COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Malam minggu


__ADS_3

Tak terasa pernikahan Andi dan Rissa sudah tiga bulan, tapi sifat Andi masih saja sama dan tidak ada perubahan sedikitpun. Masih dingin, datar, cuek, dan terkadang cerewet.


Tapi Rissa masa bodoh dan tidak peduli. Karena yang ada didalam hatinya adalah Aldo. Baginya cinta pertamanya adalah Aldo, walaupun mereka tidak pernah punya hubungan lebih ataupun pacaran.


Entah kapan Aldo akan mengungkapkan perasaannya kepada Rissa. Tetapi, itu tidak ada gunanya lagi dan sudah terlambat, karena sekarang Rissa sudah menikah dan statusnya adalah seorang istri dari Andi Bagaskara, bosnya sendiri.


Saat ini, Rissa sedang bosan sambil memainkan handphonenya. Sementara Andi, seperti biasa sedang sibuk berkutik dengan laptop dan berkasnya.


"Duhh.. Bosan banget nih gue," gumamnya. Lalu ia melirik Andi dan berjalan ke arah Andi yang berada di sofa kamarnya.


"Pak," Panggilnya.


"Hmm." Andi sedang fokus menatap laptopnya.


"Kita keluar yuk, jalan-jalan." Ajaknya.


"Males," balas Andi dan langsung membuat Rissa cemberut.


"Ayolah Pak... Ini kan malam minggu," rengeknya.


"Trus?" ucap Andi tanpa melirik Rissa sedikitpun.


"Ya... Biasanya kan semua orang pergi jalan-jalan, happy-happy, ya pokoknya senang-senang lah. Mau ya Pak," mohonnya.


"Saya lagi sibuk Rissa," ucap Andi.


"Iss... Bapak setiap hari selalu sibuk mulu," komennya.


"Saya kan CEO Rissa... Jadi wajarlah kalo saya sibuk setiap hari," jelas Andi.


"Ayolah Pak... Kali ini aja. Saya mohon bapak mau ya, pliiss..." ucap Rissa sambil memegang tangan Andi dan memasang puppy eyes nya.


Andi berpikir sejenak, "Yaudah, yuk kita jalan-jalan."


"Hah... Beneran nih Pak?" tanya Rissa memastikan.


"Iya," jawab Andi.


"Oke, kalau gitu saya ganti baju dulu ya Pak," ucap Rissa.


"Jangan lama-lama," ucap Rissa.


"Siap Pak bos." Rissa langsung berlari seperti anak kecil. Sementara Andi merasa senang melihat tingkah laku istrinya yang lucu.


Rissa memakai dress kesayangannya yang berwarna biru muda sedangkan Andi memakai kemeja berwarna hitam. Ini merupakan hal pertama bagi Rissa untuk jalan-jalan dan menghabiskan malam minggu bersama seseorang yang sudah berstatus sebagai suaminya.


Sebelum menikah, biasanya Rissa akan menghabiskan malam yang indah bersama abangnya tercinta. Bahkan banyak yang menduga kalau Rissa dan Tio adalah sepasang kekasih.


Setelah beberapa menit kemudian, Rissa dan Andi sudah siap dan segera pergi untuk jalan-jalan.


"Kamu mau jalan-jalan kemana Rissa?" tanya Andi.


"Kita ke pasar malam aja deh Pak," jawab Rissa dan Andi hanya mengangguk.


Sesuai permintaan Rissa, mereka berhenti di pasar malam, tempat favoritnya. Sampai disana Rissa benar-benar merasa senang dan bahagia. Matanya berbinar seakan seperti anak kecil yang dibelikan mainan.


"Pak, ayo cepetan kita masuk ke dalam," ajak Rissa.


"Iya sabar Rissa," ucap Andi.


Karena tidak sabar dengan Andi yang jalannya lambat kayak keong, Rissa langsung menarik tangan Andi dan membawanya masuk ke pasar malam.


"Wahh.. Rame banget yang datang ke sini, permainannya juga banyak. Jadi bingung deh mau main yang mana duluan," ucap Rissa.


Jadi teringat ke pasar malam sama Aldo, batinnya.


"Kamu mau main apa Rissa?" tanya Andi.


"Emm... Kita naik bianglala aja yuk Pak," ajak Rissa.

__ADS_1


"Yaudah," ucap Andi.


Mereka menaiki baling-baling yang diinginkan Rissa. Rissa sangat senang lan tak berhenti tersenyum. Malam ini benar-benar sangat indah dan berwarna ditambah lagi dengan suasana meriah akan kebahagiaan.


Andi hanya memasang muka datarnya sambil memainkan handphonenya daripada menikmati malam yang indah. Memang berbeda sekali dengan Rissa yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melalui mata dan senyum manis dari bibirnya.


"Bapak pernah naik bianglala nggak?" tanya Rissa.


"Pernah," jawab Rissa.


"Kapan?" tanyanya lagi.


"Sekarang," jawab Andi.


Memang susah kalau berbicara dengan orang seperti Andi si kulkas berjalan. Orang nanya serius tapi malah dijawab dengan jawaban yang minta ditampol. Belum lagi dengan ucapan yang keluar dari mulut Andi itu sangat singkat, padat dan jelas.


"Maksud saya sebelumnya bapak udah pernah naik bianglala belum?" tanya Rissa dengan benar.


"Belum," jawab Andi.


"Kenapa?" tanya Rissa.


"Gak tertarik." jawab Andi.


"Lah, kenapa bapak sekarang mau naik? Tadi katanya gak tertarik?" tanya Rissa.


"Terpaksa," jawab Andi.


Setelah mendengar jawaban dari Andi, langsung membuat Rissa murung. daripada pusing dan capek berdebat sama muka tembok, Rissa memilih diam dan lebih baik menikmati pemandangan daripada melihat muka Andi yang datar.


Selesai menaiki bianglala, Rissa mengajak Andi ke tempat bermain melempar bola. Dari kejauhan saja sudah terlihat banyak boneka yang terpajang mulai dari ukuran yang kecil sampai ukuran yang jumbo alias besar. Hal ini pula yang menarik perhatian Rissa untuk memiliki salah satu dari boneka tersebut.


"Silahkan mas, mbak dilempar bolanya dan kalau tepat sasaran, hadiahnya adalah boneka." Ucap pemilik permainan tersebut.


"Wahh... Kayaknya menarik. Saya mau coba deh Pak," ucap Rissa semangat.


Rissa mengambil beberapa bola dan berusaha untuk tepat sasaran, tetapi ia selalu gagal. Rissa merasa sedih karena ia ingin sekali mendapatkan hadiah boneka itu. Dari ekpresi Rissa, Andi dapat melihat kalau istrinya ini sangat menginginkan boneka lucu itu.


"Sini biar saya yang coba main."


Andi mengambil satu bola dan melihat ke depan. Ia sangat mengamati sasarannya dengan fokus. Dalam satu lemparan, bolanya tepat mengenai sasaran.


Wow.. Hebat juga nih muka tembok. Cuma satu kali lempar doang langsung kena sasaran. Mungkin bolanya takut kali ya sama muka tembok, soalnya kalo kalah pasti dia bakalan ngamuk. Hahaha, batinnya.


"Nih bonekanya. Saya tau kok kalau kamu itu suka banget sama boneka ini," ucap Andi sambil memberikan boneka.


Rissa menerima boneka dari Andi, "Makasih pak," ucapnya.


"Kita cari permainan lain ya," ajak Andi.


Mereka berjalan sambil melihat permainan lain apakah yang akan di coba. Tiba-tiba Rissa menghentikan langkahnya dengan matanya fokus ke arah samping. Entah apa yang dilihatnya sampai ia tersenyum seperti anak kecil.


"Pak beliin itu dong," tunjuknya ke arah penjual gulali.


"Yaudah yuk." Andi mengikuti Rissa dan berhenti di penjual gulali yang ditunjuk Rissa tadi.


"Berapa satu pak?" tanya Rissa ke penjual gulali tersebut.


"Sepuluh ribu mbak," jawab si penjual gulali.


"Bapak mau juga?" tanya Rissa ke Andi.


"Gak, kamu aja," jawab Andi dengan muka datarnya.


"Yaudah, Saya mau gulalinya dua ya pak," ucap Rissa ke penjual gulali.


"Iya mbak, Semuanya dua puluh ribu ya," ucap penjual gulali.


Andi merogoh kantongnya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan uang lima puluh ribu. Tau sendiri kan kalau Andi itu seorang CEO terkenal dan kaya raya, jadi di dompetnya itu hanya berisi uang berwarna biru dan merah.

__ADS_1


"Ini pak, kembaliannya ambil aja," Ucap Andi.


"Makasih ya mas," ucap penjual gulali.


"Pak, kita cari tempat duduk yuk. Saya capek berdiri terus," ucap Rissa dan Andi hanya mengangguk.


Mereka berjalan untuk mencari tempat duduk. Sampai akhirnya mereka duduk di taman yang tak jauh jaraknya dari pasar malam.


Rissa sangat bahagia memakan gulali favoritnya sementara boneka yang ia dapatkan tadi ada pada Andi. Ia sempat melirik wajah Andi yang berada di sampingnya tapi matanya fokus ke depan memperhatikan orang-orang berjalan.


"Bapak mau?" Rissa menawarkan Andi gulali.


"Gak," jawab Andi cuek.


"Kenapa?" tanya Rissa.


"Saya gak suka," jawab Andi.


"Tapi ini enak lo pak, manis lagi kayak saya. Dijamin bapak gak akan nyesel makan ini," ucap Rissa berusaha membujuk.


"Tapi saya gak---" ucapan Andi terhenti karena Rissa langsung menyodorkan gulali ke mulut Andi.


"Gimana pak? Enak kan?" tanya Rissa.


Enak juga, rasanya manis lagi, batin Andi.


"Enak kan pak? Bapak aja yang gengsian. Tadi bilangnya gak... Eh pak, kok diambil semua sih?" Rissa kesal karena Andi mengambil gulalinya secara paksa dan ilegal.


"Tadi sok gak mau, sekarang gulali saya main ambil gitu aja," Ketusnya.


"Biarin," ucap Andi cepat.


Rissa langsung cemberut mendengar hal tersebut. Kalau sudah berdebat dengan Andi, maka ia pasti akan kalah bagaimanapun situasinya. Sekarang Rissa hanya bisa diam sambil memperhatikan tersangka yang berada disampingnya.


"Emang bapak gak pernah apa makan gulali sebelumnya?" Rissa bertanya dengan jelas dan lengkap. kalo gak, jawaban Andi pasti nanti gak nyambung kayak di baling-baling tadi.


"Ini pertama kalinya saya makan pink pink ini," jawab Andi asal.


"Gulali pak." Rissa membenarkan ucapan Andi.


"Ha Iya, itu maksudnya." Andi kembali memakan gulalinya seperti anak kecil. Rissa yang melihat Andi, tak bisa menahan tawanya.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Andi.


"Bapak lucu," jawab Rissa.


"Maksud kamu?" tanya Andi lagi.


"Bapak makan kayak anak kecil," ejek Rissa dan kembali tertawa.


Sementara disudut lain, Cintya tak sengaja melihat Rissa dan Andi sedang duduk dan tertawa.


Eh, itu bukannya Rissa? Trus itu juga bukannya pak Andi?, batinnya.


"Ada apa?" tanya Robi, pacarnya Cintya.


"Enggak, Gak papa kok," jawab Cintya.


"Yaudah yuk, kita jalan lagi," ajak Robi.


"Iya." Cintya kembali berjalan, tetapi ia masih memikirkan yang ia lihat tadi.


Apa gue salah liat ya? Masa sih Rissa lagi berduaan sama pak Andi.Karna kan dia benci banget sama pak Andi. Ah mungkin itu cuma halusinasi gue aja, batinnya.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!

__ADS_1


__ADS_2