
Sesampainya dirumah, aku membersihkan diri kemudian shalat asar, dan merebahkan badan di atas kasur. Seperti nya lelah sekali badan ini. Tidak terasa aku terlelap sekejap.
Aku terkaget dengan panggilan Ibu.
"Fira, Fira," suara ibu sambil mengetok pintu.
"Ya Bu, masuk aja nggak dikunci kok!" jawabku.
"Kamu lagi apa,!" sapa Ibu sambil melongok kan kepalanya di pintu.
"Nggak apa-apa, lagi rebahan aja, masuk sini Bu!" panggilku.
Kemudian Ibu masuk dan duduk ditepi ranjang ku.
"Fira, urusan Bibi kan sudah selesai, bagaimana kalau besok kita pergi ke kota, ketempat kerja Ibu!" ajak Ibu.
Aku terdiam sejenak.
"Mmmm, tapi apa majikan Ibu nanti tidak marah kalau Ibu kerja bawa aku?" tanyaku.
"Tidak, malah sudah sering mereka menyuruh Ibu untuk Mambawa serta kamu.!" kata Ibu.
Aku diam sambil berfikir, tidak ada salahnya juga sih, sekali-kali aku tahu kerjaan Ibu. Hitung-hitung sambil berlibur sebelum masuk masa kuliah.
"Baiklah Bu, toh masih ada waktu lima harian untuk aku istirahat." kataku.
"Ya sudah, kalau begitu siapkan baju-baju mu besok kita berangkat dengan bis pagi ya, supaya sampai sana masih sore!" kata Ibuku.
"Ok. Ibuku sayang.!" kataku sambil mengangkat jempolku.
Aku memasukkan beberapa baju celana, dan kerudung kedalam tas ransel. Tidak banyak karena kan cuma beberapa hari aku harus pulang untuk mempersiapkan segala kebutuhan kuliah. Hari yang sudah sangat kunantikan.
Malamnya kami berpamitan dulu kepada Paman dan Rio karena besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat.
Esok paginya waktu masih menunjukkan pukul 03.30, Ibu sudah membangunkan aku.
"Fira bangun ayo mandi kita kan mau berangkat!" kata Ibu.
Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk aku berusaha bangun, kemudian menghampiri Ibu yang sudah sibuk mempersiapkan sarapan nasi goreng dan teh hangat dua porsi.
"Ayo mandi, dan sarapan, habis sholat subuh kita berangkat." kata Ibu.
"Apa harus sepagi ini Bu,!" tanyaku.
"Iya sayang habis sholat subuh nanti bang Maman tukang ojek langganan Ibu sudah jemput, karena Bis berangkat jam 06.00 dan perjalanan keterminal membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit." ibu menjelaskan.
"Baiklah," kataku sambil membawa air hangat yang sudah disiapkan ibuku, untuk mandi.
__ADS_1
Setelah mandi kami sarapan untuk mengganjal perut supaya tidak masuk angin. Sampai terdengar adzan subuh, kami shalat dan tidak lama ojek yang Ibu ceritakan sudah parkir di halaman rumah.
"Berangkat Bu,?" tanya Bang Maman.
"Iya bang ayo nanti keburu telat!" jawab Ibu.
Aku menaiki ojek satu lagi kerabatnya bang Maman yang sengaja diajak oleh bang Maman karena memang Ibuku memesan dua orang ojek.
Lalu lintas masih pagi membuat perjalanan kami sangat cepat, hanya dengan waktu 30 menit kami sudah sampai.
Kami mengambil tiket yang sudah dipesan dan tidak berapa lama Bis sudah datang dan kami pun berangkat.
Sepanjang perjalanan aku sangat gembira, ini kali pertama aku pergi bersama ibuku. Dengan antusias aku bercerita kepada Ibu tentang semuanya, sekolah ku yang sudah lalu dan impian-impian ku setelah di universitas.
Ibu pun demikian, sangat antusias mendengarkan. Kami memang jarang bersama karena terpisah dengan jarak.
Bis berhenti di Rumah makan untuk mempersilakan penumpangnya makan siang, dan sholat dhuhur. Tidak butuh waktu lama Bis berangkat lagi.
Kali ini aku tertidur karena lelah.
***
Pikiran Ibu.
Bagaimana nanti aku menjelaskan kepada Fira dengan segala kenyataan yang ada.
Semoga kamu mengerti dan memaafkan Ibu nak.
***
Aku dibangunkan Ibu sudah hampir magrib,
" Fira bangun sebentar lagi sampai," kata Ibu.
Sambil mengucek-ngucek mata aku berusaha bangun.
"Sudah sampai Bu?" tanyaku
"Bentar lagi, siap-siap ya!" kata Ibu.
"Baiklah!" jawabku sambil merapikan kerudung dan memakai sendalku yang terlepas, karena memang aku tidurnya meringkuk di kursi bis.
Aku lihat Bis memasuki area terminal, dan mencoba terparkir dengan sempurna.
Semua penumpang turun, termasuk kami.
Aku lihat Ibu melambaikan tangannya pada seorang pria dengan setelan seragam safari, dan tidak lama laki-laki itu menghampiri Ibu dan membawakan tentengan kami.
__ADS_1
Tidak banyak bicara Ibu kemudian menuju mobil yang dikendarai oleh laki-laki itu dan membuka pintu kursi belakang menyuruh aku masuk dan Ibu masuk dari pintu satu lagi.
Aku keheranan siapa sebenarnya laki-laki itu dan kenapa menjemput ibu seperti Ibu adalah seorang majikan. Bukankah setahu aku Ibu adalah asisten rumah tangga? Ahhh mungkin dia supir keluarga majikan Ibu yang disuruh majikannya untuk menjemput Ibu.
Aku memilih diam karena aku takut untuk menanyakan langsung ke Ibu. Disamping masih ada laki-laki yang sedang menyetir itu.
Saat mobil memasuki sebuah rumah mewah dan megah.
"Nah sudah sampai ayo kita turun?" ajak Ibu.
Aku hanya mengangguk, sambil membuka pintu mobil. Aku melihat laki-laki yang menyetir mobil membukakan pintu untuk Ibu sambil menunduk.
Aku makin heran, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa pemandangan yang aku lihat seolah berbanding terbalik dengan yang diceritakan Ibu, kalau Ibu adalah seorang ART.
Aku masih bingung dan tidak tahu harus berkata apa.
Ibu mengajak aku masuk dan menggiringku memasuki kesebuah kamar.
"Ini kamarmu," sambil membuka pintu.
"Dan kamar mandinya disana!" kata Ibu sambil menunjuk sebuah pintu.
Aku masuk kedalam kamar itu masih dengan kebingunganku. Kemudian aku melihat Ibu keluar.
"Kalau butuh apa-apa panggil Ibu ya!" kata Ibu sambil menutup pintu kamar.
Aku mengamati seisi kamar, kamar yang sangat besar dan mewah dengan ranjang yang besar dengan desain modern minimalis, menurut majalah yang pernah aku baca di perpustakaan.
Aku letakkan tas ransel ku dan aku masuk kekamar mandi, membersihkan diri berharap ini hanya mimpi, "Setelah perjalanan jauh mungkin aku sedang halu." Pikirku
Setelah mandi, aku sholat magrib dan merebahkan tubuhku di kasur, kasur yang sangat empuk, yang membuatku agak kurang nyaman. Terasa tidur di lapangan saking luasnya kamar seumur hidup aku baru kali ini aku merasakannya.
Aku terbangun karena perutku melilit kelaparan. Aku buka pintu kamar mengintip keluar, berjalan perlahan, mencari dapur, karena aku yakin ibu pasti didapur, karena biasanya disanalah ART berada.
Dan benar saja, di lorong belakang setelah melewati ruang TV yang juga tidak kalah besar dari kamar, dan ruang makan yang sangat elegan, aku menemukan dapur.
Dan benar aku menemukan Ibu sedang ada disana bersama seorang wanita yang sudah agak sepuh.
Tetapi penampilan Ibuku sungguh sangat mengejutkan aku, walau hanya memakai daster tetapi sangat beda dengan rambut yang disanggul ala Ibu-ibu pejabat dan gayanya seperti seorang majikan, yang sedang memasak.
"Ini juga di iris Nyonya?" terdengar suara wanita paruh baya itu bertanya.
"Nyonya, Nyoya, ada apa ini?, siapa sebenarnya Ibuku ini? aku makin tidak mengerti!" Gumamku.
Aku cubit pipiku sakit, pertanda aku tidak bermimpi.
Simak terus ya masih ada kejutan kejutan yang lain.
__ADS_1