
Sesampainya di kost, aku menangis sejadi jadinya
Aku marah, aku kesal aku kecewa, aku menyalahkan orang tua ku yang tidak ada disaat seperti ini, tidak menjagaku, tidak menemaniku.
Ya Allah, aku tidak minta dilahirkan, aku menyalahkan takdir. Kesal dan kecewa berkecamuk dalam hatiku.
Puas menangis, tiba tiba aku ingat aku belum sholat Dzuhur, aku langsung menuju kamar mandi. Membasuh badan ku dengan sabun, berulang ulang, merasa jijik dengan kejadian tadi, membuat aku sangat dongkol dihati.
Selesai mandi aku ganti baju dan sholat, dalam sujudku aku menangis sejadi jadinya. Aku berdoa Ya Allah jika engkau berkehendak aku tetap hidup, aku mohon jagalah jiwa dan raga ku dari manusia bej*t yang ingin menodai ku. Air mata tak berhenti mengalir, sampai aku yakin kalau Allah ada dan tidak tidur .
***
Sementara dirumah Bu Darjo, mondar mandir sebentar-sebentar melongo keluar, sambil menahan kesal menunggu Fira yang tidak kunjung sampai.
"Tino" panggil Bu Darjo kepada anaknya
Dengan agak malas Tino menyahut " Iya Bu"
"Kamu ke kost Fira, coba kamu tanyain apa dia nggak kerja hari ini?" kenapa belum datang," perintah ibunya
"Hehhh ibu, kan habis hujan becek, Tino malas keluar," gerutu anaknya.
"Kamu kan bisa menggunakan sepeda toh nggak jauh kan?" kata Bu Darjo lagi.
"Iya lah, iya lah," jawab Tino sambil berlalu.
***
"Assalamualaikum Kak Fira," panggil Tino.
Aku tahu itu pasti suara Tino, aku hapal suaranya, Tino yang masih duduk di bangku klas 5 SD.
"Waalaikum salam" jawabku sambil membuka pintu.
"Kak Fira, ibu menyuruh ku datang menanyakan kepada kakak, apa hari ini kerja?" kata Tino.
"Maaf Tino, tolong bilang Ibu hari ini kakak kurang enak badan, jadi mau minta izin satu hari untuk istirahat dulu." Jawabku pada Tino dengan perlahan.
"Ohhh Baiklah nanti Tino bilang ibu", ucapnya.sambip berlalu dan tak lupa mengucapkan salam.
Setelah Tino pergi aku langsung mengunci pintu kamar. Setelah kejadian yang melelahkan tadi siang rasanya aku masih belum punya tenaga untuk kembali bekerja.
Aku sandarkan tubuh ku didinding menatap kosong kedepan. Seandainya Rinto tidak datang aku tidak tahu apa jadinya aku sekarang. Air mata berderai lagi.
***
Sementara Zul, yang ketakutan lari tunggang langgang, dia terus saja bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan?"
"Kenapa aku tega seperti ini"
"Dia Gadis yang baik, tidak pantas aku melakukan ini padanya" Gumamnya.
Sambil terus memukul mukul tembok dia merasa sangat bersalah.
***
Disaat bersamaan Rinto yang pulang dengan basah kuyup karena kehujanan dan juga telah menyelamatkan Fira dari kejadian yang memalukan.
"Rinto, kamu kenapa kebasahan gini?" tanya maminya
"Bukankah kamu tadi pakai mobil?" lanjut mami.
"Eh oh,,, anu Mam, eeee tadi Rinto main hujan-hujanan, iya main hujan-hujanan,!" jawabnya dengan gugup.
Maminya mengernyit kan dahi keheranan, nggak biasanya dia suka main hujan-hujanan, bukan nya dia nggak suka hujan.
"Ya sudah, cepat ganti baju, nanti kamu sakit" ucap maminya.
"Iya Mam," jawab Rinto sambil berlalu kekamarnya.
Di dalam kamar, Rinto tidak berhenti memikirkan Fira, dia merasa kasian dengan apa yang terjadi.
***
"Hallo" terdengar jawaban dari seberang sambungan telepon.
"Hallo, Gadis, cepat kerumahku ada berita bagus untukmu" sahut Ana.
"Ada apa An, aku lagi malas keluar rumah ini" jawab Gadis.
"Ini soal Fira, setelah tahu kamu pasti akan berjingkrak kegirangan dengan berita yang aku bawa" sambung Ana.
"Baiklah baiklah, aku kesana sekarang" jawab Gadis lagi.
Walaupun sebenarnya dia malas tapi dia penasaran juga apa yang akan dikabarkan Ana pada dirinya.
Tidak berapa lama Gadis sampai dirumah Ana, karena memang jarak rumah Ana dan Gadis tidak terlampau jauh. Dia langsung merangsek masuk ke kamar Ana.
Mereka sudah terbiasa untuk berkunjung, jadi sudah tidak canggung lagi masing-masing untuk masuk kerumah.
"Ada apa An?" tanya Gadis
"Sini duduk" sambil menunjuk tepi ranjang Ana mengajak Gadis duduk.
__ADS_1
"Kamu pasti akan kaget dengan apa yang akan aku tunjukan" katanya dengan senyum.
"Iya ada apa" Gadis sudah tidak sabar.
Kemudian Ana mengeluarkan ponselnya, dan membuka galeri rekaman Vidio. Ponsel canggih hanya dapat dimiliki oleh anak anak tajir pada waktu itu. Hanya beberapa anak yang bisa menikmati teknologi canggih itu.
Dengan membelalakkan mata Gadis tidak percaya dengan Vidio itu. Mulut Dia ternganga sambil terus menatap Vidio itu, walaupun gambar kurang jelas Karena diambil dari jarak yang jauh, tapi sudah dapat dilihat siapa yang ada di Vidio itu. Dan itu adalah Fira, Rupanya tanpa sengaja Ana melihat dari balik pagar rumah sepupunya yang tepat berada disamping halte Alun alun, walaupun rumahnya agak jauh tapi masih bisa melihat tempat halte dimana Fira hampir saja di perkosa oleh Zul.
Dan itu merupakan kabar bagus buat Gadis yang memang sudah membencinya. Walaupun di Vidio itu terekam tidak selesai karena saat Rinto datang tidak ada dalam rekaman itu. Jadi seolah olah dividio itu Fira sedang memadu kasih dengan Zul.
"Hemmmm bagus sekali Ana, ini berita bagus, aku akan membuat Fira dikeluarkan dari sekolah," gumam Gadis dibarengi dengan tatapan sinis dan benci.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ana
"Lihat saja nanti" jawab Gadis, dengan senyum bahagia.
"Apa Devi sudah tahu berita ini?" tanya Gadis
"Belum aku belum menelepon dia," jawab Ana
"Telepon lah aku tidak sabar ingin memberi tahu dia" kata Gadis lagi
Tidak menunggu waktu lama Ana menekan tombol nomor telepon Devi. Dan tidak sampai 15 menit Devi sudah sampai.
Devi tergopoh-gopoh masuk ke kamar Ana,
"Ada apa?" tanya Devi setengah memburu.
Gadis langsung menyodorkan Vidio itu.
"Wow Funtastis", teriak Devi
"Terus rencana kalian apa" tanya Devi
"Aku akan membalikan fakta ini seolah ini adalah perbuatan maksiat mereka berdua" kata Gadis
"Dan aku akan melaporkan ke ayah ku kemudian kalian tahu, Fira akan dikeluarkan dari sekolah" lanjut Gadis sambil terkekeh kekeh kegirangan.
"Emmm tapi apa ini tidak keterlaluan Gadis, " protes Ana.
Gadis pun mengerutkan dahi, tanda tidak senang dengan ucapan Ana.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, apa kamu tidak senang?" tanya Gadis
"Bukan aku hanya sedikit kasihan saja kalau sampai dia dikeluarkan dari sekolah". jawab Ana sedikit gugup.
"Biarkan saja," " itulah balasannya kalau berani melawan Gadis" seloroh Gadis dengan tatapan kebencian.
__ADS_1
Ana dan Devi hanya bisa sambil berpandangan dan mengangkat bahu. Itulah Gadis apa kemauan nya harus dituruti. Tidak ada yang bisa mencegah dia jika dia sudah berkehendak.