
Fira masuk ke dalam bus, melihat keseluruh penjuru aku lihat ada tempat kosong di belakang supir, aku berjalan kearah kursi kosong dan segera duduk.
Sepanjang perjalanan pikiran ku teringat pada perkataan Reza, ada seseorang yang mencariku,
Rinto???.
Apakah betul dia yang mencariku. Bagaimana kabarnya? Apa dia masih sama seperti dulu? Entah benar atau tidak yang ada di hatiku adalah bahagia saat mendengar nama Rinto, Ya Allah semoga benar yang mencariku adalah Rinto.
Hari sudah sangat gelap saat aku sampai di kost. Aku lihat Tante Mona sedang duduk di teras depan padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Malam Tante," sapaku.
"Malam Fir, kamu dari mana kok jam segini baru pulang?" tanyanya penuh selidik.
"Maaf tante, Fira pulang agak telat, baru datang dari kampung tante.!" jawabku
"Ohhh,,, dari kampung, kirain kamu habis keluyuran dari mana!" katanya lagi.
"Ahhh, Tante bisa saja, Fira kan selama ini tidak pernah melanggar peraturan.!" kataku lagi.
"Iya, maaf ya, Tante nggak bermaksud curiga, soalnya akhir-akhir ini Tante dapat laporan dari Pak Rt, kalau anak kost sini ada yang sering pulang larut ditambah ada yang melihat suka nongkrong di tempat hiburan malam. Jadi Tante harus agak ketat." celoteh Tante Mona.
"Ohhh iya Tante, tetapi Fira kan tidak." jawabku pada Tante Mona.
"Iya kamu taat pada peraturan, Ya sudah masuk sana, sudah malam." ucap Tante Mona.
"Baik Tante,!" kataku sambil tersenyum.
Kemudian aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Aku kurang tertarik dengan berita soal tempat kost yang disampaikan Tante Mona, Aku memilih langsung masuk kamar, Aku membersihkan diri, kemudian merebahkan badan, aku pandang langit-langit kamar, bayang-bayang Rinto terus mengikuti.
"Ya Allah, jodohkan aku dengan nya." Doaku dalam hati.
Karena lelah aku pun tertidur.
Pagi-pagi sekali aku membuka laptopku lagi, mencoba untuk konsentrasi dengan segala tugas kuliah.
***
Dirumah Rinto
Rinto terlihat mondar-mandir di depan rumahnya. Dia menunggu kabar dari maskapai penerbangan, yang akan mengontraknya untuk menjadi pilot salah satu pesawatnya.
Ibunya tergopoh-gopoh mendekati nya.
__ADS_1
"Nak, Rinto." Panggilnya.
"Ada apa Ibu?" jawab Rinto.
"Tuh,, ada telephon untukmu!" kata Ibunya lagi.
Tanpa menjawab Rinto langsung menuju ke meja kecil disamping sofa ruang keluarga nya.
"Hallo!" sapa Rinto.
"Selamat Siang, Ini dengan saudara Rinto Agustian?" sapa seseorang dibalik sambungan telephon.
"Iya saya sendiri!" jawab Rinto.
"Kami dari maskapai BARUNA Air kami mengundang anda untuk pelatihan dan magang sebagai persyaratan kontrak kerja kedepannya." kata suara seberang telephon.
"Baik saya akan datang!" jawab Rinto dengan gembira.
Rinto me nutup telepon nya kemudian berjingkat kegirangan bagai anak kecil yang men dapatkan permen.
"Ibu, Ibu,!" panggilnya sambil berlari memeluk Ibunya.
"Rinto lolos Ibu, besok Rinto akan ikut pelatihan dan magang untuk memperbanyak jam terbang." Kata Rinto kegirangan.
"Terimakasih Ibu, berkat doanya." kata Rinto sambil terus menciumi tangan Ibunya.
Begitu juga dengan ayahnya juga sangat bahagia dengan pencapaian Rinto anaknya. Dalam usian 21 Tahun dia sudah bisa membanggakan orangtuanya. Menjadi anak yang baik penurut dan selalu jalan dijalan yang lurus.
Dia terus berlatih dengan serius, bulan demi bulan dia jalani, berbagai Ilmu baru dia pelajari dengan baik dalam setiap fase magangnya.
Dia terus berusaha untuk menambah jam terbangnya untuk mendongkrak kariernya di penerbangan. Dan di sanalah di BARUNA air dia memulai karier nya sebagai seorang penerbangan pesawat komersil.
***
Sementara di ruman Ratih, Ibunya Fira sedang sibuk dengan mengasuh si kembar kecil yang yang semakin hari semakin aktif dan menggemaskan. Di bantu oleh dua orang baby Sister, Adik Fira sikembar Bimo dan Bima dari ayah sambungnya.
Mereka adalah penawar obat lelah bagi Wira. Setelah seharian sibuk mengurus bisnisnya dia akan pulang dengan bahagia saat melihat Bimo dan Bima bermain.
Usia mereka kini menginjak 4 tahun.
"Papa pulang, papa pulang!" celoteh mereka riang saat melihat mobil Wira memasuki garasi.
"Iya sayang!" jawab Wira sambil memeluk mereka berdua.
__ADS_1
"Mama mana?" tanya Wira pada dua bocah kecil itu.
"Didapul lagi bikin opi!" jawab bocah itu lucu dengan logat cadelnya.
"Papa istirahat dulu ya, main lagi sama ncuz ya?" kata Wira sambil menunjuk kedua suster buat dua anaknya itu.
Kemudian Wira masuk ke dapur, memeluk Isterinya dari belakang. Mulai mencium leher jenjangnya dan menghirup aroma tubuh isterinya.
"Hai Mas,!" sapa Ratih sambil membalikkan badan.
"Aku lelah, dan hanya dengan ini aku bisa mengusir lelahku.!" kata Wira sambil berbisik.
"Ahhh,,, malu itu ada bi Mumun," kata Ratih setengah berbisik.
Bi Mumun yang sedang mengupas sayur didapur, cuma tersenyum melihat kemesraan sepasang suami isteri yang sudah tidak muda lagi ini. Kemudian dia memilih untuk meninggal kan dapur dan pergi ke halaman belakang rumah sambil membawa sayur yang sedang dikupasnya.
Melihat bi Mumun ke belakang, pasangan ini hanya tersenyum sambil menggamit kedua hidung mereka. Kemudian mengecup kening isterinya.
"Mas, mau makan apa mandi dulu?" tanya isterinya.
"Aku mandi ya,!" kata Wira sambil melangkah ke kamar dengan diikuti langkah kecil Ratih.
Di kamar Ratih langsung membuka lemari dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
"Sayang handuk dimana?" teriak suaminya dari kamar mandi sambil mengulurkan tangan dari balik pintu kamar mandi.
"Bukan nya sudah aku siapin di kamar mandi mas!" jawab Ratih.
"Aku mau handuk baru ya!" jawab suaminya.
Kemudian Ratih mengambil handuk baru dari lemari dan memberikan pada tangan suaminya.
Tetapi Wira tidak hanya mengambil handuk itu dia malah menarik tangan isterinya dan kemudian membawanya dibawah pancuran air mandi. Dengan tersenyum mereka saling memeluk dan memadu kasih dibawah pancuran air.
Mereka keluar kamar menuju ruang makan, makan malam telah tersedia Bi Mumun sudah selesai menghidangkan segala macam menu masakan malam ini. Tak lupa si kembar ikut makan bersama.
Anak yang lucu, suami yang setia dan bisnis yang semakin maju membuat hidup Ratih semakin lengkap. Anak pertamanya Fira sudah menjelang akhir semester dan sebentar lagi wisuda. Masa lalu nya dan penderitaannya saat bersama suami pertamanya yaitu ayah Fira sudah tamat, kini tinggal menuai hasil buah dari kesabarannya.
"Mas, beberapa bulan lagi Fira akan wisuda, Mas sediakan waktu ya buat kita menghadirinya." Ratih memulai percakapan.
"Iya sayang kamu atur saja, aku pasti akan ikut." Jawab Wira sambil menyuapkan makan ke mulutnya.
***
__ADS_1
Terimakasih sudah setia mengikuti, karena bulan Ramadhan Up date nya agak lama. Mohon maaf.