Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 32. Berpulang


__ADS_3

Wira kemudian membimbing istrinya ketempat tidur. Perlahan dia mencium keningnya memagut benda di bawah hidungnya.


Dan memeluknya erat menumpahkan rasa cinta dalam kehangatan dua insan yang dimabuk asmara.


Berakhir dengan lenguhan panjang dalam kelelahan.


"Aku mau mandi dulu," kata Ratih.


"Heemmm," jawab suaminya sambil menarik tangan nya dan mendekapnya.


"Nanti saja, aku mau memelukmu terus, aku lega rasanya dapat terbebas dari Anggel dan sekarang aku benar-benar memelukmu dengan tanpa beban." kata suaminya sambil memulai lagi aktivitas nya. Membuat mereka berguling untuk kedua kalinya.


Ratih memang dulu menikah sangat muda, dia hanya tamat bangku SMP. Sehingga usia 17 tahun dia sudah melahirkan Fira. Sedangkan Wira terpaut dua tahun dibawah nya. Mereka pasangan yang sudah tidak muda lagi. Tetapi masih memungkinkan untuk Ratih melahirkan sekali lagi.


Wira akhirnya benar-benar menceraikan Anggel dan tidak mengambil harta gono-gini yang seharusnya dibagi berdua. Dia memilih memulai usaha baru dari awal, dia tahu Anggel sangatlah cinta pada kemewahan, sedang Ratih sangat lah sederhana, Ratih tidak akan keberatan kalau mereka berdua memulai bisnis lagi.


Karena kepiawaiannya dalam berbisnis tidak butuh waktu lama bagi Wira untuk bangkit. Dalam waktu dua tahun dia sudah dapat mengembangkan bisnisnya dan juga meraih keuntungan yang berlipat.


Dan Ratih pun kini telah melahirkan anak untuk Wira suaminya, tidak tanggung-tanggung mereka dikarunia dua orang anak kembar sekaligus. Semakin lengkaplah kebahagiaan pasangan ini.


***


Dan Fira pun sangat bahagia karena Ibunya kini telah bahagia dengan keluarga barunya dan semua berjalan seperti harapannya. Ibunya menjadi istri resmi dan satu-satunya dari ayah sambungnya.


Fira kini kuliahnya sudah di tingkat tiga, harapannya tahun depan dia bisa menyelesaikannya dan segera bisa diwisuda menjadi seorang dokter.


Siang itu seusai Fira menyelesaikan kuliahnya dia hendak mampir ke toko buku yang ada di mall dekat dengan kampusnya.


Dengan jalan kaki Fira biasa menuju tempat itu. Dia masuk kemudian menaiki tangga berjalan menuju lantai empat mall itu, karena memang disana toko buku yang dituju.


Saat Fira berada di eskalator naik dia seperti melihat sekelebat orang yang seperti nya dia kenal sedang di Eskalator seberang menuju lantai bawah.


Fira berlari mempercepat langkahnya ke atas, bermaksud untuk mengejar orang tersebut turun. Setengah berlari dia mencari-cari orang tersebut, tetapi ternyata orang tersebut menghilang ditengah kerumunan pengunjung lain yang sedang ramai.


"Apa mungkin itu dia, ah apa iya!" pikirnya, orang yang dirindukannya selama hampir empat tahun ini, dia merindukan dan hanya lewat doa-doa yang dipanjatkan untuk bisa bersamanya.

__ADS_1


"Ah mungkin perasaan ku saja!" kata Fira pada dirinya sendiri sambil kembali meneruskan langkahnya ke tempat tujuannya.


Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku saat tidak ada jadwal mengajar dan kuliah.


Menjelang sore hari saat perutnya sudah memanggilnya untuk diisi baru dia beranjak pergi. Dia membayar buku-buku yang hendak di belinya, dan kemudian melangkah pulang ke kost nya. Begitulah dia menghabiskan waktu nya jika tidak ada kegiatan.


***


Sementara di Royhle Flight Academiy di Filipina, Rinto baru saja menyelesaikan study nya selama tiga tahun. Dan kini dia akan kembali ke Negaranya. Untuk mendedikasikan ilmunya di Negaranya.


Di Bandara kedua orangtua Rinto menunggu dengan perasaan berdebar dan bahagia. Sesekali ayahnya mondar-mandir berdiri untuk melihat papan besar jadwal kedatangan pesawat yang membawa putranya kembali.


Dan saat nomor penerbangan dan nama pesawat yang ditumpangi putranya sudah dalam tulisan mendarat. Mereka berulang kali memperhatikan satu persatu penumpang yang keluar pintu.


Dan akhirnya dia terlihat juga, senyum lebar dan pelukan kedua orangtuanya langsung disambut dengan kebahagiaan.


"Selamat ya nak kamu sudah menyelesaikan study mu." ucap ayahnya sambil memeluk nya bangga.


"Terimakasih Ayah, semua berkat usaha Ayah, dan juga doa kalian berdua." jawabnya sambil memeluk keduanya.


"Sehat Bu, Alhamdulillah. Ibu gimana!" tanyanya pada Ibunya.


"Sehat Nak, dan sekarang ibu sangat bahagia melihat kamu berhasil.!" jawab Ibunya.


"Ayo kita pulang!" ajak ayahnya.


Mereka memasuki mobil yang sudah terparkir tepat di hadapan mereka. Rinto memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi dan kemudian dia duduk di kursi penumpang.


Ayah ibunya terlibat pembicaraan ringan, sementara Rinto menatap keluar jendela, membayangkan orang yang sangat dirindukannya.


"Apa kabarmu, gadismu, aku sangat kangen, dimana kamu sekarang, apa kamu masih seperti dulu menjaga hatimu tetap untukku, aku akan datang sesuai janjiku dan aku tetap menjaga cintaku hanya untukmu." Ucap dia dalam hati.


"Rinto,!" panggil ayahnya mengagetkan lamunannya.


"Iya Yah," sahutnya cepat.

__ADS_1


"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya ayahnya.


"Mmmm, Rinto pengen mengajukan diri untuk menjadi pilot, nantinya Rinto akan mencoba melamar dimaskapai penerbangan.!" jawab Rinto.


"Hmm, iya bagus!" kata Ayahnya.


"Sudah yah, jangan ditanya dulu, biarkan dia menikmati rasa kangennya pada negara sendiri.!" Ibunya menyahut.


Sampai di rumah dia istirahat sejenak, menikmati hidangan yang sudah disiapkan ibunya kemudian dia beranjak hendak pergi ke rumah Rani, sahabat Fira sewaktu SMA.


Dengan mengendarai mobil nya, dia melaju menyusuri kota yang sudah lama dia tinggalkan. Tiba-tiba kenangan semasa SMA merasuki pikiran nya, masa dimana dia menolong Fira saat hendak diperkosa Zul. Senyumnya, sorot matanya, merah pipinya saat malu, semua bermain dipelupuk matanya. Rasa rindu yang teramat, membuat dia ingin segera menemui pujaan hatinya.


"Siapa lagi yang dia perkiraan bisa memberikan informasi tentang Fira kalau nggak Rani." pikirnya.


Sesampainya di depan rumah Rani dia ketuk pintu, tidak ada jawaban. Lama dia menunggu akhirnya keluarlah ayah Rani.


"Iya, cari siapa Nak?" tanya ayah Rani.


"Maaf, saya cari Rani Om, saya teman Rani sewaktu SMA dulu!" jawab Rinto.


Seketika laki-laki paruh baya itu menangis meneteskan air matanya.


"Kamu cari Rani? Rani,...." belum sempat selesai kata-kata nya dia menangis lagi.


"Rani kenapa Om!" tanya Rinto.


"Kami baru saja mengantarkan Rani ketempat peristirahatan terakhirnya.!" jawab ayah Rani sambil menunduk menahan kesedihannya.


"Rani sudah meninggal Nak, dalam kecelakaan tunggal dengan motornya,!" lanjut ayah Rani dengan sesenggukan.


"Maafkan saya Om, saya tidak mengetahuinya!" jawab Rinto sambil memeluk Ayah Rani.


"Tidak mengapa Nak, Kami sekeluarga juga sangat kaget, karena memang tidak ada tanda-tanda apa-apa." kata Ayah Rani lagi.


Rinto mengobrol sejenak dengan ayah Rani, mengenang Rani serta kebaikannya selama masa hidupnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Rinto pun pamit pulang. Selama di perjalanan pulang dia merasa buntu harus kemana dia mencari Informasi soal keberadaan Fira, Rani satu-satunya sahabat Fira sudah tidak ada.


__ADS_2