Cita Cita Ku Bukan Khayalan

Cita Cita Ku Bukan Khayalan
Bab 11. Serakah


__ADS_3

Ibu terus saja menggerutu dengan geram atas kejadian tadi,


"bisa bisanya mereka berbuat itu mentang mentang kita orang miskin dikiranya kita gila harta, tidak, aku akan tetap memperkarakan kejadian ini, biar semua pihak tahu kalau setiap kejahatan harus mendapati ganjaran" ocehan ibuku panjang.


"Sudah Bu, jangan marah marah nanti cepat tua lho, biar kan saja, mereka hanya berusaha melindungi anak nya, tidak ada orang tua yang tega kepada anaknya sekalipun bersalah, seperti ibuku tersayang ini," kataku mencoba mengambil jalan tengah.


"Kecuali ayahmu," sambung ibu.


"Iya, sudahlah Bu, ayo katanya mau ke rumah Paman nanti kesorean" kataku lagi.


"Tapi besok aku sudah kembali ya Bu, aku kan sekolah" kataku lagi.


"Iya putriku tersayang" jawab ibu sambil mencubit ujung hidungku.


Perjalanan ke Rumah Paman memakan waktu hampir dua jam. Dengan naik kendaraan umum tiga kali ganti mobil. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam aku hanya menikmati pemandangan pohon pohon yang berjajar dipinggir jalan.


Pikiran ku melayang, membayangkan aku akan bertemu keluarga Paman, yang dulu selama aku tinggal disana selalu menghina aku, merendahkan aku, bahkan kadang kadang suka memukul aku.


Apa salahku kenapa takdirku yang harus jauh dari orang tuaku, membuat mereka membenciku, mungkin karena aku menjadi beban mereka.


Aku menghela napas panjang, rasa sakit ini masih ada, sakit hati pada ayahku yang menjadi sumber petaka keluargaku.


Tiba-tiba aku dikejutkan panggilan ibuku.


"Fira, ternyata sudah banyak perubahan ya di kampung kita ini" ucap ibuku.


"Iya Bu, kan sudah hampir tiga tahun ibu tidak kesini," jawabku sambil tersenyum.


Ibuku cuma mengangguk,


"Ehhh kalau kamu suka main nggak kerumah Paman nggak? "tanya ibuku.


"Main Bu, kalau libur semester," jawabku.


Aku memang kerumah Paman kalau libur semester saja itu pun cuma satu hari, membersihkan rumah ku yang letaknya kurang lebih 10 meter dari rumah Paman, kemudian kembali ke Kost lagi.


Tidak terasa kami sudah sampai diruman Paman, Rumah kosong karena Paman dan Bibi pasti lagi dilandang jam segini. Yang ada hanya Rio dan Bunga, anak Paman. Bunga seumuran aku dan dia juga sekolah SMA yang tidak jauh dari rumah. Sedang Rio kelas 3 SMP.


"Assalamualaikum," teriak ibuku.


"Waalaikum salam" jawab Bunga,


"Ehhh, Uwa," sapa bunga sambil mencium tangan ibuku.


"Kapan dateng dari kota Wa" lanjut Bunga.

__ADS_1


" Sudah tiga hari, mana Ibumu" tanya ibuku


"Ibu dan Bapak lagi diladang Wa" "Fira apa kabar?" sapa Bunga


" Alhamdulillah baik Bung, kamu gimana sekolah mu lancar kan? " tanyaku


"Lancar Fir, secara aku kan selalu juara kelas" jawabnya sambil menyombongkan diri.


Aku hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Bunga.


Masih belum berubah Bunga masih suka bangga dengan dirinya, batinku bicara.


Kemudian Bunga mengajak kami masuk, kami masuk cuma mengantarkan oleh oleh, kemudian kami langsung menuju rumah kami. Membuka pintu, jendela membersihkan debu debu.


Rumah kami memang kosong sejak ayahku pergi dan ibuku memutuskan merantau ke kota, dan aku sendiri melanjutkan SMA yg jauh. Praktis rumah itu hanya sesekali kami bersih kan saat kami pulang.


Ibuku memandangi semua ruangan sambil menarik nafas panjang, seolah ingin melepaskan beban berat yang ditanggungnya.


Terdengar suara panggilan dari arah halaman.


"Mba Ratih, Mba Ratih, Mba... " itu pasti suara , Bibi Nani.


Ibuku menoleh dan melihat bibi Nani berdiri di ambang pintu, kemudian berpelukan melepaskan kangen.


"Apa kabarmu Mba Ratih," tanya bibi


"Yah beginilah Mba, masih setia meladang," jawab bibi.


"Bersyukur Nan, aku dengar sekarang Karta, jadi juragan ya,?" tanya ibuku


"Belum juragan Mba, cuma ngumpulin hasil panen warga, kredit mobil pick up, kemudian ngambil hasil panen warga untuk di setor ke tengkulak, lumayan Mba hasilnya, semenjak Fira tidak tinggal sama kami lumayanlah kami bisa nabung." cerita bibiku, sambil melirik kami sinis.


Deg, jantung kami langsung kaget.


"Maaf ya Nan, gara-gara kamu saya titipin Fira, jadi menyusahkanmu" jawab ibuku.


"Yah, begitu lah Mba, untung Fira sudah gede sudah bisa mandiri, inget Fir, kamu dulu yang nafkahin bibi sama paman!" celetuk bibi.


Sambil tersenyum kecut, aku menjawab, "Iya bi, Fira nggak akan lupa"


Iya aku nggak akan lupa semuanya termasuk apa yang kamu lakukan padaku, menyuruhku makan makanan sisa, melakukan semua pekerjaan rumah, dan menjadi pelayan buat anak anak mu. Lihat saja aku akan buktikan kalau aku nanti bisa lebih sukses dari Bunga. Bicaraku pada diri sendiri.


Setelah berbincang beberapa saat, bibi Nani pamit pulang. Tetapi tetap Bibi Nani selalu menyelipkan kata kata menyakitkan hati kami. Dan tidak lupa dia selalu membanggakan prestasi Bunga dan Rio.


Aku cuma bisa sesekali mengambil nafas panjang , mendengar semua ocehan bibi. Dan ibuku cuma bisa tersenyum melihat bibi terus saja berbicara angkuh.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kalian perlu apa apa bilang saja sama Bibi, nanti bibi siapin, aku pamit dulu ya Mba, capek baru pulang dari ladang" pamit bibi


"Iya Nan," jawab ibuku cepat.


Sepeninggal bibi.


"Huh, masih belum berubah itu Nani, bicaranya masih tinggi," dengus ibu


"Ya sudahlah Bu, kita semua tahu bagaimana sifat bibi, biarkan saja Fira akan balas semua sakit hati Fira ini" jawab Aku kesal


"Kamu mau ngapain? " tanya ibuku khawatir.


"Jangan khawatir Bu, Fira tidak akan melakukan hal negatif, Fira akan balas semua sakit hati ini dengan prestasi, Fira akan belajar sekuat tenaga untuk bisa menjadi dokter, Fira akan buat semua orang yang selama ini merendahkan Fira melongo keheranan akan kesuksesan Fira kelak." jawabku sambil berapi api.


"Aamiin Ya Allah, semoga Engkau kabulkan cita cita anakku ya Allah." jawab ibu sambil menengadahkan tangan.


"Terimakasih Bu, cuma ibu yang Fira punya, Cuma ibu penyemangat Fira" kataku sambil meluk Ibu.


"Sama sama sayang, permata hati ibu." jawab ibu sambil berkaca kaca.


"Kita makan Yuk, tadi ibu sudah beli nasi bungkus di warung sebelah," ajak ibuku


"Ayo Bu, Fira sudah lapar" jawabku.


Kami menyantap nasi bungkus yang dibawa Ibu, sambil sesekali bercerita, apa saja yang membuat kami tertawa, Ya Allah bahagianya hati ini walaupun tanpa kehadiran sosok Ayah. Terimakasih Ya Allah, Engkau berikan aku seorang ibu yang tangguh. ucap syukurku dalam hati.


Selepas sholat Isak, pintu rumah di ketuk, sambil mengucapkan salam,


"Assalamualaikum," suara dari luar.


"Waalaikum salam" jawab ibu.


Ternyata Paman yang datang.


"Mba Ratih," sapa Paman.


"Ehhh kamu apa kabar Karta, ayo masuk, " jawab ibuku.


"Aku baik Mba, seperti yang Mba lihat sekarang baju sudah mulai bisnis baru" kata Paman


"Syukurlah semoga usahamu lancar ya" ucap ibuku.


Ibu mengajak Paman masuk dan mempersilakan Paman duduk di ruang tamu, sementara aku membuat kopi untuk Paman.


"Begini Mba, kedatangan ku kesini tadi selain mau silaturahmi ada yang aku mau bicarakan," kata Paman

__ADS_1


"Ada apa," jawab ibuku sambil memperhatikan.


"Itu Mba, mengenai tanah Bapak yang ada dipinggir jalan sebelah ujung itu, aku mau minta tanah itu, sedianya aku mau pakai buat gudang hasil panen, kan letaknya strategis dengan jalan jadi mudah untuk akses aku keluar masuk" kata Paman.


__ADS_2