
Di ruang OSIS Fira disibukkan dengan berbagai macam agenda kegiatan OSIS, sementara di sudut ruangan Rinto menyusun laporan kegiatan OSIS tahunan, ditangannya ada berkas berkas yang harus dibaca, tetapi entah mengapa dia tidak bisa konsentrasi, sudut matanya melirik Fira yang tengah sibuk juga. Jantungnya berdegup kencang, bayangan wajah Fira terus bermain dimatanya, senyumnya tidak bisa dihapus dari ingatannya.
Fira yang rambut acak acakan sekarang sudah berubah menjadi Fira yang menawan.
"Ya Tuhan, ternyata cantik sekali Fira ini dengan penampilan barunya." bisiknya dalam hati.
Selesai semua kegiatan, Fira hendak pulang.
Dari jauh dia mendengar suara memanggilnya,
"Fira!"
Dia menoleh mendapati Rinto sedang mengejar ya.
"Ada apa" tanya Fira
"Pulang bareng Yuk" ajaknya.
Fira mengeryitkan dahi, " Maaf tapi kita cuma berdua tidak seharusnya kita jalan bersama." kataku
"Tapi kamu sendirian, jalan yang samping sekolah sangat sepi, kalau terjadi apa apa bagaimana?" Rinto merasa khawatir.
Fira diam sejenak benar juga kata Rinto tetapi kalau aku menerima tawaran Rinto, pasti Gadis akan menyulitkan aku. Pikirnya.
"Kamu jangan khawatir kan Zul sudah dipenjara, dan aku yakin Allah akan melindungiku" jawabku mantab.
"Jadi maaf aku tidak bisa menerima tawaran mu ya." kataku.
"Baiklah kamu baik baik dijalan ya!" kata Rinto lagi.
Kemudian Fira melanjutkan jalannya lagi. Tetapi Rinto merasa tidak tenang, akhirnya dia mengikuti Fira dari belakang dengan mengambil jarak beberapa puluh meter, dia harus memastikan Fira sampai di kost dengan selamat.
Rinto semakin kagum dengan Fira, Pandai, cantik dengan penampilan nya yang sekarang dan punya prinsip. Jarang gadis seumur Fira punya kepribadian yang kuat seperti itu. Batinnya mengagumi Fira.
***
Sementara Gadis sedang menahan amarahnya, usahanya untuk menjauhkan Rinto dan Fira tidak berhasil, bahkan sekarang membuat Fira makin bersinar di sekolah.
Dia terus merengek pada Ayahnya untuk membantunya mengeluarkan Fira dari sekolah.
Tetapi Ayahnya tidak bisa, karena tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu, selama ini Fira selalu menjaga perilakunya sehingga belum ada celah untuk menjatuhkannya.
__ADS_1
Tiba-tiba suara sering telepon, suara Ana diseberang telepon, mencerita kan segala perkembangan disekolah selama Gadis tidak ada di sekolah.
Membuat Gadis tambah murka,
"Awas kamu Fira, tunggu pembalasanku" tangannya sambil mengepal.
***
Sesampainya di kost, Fira sudah mendapati ibunya sibuk berkemas.
"Bu, apa ibu mau pergi sekarang?" tanya Fira.
"Tidak sayang, kita mau kerumah Paman, mumpung Ibu ada disini kita mampir yuk?" ajak ibuku.
"Tetapi aku harus kerja Bu? nanti Bu Darjo marah kalau aku izin lagi "kataku.
"Tadi waktu ibu ke warung depan, ibu bertemu dengan Bu Darjo, beliau ikut prihatin dengan kejadian yang menimpamu, jadi beliau memberikan cuti buat kamu selama ibu disini." jelas ibuku.
"Ohhh ,asyikkk aku bisa libur sebentar" teriakku kegirangan.
Disaat bersamaan terdengar pintu kamar diketuk. Ternyata Ibu Kost, Bu Pur yang datang,
"Fira, ada tamu untukmu, " teriak beliau .
Dahiku berkeryit, "Tamu?" tanyaku, kok tumben nggak pernah ada tamu buat aku .
"Siapa Fir," tanya ibu
"Nggak tahu Bu, coba kita lihat yuk" ajak ku pada Ibu.
Aku dan ibu berjalan beriringan menuju ruang tamu yang disediakan khusus untuk anak-anak kost.
"Assalamualaikum, Fira?" sapa beliau
"Waalaikum salam," jawabku bersamaan dengan Ibu.
Ternyata mereka adalah kedua orangtua Zul.
"Silakan duduk Pak, Bu, " sapaku
Aku bersama ibu juga duduk setelah mempersilakan beliau duduk.
__ADS_1
"Begini, sebetulnya kedatangan kami berdua kesini, kami ingin meminta maaf atas apa yang terjadi padamu karena kebodohan anak bapak si Zul" Ayah Zul memulai pembicaraan.
"Iya Nak Fira, kami juga mau memohon pertolongan kepada Nak Fira, sudi kiranya untuk mencabut segala tuntutan terhadap Zul," lanjut ibu Zul sambil mulai meneteskan air mata.
Cih, beraninya kalian datang untuk melindungi perbuatan anak kalian, setelah apa yang sudah dilakukan, pantas saja anak kalian manja dan menjadi preman jalanan ternyata segala perbuatan nya mendapatkan perlindungan dari orangtuanya.
"Mohon maaf sebelumnya, saya Ibu nya Fira, saya menolak anak saya untuk memenuhin keinginan kalian berdua, apa yang terjadi pada anak saya sungguh sangat kejam, untung ada yang menolong kalau tidak saya tidak tahu lagi apa yang terjadi pada anak saya!" jawab ibuku tegas.
"Sekali lagi saya mohon Fira!, Masa depan anak saya taruhannya" ibunya Zul memohon sambil terisak.
"Saya juga seorang ibu, anak saya menjadi korban, bagaimana perasaan ibu kalau ibu di posisi saya,?" jawab ibu lagi.
"Anak saya perempuan, jika sampai semua itu terjadi masa depan anak saya pasti hancur, dia masih SMA masih panjang jalan nya, bagaimana jika anak perempuan ibu yang di gitukan?" tanya ibuku dengan suara gemetar karena menahan amarah.
"Saya akan ganti rugi, dengan membiayai semua keperluan sekolah Fira sampai selesai, asalkan Fira mau mencabut segala tuntutannya,," Kata Bapak Zul.
Ibuku marah sambil bangkit dari duduknya.
"Apa anda pikir semua bisa diselesaikan dengan uang, begitu rendahnya anda menganggap kami, saya masih sanggup untuk membiayai anak saya, jadi maaf kami tidak akan mencabut tuntutan ini, biar kan hukum tetap berlanjut, jika kasus ini ditutup mungkin kelak akan ada Fira lain yang menjadi mangsa anak Bapak." jawab ibuku tegas.
Kemudian ibu Zul mengarahka pandangan kepada ku.
"Fira, saya mohon" ucap Ibu Zul sambil memelas.
"Maaf Bu, saya tidak bisa, sebelumnya saya mohon maaf, mungkin ini jalan terbaik buat Zul, untuk merenungi segala perbuatan nya," kataku lembut
"Ibu, biar kan Zul menanggung semua perbuatan nya, Zul sudah dewasa, biar kan dia belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya, saya tidak bermaksud menggurui Ibu dan Bapak, saya juga tidak bermaksud kejam, Biar Zul belajar bahwa setiap perbuatan itu ada konsekuensinya, sejujurnya saat melihat Bapak dan Ibu hati saya tidak tega pada kalian, tetapi kalau saya memenuhin permintaan kalian itu sama saja saya membiarkan Zul tetap menjadi orang yang tidak baik. " kataku kepada orang tua Zul.
"Semoga setelah ini bisa membuat Zul berubah dan sadar untuk kembali ke jalan yang baik." ucapku melanjutkan.
Kedua orangtua Zul hanya bisa diam tidak berkata, mereka menunduk dalam, seperti ada rasa malu yang amat sangat atas perbuatan anaknya, ditambah dengan apa yang barusaja dilakukan, ternyata Fira dan Ibunya tidak seperti yang dipikirkan,.
Walaupun ibu Fira seorang janda, (sebetulnya bukan janda karena ayah Fira tidak pernah menceraikan, cuma meninggal kan tanpa kabar bertahun tahun).
Dia mempunyai harga diri, dengan kedua tangannya dia bekerja untuk menghidupi anak semata Wayang nya.
"Baiklah kalau begitu, atas nama keluarga saya mohon maaf yang sebesar besarnya kepada Ibu dan Fira, atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan Zul pada Fira" ucap Bapak Zul.
"Kami mohon pamit," Ucap Bapak Zul sambil berdiri.
Ibu Zul mengikuti langkah suaminya dari belakang, masih dengan isak tangisnya. Dia tidak menyangka bahwa anak kesayanganya bisa masuk jeruji besi. Zul seperti sudah melemparkan kotoran kewajah kedua orangtuanya.
__ADS_1
Pada masa itu setiap yang pernah masuk penjara mendapatkan cap buruk baik di masyarakat.
Terimakasih kepada pembaca yang sudah mengikuti cerita ku sampai episode 10, terus berlanjut ya sampai selesai.