Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 5. Fitnah


__ADS_3

Sementara di tempat kost Fira, Fira masih tampak masih bermalas malasan, sambil termenung dikasurnya.


Dia masih terbayang bayang dengan apa yang baru saja terjadi beberapa waktu padanya.


Dia meraih ponselnya, iya ponsel N*K*A 3310. yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, yang dibelikan ibunya untuk berkomunikasi dengan ibunya. Ditekankan nomor ibunya, suara nada dering terpanggil.


"Hallo Nak" suara ibunya terdengar.


"Hallo Ibu, apa kabar ibu" jawab Fira.


"Baik sayang, kamu gimana? sehat kan ? baik baik saja kan disana?" tanya ibunya


"Alhamdulillah Bu aku baik baik saja" jawabku berbohong.


"Kiriman uang ibu sudah kamu terima kan sayang? maaf ya ibu cuma bisa kirim sedikit, ibu masih harus mengangsur cicilan hutang Nak," kata ibunya lirih, dalam hati ibunya menangis, seharusnya Fira tidak ikut dilibatkan masalahnya dengan Suaminya yaitu ayah Fira. Kasihan dia harus ikut menanggung beban kesalahan kedua orangtuanya, batin ibunya, tetapi apalah daya ibunya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa berdoa semoga Fira kelak sukses dan mapan baik secara finansial maupun dalam berumah tangga.


"Bu," panggil Fira setelah ibunya terdiam cukup lama.


"Ibu tidak usah khawatir, Fira baik baik saja, terimakasih sudah mengirimi Fira uang, sebetulnya tidak usah juga tidak apa apa Bu, Fira masih ada tabungan." kata Fira.


"Ehhh anak ibu sudah besar ya, sudah berani menolak pemberian ibunya," candaan ibunya.


"Bukan maksud Fira begitu Bu, tapi Fira kasihan sama Ibu." jawab Fira dengan perasaan bersalah.


"Ahhh ibu cuma bercanda, ibu senang anak ibu sudah pandai dan mandiri, sudah kewajiban Ibu Nak , untuk memenuhi kebutuhanmu, tapi Alhamdulillah juga kamu sudah mandiri, dan pandai lagi" jawab ibunya dengan bangga.


"Aaaa ibu bisa aja" jawab Fira dengan senang.


" Nak kalau ada apa apa selalu kabari Ibu ya, jangan lupa kamu berkunjung kerumah Paman kalau lagi libur sekolah" pesan ibunya.


"Baik Bu," jawab Fira


"Sudah dulu ya Nak, Ibu mau kerja lagi, nanti majikan Ibu marah kalau Ibu telpon terus, kamu hati - hati disana, jaga ibadahmu dan belajar yang rajin" pesan ibunya.


"Iya Bu, in syaa Allah, Fira akan selalu ingat pesan ibu"jawab Fira.


"Assalamualaikum" pamit Ibunya sambil menutup teleponnya.


"Waalaikum salam" jawab Fira.

__ADS_1


Setelah menutup sambungan telepon, Fira masih memandangi Hp nya, kemudian meletakkan di lemari pakaiannya.


Sejurus dia melihat buku - buku pelajaran yang tersusun rapi di meja kecil samping kasurnya.


Sudah sejak siang dia belum menyentuh satu buku pun untuk dia baca, dia memandang gambar seorang dokter yang ada di dindingnya. Iya itu adalah gambar seorang dokter lengkap dengan stetoskop yang melingkar dilehernya. Gambar itu dia dapat dari kalender bekas yang sudah tidak terpakai kemudian dia gunting.


Disitulah dia menggantungkan impiannya, untuk menjadi seorang Dokter.


Akhirnya semangat belajar dia tumbuh lagi, dia mulai memilah buku yang akan dia pelajari malam ini, Matematika, Fisika, Biologi, dia keluarkan.


"Bismillahirrahmanirrahim, belajar Ya Allah semoga kelak aku bisa menjadi dokter, Aamiin" ucapnya.


Kemudian dia buka buku satu persatu, dia baca dan dia pahami, dia kerjakan latihan soal yang ada di buku.


Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam. Dia mulai lelah, dia membereskan tas nya dan memasukan buku - buku yang akan dibawanya sekolah besok pagi.


Dia merebahkan tubuhnya dan berdoa kemudian tak berapa lama dia terlelap.


"Tok tok tok, Fir, Fira,!!" terdengar suara pintu diketuk, dia meloncat kaget,


"Iya" jawab Fira dengan agak terkejut


Suara Hani teman sebelah kamar nya yang juga sekolah di sekolahan yang sama.


Fira kaget, rupanya dia kesiangan, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00, dia lupa mengeset alarm jam nya semalam.


" Terimakasih Han sudah membangunkan aku" teriak Fira dari dalam kamar.


Yang diteriakin sudah tidak menyahut pertanda dia sudah meninggalkan tempat itu.


Fira bergegas ke kamar mandi, mandi ala kadarnya, karena sudah kesiangan dia tidak mampir ke warung Bu Wati untuk mengambil jajanan untuk dijual. Dia bergegas ke sekolah karena sudah tidak keburu lagi, bahkan dia belum masak untuk dia sarapan. Akhirnya dia mampir ke Warung Nasi belakang sekolah untuk membeli sarapan, sekedar pengganjal perut.


Dengan terburu-buru setengah berlari untuk sampai di gerbang sekolah, dia tidak mau sampai terlambat, karena jika terlambat maka gerbang sekolah akan di gembok alhasil dia akan menunggu waktu satu jam mata pelajaran selesai untuk bisa masuk. Itulah peraturan disekolah itu jika terlambat.


"Ahhh syukurlah belum terlambat" ucap Fira, sambil menghela napas lega karena sambil berlari.


Sementara sesampainya Fira disekolah, semua mata tertuju padanya, sepanjang lorong semua anak yang dilewati Fira melihatnya dengan sinis dan sambil berbisik-bisik, seolah ada yang salah dengan Fira.


Bahkan ada yang nyeletuk," Nggak nyangka ya sang juara sekolah kelakuannya kayak gitu"

__ADS_1


Fira makin tidak mengerti, sampai akhirnya dia ketemu Rani.


Rani langsung menarik tangannya, membawanya ke toilet Wanita dekat tangga.


"Sini" kata Rani sambil menariknya.


"Aku mau tanya, apa benar kabar yang aku dengar?


kalau kamu bermaksiat dengan Bang Zul, kamu pacaran di halte dengan nya dan bermesra- mesraan?"


berondong Rani tanpa henti membuat Fira bingung.


"Haaa", sambil menutup mulutnya Fira, bingung, bingung menjelaskan semuanya, dia tidak tahu harus berkata apa.


Bersamaan dengan itu bel tanda masuk kelas berbunyi. Dan Rani pun masih berkata "kamu masih berhutang penjelasan padaku Fira" kemudian dia pergi.


Sementara Fira masih belum mengerti kenapa kejadian kemarin menjadi bumerang buat dia, dia yang menjadi korban sekarang menjadi tersangka, ada apa ini batin Fira.


Masih dengan kebingungannya, dia masuk kelas, walaupun semua teman memandangnya dengan jijik dan merendahkan. Dia duduk di bangkunya, dengan diam dan hanya memandang Rani tanpa berkata-kata.


Sampai akhirnya Ibu Darti Guru Biologi masuk kelas, setelah selesai berdoa, Bu Darti tiba-tiba memanggil namanya,


"Fira" Panggil Bu Darti


Dengan kaget Fira menjawab


"Saya Bu" masih dengan gugup.


"Kamu dipanggil keruang kepala sekolah sekarang" Kata Bu Darti.


"Baik Bu" jawab Fira,


Kemudian dia melangkah keluar kelas dibarengi dengan suara sorak satu kelas.


"Huuuuuuuu" sampai ada yang melempar kertas padanya.


"Sudah stop, mari kita mulai pelajaran hari ini." Ucap Bu Darti.


Sepanjang perjalanan keRuang Kepala Sekolah pikiran Fira tidak karuan, apa yang terjadi kenapa kejadian dengan Zul, Rani bisa mengetahuinya, bukankah yang tahu itu cuma Rinto sama Zul, Apa mungkin Zul membalikan fakta, pikirannya berkecamuk, menduga duga.

__ADS_1


Apa mungkin ini jawaban kenapa anak-anak satu sekolah, memandangnya sinis seperti itu. Tidak ramah seperti biasanya, bahkan Rani pun ikut marah padanya.


__ADS_2