
Pagi itu seperti biasanya Fira akan berangkat ke kampus. Dia berjalan keluar kamar, dengan agak tergesa-gesa. Dikarenakan hari sudah siang dia tidak sempat untuk sarapan.
Dia mampir ke kantin kampus. Memesan seporsi bubur ayam, sekedar untuk pengganjal perut nya, supaya tidak keroncongan.
Dia berjalan agak tergesa-gesa, sehingga dia tidak sengaja menabrak seseorang. Buku yang dibawanya berhamburan ke tanah. Dia mendongakkan wajahnya setelah mengambil buku-bukunya sambil menggerutu.
"Kalau jalan pakai mata dong!" ucapnya memaki orang tersebut.
"Eh.. kamu yang nabrak malah nyolot lagi!" katanya tidak kalah kencang.
"Ah... ya sudah maaf... sorry aku buru-buru!" kataku karena tidak mau ribut.
"Ini bukumu, kenalkan aku Hendrawan, anak hukum!" kata anak itu sambil mengulurkan buku yang dibawanya.
"hehh, Terimakasih, aku Fira, anak Fakultas Kedokteran.!" kataku sambil mengambil buku yang disodorkannya.
"Ya sudah terimakasih aku mau langsung ke kelas ya!" kataku karena memang sedang terburu-buru.
Aku pun berlari ke kelas. Dan benar saja dosen ku Pak Bimo sudah berada di dalam kelas. Aku permisi dan langsung duduk di kursiku.
Aku menyimak dengan seksama penjelasan materi dari Pak Bimo.
Dua jam berlalu, aku bernafas lega. Mata kuliah yang disampaikan sangat menguras pikiran. Dan inilah resiko aku mengambil jurusan kedokteran. Tidak ada istirahat otakku ini.
Aku berjalan ke kantin sekedar untuk membeli minum. Aku melihat Hendrawan melambaikan tangannya ke arahku.
"Fira, sini gabung!" kata Dia memanggilku.
"Tidak Terimakasih, aku hanya mau beli minum, langsung ke taman, mau duduk disana saja" kataku.
Karena ada jeda beberapa jam untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya aku memutuskan untuk menunggu sambil membaca di taman kampus.
Aku Fokus membaca sampai-sampai aku tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengamati gerak-gerik ku.
Hendrawan tiba-tiba duduk di bangku sampingku.
"Hei, serius amat!" katanya mengejutkanku.
"Heh, kamu kenapa mengikuti aku?" tanyaku.
"Tidak, hanya ingin ngobrol saja!" katanya.
__ADS_1
"Aku kan lagi baca, aku sedang tidak mau bicara dengan seseorang!" kataku.
"Haaaa....galak banget, kenapa memang,?" tanyanya.
"Kan aku sudah bilang aku tidak mau berbicara dengan siapapun!" kataku menegaskan.
"Kenapa kamu, aku kan cuma ingin berteman,!" kata Hendrawan makin meninggi.
Aku menutup buku yang aku pegang dan menatapnya tajam.
"Memang kamu ada masalah apa, kenapa kamu pengen sekali mengganguku?" tanyaku.
"Makin galak makin membuat aku penasaran!" kata Hendrawan sambil berusaha memegang dagu Fira.
Fira langsung memalingkan muka dan beranjak pergi.
"Heh,,, si kutu buku yang mencuri hatiku, kemana kamu lari akan ku kejar!" katanya sambil meniupkan ciuman ditelapak tangannya ke arah Fira.
Disela-sela kesibukan kuliah Fira mengambil pekerjaan sebagai Les privat anak-anak setingkat SMA. Dia berusaha menawarkan jasanya melalui Online dan bak gayung bersambut banyak yang minat. Dan dia pun menjadi kebanjiran pekerjaan.
Fokus di pikiran Fira adalah kerja sambilan untuk menumpuk pundi-pundi rupiah. Dan menyelesaikan studinya secepat mungkin.
Sementara dirumah Ibunya, pertengkaran antara Ibunya dan Anggel terjadi. Anggel sudah mencium aroma pernikahan siri Ratih dan Wira suaminya.
Dengan tangan mengepal geram Anggel mendatangi rumah yang menjadi tempat tinggal Ratih dan Wira.
"Awas kamu Ratih, dasar pembantu tidak tahu terima kasih, sudah diangkat derajatnya sekarang menusukku dari belakang." gumamnya geram.
Dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa, menggedor pintu dengan keras nya.
Bi Mumun tergopoh-gopoh segera membuka pintu rumah nya.
"Cari siapa Bu?" tanya bi Mumun.
Yang ditanya bukan menjawab, tetapi dia langsung merangsek masuk sambil teriak-teriak.
"Ratih, Ratih keluar kamu, jangan sembunyi kamu, kamu pasti ada di dalam." teriaknya.
Ratih dan suaminya yang juga suami Anggel mendengar ada keributan dari ruang tamu, langsung keluar seketika.
"Ada apa ini!" tanya Wira.
__ADS_1
"Ada apa, ada apa, aku yang tanya ada apa ini, kenapa suamiku yang terhormat bisa tidur sekamar dengan pembantu?" tanya Anggel dengan marahnya.
"Dan kamu dasar wanita ja**ng perebut suami orang, sini kamu sini, biar ku Jambak rambut kamu ini!" teriak Anggel sambil hendak meraih rambut Ratih, tetapi keburu Wira datang dan menghadangnya.
"Ma, tenang, semua bisa dibicarakan, Ratih tidak salah, Papa yang salah Papa yang memintanya menjadi isteri Papa, Papa mencintainya." Bela Wira dihadapan Anggel.
"Tega kamu Pa, melakukan ini padaku, tega kamu menyakitiku, kenapa kamu lakukan ini, kurang apa aku ini?" teriak Anggel sambil histeris menangis, dan memukul-mukul dada Wira.
"Maaf kan Papa, papa butuh isteri yang lembut, penyayang, dan selalu ada dirumah, penurut, maaf kan Papa Ma, Papa tidak sanggup hidup sama Mama yang selalu memikirkan gengsi, Mama yang selalu mengutamakan sosialita Mama, Mama yang selalu keluyuran pulang larut malam, maafkan Papa, Ma." Ucap Wira seperti menumpahkan segala keluh kesah hatinya selama ini hidup berumah tangga dengan Anggel.
Ratih cuma menangis tertunduk diam, dia tahu bom waktu ini akan terjadi, tinggal menunggu meledaknya saja. Dan mungkin hari ini, Ratih sudah sangat siap jika Wira meninggalkannya dan memilih kembali kepada Anggel. Dia tahu bahwa dia juga salah, telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Wira dan Anggel. Tetapi dia tidak punya pilihan lain waktu itu.
"Sekarang Papa silakan pilih, aku atau pembantu itu?" tanya Anggel geram.
"Maaf kan Papa, Ma, Papa lebih memilih tetap bersama Ratih, papa akan memberikan semua harta gono-gini pada Mama, Papa tidak akan meributkannya. Toh kita belum dikaruniai anak, jadi sebaiknya mungkin ini jalan terbaik bagi rumah tangga kita. Yang selama ini penuh dengan kepalsuan." ucap Wira.
Bagai disambar petir kepala Anggel dia tidak mengira suaminya akan memilih itu, memilih wanita lain dan meninggalkan dirinya. Dia tidak menyangka rumah tangga yang dia kira baik-baik saja ternyata suaminya tidak bahagia.
Anggel kira suaminya tidak apa-apa jika mereka tidak memiliki seorang anak. Karena memang Anggel tidak menginginkannya.
"Baik kalau itu keputusanmu, maka mulai detik ini aku tidak akan ijinkan kamu menginjakkan kaki di rumahku dan perusahaan akan segera aku ambil alih. kamu akan menyesal dan merengek-rengek dikakiku." kata Anggel sambil pergi dari rumah itu.
Anggel pergi dengan perasaan hancur.
Dan Ratih pun masih dengan tangisnya, kemudian dia dirangkul Wira,
"Tidak apa-apa, semua sudah selesai, kamu tidak apa-apa kan kalau semua kita mulai usaha dari nol." kata Wira sambil memeluk isteri nya.
Sementara Bi Mumun ketakutan cuma melihat dari balik pintu dapur.
Kemudian Wira memeluk istrinya dan menuntunnya kedalam kamar.
Ratih duduk ditepi ranjang sambil masih menangis,
"Mas, terimakasih ya kamu masih ada disampingku bahkan mempertahankan aku" katanya.
"Sayang apapun yang terjadi aku mencintaimu, aku ingin kita bersama selamanya, kamulah istri yang aku butuhkan, aku tidak menyesal kehilangan Anggel dan segala kemewahannya, kita bisa memulai bisnis dari awal lagi!" kata Wira menghibur isteri nya.
"Aku ingin anak dari kamu," bisiknya.
Ratih tertunduk malu.
__ADS_1