
Setelah beberapa jam diperjalanan, akhirnya mereka semua sampai juga di puncak dan bersiap untuk kemping bersama. Suasana di tempat ini sangat sejuk, asri, serta membuat pikiran jadi jauh lebih tenang. Puncak adalah tempat terbaik bagi yang ingin refreshing, apalagi kalau mengajak keluarga tercinta pasti akan lebih menyenangkan.
Semua perlengkapan camping sudah tersedia juga disana, jadi tinggal memilih tempat dan memasang tenda sendiri saja. Tentu saja, bos mereka itu kan sangat kaya bergelimang harta, jadi kalau untuk persiapan begini saja masih dianggap kecil. Kalau mau, Andi bisa saja menyewa bahkan membeli tempat ini kalau dijual.
"Wahh... Akhirnya kita semua nyampe juga," ucap Cintya.
"Iya, udara disini juga seger, beda banget kayak di kota," sambung Fina.
"Gue juga seneng banget, kita bisa kemping kayak dulu lagi," sahut Rissa.
Andi dan Aldo sama-sama datang dari belakang Rissa. Mereka berdua hanya saling cuek dan tidak mau mengobrol sama sekali. Begitulah, hanya karena seorang Rissa, sikap mereka bagaikan kucing dan tikus yang tak pernah akur.
"Ayo kita pilih tempat untuk mendirikan tenda," ajak Aldo.
Mereka semua mengangguk paham dan berjalan untuk memilih tempat mendirikan tenda. Sementara Andi sedang kesal karena mereka pergi meninggalkanya begitu saja, tanpa mengajaknya. Padahal kan dia bosnya. Saat berjalan, Aldo spontan memegang tangan Rissa.
"Aku tau kamu pasti kedinginan kan? Makanya aku sengaja gandeng tangan kamu supaya hangat," ucap Aldo.
"Tapi Aldo---
"Udah, kamu bakalan hangat kok. Anggap aja ini kayak adegan drakor yang sering kamu tonton itu," ucap Aldo.
Rissa hanya tersenyum mendengarnya. Aldo memang paling tau kalau ia adalah pecinta drakor dan adegan apa yang paling ia suka. Andi sendiri yang melihat istrinya digandeng Aldo, semakin cemburu dan cepat-cepat mengejar mereka.
"Heh, kalian itu udah berapa kali saya bilangin kalau kita itu mau kemping, bukan mau pacaran," tegur Andi.
"Bapak tuh kenapa sih, padahal kan bukan cuma kita aja yang pacaran disini. Liat aja sekeliling bapak." Aldo menunjuk sekelilingnya sebagai bukti ucapannya.
Andi juga melihat sekelilingnya, dan memang benar kalau banyak para karyawannya yang berpacaran. Mulai dari gandengan, saling merangkul, dan tertawa. bersama.
"Tapi saya gak suka liat kamu dekat sama Rissa," ucap Andi.
"Emangnya kenapa, pak? Rissa kan bukan siapa-siapa bapak juga, jadi saya berhak dong dekat sama dia," ucap Aldo.
Dasar gak tahu malu. Yang kamu gandeng itu istri saya. batin Andi kesal
"Pokoknya saya gak suka," tegas Andi.
"Duhh... Dari tadi bapak sama Aldo berantem terus. Sebelum pergi berantem, udah nyampe berantem juga. Udalah, mending saya pergi aja." Rissa kesal dan pergi meninggalkan Andi dan Aldo.
"Ini semua gara-gara kamu," ucap Andi.
"Kok saya sih pak? Awalnya sebelum bapak datang, saya sama Rissa masih baik-baik aja. Tapi setelah bapak datang, Rissa jadi marah sekarang," ucap Aldo.
"Oh jadi kamu berani nyalahin bos kamu?" nada bicara Andi mulai ngegas.
Daripada menangapi bosnya yang tidak mau kalah dan tidak mau di salahkan. Aldo memilih untuk pergi meninggalkan Andi..
"Kayaknya nih anak udah mulai berani sama saya? Dan saya gak akan biarkan kamu mendekati istri saya," gumamnya.
Andi dan Aldo mendekati Rissa yang sedang kesulitan mendirikan tendanya sendirian. Sebagai seorang lelaki, mereka berdua tidak tinggal diam untuk membantu Rissa demi mencari perhatiannya.
"Tuan putri, sini biar aku aja yang masang tenda kamu. Kamu duduk manis aja sana," ucap Aldo.
__ADS_1
"Gapapa kok, aku bisa sendiri," balas Rissa.
"Udah... Biar dia aja yang ngerjain semuanya. Kamu duduk aja sama saya." Andi menarik tangan Rissa.
Rissa menurut saja mengikuti Andi duduk diatas rumput. Rissa juga tau kalau dua lelaki ini sedang berusaha mencari perhatiannya, tapi ia pura-pura cuek. Apa yang dilakukannya ini hanya demi menjaga nama baiknya supaya status sebenarnya tidak terungkap.
"Sekarang kamu minum dulu ya, pasti tadi kamu capek kan selama diperjalanan." Andi memberikan air minum untuk istrinya.
Rissa menerima minuman dari Andi "Makasih pak."
Aldo yang melihat Rissa dan Andi berduaan, hanya bisa memendam kekesalannya. Kalau dibilang kesal, itu jangan ditanya lagi karena jawabannya adalah iya.
"Apa kamu liat-liat? Udah sana kerjain lagi masang tenda. Tadi katanya kamu mau bantuin Rissa," ucap Andi menyindir.
Aldo meneruskan pekerjaannya memasang tenda. Ia harus bersabar menghadapi sikap bosnya yang kampret dan tukang penyuruh ini.
"Bapak kok gitu sih sama Aldo? kan kasian dia sendirian yang masang tenda," ucap Rissa.
"Kok kamu malah belain dia sih? Dia sendiri tadi yang bilang kan mau bantuin kamu," balas Andi.
"Tapikan kasian Aldo, bapak bantuin dia juga dong sana," pinta Rissa.
"Biarin aja kenapa sih," ucap Andi cuek.
"Yaudah kalau bapak gak mau bantuin Aldo, saya aja yang bantuin." Rissa sempat berdiri namun ditarik oleh Andi.
"Yaudah... Saya aja yang bantuin dia. Tapi kamu duduk manis ya disini." Perintah Andi.
"Iya Pak Andi," balas Rissa.
"Rissa... Kita comeback," ucap Cintya yang datang bersama Fina.
"Kalian berdua dari mana aja sih?" tanya Rissa.
"Kita tadi lagi foto-foto disana," jawab Fina.
"Bagus ya... Gue tadi masang tenda sendirian, sementara lo berdua enak-enakan foto," Protes Rissa.
"Hehehe, maaf dong Rissa. Tapi sekarang kan ada dua orang lelaki perjaka yang bantuin lo," goda Cintya.
Rissa tersenyum malu mendengarnya. "Apaan sih lo."
"Eh Rissa, kalau seandainya lo belum nikah, lo bakalan pilih siapa diantara pak Andi sama Aldo?" tanya Cintya.
Rissa terdiam dan berpikir untuk menjawab pertanyaan Cintya. Pertanyaan yang diajukan Sintia cukup sulit untuk dijawab oleh Rissa. Bukannya ia egois, tapi dua lelaki tersebut merupakan orang yang baik serta mempunyai cinta yang luar biasa.
"Emm, gue bingung. Soalnya mereka berdua itu sama-sama cowok yang baik," jawab Rissa.
"Berarti lo udah cinta dong sama pak Andi?" ucap Fina.
"E-enggak kok," ucap Rissa gugup.
"Alah... Gak usah bohong deh, kita bisa liat kok dari muka lo. Lo bisa bohongin kita, tapi lo gak bisa bohongin perasaan lo sendiri," ucap Cintya.
__ADS_1
Ada benernya juga sih yang dibilang Cintya. Tapi, apa iya gue udah jatuh cinta sama pak Andi? batinnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Andi dan Aldo sudah selesai memasang tenda. Mereka berdua pun segera menghampiri Rissa.
"Tenda buat cewek-cewek udah selesai tuh, kalian langsung masuk aja sana. Kalau capek, istirahat aja," ucap Aldo.
"Makasih ya Aldo," ucap Rissa.
"Kok bilang makasih sama dia doang sih? kan saya ikut bantuin juga tadi," Protes Andi.
"Yaudah... Makasih juga ya pak Andi," ucap Rissa.
Andi tersenyum kemenangan karena berhasil membuat Aldo terdiam. Rissa dan sahabatnya pun masuk ke dalam tenda untuk mengeluarkan barang-barang mereka.
Tak terasa malam pun tiba, saat ini mereka semua sedang berkumpul mengelilingi api unggun. Malam ini sangat dingin, tapi menyenangkan karena mereka semua sangat bahagia bisa berkumpul bersama dan saling bercanda tawa.
Sedangkan Aldo dan Andi sedang sibuk memasak sosis bakar dan BBQ. Rissa mulai mengantuk dan pamit untuk istirahat duluan. Andi yang melihat istrinya pergi, langsung menyusulnya juga ke tenda.
"Loh, bapak ngapain kesini?" tanya Rissa saat Andu ikut masuk kedalam tenda.
"Saya mau berduaan sama kamu," jawab Andi.
"Tapi saya mau istirahat pak. Saya udah capek banget seharian ini," ucap Rissa.
"Yaudah kalau gitu, saya tidur disini juga deh sama kamu," ucap Andi santai.
"Gak bisa dong pak, inikan tenda untuk cewek-cewek. Masa bapak tidur disini?" ucap Rissa menolak permintaan suaminya ini.
"Trus saya tidur sama siapa?" tanya Andi.
"Ya bapak tidur sama Aldo lah," jawab Rissa.
"Tapi saya gak bisa jauh dari kamu lagi Rissa. Kenapa sih, seharian ini kita gak bisa berduaan." Ucap Andi dan menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya.
"Tapikan saya gak jauh dari bapak," ucap Rissa dan mengelus kepala suaminya dengan lembut.
"Kalau tau gini, lebih baik saya kasih tau aja ke semuanya kalau kita itu suami-istri. Biar saya bisa berduaan sama kamu," ucap Andi.
"Udah deh... Mendingan bapak istirahat juga sana. Saya udah capek banget nih mau istirahat," ucap Rissa.
Andi bangun dan memeluk istrinya sayang "Saya harap, ini bisa mengurangi rasa capek kamu, karena dipeluk sama suaminya yang ganteng ini."
Rissa tersenyum mendengar Andi yang selalu kepedean ini. Ia juga membalas pelukan suaminya sambil menepuk pelan punggungnya. Setelah beberapa menit, Andi melepas pelukannya.
"Yaudah sekarang kamu istirahat ya. Jangan lupa mimpiin saya," ucap Andi sebelum pergi.
Rissa tersenyum dan mengangguk.
"Good night my wife." Andi mencium istrinya mulai dari kening dan kedua pipi dengan sayang.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
__ADS_1
Like, fav dan voment ya!