
Pagi itu, Fira sudah bangun meskipun hari masih sangat gelap. Jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia segera mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat tahajud.
Dalam sujud panjangnya dia berdoa seraya mengucap syukur atas semua anugerah Allah yang sudah di berikan.
Berbagai cobaan sudah dia lalui bersama ibunya berdua. Tanpa ayah kandungnya dia hidup dan menjalankan kehidupan dengan penuh air mata.
Hari ini adalah puncak dari harapan yang selama ini dia lantunkan dalam setiap doa panjangnya. Dalam setiap sujud akhir rakaat nya dalam keheningan malam saat semua orang terlelap dalam mimpinya.
Harapan untuk kebahagiaan Ibunya dan harapan untuk cita-citanya, kini sudah hampir didepan mata.
Yah, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu selama ini, hari ini hari wisuda nya, hari penobatannya sebagai dokter muda.
Gelar Dokter Elfira Maharani akan segera dia sandang.
Selesai melaksanan shalat malam, Fira hendak mandi kemudian dilanjutin shalat subuh. Dia mempersiapkan kebaya yang akan dia kenakan saat wisuda hari ini. Dengan kebaya modern warna hijau muda, dan Rok batik yang serasi dengan kebaya nya dan kerudung yang juga sudah dipadu padankan.
Fira melangkah ke salon yang ada disamping kost nya dan dia hendak memakai jasa make Up untuk mempercantik penampilannya.
Ibunya sudah hadir dari sehari yang lalu, Ibu dan kedua adiknya menginap di hotel karena kost Fira tidak memadai untuk kedua adik Fira.
Hampir dua jam dia berdandan di salon itu, selesai ber make up dia sudah dijemput Ibu dan ayah sambungnya, dengan mobil mereka bertiga berangkat menuju tempat penobatan nya menjadi seorang Dokter.
Sementara ke dua adiknya ditinggal di hotel bersama kedua baby sister ya.
"Gimana? gugup?" tanya Ibunya.
"Sedikit Bu," jawab Fira.
"Nggak apa-apa ada ibu dan ayah disini!" kata Ibu nya menguatkan.
"Semangat ya, jangan gugup, hal itu biasa!" kata Ayah Fira.
"Iya, ayah, Ibu,!" jawab Fira sambil tersenyum dan memandang mereka berdua.
Kami masuki halaman parkir gedung tempat wisuda, kami turun dari mobil dan kami memasuki gedung kemudian mengambil tempat duduk di kursi yang sudah di persiap kan. Kami menunggu sejenak sampai ketua dan anggota senat yang akan melantik memasuki ruangan.
Kami duduk dan berjajar sesuai nomor urut yang sudah diberikan.
Setelah MC memanggil kami berjajar untuk pelantikan dan pengukuhan, kami maju satu persatu untuk penyematan tali toga dari kiri ke kanan.
__ADS_1
Acara berjalan dengan lancar dan khikmad, selesai semua acara kami melakukan sesi pemotretan. Aku melakukan foto bersama ibuku dan ayah sambungku.
"Selamat ya," ucap Gani, temanku.
"Sama-sama, kamu juga selamat". kataku
"Gimana setelah ini? kamu mau kemana?" tanya Gani lagi.
"Aku mau ke kota bersama ibuku, mungkin aku akan tinggal disana!" jawabku lagi.
"Kalau kamu sendiri gimana?." tanyaku.
"Aku akan kembali kekampungku mengabdi sebagai dokter di kampungku!" jawab Gani.
Semua berfoto dengan bahagia meluapkan kegembiraan.
Hari sudah sore ketika selesai acara Wisuda. Aku kembali ke kost, setelah mengantar kan Ibu dan Ayah ke Hotel tempat mereka menginap.
Alhamdulillah kata yang tidak pernah selesai aku ucapkan dalam hatiku. Kini aku adalah seorang dokter. Dokter Elfira Maharani, gelar yang dulu hanya mimpi bagiku, kini menjadi nyata.
Aku seorang anak yang ditelantarkan oleh ayahku kini berhasil berjuang merubah takdir ku. Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mau berusaha. Aku sudah membuktikannya, dari seorang pembantu rumah tangga, sekolah dengan seadanya namun dengan perjuangan yang keras aku mampu merubah pemikiran sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata.
Aku berkemas semua barang-barang ku yang selama aku kuliah di sini. Rencananya aku akan diantar oleh ayah dan Ibu kembali ke kampung.
***
Selang beberapa hari setelah semua urusan dikampusku selesai, Aku kembali ke kampung.
Berkumpul dengan keluarga bibi dan paman.
Sementara Ibu dan ayahku kembali ke kota, karena urusan ayah yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama.
Bibi Nani pun sudah mulai membaik bahkan sudah bisa dibilang sembuh, kini dia sudah berkumpul dengan keluarganya dan mulai mengenali satu persatu anggota keluarganya. Dan sudah bisa kembali beraktivitas setiap hari, walaupun masih harus tetap konsumsi obat. Bibi sudah kembali mambantu paman bekerja disawah.
Semua aset Paman yang dulu di jual kini berubah kepemilikan menjadi atas nama Ibu. Setelah Pak Wira membelinya untuk Ibuku.
Dan karena Ibu juga tidak mungkin untuk mengelolanya, maka pengelolaan diserahkan kepada Pamanku. Alhasil kini perekonomian Paman sudah kembali normal. Walaupun kini bukan miliknya lagi tetapi setidaknya kini dia tidak menjadi buruh tani lagi. Tetapi menggarap tanah Ibuku yang kemudian dibagi dengan sistem bagi hasil.
Bunga kini sudah menikah dan memiliki seorang anak yang lucu. Sedangkan Rio kini tinggal dikota untuk menyelesaikan kuliahnya.
__ADS_1
Alhamdulillah semua sudah kembali normal. Ucapku didalam hati sambil memandang hamparan sawah yang luas dan memperhatikan paman dan bibi mengatur para pekerja sambil bercanda dan tertawa.
Bibi melambaikan tangan kearahku,
"Fira, sini kita makan siang" panggilnya.
"Baik Bi,!" jawaku sambil sedikit berteriak, karena memang jaraknya yang jauh.
Aku berlari kecil ke arah saung dimana Paman dan bibi sedang duduk mempersiapkan makan siang. Makan disaung ditemani hijaunya pemandangan padi di sawah. Sambil sesekali kami bercanda dan tertawa.
"Kapan kamu berangkat,?" tanya paman.
"Entah paman, aku masih pengen liburan, masih kangen dengan suasana santai disini." jawabku sambil mengunyah makan siangku.
"Kenapa kamu nggak tinggal disini saja, kamu mengabdi di puskesmas desa." kata Paman lagi.
"Kalau tidak kamu mendaftar jadi dokter rumah sakit di kabupaten saja." Paman melanjutkan pembicaraan an.
"Entah lah Paman, Fira masih mau istirahat dulu." kata ku.
Selesai Makan Paman dan bibi melanjutkan pekerjaan nya. Dan aku merapikan bekas makan siang kami.
Aku memandang jauh diawan.
Pikiran ku melayang jauh memikirkan seseorang yang entah dimana. Entah apa kabarnya, apakah masih setia kepadaku atau sudah memiliki kebahagiaan nya.
"Aku datang mempersembahkan hatiku, dan aku datang untuk mengejar cintaku." suara seseorang dari arah belakangku.
Sontak aku terkejut, aku seperti sangat mengenal suara itu, suara yang sangat aku rindukan untuk aku dengar, suara yang sangat tidak asing. Dan suara yang aku harapkan.
Aku membalikkan badan, aku lihat seorang berdiri di belakangku.
Aku kaget hendak berlari memeluknya tetapi langkahku tertahan, tepat dihadapannya. Aku lihat wajah itu.
"Kamu,!" ucapku.
"Iya, aku!" jawabnya.
"Aku datang untuk cintaku," katanya.
__ADS_1
"Aku sangat rindu kamu, " katanya lagi sambil menatap erat dimataku.