
Sudah dua hari Rissa tidak masuk kantor dan Andi sendiri belum mengizinkannya untuk kembali bekerja di kantor. la harus memastikan bahwa istrinya ini benar-benar sudah sembuh, barulah boleh beraktivitas seperti biasanya.
Saat ini, Rissa sedang melihat Andi bersiap-siap memakai bajunya sambil bercermin. Mulai dari memakai dasi, menyisir rambutnya dan memakai jas nya. Matanya memperhatikan dengan benar bagaimana Andi bersiap-siap sampai selesai. Kalau diliat-liat, Andi itu sebenarnya sangat tampan tapi hati Rissa malah berkata sebaliknya.
"Pak, kapan saya bisa kerja lagi ke kantor?" rengeknya.
"Kamu belum sembuh total Rissa," sahut Andi tapi matanya masih fokus menatap dirinya dari cermin.
"Tapi saya bosan dirumah," keluh Rissa.
Andi hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah Rissa. Seperti biasa, Andi meletakkan tangannya di dahi Rissa untuk mengecek suhu tubuhnya. Entah mengapa semenjak Rissa sakit, Andi malah berubah 180° dari biasanya.
"Udah lumayan," ucap Andi.
Rissa yang mendengarnya langsung merasa senang, "Berarti saya udah boleh kerja dong pak?" tanyanya.
"Gak boleh," jawab Andi.
"Aishh... Tadi katanya udah lumayan, berarti kan saya udah gak demam lagi," ucap Rissa.
"Tetap gak boleh Rissa... Kamu harus istirahat dirumah," tegas Andi.
"Hmm... Yaudah deh," Pasrahnya.
"Nanti saya usahakan pulang cepat. kalau butuh sesuatu, bilang aja sama maid rumah ini," ucap Andi sambil mengelus kepala Rissa.
Rissa mengangguk, Duh... Bisa baper nih gue kalo diginiin. No no no.. Gue gak boleh baper. Gue kan cintanya sama Aldo, batinnya.
"Oh iya satu lagi, jangan lupa minum obatnya dan harus diminum, jangan dibuang," ucap Andi memperingatkan.
"Iya Pak," balas Rissa pasrah.
"Yaudah, saya berangkat dulu." Andi berangkat ke kantor dan meninggalkan Rissa dikamar.
Sementara temannya Cintya dan Fina bingung dan khawatir mengapa Rissa sudah dua hari tidak masuk kantor. Mereka pun memutuskan untuk menelepon Rissa.
"Hallo." jawab Rissa.
"Ya ampun Rissa... lo tuh kemana aja sih!!" teriak Cintya.
"Duhh... Berisik banget sih lo? Bisa budeg ni gue dengar suara teriakan lo." ucap Rissa.
"Habis lo udah dua hari gak masuk kantor. Sebenarnya lo tuh kemana?" tanya Cintya.
"Gue lagi sakit beb." rengeknya.
"Serius lo? Kasian banget sih, kenapa lo gak bilang sama kita Rissa?" tanya Cintya.
"Maaf ya karena gue gak kasih tau ke kalian. Lagipun, gue cuma demam aja kok." ucap Rissa.
"Yaudah nanti gue sama Fina ke rumah lo." ucap Cintya.
Rissa langsung melotot mendengarnya. Gimana enggak, teman-temannya kan gak tau kalau ia sudah menikah dengan dan tinggal dirumah Andi sekarang.
"Emm... Gak usah deh." ucap Rissa.
"Loh, emangnya kenapa?" tanya Cintya bingung.
"Gue besok udah kerja kok. Lagian gue juga udah baikan." ucap Rissa.
"Yaudah deh, tapi janji ya lo besok udah kerja." ucap Cintya.
"Iya... Janji deh." ucap Rissa.
"Oke deh... See you tomorrow." ucap Cintya.
"Oke. Bye." Rissa langsung memutuskan panggilannya dan merasa lega. Kalau sempat teman-temannya tau kan bisa gawat.
Jarum pendek menunjukkan pukul tujuh malam, Rissa sangat merasa bosan seharian berada dikamarnya bagaikan dikurung dalam penjara.
"Katanya pak Andi bakalan pulang cepat. Tapi sampe sekarang kok belum pulang juga sih?" Kesalnya.
__ADS_1
Karena tidak ada pilihan lain, Rissa mengambil handphonenya untuk menelpon lelaki yang ia tunggu sejak tadi.
"Kenapa Rissa?" tanya Andi.
"Bapak kok belum pulang sih? Tadi katanya pulang cepat. Tapi sampe sekarang belum pulang juga," rengeknya seperti anak kecil.
"Saya lagi sibuk Rissa. Tapi bentar lagi saya pulang kok." ucap Andi.
"Bener nih?" tanya Rissa.
"Iya." jawab Andi.
"Yaudah... Tapi nanti bapak beliin saya martabak ya." ucap Rissa.
"Kamu mau martabak apa?" tanya Andi.
"Mau martabak manis rasa coklat." jawab Rissa
"Iya, nanti saya beliin. Udah dulu ya, Saya mau lanjut kerja lagi." ucap Andi.
"Oke." ucap Rissa.
Sambil menunggu Andi alias pesanannya datang. Rissa hanya bersantai di ranjang empuk nan mahal sambil memeluk bonekanya. Ini baru namanya hidup damai yaitu balas dendam kepada seseorang yang menyebalkan dengan cara yang manis.
Suasana di kamar mewah ini cukup damai dan tenang apalagi semua fasilitas sudah tersedia disini. Rissa hanya ditemani suara TV yang agar kamarnya tidak terlalu suram. Beberapa menit kemudian, terdengar lah suara pintu terbuka.
Ceklek!
Suara pintu terbuka dan muncullah Andi sambil membawa plastik di tangan kanannya yang berisi martabak manis pesanan Rissa tadi. Senyum bahagia pun muncul di wajah cantik Rissa. Bukan karena kepulangan Andi melainkan karena ia sudah tidak sabar memakan makanan manis.
"Ini martabak manis pesanan kamu," ucap Andi sambil memberikan plastik berisi martabak manis pesanan Rissa.
"Makasih pak," ucap Rissa bahagia.
"Hmm." Andi hanya berdehem.
Tuh kan.. Mulai deh kumat sifatnya yang dingin kaya kulkas. Tapi gapapa deh, bomat. Yang penting martabak gue udah dibeli, batinnya.
"Kamu udah minum obat Rissa?" tanya Andi yang duduk disebelah Rissa sambil mengecek suhu tubuh Rissa.
"Kamu makannya pelan-pelan aja Rissa," ucap Andi sambil membersihkan coklat di sudut bibir Rissa dengan tangannya. Sedangkan Rissa langsung terdiam kaku karena perlakuan Andi.
"Emm... Pak, besok saya boleh kerja ya?" pinta Rissa.
"Tapi Rissa---
"Saya mohon Pak, Saya bosan dirumah terus. Lagian saya udah janji sama temen saya kalo besok udah masuk kerja. Boleh ya, Pliisss..." ucap Rissa dengan puppy eyes nya.
Andi menarik nafas panjang, "huh. Yaudah, besok kamu boleh kerja." "Hah.. Bener Pak?" tanya Rissa
memastikan.
"Iya," jawab Andi.
"Makasih pak," ucap Rissa senang.
"Tapi habis ini kamu istirahat ya. Besok kan kamu mau kerja," ucap Andi.
"Oke," balas Rissa.
"Yaudah, saya mau mandi dulu." Andi bersiap untuk membersihkan dirinya. Hari ini pekerjaannya sangat menumpuk sekali tidak seperti biasanya dan sebab itulah, ia perlu berendam air hangat.
Setelah Rissa menghabiskan martabaknya, sesuai perintah Andi ia istirahat dan tak lama kemudian disusul Andi yang tidur disebelahnya.
Keesokan harinya, Rissa bangun lebih awal dan bersemangat untuk bekerja. Tapi lebih tepatnya ia takut terlambat dan dihukum Andi lagi.
Saat sampai dikantor, Rissa langsung disambut teriakan dan pelukan dari sahabatnya.
"Rissa..." teriak Cintya sambil memeluk erat Rissa.
"Gue kangen banget sama lo," ucap Cintya setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
"Yaelah.. Baru dua hari gue gak masuk kerja." ucap Rissa.
"Tapi kantor rasanya sunyi dan gak lengkap tanpa lo," ucap Fina.
"Lebay banget sih kalian," ucap Rissa.
"Tapi ada yang lebih kangen sama kamu," ucap seseorang dari belakang.
"Aldo," ucap Rissa senang.
"Hai tuan putri Rissa yang gemesin.." ucap Aldo sambil mencubit pipi Rissa gemas.
"Ihh.. Aldo." Rissa mengerucutkan bibirnya.
"Selamat datang kembali tuan putri Rissa yang cantik," goda Aldo.
"Aldo apaan sih," ucap Rissa malu-malu.
"Kita semua kangen banget sama kamu. Termasuk juga aku, dan aku mau kamu gak boleh terlalu capek kerja. Karena aku gak mau liat kamu sakit lagi. Dan aku juga akan bantuin kamu menyelesaikan pekerjaan kamu. Oke," ucap Aldo mengelus lembut rambut Rissa.
"Iya Aldo.. Makasih ya. Kamu selalu baik dan perhatian sama aku," ucap Rissa.
"Apapun akan aku lakukan demi kamu. Supaya kamu selalu tersenyum dan bahagia." ucap Aldo. Ayana benar-benar senang juga tersipu malu karena ucapan Aldo tersebut.
Mereka semua kembali ke meja masing-masing untuk memulai pekerjaannya. Rissa sendiri dari tadi tidak dibiarkan Aldo untuk bekerja, karena ia takut kalau Rissa kecapean dan jatuh sakit lagi.
Menjelang istirahat makan siang tiba-tiba handphone Rissa bergetar tanda ada pesan masuk.
Muka Tembok
Keruangan saya sekarang
"Ngapain sih dia nyuruh gue ke ruangannya? Males banget gue," gumam Rissa dan handphonenya bergetar lagi.
Muka Tembok
Sekarang, tanpa ada alasan
Dengan terpaksa Rissa berjalan keruangan Andi. Karena kalau tidak, Andi pasti akan marah dan terus mengirim pesan tanpa henti.
Tok! Tok! Tok!
"Bapak manggil saya?" tanya Rissa.
"Sini duduk," Perintah Andi menyuruh Rissa duduk di sofa. Sementara dimeja, terdapat beberapa makanan yang kebetulan adalah makanan kesukaan Rissa.
"Temani saya makan," ucap Andi.
Rissa terkejut mendengarnya, Tumben banget dia ngajak gue makan siang bareng, batinnya.
"Tapi pak---
"Tidak ada bantahan," Potong Andi cepat.
Mau tidak mau, Rissa duduk disebelah Andi dan memakan makanan kesukaannya dengan lahap. Setelah selesai makan, Andi berjalan ke meja kerjanya dan kembali membawa sekantung plastik.
"Sekarang kamu minum obat ya." ucap Andi sambil memberikan obat kepada istrinya. Rissa hanya diam dan menatap Andi.
Kenapa dia perhatian banget sama gue? Walaupun dia kadang cuek dan cerewet, tapi dia peduli sama gue saat ini. Bahkan mengingatkan untuk minum obat secara rutin, batinnya.
"Ayo diminum Rissa, jangan melamun," tegur Andi.
"Iya Pak." Rissa menerima obat yang diberikan Andi dan meminumnya langsung.
"Saya pamit mau kerja lagi ya pak. Makasih juga untuk ngingetin saya minum obat," ucap Rissa.
"Iya... Tapi ingat, kamu jangan terlalu capek. Karena kamu belum sembuh total." ucap Andi.
"Iya Pak." Rissa berjalan keluar dari ruangan Andi.
To be continued...
__ADS_1
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!