
Bersamaan mereka masih menggangguku tiba tiba Rinto datang menghampiri kami.
"Fira, " Teriak dia dari jauh.
Gadis dan teman temennya langsung Spontan kaget dan salah tingkah.
"Ehhh Rinto" sapa Gadis.
"Iya nih, Aku mau beli jajanan dulu sama Fira". Ucap dia, tentu saja dia berbohong dia pasti tidak mau terlihat buruk dimata Rinto, makanya dia bicara seperti itu.
"Fira, jangan lupa jam istirahat yang ke dua kita ada rapat membahas MaDing di Ruang OSIS ya" kata Rinto.
"Iya Rin, " jawabku datar .
Gadis masih menatap dengan tajam sambil melotot ke arahku.
Memberi isyarat supaya Aku tak dekat dekat dengan ya.
Selepas Rinto berlalu dari kami Gadis mulai lagi membentak ku.
" Ingat bocah kotor, kamu nggak layak bersama Rinto, jadi Aku ingatkan untuk tidak dekat dekat dengannya, kalau kamu masih ingin sekolah disini". Ucap Gadis dibarengi senyum sinis dan anggukan kepala Ana dan Devi.
Tentu saja Aku agak ketakutan dengan ancamannya, Aku sendirian, tidak ada orang tua yang membela.
Hati ku sedih tidak karuan.
Bel tanda masuk kelas berbunyi, kemudian kami berhamburan masuk kelas masing2. Gadis masih menatapku dengan tatapan yang tidak suka.
"Ya Allah, aku hanya ingin sekolah tidak ingin cari musuh atau berpacaran. kenapa begini". keluhku dalam hati.
Jam istirahat tiba, teman2 langsung menyerbu jajanan yang aku bawa. Maklum kelas kami di lantai atas, letaknya agak jauh dari kantin, membuat kami malas untuk ke kantin, jadi mereka memilih membeli di aku.
Aku tak henti hentinya memikirkan ancaman Gadis, Aku berdoa dalam hati semoga itu tidak terjadi.
"Hei Fir," sapa Rani
dia adalah sahabat baik ku, dia juga yang sudah mencarikan aku pekerjaan.
"Kok melamun" kata Rani
"Ehh iya Ran," jawabku agak gugup.
"Kamu kenapa?" tanya ya lagi.
Tiba-tiba nggak kerasa aku menelungkupkan wajahku dimeja, sambil sesenggukan.
"kok malah nangis?" tanya Rani.
Aku cerita kan pada ya apa yang aku alami tadi pagi.
"Hey, kamu kan Fira, Anak yang kuat, kenapa sekarang menangis, lihatlah dirimu, sudah berapa masalah yang kamu hadapin, sudah berapa masalah yang kamu selesai kan. Kamu pasti bisa ngelewatin ya. Tenang saja" kata Rani menguatkan aku.
__ADS_1
"Tapi aku sendirian Ran, aku nggak ada orang tua, kalau sampe benar benar Gadis membuat aku dikeluarkan dari sekolah ini, bagaimana?" kataku masih dengan nada sesenggukan.
"Fira, dengar tidak mudah untuk mengeluarkan siapa pun dari sekolah, harus dengan alasan yang kuat, untuk bisa melakuan itu, jadi kamu tenang saja. semuanya akan baik baik saja." kata Rani menghibur ku.
"Yang penting mulai sekarang coba kamu jauhin Rinto, jangan berinteraksi dengannya yang berlebihan " kata Rani melanjutkan ucapan nya.
Aku hanya mengangguk pelan. Dan hatiku mulai tenang.
Jam Istirahat ke dua mulai, aku ada rapat dengan pengurus OSIS, aku mengambil tempat duduk yang agak jauh dari Rinto, yang biasanya aku duduk disampingnya kini aku mengambil kursi yang berseberangan, untung meja rapat nya besar sehingga aku leluasa untuk mengambil duduk yang jauh dengan Rinto.
Melihat tingkahku Rinto hanya mengeryitkan dahi tanpa bertanya.
Rapat Dimulai, Sudah diambil keputusan setiap MaDing harus melalui tim seleksi yang sudah dibentuk, tidak seperti saat ini semua bisa seenak enaknye menenpelkan apapun di MaDing.
Rapat selesai, aku bergegas kembali ke kelas.
Tiba-tiba Rinto memanggil.
"Fira" panggil Rinto
aku menoleh
"Kenapa buru- buru" katanya lagi
"Maaf Rin, aku masih ada pelajaran jadi Aku nggak mau ketinggalan." alasan ku.
"Ok, kalau tidak keberatan pulang sekolah nanti bareng ya" kata dia lagi.
"Tapi bukan nya kita searah ya pulangnya" Katanya lagi.
"Iya tapi aku mau mampir ke warung bu Wati buat setoran uang jajanan tadi" aku masih mencoba mencari alasan.
"ohhh baiklah" akhirnya dia menyerah juga.
Sepanjang perjalanan pulang sekolah aku terus berfikir, bagaimana cara mencari yang lebih banyak lagi untuk biaya kuliah ku nanti.
Tidak terasa sudah sampai didepan warung Bu Wati.
"Assalamualaikum, " ucapku.
"Waalaikum salam" Ehhh Neng Fira, kata Bu Wati
"iya Bu" jawabku
" Gimana habis jajanannya,?" tanyanya.
" Ini Bu, sambil aku menyerahkan kotak plastik tempat jajanan dan uang ya.
"Masih ada sedikit" kataku
"Ya sudah tidak apa - apa" kata Bu Wati
__ADS_1
"Itu juga sudah Alhamdulillah" katanya meneruskan ucapan nya.
"Dan ini upahmu" sambil menyerahkan uang 5000 dan beberapa jajanan untuk aku.
"Terimakasih Bu" kataku
"Saya pamit dulu ya Bu" lanjutku.
" ohhh iya" besok jangan lupa bawa lagi ya" kata Bu Wati lagi.
"Baik In syaa Allah Bu." jawabku sambil mohon diri.
Sesampainya di tempat kost, jam sudah menunjukkan pukul 14.00. siang. Aku bergegas sholat dhuhur kemudian makan dan langsung berangkat lagi ke tempat kerjaku, yang cuma berjarak beberapa rumah dari kost aku .
Di tempat kerja aku sudah ditunggu sama Bu Darto, majikanku,
"Assalamualaikum " ucap salam ku
"Waalaikum salam, masuk Fir, itu cucian sudah Ibu taruh dibelakang ya," kata BuDarto
"Baik Bu" jawabku
Tanpa bertanya aku langsung memasukan cucian ke bak cuci, merendamnya dan kemudian aku mengambil sapu, mengepel dan mencuci piring, menyapu halaman dan menyiram, kemudian baru mencuci.
Selesai menjemur pakaian aku langsung pamit,
Jam sudah menelunjukan pukul 17.00 sore.
Aku bergegas pulang ke kost, untuk istirahat.
Rasanya lelah setelah seharian beraktifitas.
Aku langsung merebahkan diri dikasur.
Air mata kembali bergulir, teringat semua takdir yang harus aku jalani. Rasanya pengen teriak, pengen marah pengen protes, disaat semua teman ku bisa menikmati masa remaja ya dengan bahagia, aku justru merasakan sendirian, kesepian dan kelelahan.
Tapi aku harus kuat aku tidak mau terburuk berlama lama. Aku harus bangkit demi masa depan ku yang harus aku usaha kan. harus aku perjuangkan. Bisiku dalam hati.
"Bismilah, Kun Fayakun, apa pun jika Engkau berkehendak aku pasti bisa." ucapku menghibur diriku.
Perlahan aku buka amplop gajian dari Bu Darto, Rp 250.000 gajiku sebagai ART. Dan uang recehan yang aku kumpulkan di celengan setiap hari sudah berjumlah Rp. 195.000.
"Alhamdulillah" ucapku.
Tidak terasa malam sudah larut saat aku selesai mempersiapkan buku buku pelajaran buat sekolah besok pagi.
Aku langsung beranjak untuk tidur, tidak lupa aku wudhu dan berdoa itu sudah menjadi rutinitas ku setiap malam. Dan aku jaga aku selalu ingat pesan uatadzah yang tidak sengaja kudengar saat sedang ibadah sholat magrib di mushola beberapa waktu silam.
"Jika kita menjaga wudhu maka Malaikat akan menjaga kita" itu selalu tertanam dalam hatiku.
Riview dan komentarnya ditunggu ya,
__ADS_1