
Selesai merapikan barang aku keluar kamar, aku tidak suka berlama-lama didalam kamar kalau sedang ada dirumah. Aku suka berkeliling ke pekarangan rumah sambil lihat kebon samping rumah.
Aku lihat ibuku sedang menelepon seseorang saat aku kebelakang. Melihat aku datang ibu langsung menutup teleponnya.
"Ibu telepon siapa?" tanyaku.
"Majikan ibu, menanyakan apa ibu sudah sampai atau belum?" jawab Ibu.
"Ohhhh," kataku menanggapi.
"Fira, kamu libur sampai kapan?" tanya ibu.
"Seminggu ini aku kosong Bu mau istirahat, Minggu depan aku sudah mulai mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk masuk universitas!" jawabku.
"Kalau Ibu usul bagaimana kalau Bibi kita bawa ke RS Jiwa aja gimana?" tanya Ibu padaku.
"Terus biayanya gimana Bu?" tanyaku.
"Ibu masih ada uang tabungan, lagi pula Ibu merasa kasihan sama Rio kalau dia harus mengurus ibunya sambil sekolah!" kata Ibu.
"Ibu yakin?" tanyaku seolah tidak percaya.
"Kasihan nak bibi mu,!" ucap ibu.
"Kalau Ibu yakin, Fira percaya, lagi pula Fira kan kuliah dengan beasiswa, Fira akan berusaha mempertahankan prestasi supaya beasiswa Fira tidak dicabut, mungkin juga nanti Fira akan sambil bekerja Bu, bukankah selama ini Fira sudah biasa bekerja?" kataku pada Ibu.
"Terimakasih sayang, kamu sangat pengertian!" jawab Ibu sambil tersenyum.
"Jangan takut membantu orang lain, karena saat kita membantu orang lain, saat itu juga Allah turunkan malaikat-malaikat untuk membantu kita!" nasehat ibu padaku.
"Iya Ibu, Terimakasih tidak lelah menasehati aku!" kataku sambil tersenyum pada Ibu.
"Ibu lagi buat apa?" tanyaku saat aku lihat ibu sedang merebus sesuatu.
"Ibu sedang memasak ayam rendang, tadi melihat ayam Pak Aji, tetangga kita mau dijual ya sudah ibu beli saja, lagi pula kita kan tidak punya lauk, sekalian nanti buat pamanmu!" jawab Ibu.
"Ohhh,!" jawabku sambil mengangguk.
Selesai shalat magrib, kami mengunjungi Paman dan Rio, kami membawa serta nasi dan lauk yang kami masak tadi siang, untuk mengajak Paman dan Rio makan bersama.
Kami masuk melalui pintu dapur, yang masih terbuka, aku lihat Paman sedang duduk sambil memperhatikan Rio yang sedang belajar.
"Karta,!" panggil Ibu.
Seketika Paman kaget, karena memang sedari tadi beliau sedang melamun.
"Iya, Mba,! kok nggak denger suara masuknya!" kata paman.
"Gimana mau denger wong kamu ngelamun!" jawab Ibu.
"Ayo makan, kamu belum makan kan?, aku sudah siapkan didapur, ajak Rio itu sekalian!" kata Ibu
__ADS_1
"He eh." jawab Paman sambil mengajak Rio.
Paman duduk di kursi ujung, Ibu di sampingku dan Rio di kursi seberang meja.
"Ibu mu lagi apa Rio?" tanya Ibu.
"Tadi sih lagi tidur Wa,!" jawab Rio.
"Ya sudah kamu makan dulu, nanti coba Uwa yang suapin Ibumu!" kata Ibu.
"Mengenai Nani, gimana kalau besok kita bawa ke Rumah Sakit jiwa ya Ta!" kata ibu pada Paman memulai percakapan sambil makan.
"Mba, aku nggak punya biaya!" jawab Paman.
"Soal biaya biar Mba yang usahakan, yang penting sekarang Nani bisa sembuh.!" kata Ibu lagi.
Rio hanya bengong saja mendengar percakapan Ibuku dan ayahnya.
"Tapi Wa, kami tidak mau merepotkan Uwa, apalagi sekarang kak Fira hendak kuliah, pasti butuh biaya mahal!". kata Rio menimpali.
"Kamu tenang saja Fira kan kuliah dari beasiswa,!" jawab Ibu.
"Tapi Wa!!!" ucap Rio lagi.
"Nggak usah pakai tapi tapi, besok persiapkan ibumu untuk dibawa ke Rumah Sakit ya!" jawab ibu memotong ucapan Rio yang belum selesai.
Selesai makan aku dan Rio membereskan semua piring kotor dan Ibu kekamar Bibi menyuapi Bibi dengan ditemani Paman.
Hari ini Senin pagi-pagi Rio ijin tidak masuk sekolah, sesuai pemerintah Ibu kemarin kami akan membawa Bibi ke Rumah Sakit khusus gangguan jiwa.
"Mau kemana?" tanya Bibi.
"Mau jalan-jalan!" jawab Rio.
"Beli perhiasan ya, sama arisan dirumah Bu RT." kata Bibi ngaco.
"Iya, nanti beli sekalian jalan-jalan ya!" jawab Rio.
Kemudian Rio mengganti baju Bibi yang lusuh dengan sangat telaten. Dan menuntun bibi masuk kedalam mobil yang sengaja kami sewa untuk sehari ini.
Perjalanan ke Rumah Sakit Jiwa memakan waktu hampir tiga jam, karena kami tinggal di pegunungan yang jauh dari pusat kota.
Sesampainya di rumah sakit, kami mendaftar kemudian menunggu sebentar, karena kelamaan dijalan dan menunggu membuat Bibi mengamuk. Dia sudah mulai ngaco bicaranya kemudian mulai meronta dan menendang membuat kami kewalahan mengatasinya.
Dua perawatan dengan sigap memakaikan Bibi baju khusus yang membuat tangannya tidak bisa bergerak.
Kemudian menyuntikkan obat penenang dan membawa Bibi kekamar perawatan.
Sejenak kami menunggu, kami konsultasi dengan dokter dan kemudian dokter menyarankan karena kondisi Bibi yang belum stabil maka harus dirawat.
Tidak ada pilihan lain, kami pun menyetujui segala saran dokter, apapun itu demi kebaikan Bibi kami lakukan.
__ADS_1
Aku dan Ibu pergi ke ruang administrasi, disana kami membayar semua tagihan dan biaya perawatan serta obat yang akan diberikan pada Bibi selama sebulan ini. Dan Ibu pun langsung membayar kan semuanya
Selesai semua urusan, kami pulang, sepanjang perjalanan kami hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku melihat Rio dan Paman ada kesedihan yang mendalam disana, melihat orang yang dicintai harus berada di tempat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Khususnya Rio, aku lihat beberapa kali dia menghembuskan nafasnya dengan berat, seolah ingin melepaskan beban yang ada di pundaknya.
"Hei, pada lapar nggak?" Ibuku berbicara melepaskan kesunyian.
"Iya Bu, ini kan juga sudah siang waktunya makan siang!" jawabku mencoba mencairkan suasana.
"Terserah Mba saja. " kata Paman kurang semangat.
"Iya Wa, Rio juga lapar!" jawab Rio seolah ingin menutupi segala kesedihan nya.
"Kita makan apa nih enaknya?" tanya Ibu.
"Nasi Rawon enak Bu!" kataku.
"Bolehlah, sudah lama tidak makan Rawon!" kata Ibu lagi.
Kemudian Ibu bertanya pada Pak Rahmat yang mobilnya kami sewa.
"Pak Rahmat, bawa kami ke warung rawon yang enak ya!" permintaan Ibu.
"Ok Bu, di Pertigaan pasar lama ada Rawon enak Bu," kata Pak Rahmat sambil menunjuk jalan yang kebetulan searah dengan jalan yang kami lewati.
Mobil berbelok menuju rumah makan yang dimaksud.
Kami memesan nasi rawon komplit dengan toping telur asin dan minum air jeruk hangat.
Kami mulai menikmati hidangan kami.
Selesai kami meneruskan perjalanan pulang. Sudah hampir masuk waktu asar kami sampai dirumah.
Ibu membayar uang sewa kendaraan kemudian kami masuk kerumah.
"Rio kamu yang ikhlas ya, semoga Ibumu tidak lama dirawat disana dan cepat ada kabar baik sehingga bisa sembuh seperti semula, Doakan saja doa anak Sholeh pasti dikabulkan sama Allah." kata Ibu kepada Rio.
"Iya Wa, Terimakasih ya Wa, atas semua bantuan nya pada kami!" kata Rio.
"Sudahlah kamu tidak perlu berterima kasih begitu, sudah jadi kewajiban sesama saudara saling membantu." kata Ibu lagi.
"Sudah ya Karta aku pulang dulu," pamit Ibu pada Paman.
"Iya Mba, sekali lagi terimakasih." kata Paman.
"Sama-sama." ucap Ibu sambil tersenyum.
Like, komen, dan Vote nya ditunggu ya Kaka pembaca.
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan sarannya.
Matur Nuwun.