah itu Zul, yang waktu itu hendak memperkosa kamu." katanya.
"Sttttt, jangan keras keras" kataku.
Entah kenapa setiap mendengar kata memperkosa membuat aku sangat marah, hatiku pengen meledak rasanya. Kemarahanku selalu saja datang saat kata itu disebut.
"Iya kan, kok dia sudah berubah, pakaian nya dan tempat nya nongkrong juga" kata Rani lagi keheranan.
"Nih neng baksonya," kata Pak Juni.
"Makasih Pak" sahut kami hampir bersamaan.
"Sudah makan dulu nanti dingin," kataku.
Syukurlah bakso Pak Juni menyelamatkan ku dari semua pertanyaan Rani. Aku lagi tidak ingin membahas semua pertanyaan Rani.
"Eh kamu belum jawab soal Zul" kata Rani lagi.
"Dia sudah insaf" jawabku sekenanya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Syukurlah" kata Rani lagi.
Aku langsung bubuhi sambal dan saos.
"Nikmat rasanya makan bakso di cuaca dingin begini". kata Rani.
Aku hanya mengangguk, sambil terus melahap bakso di mangkok ku.
Kotaku memang tidak pernah panas, letaknya yang lebih dekat dengan kaki gunung membuat udara selalu dingin sekali pun sedang musim panas.
Sudah selesai aku bayar, kemudian kami pulang.
Jam sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam.
"Rani kita istirahat yuk, jangan begadang kalau besok pulang dari sini kamu ada mata pandanya kamu pasti kelihatan jelek," kataku pada Rani.
Dia memang paling tidak suka kalau ada noda diwajahnya, ada jerawat satu saja membuat dia kelabakan dengan segala ramuan akan di bubuhi untuk menghilangkannya.
"Ahhh, iya ya, ya sudah kita tidur" dia langsung diam dan memejamkan matanya.
"Akhirnya trik aku untuk membuat Rani tidur berhasil." kataku dalam hati sambil terkekeh.
Sementara aku yang masih belum terpejam pikiran ku melayang membayangkan kelak hari-hari ku di tempat kuliah. Pasti sangat seru, suasana baru, teman baru dan rumah baru lagi.
__ADS_1
"Uaaaaagggg" aku menguap, ngantuk juga aku.
Aku lihat Rani sudah pulas tidurnya, aku membelakanginya kemudian tidak terasa terlelep juga.
Jam Beker menunjukan pukul 6 pagi,
" waduh kesiangan, belum sholat subuh," aku langsung loncat dari kasur kemudian masuk kamar mandi, aku lihat Rani sudah tidak ada ditempat nya.
"Kemana dia pikirku kok nggak bangunin aku ya" lamunanku.
Aku lihat dia sudah berada dihalaman belakan kost, sedang senam pagi.
"Kok nggak banguni aku" tanyaku sambil berlari kekamar mandi. Wudhu kemudian menjalankan shalat subuh.
Selesai shalat aku hampiri dia yang masih asik senam.
"Kok nggak bangunin aku," tanyaku lagi.
"Habis kamu nyenyak banget, ya sudah aku biarin aja". katanya tanpa rasa bersalah.
Aku cuma tertawa.
"Kamu berangkat jam berapa?" tanya Rani.
"Bentar habis sarapan dulu." Jawabku.
"Ahhh kamu mah terlalu melow, biasa aja kali perpisahan ya perpisahan, ya sudah jangan melow begitu" kata Rani sambil tertawa.
"Iya betul juga, tetapi kamu mau nggak?" tanyaku lagi.
"Ya maulah, itukan nasi pecel terenak di kota ini" jawab Rani.
"Ter enak apa ter murah," kataku.
"Termurah yang pasti, ya sudah jadi jalan nggak?" tanya Rani lagi.
"Bentar aku pakai kerudung dulu!" jawabku sambil beranjak kekamar.
Kami menuju nasi pecel Mak Inah, yang tidak jauh dari rumah kost aku.
Aku memesan dua porsi nasi pecel ditambah dengan bakpiah dan tempe goreng. Dengan dua gelas air teh hangat tawar.
Selesai makan kami pulang ke kost mandi kemudian aku mulai mencari angkot untuk disewa, karena barangku banyak tidak mungkin aku naik mobil yang ketengan. Aku putuskan untuk sewa sampai kampung ku.
Setelah dapat angkotnya aku mulai memasukkan barang-barang ke dalam angkot.
Aku pamitan sama Bu Pur. Aku cari-cari beliau ternyata sedang berada di dapur hendak memasak.
__ADS_1
"Bu" Panggilku dari pintu dapur.
Beliau menengok kemudian memandang kearahku.
"Fira pamit ya," kataku
Beliau berjalan ke arahku aku mencium tangannya takzim kemudian memeluknya dengan haru.
"Maafin Fira ya Bu, kalau banyak salah" kataku lagi.
"Sama sama Fira, maafin ibu kalau suka cerewet, semoga kamu sukses kelak, tercapai apa yang kamu cita citakan."kata Bu Pur haru.
"Terimakasih Bu" kami berpelukan.
Kemudian aku meninggalkan dapur Bu Pur dan kembali ke depan menemui Rani.
"Rani, makasih ya untuk persahabatan kita, selama tiga tahun ini kami sudah mau jadi sahabatku, disaat semua teman menyisihiku, kamu tidak demikian, bahkan kamu menolongku mencari pekerjaan dan semuanya."Kataku pada Rani saat kami berpamitan.
"Sudahlah sama-sama, kamu sahabat terbaikku, nilaiku bagus semua juga berkat kamu kan. Kamu yang tidak pelit memberi contekan, kamu juga sabar menerangkan setiap pelajaran yang sulit aku mengerti karena otakku yang bebal, tapi kamu sabar menjelaskan." kata dia mulai berkaca-kaca.
Aku berpelukan dengan Rani dengan erat. sambil berkaca-kaca dan tersenyum yang kami paksakan.
"Salam buat ibumu ya, terimakasih atas bantuan beliau selama ini" kataku pada Rani.
"Iya nanti aku sampein, jangan lupa nanti mampir kalau kamu sudah sukses ya" kata Rani lagi.
"In syaa Allah, aku main nanti" jawabku.
Aku masuk kedalam angkot dan melambaikan tangan tanda perpisahan dengan Rani.
"Ayo Pak," kataku pada Pak sopir.
"Baik Neng" jawabnya.
Perlahan angkot yang kami tumpangi berjalan berlalu aku melambaikan tangan pada Rani. Aku pandangi rumah - rumah yang berjajar, rumah yang selama tiga tahun ini menjadi tempatku singgah.
Sesampainya dijalan raya angkot melaju dengan kecepatan sedang. Aku hanya terdiam menyaksikan pemandangan kanan kiri jalan.
Aku bermain dengan bayangan ke sendiri.
Kota ini kota yang sudah tiga tahun aku tinggali banyak kenangannya.
Satu setengah jam berjalan kami masuk di desa ku, hawa dingin khas pegunungan sudah mulai menusuk tulangku. Beginilah selalu cuaca di desaku. Banyak para ibu yang membawa keranjang rumput digendongannya dan bapak yang menjujung rumput diatas kepalanya. Yah beginilah suasana kampung ku setiap hari.
Angkot mulai masuk dipekarangan rumahku, berhenti tepat dihalaman rumah, aku menurunkan barang-barang satu persatu dan membayar sewa angkot pada pak sopir. Dan kemudian melangkah mendekati pintu rumah.
"Ah, masih terkunci, Ibu pasti belum sampai," gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku buka dan aku masukkan semua barang-barang ku, membuka jendela kemudian menghempaskan bokongku diatas sofa ruang tamu.