
Setelah selesai menyisir rambut istrinya, Andi tidak lupa menggenggam tangan Rissa seakan ia adalah anak kecil yang akan kabur. Mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama. Andi juga menarik kursi untuk Rissa.
Sampai di meja makan, Andi menarik salah satu kursi makan untuk istrinya agar terlihat romantis seperti yang di TV. Di meja makan mewah ini sudah tersedia banyak makanan enak yang tersusun rapi, padahal hanya Andi dan Rissa sajalah penikmatnya.
"Silahkan duduk istri saya yang cantik," ucap Andi tersenyum.
Rissa hanya mengangguk dan langsung duduk, padahal dalam hatinya ia juga berdoa semoga Andi gak lagi dalam keadaan kesurupan.
Bahkan saat mau makan pun, Andi lah yang mengambilkan nasi goreng ke piring Rissa, biasanya maid nya yang melayani. Tapi ia melarangnya karena Andi ingin dia saja yang mengambilkan dan melayani istrinya.
Mungkin semua doa-doa sudah Rissa panjatkan didalam hatinya. Karena sifat Andi benar-benar sulit ditebak dan itu membuatnya semakin bingung. Cobaan apalagi yang harus Rissa hadapi dalam rencananya sendiri.
"Sekarang saya suapin kamu ya, aaa..." Andi menyuapi Rissa, tapi Rissa hanya diam menatap Andi.
"Kok kamu malah liatin saya sih, buka dong mulutnya, aaa..." akhirnya Rissa mau menerima suapan dari Andi dan itu membuat Andi tersenyum senang.
"Mmm... Pinter nih istri saya," ucap Andi dan mengelus kepala Rissa.
Ya Allah.. Lindungilah hamba dari godaan setan yang terkutuk dan sadarkanlah suami hamba jika dia benar-benar kesambet setan. Aamiin, batinnya.
"Bapak gak makan?" tanya Rissa.
"Liatin kamu makan aja udah bikin saya kenyang. Apalagi liat kamu tersenyum," ucap Andi tersenyum juga.
"Tapi bapak harus makan juga, bapak kan ada jadwal meeting hari ini. Kalau nanti bapak pingsan gimana?" walaupun Rissa masih kepikiran tentang sikap aneh Andi, tapi ia juga mengkhawatirkan kesehatan suaminya.
"Makasih ya, kamu udah khawatir sama saya. Tapi saya mau makan kalau kamu suapin," Andi menaikkan kedua alisnya seakan menggoda Rissa.
Rissa melototkan matanya, "Suapin?"
"Iya, saya mau makan kalau disuapin istri saya" Ulang Andi.
"Tapi saya malu, disini kan banyak maid. Bapak makan sendiri aja ya." Rissa mengurungkan niatnya untuk menyuapi Andi karena malu banyak maid disekitar mereka.
"Gapapa dong, justru ini bagus biar mereka tau kalau kita itu pasangan yang romantis dan serasi," godanya.
"Gak mau pak, saya malu," ucap Rissa meyakinkan Andi.
"Saya mau kalian semua pergi dan tinggalkan saya berdua dengan istri saya," ucap Andi ke maid nya.
"Baik tuan," Para maid itupun pergi meninggalkan majikannya berduaan sesuai perintah dari Andi.
"Nah, sekarang mereka udah pergi, jadi kamu gak malu lagi kan mau suapin saya," sekarang saatnya untuk mengambil kesempatan bagi Andi.
"Bapak tuh apa-apaan sih, masa bapak nyuruh mereka pergi," protes Rissa.
"Ya gapapa dong, saya kan nyuruh mereka pergi supaya kamu gak malu untuk suapin saya. Sekarang kamu suapin ya, aaa..." Andi membuka mulutnya memberi kode supaya Rissa menyuapinya.
Rissa menghela napasnya, "Yaudah deh... Saya suapin bapak," pasrahnya.
Sontak Andi langsung senang dan menerima suapan dari istrinya. Makanan yang berasal dari suapan sang istri ini sangat nikmat bahkan melebihi makanan di restoran bintang lima.
__ADS_1
"Mmm... Ternyata Kalau makan dari suapan istri sendiri lebih enak ya." Andi sangat menikmati makanannya.
Rissa tersenyum bangga, "Iya dong, Rissa gitu loh," Pedenya.
"Kalau gitu saya mau setiap hari disuapin sama kamu deh dirumah dan dikantor," pinta Andi.
"Oh iya itu pas... Tunggu, apa?" awalnya Rissa kepedean tapi akhirnya ia terkejut dengan perkataan Andi.
"Kenapa? Emang gak boleh ya kalau saya minta disuapin sama istri sendiri?" tanya Andi heran.
"Ya bukan gitu, tapi---
"Oke, saya anggap kamu setuju. Sekarang suapin saya lagi." Rissa hanya pasrah menerima semua ini.
Setelah selesai menyuapi bayi besar alias Andi yang mendadak jadi manja ke Rissa, mereka pun pergi ke kantor bersama dan satu mobil.
Saat didalam mobil, Rissa duduk diam sampai tiba-tiba Andi mendekat ke arahnya, Rissa pun sontak memejamkan matanya. Makin dekat, makin dekat...
"Saya cuma mau masang seatbelt kamu," bisiknya ditelinga Rissa dan ia pun langsung membuka matanya melihat Andi terkekeh menertawainya.
"Kamu berharap saya cium ya?" goda Andi dengan tatapan jahilnya.
Rissa menggeleng cepat, "Enggak, siapa juga yang berharap bapak cium."
Andi tersenyum "Trus kenapa kamu tadi pejamkan mata waktu saya dekati kamu?"
"Ya itu itu... Cuma... Cuma apa ya?" Rissa jadi gugup sekarang gara-gara Andi.
"Kalau bapak pegang tangan saya, gimana bapak mau nyetir?" Rissa benar-benar merasa risih atas perubahan sikap suaminya ini.
"Gapapa, kan masih ada tangan satu lagi," jawabnya santai.
"Kalau nanti kita kecelakaan gimana?" tanya Rissa.
"Gapapa, yang penting kamu ada disamping saya." Rissa diam saja setelah Andi berkata itu dan ia juga malas berdebat lagi.
Selama diperjalanan menuju kantor, Rissa hanya diam dan memalingkan wajahnya melihat sekitar, tidak mau melihat Andi karena ia gak mau pipinya merah lagi alias blushing.
Setelah sampai diparkiran kantor dengan keadaan Andi yang masih menggenggam tangannya, Rissa mulai kesal.
"Saya mau masuk ke kantor pak," ucap Rissa.
"Trus?" ucap Andi yang semakin kuat menggenggam tangan Rissa.
"Ya lepasin tangan saya, gak mungkin kan saya ke kantor sama bapak sambil gandengan," protes Rissa.
"Kenapa enggak? Malah bagus biar orang kantor tau kalau kamu itu istri saya," ucap Andi.
"Lepasin gak pak?" Rissa berusaha melepas genggaman tangan Andi.
"Kalo saya gak mau gimana?" tatapan Andi semakin sulit untuk ditebak.
__ADS_1
"Kalau bapak gak mau, saya juga gak mau ngomong sama bapak lagi sampai kapanpun," ancamnya.
"Yaudah... Saya lepasin," akhirnya Andi melepas genggaman tangannya.
"Saya keluar duluan, bapak tunggu beberapa menit baru keluar." Rissa beranjak keluar dari mobil, tiba-tiba Andi menarik tanggannya.
"Kenapa lagi sih pak?" keluhnya.
"Kamu lupa sesuatu," ucap Andi.
"Lupa apa?" tanya Rissa bingung.
"Lupa kalau saya mau cium kamu." Rissa langsung melotot saat Andi mengatakan hal itu.
"Ciam cium, ciam cium. Cium sana sama tembok." Rissa langsung keluar dan membanting pintu mobil Andi.
Andi terkekeh karena berhasil membuat Rissa kesal, baginya saat istrinya marah adalah hal lucu dan menggemaskan.
Saat didalam kantor, Rissa bertemu dengan Aldo. Ia pun tersenyum dan mendekati Aldo untuk memberi sapa. Seperti inilah rutinitasnya setiap pagi, apalagi kalau bertemu dengan Aldo, pujaan hatinya.
"Selamat pagi tuan putri Rissa yang cantik," canda Aldo.
"Selamat pagi juga pangeran kodok," balas Rissa.
"Kok pangeran kodok sih? Masa aku yang ganteng gini dibilang pangeran kodok?" ucap Aldo tak terima.
"Hahaha... Siapa juga yang bilang kalo kamu itu cantik?" canda Rissa.
"Kamu ini ya... Bisa aja deh." Aldo mencubit pipi Rissa gemas.
"Tapi gapapa deh, Kalau di dongeng kan pangeran kodok itu aslinya ganteng. Berarti aku juga dong, bahkan aku pasti lebih ganteng," ucap Aldo.
"Iyadeh... Terserah aja apa kata pangeran kodok ini."
Rissa dan Aldo saling tertawa dan hal itu dilihat oleh Andi. Inilah hal yang tidak ia sukai dan hal ini pula yang membuatnya berubah sikapnya ke Rissa. Tanpa pikir panjang, Andi langsung menghampiri mereka berdua supaya bubar.
"Ekhem, Saya itu gaji kalian bukan untuk tertawa," suara berat Andi membuat Rissa dan Aldo terdiam seketika.
"Maaf pak," ucap Aldo tak enak hati.
"Yaudah kalau gitu sekarang kalian kembali ke meja kerja masing-masing," perintah Andi.
"Iya pak. Rissa aku duluan ya ke meja kerja," pamit Aldo ke Rissa dan dibalas anggukan olehnya.
Setelah Aldo pergi dan meninggalkan Rissa dan Andi berdua, Andi berjalan mendekati istrinya untuk membisikkan sesuatu supaya istrinya yang nakal ini jerah.
"Kalau saya liat lagi kamu ketawa sama dia, saya gak akan segan untuk cium kamu didepan umum," bisik Andi ditelinga Rissa.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
__ADS_1
Like dan voment ya!