
Fira berbinar binar, langkahnya dipercepat menuju ke kelasnya.
Dia tidak sabar untuk bercerita kepada Rani.
Di depan Rinto melihatnya dari tempat yang jauh, Fira berusaha berjalan lebih cepat. Supaya tidak berpapasan dengan nya. Tetapi na'as justru malah Rinto sengaja menghadangnya.
"Selamat ya, Aku bangga padamu" kata Rinto.
"Terima kasih." ucap fira sambil mengangguk.
Rinto terus mandangnya dengan tatapan yang penuh arti. Sementara Fira agak risih dipandangi terus begitu.
"Permisi, aku mau ke kelas" kata Fira mengejutkan Rinto dari lamunannya.
"Silakan" kata Rinto sambil memberi jalan.
"Jangan buka hatimu untuk hati yang lain, aku akan datang" kata Rinto.
Fira tidak menoleh, hanya menghentikan langkahnya sejenak, kemudian terus berjalan.
"Huh, kenapa dia selalu berkata begitu" ucap Fira.
"Dasar aneh dan kenapa hatiku selalu berdebar debar saat berjumpa dengan dia," kata Fira pada dirinya sendiri sambil menggeleng kan kepala.
Sampai dikelas Fira langsung berceloteh ria kepada Rani atas apa yang baru saja didapat dari Bu Mila.
"Selamat ya Fira, itukan cita cita mu, selangkah lagi untuk kamu bisa kuliah." kata Rani.
"Iya, dannnn, Terimakasih ya" kamu sahabat terbaikku.
Mereka saling berpelukan.
***
Sementara ditempat lain, Gadis merasa sangat bodoh, dia merasa hidupnya sudah hancur, dia memukul mukul kepalanya atas apa yang terjadi padanya.
"Kenapa aku sangat ceroboh, kenapa aku tidak menolak waktu Candra melakukan itu, kenapa aku terbuai rayuan gombal Candra" kata penyesalan keluar dari mulutnya sambil menangis sejadi jadinya. Akibat kecerobohan nya kini dia harus menanggung malu, terancam putus sekolah, karena kini dirinya sudah berbadan dua, Gadis kini telah hamil tiga bulan.
"Semua salah mu Rinto, kalau kamu tidak menolak ku aku tidak akan cari pelarian seperti ini. kamu harus menerima akibatnya." umpat Gadis.
"Gadis gadis, keluarlah, kami mau bicara" suara ibunya mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
sesaat pintu terbuka, kemudian ibunya menuntunnya ke ruang keluarga.
Sementara Pak Rudi, yang sedang duduk diruang keluarga, menahan amarahnya, giginya gemeretak, dan tangannya mengepal, mencoba berpikir jernih.
"Gadis anak Ayah, kenapa kamu lakukan itu, kamu nodai kepercayaan Ayah, kamu mempermalukan ayah, bagaimana ayah harus menghadapi semuanya" keluh Pak Rudi sambil menahan amarahnya.
"Maafkan Gadis Ayah, Gadis khilaf, Gadis tidak sengaja melakukan itu" kata gadis dengan gemetar dan menahan tangisnya.
"Tidak sengaja katamu, mudah sekali kamu bilang tidak sengaja, masa depanmu hancur sampai disini, kamu tahu" bentak Pak Rudi.
"Terus bagaimana ayah menghadapi semua ini, ayah wakil kelapa sekolah bagaimana ayah harus mempertanggung jawabkan secara moral dihadapan semua murid nanti" tanya ayahnya.
"Ayah telah gagal mendidikmu, apa yang harus ayah lakukan?" bentak Pak Rudi.
Gadis hanya terisak sambil menunduk, tidak tahu apa yang harus dikatakan, hanya bisa menangis menyesali perbuatannya.
"Bagaimana kalau kita gugurkan saja" usul ibunya.
"Kamu tega, kamu mau menambah beban dosa lagi, tidak ayah tidak setuju" tolak ayahnya.
Setelah menata emosinya dan mencoba berfikir, akhirnya Pak Rudi berkata pada anak kesayangannya.
"Apa laki laki itu mau tanggung jawab" tanya Pak Rudi.
"Pancing dia kesini, jangan diberitahu dulu apa yang terjadi, jaga jaga dia akan mangkir" ucap Pak Rudi penuh kekhawatiran.
Kemudian Gadis menelpon Candra, dengan alasan pengen ketemu dengan nya. Candra tidak curiga, dia datang seperti biasanya.
Sesampainya depan rumah dia memarkir mobilnya dihalaman rumah gadis, seperti biasa, seperti tidak ada masalah.
Kemudian dia permisi dan masuk setelah Tuan rumah mempersilakan masuk.
"Kamu Candra?" tanya Pak Rudi.
"Iya Om, saya Candra ", sambil menjabat tangan Pak Rudi.
Pak Rudi sendiri mencoba menahan diri karena dia tidak mau gegabah.
"Ada yang mau saya bicarakan" kata Pak Rudi,
"Baik Om, " jawab Chandra sambil menyimak.
__ADS_1
"Gadis hamil, dan itu adalah anak kamu," kata Pak Rudi tidak sabar.
Chandra cuma nyengir saja, seolah dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan Pak Rudi .
"Hamil, syukurlah, saya senang, saya akan tanggung jawab," jawab Chandra enteng.
"Kenapa kamu menganggap enteng masalah ini, bukankah ini aib, "tanya Pak Rudi.
"Bukan Om, saya senang Gadis hamil, saya memang sudah melakukannya, saya akan tanggung jawab, saya sudah bekerja terus apa masalahnya?" tanya Candra seolah tanpa beban.
Chandra memang sudah bekerja dan dia juga sudah memiliki rumah, kendaraan dan sudah cukup usia, dan belum menikah. Tetapi paras Chandra memang tidak seganteng Rinto itu saja kekurangan Chandra. Berbanding terbalik dengan Gadis yang sangat cantik dan menarik.
Pak Rudi menyuruh Chandra untuk memanggil kedua orang tuanya. kemudian Chandra menelpon orangtuanya dan tidak berapa lama orang tuanya pun sampai, dengan mengendarai mobil Pajero sport kedua orang tua Chandra datang.
Mereka membicarakan apa yang terjadi dan kemudian menentukan langkah selanjutnya, hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan, dalam Minggu ini, itupun secara sembunyi sembunyi, untuk menjaga nama baik Ayah Gadis.
Setelah selesai pertemuan keluarga Chandra pamit pulang. Orang tua Gadis mengantarkan mereka sampai ke depan pintu gerbang rumah.
Didalam rumah Pak Rudi manggil Gadis menyampaikan apa yang baru saja di sepakati dengan keluarga Chandra.
"Tapi Gadis tidak mencintai Chandra Ayah, Gadis masih ingin bebas, Gadis belum mau menikah" rengek Gadis.
"Kalau kamu tidak mencintai Chandra kenapa kamu berbuat maksiat dengan nya dan sekarang kamu mengandung anaknya, kamu masih ingin bebas tetapi kenapa kamu bablas?" gertak ayahnya dengan geram.
"Aku mencintai Rinto, ini semua aku lakukan sebagai pelarian atas penolakan Rinto," ucap Gadis.
"Apa!!! Rinto Rinto Rinto terus, kamu bodoh Gadis, ini semua kebodohan yang kamu lakukan." jawab ayahnya dengan marah, karena ternyata anaknya yang sudah mempersulit semuanya, Chandra dan keluarganya sudah mau menerima dan bertanggung jawab, tetapi malah Gadis yang sulit diatur
"Ayah tidak mau dengar apapun, kamu sudah melakukan dan kamu harus bertanggung jawab, kamu harus menikah dengan bapak dari anak yang ada dalam kandunganmu ini. " perintah ayahnya yang sudah enggan berdebat dengan nya.
"Kamu sudah menghancurkan harapan ayah menjadikanmu sarjana" ucap ayahnya lirih, seolah penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
Gadis masuk ke kamarnya masih dalam keadaan menangis, dia memikirkan Rinto, yang ada didalam hatinya cuma Rinto, dia mungkin akan menikah dengan Candra tetapi didalam hatinya cuma ada satu nama yaitu Rinto.
Akhirnya hari yang sudah ditentukan pun tiba, Gadis keluar sekolah dengan alasan pindah sekolah. Dan dia menikah kemudian tinggal di kota yang jauh. Jauh dari Rinto dan teman temannya. Untuk menyelesaikan sekolahnya Gadis home schooling, sambil menjaga kandungan nya.
Tetapi dia bertekad dia tidak akan melupakan Rinto, dia akan tetap mencintai nya, walaupun statusnya kini menjadi istri Chandra.
***
Terimakasih atas apresiasinya kepada para pembaca,
__ADS_1
Kalau ada yang kurang dalam hal apapun tolong komentar nya ya... Penulis akan selalu menerima kritik dan saran nya demi kemajuan karya.