COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Jus


__ADS_3

Hari senin adalah hari yang paling dibenci semua orang tak terkecuali bagi Rissa sendiri. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk dan harus selesai tepat waktu. Tau sendiri kan kalau pekerjaannya tidak tepat waktu, maka bersiaplah untuk mendapat doorprize dari Andi yang terhormat.


Sementara diruang CEO, Andi juga "berpacaran" dengan semua berkas berkasnya. Walaupun pekerjaannya menumpuk, tapi ia sudah terbiasa dengan semua ini. Sejak kecil, Andi sudah mulai mengenal dan belajar tentang dunia perusaan dari keluarganya sendiri. Karena merasa pusing, Andi menelepon Dini sekretarisnya.


"Hallo pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dina.


"Tolong kamu panggilkan Rissa keruangan saya sekarang," perintah Andi.


"Baik Pak." Dina menutup teleponnya.


"Kok tumben banget pak Andi manggil Rissa keruangannya jam segini?" gumamnya


Tanpa menunggu lama, Dini langsung pergi ke meja kerja Rissa untuk menyampaikan perintah dari bosnya. Sampai di sana, Dina melihat Rissa yang sedang sibuk dan banyak kertas bertumpuk di meja kerjanya.


"Rissa, lo dipanggil sama pak Andi sekarang di ruangannya," ucap Dina to the point.


Rissa sedikit terkejut karena Dina tiba-tiba saja datang ke meja kerjanya apalagi menyampaikan pesan kalau bos killer memanggilnya. Rissa juga menatap bingung ke arah Dina.


"Gue? Kok tumben banget, ada apa emangnya?" tanya Rissa.


"Mana gue tau, udah deh cepetan lo keruangan pak Andi sekarang. Ntar kena marah tau rasa lo." jawab Dina terlalu ngegas.


"Ck, Iya iya" ucap Rissa terpaksa.


Setelah itu, Dina langsung pergi meninggalkan Rissa dan kembali ke meja kerjanya sendiri. Rissa dan kedua sahabatnya memang tidak pernah dekat ataupun akur dengan Dina. Karena menurut mereka, Dina adalah sekretaris yang kecentilan dan selalu cari perhatian ke Andi. Apalagi Dina itu orangnya cerewet, makanya mereka memanggil Dina dengan sebutan nenek sihir.


"Eh, kenapa nenek sihir datang ke meja lo?" tanya Cintya kepo.


"Gue dipanggil sama muka tembok ke ruangannya." jawab Rissa.


"Buset, demi apa si bos manggil lo segala? Jangan-jangan, kalian mau pacaran ya," ejek Fina.


TUH KAN, MULAI DEH KEDUA SAHABATNYA YANG NGGAK INI MENGEJEKNYA.


"Sembarangan lo. Udah deh, gue cabut dulu, ntar gue kena semprot lagi sama dia kalo kelamaan datang ke ruangannya," ucap Rissa dan beranjak dari duduknya.


Rissa berjalan ke ruangan bosnya yang tukang nyuruh orang seenak jidatnya. Sampai didepan pintu yang bertuliskan CEO, ia mengetok pintu tersebut terlebih dahulu.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, Bapak manggil saya?" tanya Rissa saat sudah didalam ruangan Andi.


"Hmm." Andi hanya berdehem tapi matanya fokus ke laptopnya.


Emang ya ni orang, dasar muka tembok, batinnya.


"Ada apa ya pak?" tanya Rissa walaupun terpaksa karena ia sebenarnya masih kesal dan jengkel pada Andi.


"Tolong kamu belikan saya jus di sebrang kantor," perintah Andi dan kali ini matanya sudah menatap Rissa.


"Hah, gak salah pak? Bapak kan bisa minta buatin jus sama OB kantor kita," ucap Rissa sedikit protes.

__ADS_1


"Saya maunya jus yang disebrang kantor," balas Andi.


"Bapak kan bisa nyuruh sekretaris bapak, kenapa harus saya sih?" ucap Rissa bermaksud untuk mengelakkan perintah dari Andi.


"Saya maunya kamu yang beliin," ucap Andi dengan muka datarnya.


Ihh nyebelin banget sih ni orang. Kayak bumil lagi ngidam aja, batinnya.


"Udah deh. Daripada kamu komen aja, Mendingan kamu beliin jus saya sekarang." Perintah Andi.


Niatnya mau mengelak dari Andi, malah Andi semakin ngegas dan kekeuh agar permintaannya dituruti. Mau tidak mau Rissa harus menerimanya karena kalau tidak, Andi pasti akan mengeluarkan kalimat keramatnya yaitu potong gaji.


"Iya iya, duitnya mana pak?" ucap Rissa sambil menyodorkan tangannya untuk meminta uang.


Andi merogoh dompet di saku celananya. Awalnya Rissa berpikir kalau Andi akan memberikan uang berwarna merah karena mengingat kalau bosnya ini kan kaya, apalagi jabatannya sebagai CEO.


"Nih." Andi memberikan uang dengan nilai tak terduga apalagi warnanya tak sesuai dengan yang diinginkannya.


"Cuma sepuluh ribu pak?" ucap Rissa terkejut.


"Iyalah, emangnya berapa harga jus didepan? tanya Andi.


"Enam ribu pak," jawab Rissa.


"Yaudah, itu kan cukup sih uangnya. Emangnya kamu mau jus juga?" tanya Andi.


"Enggak pak, yaudah saya permisi pak," sekarang Rissa hanya bisa pasrah.


"Eh bentar, ingat ya saya mau jus alpukat, jangan pake gula banyak alias gak terlalu manis, airnya sedikit aja, jangan pake susu dan satu lagi gak pake lama," ucap Andi panjang kali lebar.


Emang ya ni orang. udah nyuruh, pake minta yang ribet segala lagi. Kalo bukan bos gue, Udah gue cekik sekarang dia, batinnya.


"Iya Pak. Saya permisi ya pak, " ucap Rissa sambil tersenyum paksa.


Setelah keluar dari ruangan Andi yang seperti neraka, Rissa yang awalnya pura-pura tersenyum manis langsung berubah raut wajahnya menjadi kecut.


Rissa keluar dengan perasaan marah, kesal dan jengkel yang sudah bercampur jadi satu karena bosnya yang super duper nyebelin sedunia. Setelah sampai di tempat jualan jus sebrang kantornya, Rissa langsung membeli jus pesanan bosnya.


"Mas, jus alpukatnya satu ya," ucap Rissa.


"Oke mbak," balas si penjual jus tersebut.


"Oh ya mas, jus nya jangan terlalu manis, airnya sedikit aja dan gak pake susu ya," Rissa harus mengingat amanat dari bosnya tadi.


"Ya ampun mbak, ribet amat sih," ucap penjual jus tersebut.


"Hehehe maaf mas, soalnya ini yang mesen bukan saya, tapi bos saya," jelas Rissa.


"Oh.. Gitu ya mbak. Yaudah deh, saya buatin dulu ya," ucap penjual jus.


"Oh ya satu lagi mas, jangan pake lama ya Soalnya bisa marah nanti bos saya kalo lama," tambah Rissa.

__ADS_1


"Siap mbak," balas penjual jus.


Rissa menunggu pesanan jus Andi selesai sambil memainkan Hanphonenya. Setelah beberapa menit, jus yang Andi pesan tadi sudah siap dan sesuai permintaannya.


"Nih uangnya mas," ucap Rissa sambil memberikan uangnya.


"Iya mbak, dan ini kembaliannya," ucap penjual jus memberikan uang kembaliannya.


"Makasih ya mas," ucap Rissa.


"Iya mbak sama-sama," balas penjual jus.


Setelah membeli pesanan dari Andi yang seperti orang bumil alias ibu hamil, Rissa segera kembali ke kantor untuk mengantarkan jus pesanan bosnya tersebut.


Setelah sampai didepan pintu ruangan bosnya, tak lupa juga ia mengetuk pintunya.


Tok! Tok! Tok!


Rissa masuk keruangan bosnya. "Ini jus pesanan bapak," Ucapnya sambil meletakkan jus nya dimeja Andi.


"Hmm." Andi hanya berdehem.


"Si muka tembok bukannya bilang makasih, malah cuma bilang hmm. sukur gak gue kasih racun tadi ke jus itu," gumamnya pelan.


Rissa masih berdiri di depan Andi sambil menatap Andi tajam. Sedangkan Andi sendiri, hanya menatap Rissa bingung.


"Ngapain kamu masih disini? sana cepat keluar dan selesaikan pekerjaan kamu," Perintah Andi.


Rissa menghembuskan napasnya kasar sambil beristighfar dan berusaha sabar menghadapi Andi yang gak tau diri ini.


"Iya Pak," ucap Rissa tersenyum kecut.


Saat hendak berbalik, tiba-tiba Andi memanggil Rissa lagi.


"Eh bentar, mana uang kembalian beli jus tadi?" tanya Andi.


What? Uang kembalian empat ribu aja ditagih? Dasar pelit, batinnya.


"Ini pak kembaliannya," ucap Rissa sambil memberikan uang kembalian tadi yang gak seberapa itu. Tapi bagi Andi seberapapun itu, uang tetaplah uang.


"Yaudah sana kamu pergi lanjut kerja lagi," Perintah Andi.


"Iya Pak, permisi," Kali ini Rissa tidak tersenyum sedikitpun dan hanya memasang muka datarnya karena sebenarnya ia sudah habis kesabaran menghadapi Andi.


Dasar muka tembok gak tau diri, pelit, hobby nya nyuruh orang aja, batinnya kesal.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!

__ADS_1


__ADS_2