
Dikampus Fira, seperti biasanya dia sedang sibuk dengan segala mata kuliahnya.
kegiatan sekarang dia sedang disibukkan penyusunan skripsi.
Mulai dari pencarian materi, Nara sumber dan praktek lapangan demi mencari bahan skripsi. Sampai semua buku-buku di perpustakaan. baik perpustakaan kampus maupun perpustakaan kota, dan semua toko buku yang menyediakan buku-buku pelajaran dia sudah jelajahi dan lahap semua.
Dia bertekat untuk Segera menyelesaikan skripsi nya yang menguras tenaga.
Dia membuka laptopnya hendak mengetik. Tiba-tiba ting ada email masuk, Surat itu tertanggal sudah satu Minggu lalu. Tetapi Fira baru menyadarinya, ternyata dari Rani.
Dia bertanya kabar dan bercerita tentang segala kegiatannya. Dia terlihat sangat bahagia dalam surat elektroniknya itu. Bahkan dia berkata kalau dia sudah menemukan tambatan hatinya. Pria yang sangat dicintainya dan mencintainya.
Selesai membaca surat itu, dia merasa kangen dengan Rani. Kemudian Fira meraih ponselnya dan menekan nomor telepon Rani.
Tut...
Tut..
Lama tidak diangkat, membuatnya mengulang lagi.
"Ahhh akhirnya diangkat juga." gumam Fira.
"Hallo, Rani, gimana kabarmu? kenapa lama sekali mengangkat telepon nya?" tanya Fira bertubi-tubi.
"Hallo, ini Reza, kakak Rani!" sahut diseberang telepon.
"Ohhh, kak Reza, maaf saya nerocos saja, Rani nya ada kak? kok tumben kakak yang angkat telepon nya?" tanya Fira lagi.
"Rani, Rani, Rani sudah nggak ada Dek!" sahut Reza dengan terbata-bata.
"Nggak ada kemana kan?" tanyaku masih tidak mengerti.
"Rani sudah meninggal!" jawab Reza dengan suara yang menahan tangisnya.
"Rani sudah meninggal?, jangan bercanda kak!, baru saja aku menerima Email dari dia, kakak kalau bercanda jangan kelewatan!" sergahku kepada Reza.
"Kakak tidak bercanda Dek, Rani adek kakak meninggal satu Minggu lalu, hari ini tepat hari ke tujuh kami mengadakan tahlilan.!" Reza menjelaskan.
"Rani...." panggilku pecah suara tangisku, tidak terbendung, sahabatku kenapa kamu pergi begitu cepat, kamu masih sangat muda, masih panjang jalanmu. Cita-cita kita belum terwujud, kenapa kamu pergi secepat ini.
"Dek, dek Fira," suara diseberang Telepon mengagetkan aku dari tangis.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Reza di seberang lagi.
"Iya kak, kenapa Rani begitu cepat pergi kak? kenapa kak, ada apa? " tanyaku pada Reza.
"Semua sudah takdir dek, siang itu dia pergi keluar rumah dengan ceria seperti biasa, tiba-tiba kami dapat telephon kalau Rani kecelakaan dan tidak dapat ditolong, kami syok dek." cerita Reza kepadaku.
"Iya kak, pastinya aku juga syok dengar ini semua. Tetapi seminggu lalu dia masih kirim email kepadaku kak?" tanyaku pada Reza masih sambil terisak.
__ADS_1
"Iya dek, mungkin itu email terakhir yang dia tulis.!" jawab Reza, membuat aku yang mendengar makin sedih.
"Sudah kamu jangan nangis, jangan bebani jalan Rani dengan tangis, ikhlaskan dan kakak meminta maaf atas semua kesalahan Rani selama ini ya!" kata Reza lagi.
"Rani sahabat terbaik ku kak, aku pasti akan memaafkan semua kesalahan dia. In syaa Allah saya akan datang untuk ziarah ke makam Rani ya kak!" kataku pada Reza.
"Iya dek, ya sudah ya, masih banyak tamu yang harus kakak temui ini. Datanglah untuk melihat pusara Rani yang terakhir." kata Reza padaku sambil menutup teleponnya.
Aku masih tidak percaya dengan kabar ini. Rani sahabatku kini sudah tiada, rasa tidak percaya.
***
Esok hari pagi-pagi sengaja aku segera mandi dan berpakaian rapi, aku hendak pergi ke kota tempat tinggal Rani semasa hidupnya. kebetulan hari ini tidak ada jadwal kuliah.
Dengan 3 jam perjalan yang harus aku tempuh dengan mengendarai bus antar kota.
***
Aku berdiri di depan rumah Rani rumah yang dulu pernah aku singgahi, rumah yang dulu ku jadikan basecamp saat harus mengajari Rani mengerjakan tugas sekolah.
Perlahan aku memasuki halaman Rumah, aku ketuk pintu dengan pelan.
Aku lihat seseorang membuka pintu dan melihat aku yang datang orang itu langsung menghambur kepelukanku.
"Fira,!" panggilnya sambil memelukku dan kemudian menangis.
"Iya Nak, Allah lebih sayang Rani dari kita semua." Jawab Ibu Rani dengan tangis nya.
Dan aku pun ikut menangis.
Kemudian Ibu Rani melepaskan pelukannya.
"Ayo masuk!" sambil menggandeng tanganku.
"Duduklah," kata Ibu Rani menyuruh aku duduk.
Aku tahu betapa baik keluarga ini kepadaku. semenjak aku masih sekolah.
Setelah mengobrol beberapa lama dengan Ibu Rani, tentang segala kenangan manis dengan Rani semasa hidupnya. Aku pamit izin untuk pergi ke makam.
"Bu, saya mau ziarah ke makam Rani, boleh?" tanyaku pada Ibu Rani.
"Tentu boleh, nanti biar Reza yang antar!" kata Ibu Rani.
Kemudian beliau memanggil Reza dan menyuruh Reza mengantar aku, dengan mengendarai motornya kami pergi ke makam Rani.
Aku terduduk di tepi pemakaman, aku lihat gundukan tanah yang masih merah tanda masih baru, dan dipenuhi dengan taburan bunga yang masih segar. Aku lihat tulisan di batu nisan, ada nama Rani disana.
Lailatul Maharani.
__ADS_1
Aku usap batu nisan itu dan dengan air mata yang terus mengalir, terbayang semua kenangan tentang Rani di pelupuk mataku.
Aku kaget saat Reza menepuk pundakku.
"Fir,!" panggilnya sambil dia ikut berjongkok disampingku.
"Iya kak. Aku masih tidak percaya kak, kalau yang didalam sana itu terbaring sahabat ku." kataku.
"Iya kakak juga masih tidak percaya, tetapi kita harus menguatkan hati untuk menerima takdir ini." katanya mengingatkan aku.
Lama kami berjongkok dipusara Rani dan mendoakannya. Hari menjelang sore Reza pun mengajak aku pulang. Kami pun pulang, namun aku memilih langsung ke terminal untuk kembali ke Surabaya.
Aku minta diantar Reza sampai ke terminal.
"Fira,!" panggil Reza
Aku menoleh, sambil melihatnya.
"Iya,"
"Waktu itu sehari setelah Rani meninggal, ada temen sekolah kamu yang datang kerumah, hendak menanyakan keberadaan kamu, tapi kakak lupa namanya?" kata Reza.
"Oh, iya kak, siapa ya?" tanyaku.
"Kakak juga kurang tahu, yang ketemu waktu itu ayah, seorang laki-laki, katanya temen sekolah kamu, kalau nggak salah ingat namanya Rin... Rin... gitu deh!" kata Reza mencoba mengingat.
"Rinto? maksud kakak." kataku.
"Ahhhh iya, Rinto namanya, apa dia pacar Rani?" tanya Reza.
"Ehhhh,,, nggak kak, dia temen kami waktu sekolah!" kataku lagi.
"Kak, Terimakasih sudah mengantar Fira sampai terminal ya, salam buat Om dan Tante, sudah malam Fira naik bis dulu." pamit ku pada Reza.
"Ohhh,,,, iya, kamu hati-hati dijalan, berani kan sendiri?" tanya Reza lagi
"In syaa Allah, berani kak, " jawabku.
"Sering-seringlah telepon, walau Rani sudah tidak ada, bicaralah sama Ibu, supaya Ibu tidak kesepian, setelah Rani tidak ada!" pesan Reza.
"Baik kak,!" jawabku sambil memberhentikan bus jurusan kota Surabaya.
***
Maaf Baru Up lagi, memasuki bulan Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan puasa buat Reader tercinta dan semua Author yang baik.
***
__ADS_1