
Di pagi hari yang cerah, Rissa terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan kedua tangannya sambil menguap.Tidurnya benar-benar nyenyak semalam. Tetapi Rissa merasa ada yang hilang.
Loh, si muka tembok kemana ya? Jangan jangan dia diculik jin tomang lagi? batinnya.
Rissa mengedarkan pandangannya, dan tanpa sengaja ia melihat Andi yang tidur di sofa. Sontak Rissa terkejut dan melotot. Tak lama kemudian Andi terbangun dari tidurnya dan melirik Rissa yang sedang melihatnya.
"Apa kamu?" ketus Andi.
"Bapak kok tidur di sofa, bukannya semalam bapak tidur disebelah saya?" tanya Rissa.
"Gara-gara kamu," jawab Andi cepat.
"Lah... Kok gara-gara saya?" tanyanya bingung.
"Ya iyalah, semalam kamu tidurnya rusuh banget gak bisa diam dan akhirnya kamu tendang saya sampe jatuh dari tempat tidur," jawab Andi panjang kali lebar.
"Hah, masa sih pak?" ucap Rissa masih tak percaya dengan pernyataan dari Andi.
"Perasaan saya kalau tidur gak rusuh deh," ucap Rissa polos.
"Saya heran yah sama kamu. kamu itu manusia apa bukan sih, sampe sakit bokong saya gara-gara kamu tendang semalam," keluh Andi.
"Hehehe... Maaf Pak," ucap Rissa sambil cengir kayak kuda.
"Maaf, maaf. Udah lah, saya mau mandi."
Andi kesal dengan Rissa dan berjalan ke kamar mandi.Sementara Rissa yang ditinggalkan Andi hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Daripada memikirkan muka tembok yang kesal dengannya, lebih baik ia menonton TV saja.
Tok! Tok! Tok!
Beberapa menit kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar, Rissa langsung berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Saat Rissa membuka pintu, ternyata yang datang adalah maid rumah ini.
"Maaf mengganggu nyonya, saya cuma mau bilang kalau sarapannya sudah siap," ucap maid itu sopan.
"Oh iya, nanti saya segera turun sama pak Andi," ucap Rissa.
"Ya sudah kalau gitu saya permisi nyonya," Pamitnya.
"Makasih ya," ucap Rissa.
"Sama- sama nyonya," balas maid itu.
Maid itu pergi dan Rissa menutup kembali pintu kamarnya. Saat ia berbalik ia melihat Andi yang sudah selesai mandi.
"Pak, sarapannya sudah selesai," ucap Rissa.
"Hmm." Andi hanya berdehem dengan muka datarnya.
"Yaudah kalo gitu saya mandi dulu ya pak," ucap Rissa.
"Terserah," balas Andi.
Jadi ceritanya si muka tembok lagi ngambek sama gue? Ah bodo amat. Mendingan gue mandi, batinnya.
Setelah selesai mandi, Rissa keluar dari kamar mandi dan mencari sosok keberadaan makhluk misterius. ehh ralat, maksudnya mencari Andi.
"Tuh orang gak sabaran banget sih, tega banget ninggalin gue." Rissa segera turun menyusul Andi yang sudah duduk dan sarapan tanpa menunggunya.
__ADS_1
Bahkan saat Rissa duduk disebelah Andi, ia tidak sedikitpun pun bergeming seakan tidak ada orang disebelahnya. Andi hanya memasang muka datar sambil memakan sarapannya.
"Pak," panggil Rissa.
"Hmm." Andi hanya berdehem sambil memakan sarapannya.
"Besok udah mulai kerja belum?" tanya Rissa.
"Ya kerja lah," jawab Andi.
"Bukannya besok libur pak?" tanya Rissa.
"Enak aja kamu libur" jawab Andi ketus.
"Emang bapak gak capek, apa?" tanya Rissa lagi.
"Kalo kamu malas kerja dan di otak kamu itu cuma libur, kapan kamu bisa sukses. Kalau mau sukses itu ya harus capek Rissa," ceramah Andi.
Rissa yang mendengar ceramah dari Andi hanya diam dan memutar malas matanya. Pagi-pagi udah dapat ceramah dari muka tembok.
"Trus mobil saya gimana pak? Kan mobil saya masih dirumah orang tua saya," keluhnya.
"Pikir aja sendiri." Andi langsung pergi meninggalkan Rissa agi.
Ihh... Nyebelin banget sih. Ini nih resikonya nikah dan hidup sama muka tembok. Lengkap sudah penderitaan gue, batinnya.
"Apa gue telepon bang Tio aja yah, minta tolong bawain mobil gue kesini? Yaudah gue telepon aja deh." Rissa mengambil handphonenya untuk menelepon abangnya tercinta.
"Hallo abang ku tersayang."
"Hallo adek abang yang jelek. Ada apa gerangan nih nelpon orang tertampan sedunia."
"Hahaha Iya iya. Ada apa adekku sayang?"
"Bang, boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Minta tolong bawain mobil Rissa kesini, soalnya besok Rissa harus udah kerja."
"Emm.. Gimana ya"
"Ayolah bang, masa sama adek lo sendiri tega amat.Nanti gue kirim deh alamatnya. Mau ya,.Plisss."
"Ya udah deh iya, demi adek gue yang jelek, manja dan bau."
"Makas... Ehh tunggu, apa lo bilang?"
Tio langsung memutuskan telepon dengan adiknya karena ia tau adiknya pasti akan mengamuk.
"Awas lo ya bang, sampe sini gua jambak rambut lo sampe botak. Enak aja lo bilang gue manja, jelek dan bau. Kok sebelas duabelas ya abang gue sama muka tembok, sama-sama kampret dan nyebelin," ucap Rissa.
Setelah selesai sarapan, Rissa berjalan ke arah ruang tamu. Disana ada Andi yang sedang sibuk berkutik dengan laptop dan berkasnya.
Yaa... Begitulah Andi yang selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Baginya, tiada hari tanpa sibuk bekerja. Jadi jangan heran kalau Andi itu lebih mentingin pekerjaannya daripada istrinya.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya abangnya tercinta datang sekaligus dengan mobilnya.
__ADS_1
"Abang Tio..." Rissa langsung berlari saat melihat abangnya dan memeluk erat, seperti orang gak pernah bertemu selama bertahun-tahun.
"Buset dah... Abang lo gak bisa nafas Rissa." Tio merasa sesak ditambah lagi susah bernafas karena Rissa memeluk Tio seperti sedang mencekiknya.
"Hehehe... Maaf bang, abis Rissa kangen sama abang," ucapnya manja dan kembali memeluk abangnya.
"Iya... Abang juga kangen banget sama kamu. Oh iya suami kamu mana?" tanya Tio.
"Ada didalam, biasa lah lagi sibuk pacaran sama laptop dan berkas-berkasnya," jawab Rissa.
Tak lama kemudian Andi keluar dari rumah dan berjalan ke arah mereka. Wah.. Panjang umur pendek nafas nih orang. Hehehe.
"Bang Tio apa kabar?" tanya Andi sambil bersalaman dengan Tio, abang iparnya.
"Baik, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri apa kabar?" tanya Tio balik.
"Baik juga bang. Oh iya, kita masuk ke dalam yuk," ajak Andi.
"Maaf ya... Lain kali aja deh, soalnya" ucap Tio.
"Oh gitu, jadi abang mau langsung balik nih?" tanya Andi.
"Iya," jawab Tio.
"Yaahhh... Kok cepet banget sih bang? Rissa kan masih kangen sama abang," rengek Rissa.
"Lain kali ya, Soalnya abang juga udah ditungguin sama temen-temen abang," ucap Tio.
"Yaudah deh, abang pulang sama siapa?" tanya Rissa.
"Sama temen abang, tadi dia nemenin abang kesini," jawab Tio.
"Abang hati-hati ya, dan Pokoknya setiap hari abang harus video call sama Rissa," ucap Rissa.
"Iya, abang janji," Ucap Tio sambil mengacak rambut adiknya.
"Yaudah abang pamit ya." Tio mengecup kepala adiknya.
Setelah kepergian abangnya, Rissa merasa sedih dan ingin menangis. Andi yang melihatnya hanya memasang muka datarnya.
"Lebay," ucap Andi pelan, namun bisa didengar Rissa.
"Apaan sih pak, bapak tuh gak tau perasaan saya itu gimana karena bapak gak punya saudara kandung," ucapnya protes.
"Emang kamunya aja yang lebay," ucap Andi santai.
Daripada berdebat sama muka tembok yang nantinya gak ada habisnya. Rissa pergi meninggalkan Andi seperti Andi meninggalkan dirinya. Ya anggap aja balas dendam.
Malam harinya, Rissa dan Andi bersiap untuk tidur. Kali ini Andi yang meletakkan guling ditengah mereka.
"Awas kamu ya kalo kamu lewati batas ini dan tendang saya lagi," ucap Andi was-was.
"Iya pak," ucap Rissa.
"Kalau sampai kamu tendang saya lagi, saya tendang balik kamu," Ucap Andi dan langsung tidur Memunggungi Rissa. Ia harus berhati-hati dan berjaga-jaga, jangan sampai Rissa menendangnya lagi saat tidur.
To be continued...
__ADS_1
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!